NovelToon NovelToon
Benci Tapi Menikah?

Benci Tapi Menikah?

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Konflik etika
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fareed Feeza

Gian pergi ke desa untuk menghilangkan penat di kota. Tapi saat menikmati keindahan desa, dia bertemu dengan Anisa, wanita galak dengan paras alami yang cantik.
Pertemuannya dengan Anisa membuat Gian ingin cepat-cepat kembali ke kota, tapi suatu kejadian mengharuskan Gian untuk tetap bertahan di desa dan sering bertemu dengan Anisa.
Sampai suatu ketika, Anisa dan Gian terpergok oleh beberapa warga sedang berdua di sebuah gubuk di tengah sawah dengan minim pakaian, warga pun marah dan memaksa Gian dan juga Anisa untuk menikah.
Mereka menjalani pernikahan masih dengan perasaan saling membenci, bagaimana kelanjutan pernikahan mereka? Berpisah atau bertahan? Stay tuned!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fareed Feeza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3

Nisa langsung terperanjat, dan berlari kecil ke luar rumah ... Tangannya sudah siap menenteng tas rotan yang akan di gunakan untuk berbelanja.

Tak berkata apapun, kaki Nisa melangkah menuruni beberapa anak tangga diteras dan segera berlari ke arah mobil.

Nisa dengan percaya diri membuka pintu mobil bagian belakang, sehingga posisi Gian saat ini seperti seorang supir dan majikannya.

"Hey! Siapa yang menyuruhmu duduk disitu? Kau majikanku kah?" Kata Gian dengan kesal.

"Sama saja! Aku tidak mau duduk di sebelahmu! Cepat jalan!"

Tak ingin di sangka modus untuk berdekatan dengan Nisa, akhirnya Gian memilih mengalah dan diam.

Dia menyalakan GPS mobilnya untuk melihat posisi pasar, dia sangat engga bertanya arah jalan pada Nisa.

Padahal dia punya alat canggih itu, tapi masih bisa dia berbohong pada pak Guntur tidak tau arah jalan ke pasar! Dasar pria kota ini, semua sikapnya tidak patut di contoh!

Sampai di sebuah pasar, yang tidak terlalu ramai.

Gian memarkirkan mobilnya, lalu mematikan mesin mobil dan membuka sedikit jendela mobilnya.

"Turun!"

"Aku sendiri?"

"Apa matamu tidak berfungsi? Banyak sekali orang di pasar, dan kau bilang apa tadi? Sendiri?"

"Bukan itu maksudku! Aku harus membawa semua belanjaan sendirian? Bukankah pak Guntur bilang kamu harus menemani?!"

"Mengantar! Bukan menemani! Cepat keluar ... atau aku pulang sekarang juga!" Ancam Gian.

Tak ingin mengecewakan pak Guntur, akhirnya Nisa terpaksa keluar seorang diri, saat ini kekesalannya pada Gian bertambah 100% karena sikap Gian yang keras kepala dan tidak menghargai wanita.

.

.

Banyak sekali belanjaan yang Bisa bawa, samapi keranjang rotan itu sudah tidak cukup lagi, ini semua karena semangka yang di pesan oleh pak guntur yang membuat belanjaan semakin penuh.

Dari kejauhan Gian melihat Nisa kesusahan membawa belanjaannya dengan wajah yang sangat di tekuk, pria itu hanya tersenyum karena berhasil membuat wanita itu kesal.

*Pintu mobil di buka.

Nisa memasukan semua balanjaannya, sehingga kursi mobil Gian yang sangat terawat itu sedikit ternoda dan terkena cairan dari ikan segar yang Nisa beli.

"Aaaarghh! Simpan di bagasi!" Titah Gian dengan nada membentak.

"Hancur sudah perawatan mobilku!" Gumamnya.

Nisa sengaja melakukan ini, dia sebenarnya mengerti cara membuka pintu bagasi mobil, tapi untuk membuat Gian kesal dia memilih berpura-pura tidak tahu apa yang harus di lakukan.

"Apa? Bagasi? Bagaiman caranya ... Aku tidak tahu."

"Argh!" Gian menggaruk kedua telinganya karena kesal dengan kelakuan Nisa, terpaksa pria itu keluar dari mobil dan memindahkan semua belanjaan ke bagian bagasi.

Nisa hanya tersenyum kecil di balik jari-jari yang menutup seluruh mulutnya.

Rasakan!

Setelah selesai, Gian dengan cepat membersihkan noda dan sedikit cairan yang berbau amis itu dengan tisu hingga kering lalu menyemprotkan beberapa kali parfum agar kursi mobil itu kembali bersih dan wangi.

"Dasar pembawa sial!" Gerutu Gian sambil menutup pintu mobil dengan kencangnya.

Du Du Du Du Du ... Kesalkan? Hahahaha. Batin Nisa.

***

Hari terakhir berada di desa membuat Gian bersemangat untuk menjalani harinya kali ini, terlebih lagi Bu Lastri sudah kembali bekerja untuk menyiapkan makanan di rumah Guntur.

Senyum sumringah tercetak pada wajah Gian pagi ini. Di meja makan ... Pria itu banyak berbicara, tidak seperti saat Nisa mengambil alih dapur kemarin.

"Masakan kali ini lebih enak daripada hari kemarin." Puji Gian saat menikmati opor ayam hasil masakan Bu Lastri.

Guntur tersenyum, "Jangan terlalu membenci wanita, nanti takut jatuh cinta." Celetuknya.

*Gian terbatuk.

"Banyak sekali wanita di kota yang menghubungiku om, dan mereka jauh lebih cantik daripada wanita itu." Sanggah Gian.

"Iya om percaya ... Tapi om yakin, tidak ada yang serba bisa dan sekuat Nisa."

"Kuat? Apa dia merangkap sebagai binaragawan?" Sahut Gian sambil terkekeh.

Guntur meletakan sendok makannya di atas piring, dan mulai bercerita tentang masa lalu Nisa.

"Beberapa tahun lalu, beberapa hari setelah ibunya meninggal dunia ... Rumah peninggalan orang tuanya di rampas oleh saudaranya sendiri yang tak lain adalah adik ibunya Nisa, Bi Yanti namanya, dia tinggal di ujung desa bersama suaminya. Nisa sempat di usir dan di kuasai surat tanahnya, tetangga sekitar banyak yang merasa iba dan menumpangi Nisa beberapa malam secara bergantian, mereka semua tidak bisa melawan Bi Yanti."

"Lalu?" Gian mulai masuk kedalam cerita guntur.

"Karena mereka khawatir suami mereka tergoda saat Nisa berada di rumah mereka, alhasil tidak ada lagi yang mau menampung Nisa ... Dengan alasan melindungi keutuhan rumah tangga mereka, karena bisa di bilang perawakan Nisa sangat di sukai para pria, terkecuali kamu." Guntur terkekeh.

"Lanjut om."

"Nisa sempat tinggal di masjid, setelah selesai shalat isya dan bangun sebelum adzan subuh, itu semua dia lakukan agar tak menjadi pembicaraan para warga lagi."

"Saat pagi hingga malam dia tinggal dimana?"

"Nisa bilang waktu itu dia pergi keliling kampung untuk mencari pekerjaan."

"Keadaannya sekarang bagaimana? Apakah dia masih punya tempat tinggal?"

"Saat ada salah seorang warga yang menceritakan kisah Nisa pada Om, akhirnya om turun tangan dan berhasil merebut surat rumah yang baru saja di rebut oleh bi Yanti, Om rela mengeluarkan uang untuk memprosesnya secara hukum nantinya, tapi setelah ancaman yang om berikan ... Bi Yanti memilih mengaku bersalah karena dirinya takut di penjara. Dan pada akhirnya Nisa kembali mendapatkan haknya kembali atas tempat tinggal peninggalan orang tuanya."

"Kenapa Nisa sebodoh itu? Surat rumah itu kan pasti atas nama orang tuanya? Kenapa bisa di ambil alih semudah itu?" Tanya Gian dengan gemasnya.

"Saat hari meninggal ibunya Nisa, Bi Yanti diam-diam sudah menggeledah surat rumah, dan membohongi Nisa jika surat rumah itu adalah atas namanya."

"Dasar Nisa bodoh!"

Guntur kembali terkekeh saat melihat respon Gian terhadap cerita kisah nyata Nisa. "Bukan bodoh, dia itu polos."

Gian tersenyum saat mengingat Nisa beberapa hari lalu meledak-ledak padanya hanya karena uang 20 ribu rupiah.

Selain polos, dia jga tidak tahu malu ... Meributkan uang 20 ribu hahaha. Batin Gian.

"Kenapa kamu tersenyum sendiri?" Tanya Guntur saat melihat Gian tersenyum dengan tatapan kosongnya.

"Hahaha tidak om, aku hanya heran ... Di dunia ini masih ada orang seperti Nisa."

"Langka bukan? Kejarlah." Titah Guntur sambil tersenyum meledek.

"Hahahahhaha bisa-bisa aku selalu naik darah karena kebodohannya."

...

Siang hari, Guntur mengajak Gian untuk menikmati biji kopi yang sudah siap di seduh.

Tapi sebelum bersiap ke tempat prosesnya Gian membereskan semua peralatan pribadinya, karena dia harus langsung pulang ke kota untuk menepati beberapa janji pada teman-temannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!