Fred Tucker, mahasiswa kedokteran diparis, penampilan biasa, agak gempal dan bukan pusat perhatian. satu kali menjadi dirinya menjadi target pembunuh bayaran. Dia harus melarikan diri tanpa tahu penyebabnya. bukan miliarder, bukan siapa-siapa, orang tua biasa saja namun menjadi target mati. hidupnya hancur, orang tua nya mati. Untuk mengetahui apa yang terjadi hidupnya maka Fred harus menjadi pembunuh bayaran. berlatih dan menjadi kuat Dia harus ke berbagai negara sebagai Assassin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kampus
Fred tidak ingat persis bagaimana mereka keluar dari halaman belakang itu.
Yang ia ingat hanya sensasi tubuh Maëlle yang semakin berat di lengannya, hujan yang berubah jadi jarum dingin di pipi, dan suara langkah dari atap yang kadang muncul, kadang hilang—seperti predator yang sengaja memberi jarak agar mangsanya tetap bergerak.
Maëlle sempat memaksanya belok dua kali, melewati lorong sempit yang diapit toko tutup, lalu menembus gang yang lebih terang dekat boulevard. Di sana, mereka bercampur dengan beberapa orang yang baru keluar dari bar, tertawa keras, tidak peduli dunia. Fred hampir menangis karena lega—bukan karena mereka aman, tapi karena ada saksi. Ada manusia lain.
Dan begitu manusia lain ada di sekitar, penembak itu berhenti.
Setidaknya untuk sementara.
Maëlle menahan napas berat di telinga Fred. “Jangan… taksi,” gumamnya, setengah sadar. “Kamera.”
Fred menggertakkan gigi. “Kamu maunya apa? Teleportasi?”
Maëlle tidak menjawab. Kepalanya terkulai ke bahu Fred, napasnya makin tipis.
Fred mengambil keputusan bodoh kedua malam itu.
Ia membawa Maëlle ke apartemennya.
Apartemen itu tidak pantas disebut “tempat tinggal” kalau dibandingkan dengan standar rumah sakit tempat ia stase. Tangga sempit, dinding bercak lembap, lampu koridor kuning redup. Bau masakan tetangga bercampur cat tua. Tapi setidaknya tempat itu punya pintu yang bisa dikunci dan tidak ada resepsionis yang bertanya macam-macam.
Kunci bergetar di tangan Fred ketika ia mencoba membuka pintu unitnya di lantai tiga.
“Cepat…,” bisik Fred pada dirinya sendiri, bukan pada Maëlle. Ia melirik lorong: kosong. Tapi malam ini, “kosong” tidak lagi berarti aman.
Ia menyeret Maëlle masuk, menutup pintu, mengunci, lalu menambahkan rantai pengaman. Napasnya putus-putus. Baru setelah itu ia menyalakan lampu kecil di dapur—lampu utama terlalu terang, terlalu “mengundang”.
Maëlle ambruk ke lantai. Fred langsung berlutut, menahan kepanikan dengan cara satu-satunya yang ia tahu: menilai kondisi seperti pasien.
“Napasan ada…,” gumamnya, menempelkan dua jari ke leher Maëlle. “Nadi cepat. Tekanan… aku nggak punya alat.”
Ia membuka jaket Maëlle dengan hati-hati. Di bahu kiri, dekat bagian depan, ada luka tembak yang masih merembes. Darah menodai kain yang tadi ia ikat di gang. Tidak muncrat—pertanda bagus. Tapi darah tetap darah.
“Kamu harusnya ke rumah sakit,” Fred menggerutu, meski Maëlle jelas tidak bisa mendengar. “Dan aku harusnya telepon ambulans.”
Tangannya terhenti di udara.
Telepon ambulans berarti polisi. Kamera. Pertanyaan. Rekaman. Dan kemungkinan penembak itu—atau siapa pun yang memburu Fred—punya akses lebih luas daripada yang masuk akal.
Fred menelan ludah sampai terasa sakit.
“Baik,” katanya pelan, seperti membuat keputusan kepada pasien yang tidak sadar. “Aku stabilkan kamu dulu. Setelah itu… setelah itu kita lihat.”
Ia menyeret Maëlle ke sofa kecil yang merangkap tempat tidur tamu, lalu menumpuk bantal agar tubuhnya miring sedikit. Ia memastikan jalan napas tidak tertutup. Lalu ia berlari ke kamar—ruangan yang lebih mirip kotak—membuka laci yang isinya campuran buku anatomi, alat tulis, dan barang-barang yang ia simpan sejak praktikum.
Sebuah kotak kecil: sarung tangan lateks, pinset, gunting kecil, beberapa kasa steril yang pernah ia beli “untuk berjaga-jaga”, dan satu botol alkohol 70% yang seharusnya untuk membersihkan meja.
Di dapur, ia merebus air di panci kecil. Ini bukan ruang operasi. Ini bukan bahkan klinik. Tapi Fred memaksakan disiplin: bersih sebisa mungkin.
Ia mencuci tangan lama, memasang sarung tangan, mengelap meja makan dengan alkohol sampai baunya menusuk. Ia meletakkan kain bersih, menaruh peralatan di atasnya. Sejenak, ia menatap semuanya dan merasakan absurditas: seorang mahasiswa kedokteran, tengah malam, sedang menyiapkan ekstraksi peluru pada seorang wanita yang beberapa jam lalu mencoba menusuknya.
Kalau seniornya melihat ini, mungkin dia akan bilang: akhirnya kamu jadi dokter.
Fred menghembuskan napas panjang, mendekat ke Maëlle. Ia membuka balutan darurat perlahan.
Luka masuk terlihat jelas—lubang kecil, tepinya memerah. Tidak ada lubang keluar. Berarti peluru masih di dalam. Itu buruk, tapi bisa juga berarti lintasannya tidak menembus terlalu dalam.
Fred meraba pelan, mencari benda keras di bawah kulit. Maëlle mengerang. Matanya bergerak di balik kelopak, setengah sadar.
“Jangan bergerak,” kata Fred spontan, nada suaranya berubah jadi nada yang biasa ia pakai pada pasien cemas. “Aku akan ambil pelurunya.”
Maëlle membuka mata setengah, memandang Fred dengan tatapan buram. Bibirnya bergerak.
“Kenapa…,” suaranya serak, “kamu…”
“Karena kamu akan mati kalau aku tidak melakukan apa-apa,” jawab Fred.
“Harusnya… aku yang—” Maëlle batuk, lalu meringis.
“Jangan bicara.” Fred menelan panik, lalu berusaha tenang lagi. “Kamu pusing?”
Maëlle tidak menjawab. Matanya menutup lagi.
Fred menimbang. Ia tidak punya anestesi. Tapi Maëlle tidak sepenuhnya sadar. Ia harus cepat dan bersih. Risiko infeksi besar. Risiko kerusakan saraf juga ada. Namun ia meraba lagi—pelurunya terasa dangkal, seperti tersangkut di jaringan lunak, bukan dekat sendi.
Ia mengelap area luka dengan alkohol dan air matang yang sudah didinginkan. Maëlle mengerang lagi, napasnya cepat. Fred menekan bahunya pelan, menstabilkan.
“Maëlle,” panggilnya, tidak tahu kenapa ia memanggil nama itu. “Tetap dengan aku.”
Lalu ia melakukan hal yang selama ini hanya ia pelajari lewat manekin dan simulasi.
Ia membuka luka sedikit dengan pinset, menjaga agar tidak merobek lebih lebar. Keringatnya turun, menetes ke pelipis. Ia menahan napas saat ujung pinset menyentuh logam dingin.
Ada kilatan kecil.
Peluru.
Fred merasakan jantungnya hampir meloncat keluar. Dengan gerakan pelan—lebih pelan daripada yang ia kira—ia mencengkeram peluru itu dan menarik.
Maëlle memekik pelan, tubuhnya menegang, lalu lemas lagi.
Peluru itu keluar dengan bunyi kecil, basah, berwarna tembaga kusam, ujungnya sedikit penyok.
Fred meletakkannya di atas kain, menatapnya beberapa detik. Benda sekecil itu hampir mengubah hidupnya… dan mungkin akan mengubahnya seterusnya.
Ia kembali fokus. Menekan luka dengan kasa bersih, membilas lagi, lalu memasang perban ketat. Ia tidak menjahit—terlalu berisiko tanpa alat dan pencahayaan cukup—tapi ia menutup rapat dan memastikan pendarahan berhenti.
Ketika semua selesai, Fred berdiri dengan kaki gemetar, melepaskan sarung tangan, lalu mencuci tangan lagi sampai kulitnya perih. Ia menatap Maëlle yang terbaring. Wajahnya lebih pucat, tapi napasnya lebih stabil.
Fred duduk di kursi makan, menatap dinding kosong.
“Ini gila,” bisiknya.
Di luar jendela kecil, Paris tetap bersuara—mobil lewat, orang tertawa jauh, dan hujan yang mulai mereda. Tapi di dalam apartemen ini, waktu seperti mengendap.
Fred mengangkat kepala, menatap pintu. Ia mendengar bunyi kecil dari lorong? Atau cuma pikirannya?
Ia berjalan pelan, menempelkan telinga ke pintu. Tidak ada apa-apa.
Ia kembali duduk. Adrenalin perlahan habis, menyisakan lelah yang menabrak seperti ombak.
Tanpa sadar, kepalanya jatuh ke sandaran kursi.
Dan Fred tertidur.
Pagi datang seperti tamparan lembut.
Cahaya abu-abu masuk dari celah tirai. Jam di dinding menunjukkan 06:12. Fred bangun dengan leher kaku, mulut kering, dan satu detik bingung total—lalu ingatan semalam menabrak.
Maëlle.
Fred berdiri terlalu cepat, hampir jatuh. Ia berlari ke sofa.
Kosong.
Selimut yang ia ambil semalam terlipat rapi. Bantal ditaruh kembali. Di meja kecil, ada bekas tetesan air dan satu lembar kertas sobek dari buku catatan Fred, ditahan oleh gelas.
Fred mengambilnya dengan tangan gemetar.
Tulisan tangan itu rapi, tajam, seperti garis pisau.
Fred Tucker,
Kamu benar: kamu bukan bagian dari ini.
Tapi kamu sudah jadi target. Kontraknya aktif.
Orang semalam bukan polisi. Dan bukan cuma satu tim.
Keluar dari Paris. Hari ini.
Kalau kamu tetap tinggal, semua orang di sekitarmu bisa jadi umpan.
Aku berutang hidup. Itu bukan kebiasaan baik untukku.
Jangan cari aku.
— Maëlle
Fred membaca dua kali. Lalu ketiga kali.
“Target…” gumamnya, suara serak. “Kontrak… apa?”
Ia menatap apartemennya yang sempit, seperti berharap jawaban muncul dari tembok.
Tidak ada.
Yang ada hanya rasa marah yang aneh—marah karena dunia tiba-tiba menariknya ke permainan yang ia tidak pilih.
Fred memegang kepala, memaksa berpikir seperti dokter, bukan seperti korban. Tapi ia bukan pasien. Ia tidak punya protokol untuk “hidup mendadak diburu”.
Ia menatap jam lagi.
Stase klinik.
Ujian kecil.
Hidup normal.
Fred menghela napas panjang, lalu—secara mengejutkan bahkan bagi dirinya sendiri—ia melipat kertas itu, memasukkannya ke saku, dan mulai bersiap seperti hari biasa.
Mandi cepat. Kopi instan. Buku catatan. Jas lab putih yang kusam.
“Kalau aku kabur,” katanya pada dirinya sendiri di depan cermin kecil, “apa yang berubah? Kalau orang itu mau aku mati, aku lari pun… mereka akan cari. Dan aku punya kuliah.”
Ia mengikat tali sepatu, menatap wajahnya sendiri. Mata lelah, tapi keras kepala.
“Maëlle bisa pergi,” gumam Fred. “Aku tidak.”
Di tempat lain—beberapa blok dari apartemen Fred—Maëlle berdiri di balik jendela kafe yang belum ramai, memegang cangkir kopi yang tidak ia minum.
Bahunya sakit. Perban yang Fred pasang cukup baik untuk menahan darah, tapi tidak menghilangkan nyeri. Setiap kali ia mengangkat lengan, sensasinya seperti ada api kecil di otot.
Maëlle menatap refleksi dirinya di kaca: rambut disisir rapi, jaket diganti menjadi coat biasa, wajah bersih. Ia tampak seperti perempuan pekerja kantor, bukan pembunuh bayaran.
Dan itu masalahnya.
Pembunuh bayaran yang baik memang seharusnya bisa jadi siapa saja.
Dosen.
Mahasiswa.
Tetangga yang ramah.
Pria tua yang minta tolong arah.
Maëlle tahu permainan ini dari dalam. Ia tahu bagaimana kontrak beredar. Bagaimana target “diperebutkan”—kadang karena nilai target tinggi, kadang karena ada pihak yang ingin memastikan target mati dengan cara tertentu, atau ingin menghapus jejak tim lain.
Semalam, seseorang menembaknya bukan untuk menyelamatkan Fred. Orang itu menembaknya untuk menjatuhkan dia.
Artinya: ada tim lain yang mengincar target yang sama.
Dan sekarang, setelah Fred menolongnya—setelah dia berutang—Maëlle merasakan sesuatu yang ia benci: konflik batin.
Ia membunuh karena itu pekerjaannya. Dunia tidak pernah memintanya jadi orang baik. Dunia hanya memintanya efektif.
Tapi Fred… Fred tidak lari ketika pisau diarahkan ke perutnya. Fred menekan luka di bahunya dengan tangan gemetar tapi mantap. Fred mengeluarkan peluru dari tubuhnya di apartemen murah yang bahkan tidak pantas untuk operasi tikus.
Itu bukan keberanian yang ia kenal dari para pembunuh.
Itu keberanian yang lebih merepotkan.
Maëlle memejamkan mata, mengingat catatan yang ia tinggalkan.
Keluar dari Paris.
Dia yakin Fred akan menuruti
Maëlle membuka mata pelan.
Kampus.
Maëlle menelan pelan, nyeri bahunya ikut berdenyut.
“Jangan bodoh,” bisiknya, entah pada Fred atau pada dirinya sendiri.
Ia membayar kopi yang tidak ia habiskan, keluar dari kafe, dan menyatu dengan trotoar Paris. Di keramaian pagi, ia terasa seperti bayangan yang berjalan.
Keputusan itu muncul seperti pisau yang akhirnya memilih arah.
Kalau Fred tidak mau kabur…
Maka Maëlle yang akan jadi bayangannya.
Bukan sebagai teman. Bukan sebagai pasangan. Bukan sebagai penyelamat yang menuntut terima kasih.
Sebagai pelindung yang tidak terlihat.
Sebagai eksekutor bagi siapa pun yang mencoba menyentuhnya.
Maëlle menyentuh bahunya yang diperban, menarik napas, dan menahan rasa sakit.
“Baik,” gumamnya. “Kalau ini perang bayangan… aku yang lebih duluan.”
Di kampus kedokteran, Fred berjalan seperti biasa.
Ia menyapa penjaga pintu, membeli croissant murah, mengeluh soal jadwal bersama teman sekelasnya, dan menertawakan meme di grup chat yang membahas dosen patologi yang galak.
Semua normal.
Terlalu normal.
Tapi saat ia melangkah ke aula, Fred merasakan sesuatu yang berbeda: bukan firasat mistis, melainkan sisa trauma semalam yang membuat matanya jadi lebih peka.
Ia melihat orang-orang dan mendadak berpikir dengan cara yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.
Pria di pojok yang pura-pura membaca koran—tangannya tidak bergerak, matanya terlalu sering melirik pintu.
Perempuan yang berdiri dekat vending machine—tasnya terlalu berat untuk sekadar buku.
Seorang mahasiswa yang baru ia kenal kemarin—tersenyum terlalu lama.
Fred menggeleng, memaksa dirinya berhenti.
“Aku paranoid,” bisiknya.
Ia mengeluarkan catatan Maëlle dari saku, membaca sekali lagi di sela langkahnya.
Keluar dari Paris.
Fred menyimpan lagi, menghela napas.
“Aku bukan karakter film,” gumamnya. “Aku Fred. Aku punya ujian.”
Dan di luar aula, di antara kerumunan mahasiswa, Maëlle berdiri jauh—tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Wajahnya datar, mata tajam. Ia tidak menatap Fred terus-menerus. Ia memantulkan pandangan lewat kaca, lewat bayangan, lewat refleksi pintu.
Karena pelindung yang baik…
tidak terlihat seperti pelindung.
Maëlle mengamati setiap tangan yang masuk saku. Setiap langkah yang terlalu terarah. Setiap orang yang tampak “terlalu biasa”.
Dan saat seorang pria berjas rapi—mungkin staf, mungkin dosen tamu—masuk lewat pintu samping dan berhenti sebentar, menatap Fred sepersekian detik terlalu lama…
Maëlle merasakan sesuatu yang ia kenal baik:
niat membunuh yang disembunyikan dengan sopan.
Ia menggeser posisi, mengikuti dari belakang, menahan napas.
Di dunia Fred, itu cuma hari kuliah biasa.
Di dunia Maëlle, itu adalah awal dari pekerjaan baru.