Kai hidup dalam dunia tanpa warna, terperangkap dalam musim dingin abadi di hatinya. Namun, sebuah melodi piano misterius mulai mencairkan es yang membungkus rahasia masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: PENDAKIAN MENUJU LANGIT YANG HENING
Gunung Oakhaven di malam hari tampak seperti siluet raksasa yang tertidur, namun puncaknya—yang dikenal sebagai 'Puncak Menara'—selalu dikelilingi oleh awan elektrik yang aneh. Kai dan Elara mulai mendaki jalur tikus yang ditunjukkan Julian. Oksigen semakin tipis, dan setiap tarikan napas terasa seperti ribuan jarum es yang menusuk paru-paru.
Kai memimpin di depan. Meskipun ia tidak bisa melihat warna bebatuan atau hijaunya lumut, ia bisa melihat jalur itu sebagai aliran energi perak yang bercahaya di atas tanah hitam.
"Kai, tunggu..." Elara berhenti, memegangi lututnya. Suaranya serak. "Badai ini... berbeda. Aku merasa seperti... kehilangan suaraku lagi."
Kai berbalik dan segera memeluk Elara. Ia bisa merasakan tubuh Elara gemetar hebat. Di sekitar mereka, angin tidak hanya menderu, tapi membawa frekuensi statis yang mengganggu saraf. Ini adalah sistem pertahanan alami yang dibangun ayah Kai untuk melindungi Kuil Suara dari siapa pun yang tidak memiliki "resonansi" yang tepat.
"Bukan suaramu yang hilang, Elara," bisik Kai di telinganya. "Ini adalah ujian terakhir. Dunia mencoba membungkam kita sebelum kita bisa meneriakkan kebenaran."
Kai mengeluarkan tabung kecil berisi sisa pigmen Spektrum Biru yang telah ia netralkan di laboratorium sekolah seni. Meskipun warnanya sudah tidak seintens dulu, pigmen itu masih memiliki sisa energi.
"Pegang ini," Kai meletakkan tabung itu di tangan Elara. "Gunakan getarannya untuk menstabilkan detak jantungmu. Aku akan membawamu."
Kai menggendong Elara di punggungnya. Dengan luka bakar di tangan yang masih berdenyut dan pandangan yang terbatas pada garis-garis putih energi, ia mulai mendaki tebing curam itu. Setiap langkah adalah perjuangan melawan gravitasi dan rasa sakit.
"Kenapa kau tidak meninggalkanku?" bisik Elara lemah di pundak Kai. "Kau bisa sampai ke puncak lebih cepat sendirian."
Kai tersenyum pahit, meskipun matanya fokus pada celah batu di depannya. "Spektrum Putih membutuhkan dua sisi, Elara. Cahaya tanpa suara hanyalah keheningan yang buta. Suara tanpa cahaya hanyalah teriakan di kegelapan. Aku membutuhkanmu untuk membuat dunia ini utuh."
Setelah pendakian yang terasa seperti keabadian, mereka sampai di sebuah dataran tinggi yang rata. Di sana, di tengah badai salju yang berputar-putar, berdiri sebuah bangunan yang sangat aneh. Itu tidak terlihat seperti kuil tradisional, melainkan sebuah menara observatorium yang terbuat dari susunan pipa-pipa organ raksasa yang terintegrasi dengan kristal pegunungan.
Itulah 'Kuil Suara'.
Saat angin bertiup melewati pipa-pipa itu, bangunan itu mengeluarkan nada-nada rendah yang sangat megah—sebuah musik alami yang diciptakan oleh bumi itu sendiri.
"Ini dia..." Kai menurunkan Elara dengan hati-hati.
Tiba-tiba, lampu-lampu sorot dari helikopter militer membelah kegelapan dari arah bawah. Suara baling-baling memecah simfoni pipa organ itu. Konsorsium dan pemerintah telah bersatu, menyadari bahwa apa pun yang ada di puncak ini adalah kunci untuk menguasai—atau membebaskan—persepsi manusia.
"Kai Malik! Hentikan tindakanmu!" suara dari pengeras suara helikopter menggema. "Serahkan teknologi Spektrum atau kami akan meledakkan menara itu!"
Kai menatap menara itu, lalu menatap Elara yang mulai berdiri tegak, memegang tabung biru yang kini berpendar putih karena resonansi tempat itu.
"Mereka tidak mengerti," ucap Kai. "Mereka pikir ini adalah tombol yang bisa ditekan. Mereka tidak tahu bahwa kuncinya adalah kita."
Kai berjalan menuju pusat menara, di mana terdapat sebuah podium kristal yang terhubung dengan ribuan kabel optik yang tertanam di dalam es. Di sana, ia melihat sebuah ruang kosong yang berbentuk tangan manusia dan sebuah lubang kecil untuk suara.
"Elara, sekarang," kata Kai. "Berikan nada yang paling murni yang pernah kau miliki. Nada yang melampaui kesedihan kita di Oakhaven. Nada yang melampaui amarah kita di Ibu Kota."
Kai meletakkan telapak tangannya di podium kristal. Seketika, saraf optiknya terhubung dengan seluruh sistem menara. Dunianya yang monokrom mendadak meledak. Ia tidak melihat warna biru, merah, atau kuning. Ia melihat 'Putih'—sebuah cahaya yang begitu padat hingga ia bisa melihat setiap detak jantung manusia di kaki gunung, setiap pikiran yang penuh kebencian, dan setiap harapan yang tersembunyi.
Elara mulai menyanyi. Kali ini, suaranya tidak keluar dari mulutnya, tapi seolah-olah keluar dari seluruh pori-pori kulitnya. Itu adalah nada yang sangat jernih, nada yang memecahkan kristal-kristal es di udara.
*WUUUUUUSSSHHH!*
Sebuah pilar cahaya putih raksasa melesat dari puncak menara menuju atmosfer, menembus awan badai, dan mulai menyebar ke seluruh cakrawala seperti riak air di danau yang tenang.
Di dalam helikopter, para penembak jitu menjatuhkan senjata mereka. Pilot-pilot kehilangan keinginan untuk bertempur. Di kota-kota besar di seluruh dunia, orang-orang yang sedang bertengkar mendadak terdiam. Sebuah perasaan damai yang tak bisa dijelaskan menyelimuti planet ini selama beberapa detik yang abadi.
Namun, di puncak menara, tubuh Kai mulai memudar. Energi dari Spektrum Putih terlalu besar untuk wadah manusia.
"Kai! Apa yang terjadi?!" Elara berteriak, mencoba meraih tangan Kai yang kini tampak transparan, terbuat dari partikel cahaya putih.
"Aku menjadi bagian dari cahaya ini, Elara," suara Kai terdengar seperti gema dari ribuan arah. "Ayah benar... Spektrum Putih bukanlah teknologi. Ini adalah evolusi. Aku harus melepaskan diri dari 'warna' untuk menjadi 'cahaya' itu sendiri."
"Tidak! Aku tidak mau kehilanganmu lagi!" Elara menangis, namun setiap air matanya yang jatuh berubah menjadi kristal cahaya saat menyentuh lantai menara.
Kai menatap Elara untuk terakhir kalinya. Di dalam pancaran putih itu, ia akhirnya melihat Elara dengan segala warnanya yang kembali—rambutnya yang kecokelatan, matanya yang biru kehijauan, dan rona merah di pipinya. Ia bisa melihatnya tanpa perlu saraf mata yang normal.
"Aku tidak pergi, Elara. Aku hanya... menjadi duniamu yang baru."
Dengan satu dentingan nada terakhir dari menara, cahaya putih itu meledak dalam keheningan total, menelan puncak gunung itu dalam misteri yang tak terpecahkan.