NovelToon NovelToon
Lahir Kembali Dari Dendam

Lahir Kembali Dari Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Bullying dan Balas Dendam / Balas dendam pengganti / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tamyst G

Elara mengira pernikahannya adalah akhir dari semua penderitaan.
Namun malam itu, ia justru menemui akhir hidupnya—dikhianati, dijebak, lalu dibunuh oleh suaminya sendiri dan wanita yang ia percayai sebagai sahabat.
Saat membuka mata, Elara kembali hidup.
Ia terlahir kembali ke masa sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Rambut putihnya menjadi saksi kelahirannya yang kedua.
Mata pink-nya menyimpan dendam yang tak lagi bisa dipadamkan.
Kali ini, Elara bukan wanita polos yang mudah diinjak.
Ia mengingat setiap pengkhianatan, setiap rencana keji, dan setiap kebohongan yang pernah merenggut nyawanya.
Bukan untuk memohon keadilan.
Bukan untuk meminta belas kasihan.
Elara kembali…
untuk membalas semuanya, satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 20: Membangun Takhta dari Pasir

Angin laut di Kepulauan Avalon membawa aroma yang berbeda dari Pelabuhan Utara; ia tidak berbau busuk mesiu atau karat, melainkan bau kebebasan yang murni dan dingin. Elara Lane berdiri di balkon menara batu putih yang menjadi kediaman barunya. Di bawahnya, aktivitas di pelabuhan tersembunyi itu tidak pernah berhenti. Para ksatria buangan berlatih dengan disiplin yang lebih keras daripada tentara pusat kekaisaran, dan para pengrajin besi sedang menempa zirah baru dengan paduan logam yang ditemukan di pegunungan pulau tersebut.

Avalon bukan sekadar pulau pelarian. Ini adalah sebuah kota militer yang mandiri, yang selama dua puluh tahun telah mengumpulkan energi untuk satu tujuan: mengembalikan kehormatan yang dirampas.

Alaric melangkah masuk ke ruangan, suara langkah kakinya yang berat memberikan rasa aman yang instan bagi Elara. Pria itu kini tidak lagi mengenakan seragam kebesaran Grand Duke yang penuh hiasan emas. Ia mengenakan zirah fungsional berwarna abu-abu gelap dengan mantel bulu serigala hitam di bahunya.

"Para kapten kapal sudah berkumpul di ruang bawah," ucap Alaric. "Mereka tidak sabar ingin mendengar rencana darimu, Elara. Di mata mereka, kau bukan lagi sekadar putri seorang Marquess. Kau adalah 'Wanita yang Membawa Cahaya Kembali'."

Elara berbalik, menatap Alaric dengan serius. "Apakah mereka tahu risikonya? Menyerang ibu kota bukan hanya soal keberanian, tapi soal logistik dan dukungan rakyat. Jika kita hanya datang sebagai penyerbu, kita hanya akan menggantikan satu tiran dengan tiran lainnya."

Strategi Sang Ular dan Burung Merpati

Di ruang pertemuan bawah tanah yang diterangi obor, sebuah peta besar Kekaisaran Aurora terbentang di atas meja kayu oak. Elara berdiri di kepala meja, diapit oleh Alaric dan Kael. Di hadapan mereka duduk sepuluh kapten kapal dan lima komandan pasukan darat yang telah mengabdi di Avalon sejak pengasingan besar dua dekade silam.

"Kita tidak akan menyerang gerbang utama ibu kota," Elara memulai, suaranya tenang namun memiliki daya tekan yang luar biasa. "Ibu kota dilindungi oleh tiga lapis tembok dan ribuan ksatria dari ordo Matahari yang setia pada garis keturunan Kaisar. Serangan langsung adalah bunuh diri."

"Lalu apa rencana Anda, My Lady?" tanya salah satu komandan tua dengan wajah penuh bekas luka. "Kami sudah menunggu terlalu lama untuk hanya bersembunyi."

"Kita akan menyerang mereka dari dalam, melalui apa yang paling mereka cintai: Keserakahan," jawab Elara. "Dalam tiga minggu ke depan, harga gandum dan tekstil di ibu kota akan melonjak. Kita akan menggunakan jaringan dagang keluarga Lane yang masih setia untuk memboikot semua pasokan dari Barat dan Utara. Kita akan membuat rakyat lapar, bukan karena kita benci mereka, tapi agar mereka melihat bahwa kaisar mereka tidak bisa memberi mereka makan."

Alaric menambahkan, "Sambil rakyat mulai bergejolak, pasukan bayangan kita akan mulai menyebarkan bukti-bukti pengkhianatan Menteri Valois yang melibatkan ordo Matahari. Kita akan menghancurkan moral mereka sebelum pedang pertama ditarik."

"Tapi bagaimana dengan armada laut kekaisaran yang menjaga teluk?" tanya seorang kapten.

Elara tersenyum tipis. "Itulah gunanya Ksatria Perunggu. Mereka tidak butuh napas, dan mereka tidak butuh kapal. Mereka akan berjalan di bawah laut dan menghancurkan jangkar-jangkar kapal kekaisaran dari bawah saat kita memberikan tanda."

Intrik di Balik Layar

Malam harinya, setelah pertemuan selesai, Elara duduk sendirian di perpustakaan Avalon, meneliti daftar bangsawan yang ia dapatkan dari gua rahasia Valerius. Ia mencari satu nama spesifik: Countess Beatrice.

Beatrice adalah sepupu jauh dari Permaisuri, namun di kehidupan sebelumnya, Elara ingat bahwa Beatrice-lah yang memegang kunci rahasia tentang perselingkuhan Kaisar yang memalukan—sebuah skandal yang bisa meruntuhkan legitimasi takhta dalam semalam.

"Kau sedang merencanakan sesuatu yang sangat berbahaya, Elara," Alaric muncul dari balik rak buku, membawakan secangkir teh hangat untuknya.

"Aku sedang merencanakan cara untuk menang tanpa harus menumpahkan terlalu banyak darah rakyat jelata," jawab Elara. "Jika aku bisa mendapatkan dukungan Beatrice, kita memiliki saksi dari dalam lingkaran terdalam istana."

Alaric duduk di sampingnya, mengambil tangan Elara dan mengusap bekas luka ritual di telapak tangannya. "Aku takut kau akan kehilangan dirimu sendiri dalam semua skema ini. Kau mulai berpikir seperti Valerius, Elara."

Elara menatap mata Alaric, ada kesedihan yang mendalam di sana. "Mungkin itu adalah harga yang harus kubayar, Alaric. Aku sudah mati satu kali karena terlalu baik dan naif. Aku tidak akan membiarkan kematian kedua menjemputku karena aku terlalu ragu untuk menjadi kejam."

Alaric menarik Elara ke dalam pelukannya. "Jika kau menjadi kejam, biarkan aku yang menjadi tangan kotornya. Tetaplah menjadi cahaya di hatiku, Elara. Biarkan aku yang menjadi kegelapan bagi dunia ini."

Pesan dari Ibu Kota

Tiba-tiba, seekor burung elang pengirim pesan mendarat di jendela perpustakaan. Kael masuk dengan wajah pucat, membawa gulungan kecil yang diikat dengan benang merah darah.

"Pesan dari Marquess Lane, Nona," Kael menyerahkan gulungan itu.

Elara membukanya dengan tangan bergetar. Isinya singkat namun mengerikan:

"Istana telah memerintahkan eksekusi publik bagi seluruh pelayan keluarga Lane yang tertangkap. Kaisar telah menyatakan bahwa darah Lane adalah darah penyihir. Ayahmu berada dalam tahanan rumah yang sangat ketat. Waktu kita habis."

Kemarahan yang murni meledak di dalam dada Elara. Ia meremas kertas itu hingga hancur. Kaisar telah melampaui batas; dia mulai membantai orang-orang tak bersalah hanya untuk memancing Elara keluar.

"Kirim pesan ke seluruh kapal," perintah Elara, suaranya kini terdengar seperti denting logam yang tajam. "Kita berangkat besok malam. Tidak ada lagi boikot ekonomi. Kita akan menghancurkan mereka dengan badai yang tidak akan pernah mereka lupakan."

Alaric berdiri, pedang Duskbringer di pinggangnya seolah mengeluarkan aura haus darah. "Formasi penuh?"

"Formasi penuh," jawab Elara. "Katakan pada para ksatria... besok malam, kita tidak hanya pulang sebagai buronan. Kita pulang sebagai pemilik sah dari tanah yang mereka injak."

Malam itu, Kepulauan Avalon tidak lagi tenang. Suara tempaan besi dan teriakan perang bergema di seluruh pulau. Elara Lane menatap ke arah laut luas, ke arah ibu kota yang sedang menunggunya. Ia tahu bahwa mulai besok, sejarah kekaisaran akan ditulis ulang dengan tinta darah, dan ia adalah penanya.

1
Tamyst G
Semangattt
Kustri
pemuda cantik?
qu membayangkan opa"😂
Kustri
alaric jg terlahir kembali
Kustri
tulisan'a rapi, enak dibaca
lanjuuut
Tamyst G: Terimakasih atas supportnya kak
total 1 replies
Kustri
awal yg menarik
ini 2024 tp msh ada kereta kuda yaa🤔
Tamyst G: ini konsep alternate timeline, jadi 2024 versi dunia yang berbeda🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!