"Dalam permainan naskah ini, siapa yang sedang berakting dan siapa yang benar-benar jatuh cinta?"
Lin Xia hanyalah seorang penulis naskah mystery game yang hidup tenang, sampai suatu malam ia diundang dalam sebuah permainan peran (Script Killing) bertema Era Republik China yang sangat nyata. Di sana, ia bertemu dengan Gu Yan, pria misterius berdarah dingin yang berperan sebagai Kepala Militer.
Masalahnya, Gu Yan bukan sekadar pemain biasa. Ia memiliki identitas rahasia di dunia nyata. Hingga alur permainan tiba-tiba diubah oleh Penulis bayangan yang ternyata Adik Gu jingshen yaitu "Gu Yanran. Saat garis antara naskah dan realita mulai kabur, Lin Xia harus memilih: Mengikuti skenario untuk selamat, atau menulis ulang takdirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Kepulangan Sang Singa ke Kandang Musuh
[Waktu: Kamis, 30 April, Pukul 22.00 PM]
[Lokasi: Apartemen High-End Distrik Jing'an, Shanghai]
Malam di Shanghai tidak pernah benar-benar gelap. Cahaya lampu neon dari gedung-gedung pencakar langit menembus jendela kaca apartemen Lin Xia, menciptakan bayangan panjang di atas meja kerjanya. Lin Xia tidak bisa tidur. Di depannya, laptop masih menyala, menampilkan ribuan kata naskah yang baru saja ia perbaiki.
Naskah ini bukan lagi sekadar hiburan digital untuk Project Mnemosyne. Lin Xia memasukkan detail-detail dari dokumen firma hukum yang ia baca tadi siang ke dalam alur cerita. Ia mengubah nama perusahaan fiksi dalam naskah menjadi 'Z. Corp'—sebuah penghormatan tersembunyi untuk marga Zhuo.
"Marsekal Zhuo Jingshen," gumam Lin Xia sambil mengetik nama itu. "Dunia harus tahu bahwa namamu bukanlah sebuah pemberian dari pria yang menghancurkan keluargamu."
Jari-jarinya menari dengan cepat. Ia menggambarkan seorang pahlawan yang tumbuh di dalam istana musuh, berpura-pura patuh sambil menajamkan pedang di balik jubahnya. Lin Xia merasa seolah-olah ia sedang menuliskan takdir Jingshen sendiri.
[Waktu: Kamis, 30 April, Pukul 22.30 PM]
[Lokasi: Klub Malam 'The Mirage', Shenzhen]
Di sisi lain, di kota Shenzhen yang masih riuh, sebuah mobil Rolls-Royce hitam berhenti di depan pintu masuk klub milik Lin Feng. Gu Jingshen keluar dengan wajah datar, diikuti oleh Ah Cheng yang membawa tas berisi dokumen rahasia.
Begitu masuk ke area VIP, Jingshen langsung melihat Lin Feng yang sedang duduk santai dengan segelas minuman di tangannya.
"Kau terlihat seperti orang yang siap meledakkan gedung, Jingshen," canda Lin Feng, namun matanya menunjukkan kewaspadaan.
"Aku sudah mendapatkan bukti bahwa Gu Corp adalah Zhuo Corp yang dicuri," jawab Jingshen dingin tanpa basa-basi. Ia duduk dan menyerahkan sebuah dokumen pada Lin Feng. "Aku butuh jaringanmu untuk memastikan data ini sampai ke telinga para pemegang saham lama yang dulu disingkirkan oleh ayahku. Aku ingin mereka tahu bahwa ada ahli waris Zhuo yang siap mengklaim kembali haknya."
Lin Feng membaca dokumen itu sejenak, wajahnya berubah serius. "Ini gila. Tuan Besar Gu akan membunuhmu jika dia tahu kau memegang ini. Kau sedang bermain api dengan menyulut dendam masa lalu, Kawan."
"Api ini sudah menyala sejak kebakaran tiga puluh tahun lalu, Feng. Aku hanya menambah bensinnya," balas Jingshen tajam.
[Waktu: Kamis, 30 April, Pukul 23.00 PM]
[Lokasi: Kediaman Utama Keluarga Gu, Shenzhen]
Sementara itu, di kediaman mewah keluarga Gu, suasana sangat mencekam. Gu Yanran baru saja melangkah masuk ke rumah setelah menyelesaikan pertemuan kerjasama dengan perusahaan dari Singapura. Ia merasa lelah, namun rasa lelahnya hilang seketika saat melihat ayahnya, Tuan Besar Gu, berdiri di tengah ruang keluarga dengan wajah merah padam.
"Di mana kakakmu?!" suara Tuan Besar Gu menggelegar, membuat para pelayan menunduk ketakutan.
"Aku tidak tahu, Pa. Aku baru saja pulang dari kantor," jawab Yanran sambil berusaha tetap tenang.
"Dia sengaja menghindari rapat direksi sore tadi! Dia pikir dia sudah cukup kuat untuk berjalan sendiri?!" Tuan Besar Gu membanting sebuah vas bunga kecil di atas meja. "Jika dia tidak pulang malam ini, aku akan mencopot jabatannya sebagai CEO besok pagi juga! Aku bisa mengangkatmu sebagai gantinya!"
Yanran tersentak. Meskipun ia bersaing dengan kakaknya, ia tahu betapa kerasnya Jingshen bekerja untuk perusahaan ini. Ia juga merasakan ada yang tidak beres dengan kemarahan ayahnya yang tidak biasa ini—seolah ayahnya sedang merasa terancam.
Yanran segera menjauh dari ayahnya dan mengeluarkan ponsel. Ia dengan cepat mengirim pesan chat ke kakaknya.
Gu Yanran: "Kak, apa yang kau lakukan? Ayah benar-benar mengamuk di rumah. Dia bicara tentang mencopot jabatan CEO-mu malam ini juga. Pulanglah sekarang sebelum semuanya terlambat. Jangan cari masalah lebih jauh!"
[Waktu: Kamis, 30 April, Pukul 23.15 PM]
[Lokasi: Klub Malam 'The Mirage', Shenzhen]
Di dalam klub, ponsel Jingshen bergetar. Ia membaca pesan dari Yanran. Sebuah senyum miring muncul di wajahnya. Ia tahu saat ini akan tiba—saat di mana sang tiran mulai merasa cemas karena kehilangan kendali atas budaknya.
"Tuan, apakah kita akan pulang?" tanya Ah Cheng ragu.
Jingshen berdiri, merapikan jasnya yang mahal. "Ya. Singa tua itu mulai lapar. Mari kita beri dia sedikit 'makanan'."
Jingshen berpamitan pada Lin Feng dan melangkah keluar klub. Ia tahu kepulangannya malam ini tidak akan disambut dengan kehangatan keluarga, melainkan dengan interogasi dan ancaman. Namun, Jingshen tidak lagi takut. Ia memiliki "perisai" di Shanghai—Lin Xia—dan ia memiliki "pedang" di tangannya—bukti kebenaran tentang Zhuo Corp.
[Waktu: Jumat, 1 Mei, Pukul 00.00 AM]
[Lokasi: Depan Gerbang Kediaman Gu, Shenzhen]
Mobil Jingshen memasuki halaman rumah yang luas. Begitu pintu depan terbuka, ia disambut oleh keheningan yang menyesakkan. Tuan Besar Gu masih duduk di kursi kebesarannya, sementara Nyonya Gu berdiri di sudut ruangan dengan mata sembab, tampak sangat tertekan.
Jingshen berjalan masuk dengan langkah mantap. Ia berhenti tepat di depan ayahnya.
"Kau pulang juga akhirnya," desis Tuan Besar Gu. Matanya menatap Jingshen seolah ingin menembus isi kepalanya. "Dari mana saja kau? Kenapa kau melewatkan rapat direksi yang sangat penting untuk ekspansi kita?"
Jingshen menatap balik dengan tatapan yang sama tajamnya. "Aku ada urusan di Shanghai, Pa. Urusan tentang... masa depan perusahaan yang mungkin belum sempat Papa pikirkan."
Mendengar kata 'Shanghai', tubuh Tuan Besar Gu sedikit menegang, namun ia segera menutupinya dengan kemarahan. "Masa depan perusahaan ada di tanganku! Bukan di tangan seorang anak yang tidak tahu berterima kasih! Kau tahu, aku bisa menghancurkan karirmu dalam sekejap?"
"Papa bisa mengambil jabatan CEO-ku," ucap Jingshen dengan suara yang sangat tenang namun berwibawa, membuat Yanran yang berdiri di tangga terpaku. "Tapi Papa tidak bisa mengambil apa yang sudah menjadi takdirku sejak lahir. Bukankah begitu, Paman Gu?"
Suasana mendadak membeku. Jingshen sengaja menggunakan kata 'Paman', sebuah panggilan yang tidak pernah ia gunakan selama puluhan tahun. Nyonya Gu menutup mulutnya karena terkejut, sementara wajah Tuan Besar Gu berubah dari merah menjadi pucat pasi.
"Apa... apa kau bilang?!" suara Tuan Besar Gu gemetar karena amarah dan ketakutan yang bercampur.
"Aku lelah, Pa. Aku akan istirahat. Kita bicara lagi besok saat kepala Papa sudah lebih dingin," ucap Jingshen tanpa menunggu jawaban. Ia berbalik dan menaiki tangga melewati Yanran yang hanya bisa menatap kakaknya dengan mulut menganga.
Di dalam kamarnya, Jingshen langsung mengunci pintu. Ia mengambil ponselnya dan melihat pesan dari Lin Xia yang baru saja masuk.
Lin Xia: "Naskahnya sudah selesai untuk bab ini, Jingshen. Sang pahlawan sudah tahu siapa dirinya. Tidurlah yang nyenyak, 'Marsekal'-ku."
Jingshen tersenyum tipis. Ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur, menyadari bahwa perang terbuka telah resmi dimulai malam ini. Di bawah atap yang sama dengan musuhnya, sang pewaris Zhuo Corp akhirnya mulai mengambil kembali jiwanya yang sempat hilang.