NovelToon NovelToon
Crowned Villains :The End Of Old World

Crowned Villains :The End Of Old World

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Action / Fantasi
Popularitas:286
Nilai: 5
Nama Author: Asjoe the writer

Dunia adalah sebuah luka yang menolak untuk sembuh. Di Utara, perang suci antara Holy Kingdom dan Demon Realm tak kunjung usai. Di Selatan, tirani matriarki menciptakan perbudakan sistematis terhadap kaum pria. Sementara di Timur, jutaan nyawa menjadi tumbal bagi ambisi Federasi dan Aliansi. Bahkan di Barat, Kekaisaran Berline yang agung telah membusuk dari dalam akibat korupsi, nepotisme, dan kelaparan yang mencekik rakyatnya.Saat dunia memprediksi keruntuhan Berline akan menjadi awal dari domino kehancuran global, sebuah anomali muncul dari balik bayangbayang. Bukan pahlawan yang bangkit, melainkan Chara Initiative Organization (CIO). Sebuah organisasi villain yang kejam dan tak terduga. Lewat kudeta berdarah, mereka merebut tahta Berline dan memulai langkah radikal untuk menjungkirbalikkan tatanan dunia yang lama. Bagi mereka, dunia yang rusak tidak butuh diperbaiki; dunia butuh dihancurkan untuk dibangun kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asjoe the writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedaulatan yang Retak

Kemenangan besar CIO di perbatasan Azof tidak membawa ketenangan bagi Federasi. Sebaliknya, Barloa kini terasa seperti penjara bawah tanah yang pengap bagi Kaelen.

Laporan tentang "Lembah Kematian" di mana 15.000 pasukan Aliansi binasa dalam hitungan jam telah sampai ke telinga dewan tinggi Federasi, dan hasilnya adalah paranoia massal.

"Mereka menuntut kita untuk melucuti senjata!" Count Carlosc berteriak di ruang rapat, wajahnya merah padam. Di tangannya ada dekrit resmi dari ibu kota Federasi.

"Dewan pengecut itu takut kalau CIO akan mengarahkan moncong besi mereka ke arah kita jika kita terus membangun kekuatan di Barloa!"

Kaelen berdiri di dekat jendela, menatap ke arah Barat.

"Mereka tidak mengerti, Count. Melucuti senjata di depan macan yang sedang lapar adalah tindakan bunuh diri. Dewan berpikir dengan memberikan konsesi wilayah atau janji perdagangan, CIO akan berhenti. Mereka tidak sadar bahwa Aris tidak menginginkan emas kita—dia menginginkan sistem kita runtuh."

"Lalu apa?" Carlosc melempar dekrit itu ke meja.

"Kita punya Aliansi yang sekarang marah besar di Timur karena mengira kita bersekutu dengan Berline, dan kita punya 'Hantu Barat' yang bisa membunuh ksatria dari jarak satu kilometer. Kita terjepit, Kaelen!"

Kaelen berbalik, matanya menunjukkan ketegasan yang melampaui usianya.

"Kita harus mengirim utusan pribadi. Bukan utusan diplomatik dewan yang penuh basa-basi, tapi seseorang yang bisa melihat langsung apa yang terjadi di dalam Berline. Kita perlu tahu apakah senjata itu bisa dipatahkan oleh sihir, atau apakah kita harus mulai belajar cara membuatnya."

"Kau ingin mengirim mata-mata ke sarang naga?" Carlosc mendengus.

"Siapa yang cukup gila untuk melakukan itu?"

"Aku," sahut Elara yang sejak tadi diam di sudut ruangan.

"Sihir pengalihan dan sensor mana milikku adalah yang terbaik di akademi. Jika ada yang bisa masuk ke pabrik mereka tanpa terdeteksi, itu adalah aku."

Kaelen menggeleng kecil. "Terlalu berbahaya, Elara. CIO punya alat pendeteksi yang tidak menggunakan mana. Ingat laporan dari Azof? Mereka tidak punya penyihir, tapi mereka tahu posisi musuh dengan tepat. Itu artinya mereka punya sensor mekanis."

Pertemuan itu berakhir tanpa solusi pasti, meninggalkan rasa pahit di mulut Kaelen. Federasi yang ia bela kini terasa rapuh, terombang-ambing oleh ketakutan akan teknologi yang tidak mereka pahami.

Kaelen menyadari bahwa pedang dan Holy Crest miliknya mungkin akan segera menjadi barang antik di museum sejarah jika ia tidak segera beradaptasi.

Sementara itu – Di Kaki Pegunungan Ergest, Perbatasan Selatan

Di saat para pemimpin di Utara dan Timur sibuk dengan urusan militer yang berisik, sebuah gerakan sunyi terjadi di jalur-jalur tikus Pegunungan Ergest.

Tiga sosok berjubah abu-abu bergerak dengan kelincahan yang tidak manusiawi di antara tebing-tebing curam. Mereka bukan prajurit bersenapan, melainkan unit khusus CIO: Division Zero.

Di bawah jubah mereka, terpasang Exoskeleton ringan bertenaga uap yang membantu mereka mendaki medan vertikal tanpa suara.

Pemimpin unit itu, seorang pria bernama Vane, berhenti di sebuah puncak yang menghadap ke hamparan hijau yang luas—wilayah Kerajaan Selatan.

"Udara di sini berbeda," bisik salah satu rekannya.

"Terlalu banyak mana yang murni. Sensor biologis di lenganku mulai berkedip merah."

"Itu karena para wanita di bawah sana adalah anomali," jawab Vane dingin.

Ia mengeluarkan sebuah perangkat pemancar kecil dan menanamnya di dalam tanah. "Tugas kita sederhana. Jangan ada kontak senjata. Jangan ada jejak. Kita di sini hanya untuk menyebarkan 'benih'."

Vane membuka sebuah tas kecil berisi selebaran-selebaran tipis yang dicetak dengan teknik press modern. Isinya bukan tentang perang, melainkan tentang Hak Kesetaraan dan Kebebasan dari Perbudakan. Di dunia Selatan yang menindas kaum pria, kata-kata ini lebih mematikan daripada peluru meriam.

"Berapa lama sampai demonstrasi pertama pecah, Sir?"

Vane menatap cahaya lampu-lampu kota di kejauhan, tempat para pria hidup sebagai warga kelas bawah.

"Direktur Aris bilang, berikan mereka harapan, dan mereka akan membakar istana ratu mereka sendiri untuk kita. Kita hanya perlu menyediakan korek apinya."

Sosok-sosok itu menghilang ke dalam kegelapan, menyusup ke jantung wilayah yang selama ini menganggap diri mereka tak tersentuh. Badai bukan lagi sekadar suara ledakan di Barat; kini, badai itu mulai merayap dalam bentuk bisikan revolusi di Selatan yang tenang.

1
anggita
mampir like👍 iklan ☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!