Dita, seorang Caregiver yang merawat dengan sepenuh hati majikannya yang lumpuh, Bu Diana. sampai, suatu hari, Bu Diana meminta sesuatu yang membuat Dita menahan napasnya...
"Menikahlah dengan Tama, Dit. Aku tak mau Tama menikah dengan wanita binal itu... kamu harus selamatkan anakku, seperti kamu menyelamatkan aku..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6
Tama sempat membeku ketika Selina memeluknya.
Tubuh wanita itu hangat. Terlalu hangat untuk sekadar rindu biasa.
“Aku… enggak kuat nahan kangen, Tam,” bisik Selina di dada pria itu.
Tama menarik napas panjang. Tangannya terangkat, ragu sepersekian detik, sebelum akhirnya membalas pelukan itu. “Kamu kenapa enggak bilang mau pulang?”
“Biar jadi kejutan,” jawab Selina pelan, wajahnya terangkat, menatap mata Tama lekat-lekat. “Aku pikir kamu bakal senang.”
“Aku senang,” jawab Tama cepat. Terlalu cepat. “Cuma kaget aja.”
Selina tersenyum tipis, lalu menggenggam lengan Tama. “Aku ikut kamu pulang, ya? Ke rumah. Aku dengar… mamamu sudah lebih baik?”
Tama terdiam.
Bayangan pagi tadi melintas—Andita berlutut di depan kursi roda Bu Diana, sorot matanya penuh keyakinan. Dan bayangan lain… kilatan singkat yang membuat dadanya mengencang. Ia menepisnya.
“Ma memang lagi stabil,” jawabnya hati-hati. “Tapi… mungkin bukan hari ini.”
“Kenapa?” nada Selina berubah sedikit. “Aku cuma mau lihat. Sebentar saja.”
Tama menggeleng pelan. “Ma lagi gampang capek. Aku enggak mau kamu datang pas suasananya enggak enak.”
Selina menatapnya lama. “Atau kamu yang enggak siap?”
“Tentu saja bukan itu.” Tama tersenyum, mencoba menenangkan. “Besok aku libur. Kita pergi sama-sama. Lebih enak, lebih santai.”
Selina menimbang. Ada kekecewaan tipis di matanya, tapi ia menarik napas dan mengangguk. “Oke. Besok.”
Sore itu, sebelum pulang, Tama menelepon Andita.
“Dit, Mama gimana?” tanyanya tanpa basa-basi.
“Stabil, Tuan,” jawab Andita lembut dari seberang. “Tadi siang istirahatnya bagus. Tekanan darah juga normal.”
“Enggak ada keluhan?”
“Tidak ada.”
Ada jeda kecil.
“Baik. Tolong bantu ya.”
“Iya, Tuan.”
Nada Andita tetap profesional. Stabil. Tapi setelah telepon ditutup, ia memandangi layar ponselnya cukup lama.
Ciuman itu terlintas lagi. Singkat. Tidak seharusnya terjadi. Ia menekan pelipisnya pelan.
“Sadar diri, Dit,” bisiknya pada diri sendiri. “Kamu cuma perawat.”
****
Keesokan harinya, Selina berdiri di depan cermin apartemennya.
Ia memilih blus putih lengan panjang yang sopan, dipadukan rok selutut berwarna lembut. Rambutnya ditata rapi, make-up tipis, elegan.
“Aku harus terlihat pantas,” gumamnya.
Pukul sepuluh, Tama menjemput.
“Kamu cantik,” katanya jujur ketika Selina masuk ke mobil.
Selina tersenyum puas. “Aku mau kasih kesan baik.”
“Ma memang agak… datar,” Tama mengingatkan. “Jangan terlalu dipikirin.”
Selina mengangguk, meski hatinya berdebar.
Di rumah besar itu, Bu Diana sudah duduk di ruang tamu, mengenakan blus terbaiknya. Rambutnya disisir rapi oleh Andita.
“Kamu tau, Dit?” gumamnya pelan. "Semalam, Tama bilang mau bawa pacarnya ke sini."
Deg!
Tangan Dita berhenti sesaat menyisir rambut bu Diana. Tapi, dia cepat menyadarkan diri.
“Iya, Bu,” jawab Andita sambil merapikan selimut di pangkuan Bu Diana.
“Kamu sudah ketemu?”
“Belum.”
Bu Diana melirik Andita. “Oh, semoga anaknya baik, ya Dit?”
Andita tersenyum kecil. "Iya, Bu."
Padahal hatinya mulai tak karuan...
Pintu depan terbuka.
“Mama!” suara Tama terdengar cerah.
Selina melangkah masuk di sampingnya, tersenyum manis. “Selamat siang, Tante.”
Bu Diana menatapnya dari ujung kepala sampai kaki.
“Siang,” jawabnya pendek.
Selina mendekat, menyalami dengan sopan. “Aku Selina, Tante.”
“Iya. Tama pernah cerita tentang kamu.”
Nada itu tidak dingin, tapi juga tidak hangat.
Andita berdiri sedikit menjauh, memperhatikan. Dadanya terasa menjepit aneh, tapi ia menunduk, menjaga jarak.
Mereka makan siang bersama.
Selina banyak bercerita tentang pekerjaannya di luar negeri, tentang rencananya ke depan. Tama sesekali menyela, tersenyum bangga.
Bu Diana hanya mendengarkan.
Sesekali menjawab singkat.
“Kamh lama di luar?” tanya Bu Diana.
“Hampir 3, Tante. Tapi sekarang aku mau lebih sering di sini,” jawab Selina cepat, melirik Tama.
“Lama juga di sana, gimana bisa ketemu Tama?” tanya Bu Diana lagi.
Selina tersenyum tipis. “Ya bisa aja, Tan. Kami kan berjodoh.”
Tama tertawa kecil, menganggap itu manis.
Namun entah kenapa, Bu Diana hanya mengangguk datar.
Selina bisa merasakannya. Aura itu. Tidak diterima sepenuhnya.
Tapi ia menepisnya.
Yang penting Tama.
Di sisi lain, matanya sempat menangkap Andita di dapur, membantu menyiapkan minum. Perawat itu muda. Cantik dengan cara sederhana.
Tanpa sadar, pikiran Selina berdesir.
Muda. Tinggal serumah. Mengurus setiap hari.
Ia tersenyum tipis, tapi ada sesuatu yang mengeras di dadanya.
Sore menjelang, Tama dan Selina duduk berdua di teras belakang.
“Mama memang begitu,” kata Tama santai. “Kalau lagi sehat, ya begini. Datar.”
“Dia kayak enggak suka aku,” keluh Selina pelan.
“Kamu terlalu sensitif. Mama emang gitu.”
Selina menghela napas. “Perawat itu… sudah lama di sini?”
“Beberapa bulan.”
“Cantik juga.”
Tama tertawa. “Kamu cemburu sama perawat?”
Selina pura-pura kesal. “Aku cuma enggak mau nanti kamu tergoda.”
Kalimat itu membuat Tama terdiam sepersekian detik.
Bayangan ciuman singkat di lorong itu muncul lagi. Andita yang terkejut. Nafas yang bertabrakan.
Ia cepat mengalihkan. “Kamu aneh-aneh aja.”
Selina mendekat, jemarinya bermain di kerah kemeja Tama. “Aku serius.”
Tama menatapnya, lalu tanpa sadar jarak mereka memendek. Bibir mereka bertemu—lembut, tapi penuh tuntutan yang tak terucap.
“Tama!”
Suara Bu Diana memanggil dari dalam.
Selina menjauh dengan wajah kesal. "Ck! Menganggu aja."
Tama langsung berdiri. “Aku ke dalam dulu.”
Selina duduk sendirian beberapa menit. Hatinya terasa asing.
Tak lama, ia memutuskan pulang lebih awal.
“Aku antar,” kata Tama.
***
Begitu Tama kembali ke rumah, Bu Diana langsung memanggilnya.
“Kamu serius dengan dia?” tanyanya tanpa basa-basi.
“Iya, Ma.”
Bu Diana menghela napas panjang. “Mama tidak suka.”
Tama terdiam. “Kenapa?”
“Cara bicaranya halus. Tapi matanya… tidak hangat.”
Tama mengernyit. “Mama terlalu cepat menilai.”
“Perasaan Mama jarang salah.”
Tama duduk di depan kursi roda itu. “Kasih waktu. Nanti Mama juga terbiasa.”
Bu Diana menatapnya lama. “Kamu bahagia?”
Tama tidak langsung menjawab. “Iya.”
“Pastikan itu benar,” gumam Bu Diana pelan.
Keesokan harinya, Tama menelepon Selina.
“Kamu harus lebih sering ke rumah,” katanya.
“Sering?” Selina terdengar ragu.
“Biar Mama kenal kamu. Biar akrab.”
Selina terdiam sejenak. Ia membayangkan tatapan Bu Diana kemarin. Dan sosok Andita yang tenang berdiri di belakang.
"Baiklah, Tam. Demi kamu..."
Tama tersenyum lega. “Terima kasih.”
Namun setelah telepon ditutup, Selina menatap pantulan dirinya di cermin.
"Kenapa mamanya Tama enggak suka sama aku? Ah, peduli amat. Aku coba dekatin dulu. Kalau masih tak terima juga, keknya kuracun saja biar enggak ganggu hubunganku sama Tama."