Sebuah jam tangan tua milik sang ibu menghilang, membawa Ustadz Adnan pada sebuah nazar yang menguji keimanannya di mata manusia. Ia berjanji: jika pria yang menemukannya, akan ia beri sawah; jika wanita, akan ia jadikan istri.
Namun, semesta seolah sedang menguji nuraninya saat jam tersebut kembali melalui tangan Kinan—seorang wanita penghibur yang merasa dirinya telah ternoda oleh pekatnya dunia malam.
"Saya ini bukan bidadari surga, Ustadz. Mana mungkin saya bisa bersanding dengan Anda?"
Bagi Adnan, Kinan bukanlah sebuah kesalahan, melainkan pintu dakwah yang paling nyata. Namun, keputusan Adnan melamar Kinan memicu badai penolakan. Keluarga, santri, hingga masyarakat mengecam sang Ustadz karena dianggap mencoreng martabat gelarnya demi seorang "pendosa."
Di antara cibiran dunia dan upaya Kinan untuk lari dari masa lalunya, Adnan tetap teguh pada prinsipnya: "Saya mencari teman menuju surga, bukan seseorang yang merasa sudah memilikinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Lampu-lampu pesantren yang benderang kini terasa seperti sorot lampu pesakitan bagi Kinan.
Bisik-bisik santri dan tatapan tajam para wali murid menghujam jantungnya.
Tidak ada tangan yang terulur, tidak ada suara yang membela.
Suaminya, pelindung yang ia percayai, telah pergi membawa wanita lain dalam dekapannya.
Kinan kini berdiri sendirian di tengah kebencian warga tanpa pelindung.
Dengan sisa kekuatan yang ada, ia merapikan gamis hitamnya yang ternoda kuah rawon.
Ia tidak menangis di sana dan tidak ingin memberikan kepuasan pada mereka yang menilainya sampah.
Dengan langkah tegap namun rapuh, ia berjalan keluar dari gerbang pesantren yang dulu pernah mengusirnya.
Di pinggir jalan raya yang sepi, Kinan memutuskan untuk mencari ojek dan mengantarkannya pulang.
Angin malam yang dingin menerpa wajahnya di atas motor, namun hatinya terasa jauh lebih dingin dan membeku.
Sesampainya di rumah, Kinan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan tatapan kosong.
Ia tidak mengganti bajunya yang kotor. Ia hanya menatap langit-langit kamar, memikirkan betapa cepatnya janji setia Adnan menguap hanya karena satu teriakan dari wanita lain.
Sementara itu, di tempat lain, di mana dokter telah memberikan salep untuk Fauziah di unit gawat darurat.
Luka bakar itu sebenarnya tidak seberapa, namun Fauziah terus merintih seolah nyawanya terancam, hanya untuk menarik simpati Adnan yang duduk di samping brankar dengan wajah kalut.
"Sudah agak mendingan, Ustadz. Terima kasih sudah menolongku," ucap Fauziah dengan suara lemah yang dibuat-buat.
Adnan menghela napas panjang. Rasa bersalah mulai merayapi benaknya. Bukan hanya karena kondisi Fauziah, tapi bayangan wajah Kinan yang mematung di pesantren tadi mulai menghantuinya.
"Sekarang kita kembali ke pondok. Acara Abah belum selesai, dan aku harus mencari Kinan," ucap Adnan dengan nada bicara yang mulai tegas.
Ia merasa ada yang tidak beres dengan keputusannya yang terlalu terburu-buru tadi.
Di saat yang sama, suasana di kediaman Kyai Mansyur mendadak tegang.
Sementara itu, santriwati lainnya, yang selama ini diam karena takut pada Fauziah, akhirnya memberanikan diri menuju ke Kyai Mansyur dan mengatakan kalau yang dikatakan Fauziah adalah bohong.
"Abah, kami tidak bisa diam lagi. Mbak Kinan tidak bersalah," ucap salah satu santriwati dengan suara bergetar.
Kyai Mansyur mengernyitkan dahi. "Apa maksud kalian? Semua orang melihat Fauziah tersiram kuah panas."
"Tidak, Abah. Kami punya buktinya," santriwati itu melangkah maju.
Mereka menunjukkan ponselnya di mana sebuah rekaman video singkat terlihat jelas.
Video itu diambil secara tidak sengaja oleh seorang santri yang sedang membuat vlog suasana pondok.
Dalam rekaman itu, terlihat sangat jelas Fauziah mengambil mangkok dan menyiramnya sendiri ke tangannya setelah sebelumnya membisikkan sesuatu yang sinis ke telinga Kinan.
Kinan hanya berdiri diam, bahkan tidak menyentuh mangkok itu sedikit pun.
Wajah Kyai Mansyur memerah padam. Amarahnya memuncak melihat fitnah keji yang terjadi di bawah atap pondoknya sendiri.
"Panggil Adnan dan Fauziah sekarang juga! Suruh mereka menghadapku begitu sampa
Hening malam di pondok pesantren seketika pecah saat mobil Adnan memasuki gerbang.
Belum sempat Adnan memarkirkan kendaraannya dengan sempurna, beberapa santriwati meminta Adnan dan Fauziah ke ruangan Kyai Mansyur dengan wajah yang sangat serius.
Fauziah, yang masih berlagak lemas dengan tangan terbalut perban, tersenyum penuh kemenangan di balik kerudungnya.
Ia mengira Kyai Mansyur akan memberikan sanksi berat atau bahkan mengusir Kinan secara permanen malam ini.
Namun, begitu mereka melangkah masuk ke ruangan kayu yang harum aroma gaharu itu, suasana terasa mencekam.
Kyai Mansyur duduk tegak dengan rahang mengeras.
Di atas meja, sebuah ponsel masih menyala, menampilkan cuplikan video yang terus berulang—detik-detik saat Fauziah menyiramkan kuah panas itu ke tangannya sendiri.
"Lihat ini, Adnan," suara Kyai Mansyur rendah namun menggelegar.
Adnan mendekat, matanya membelalak. Seluruh sendinya terasa lemas saat melihat kebenaran yang terpampang nyata.
Ia menoleh ke arah Fauziah yang seketika pucat pasi, tubuhnya gemetar hebat hingga perbannya seolah tak berguna lagi.
"Jadi, ini semua fitnah?" bisik Adnan, suaranya parau menahan sesak.
Seketika itu juga, kesadaran menghantamnya seperti godam raksasa.
Adnan sampai tidak sadar jika istrinya sudah tidak ada lagi di pondok pesantren.
Ia menoleh ke sekeliling ruangan, lalu berlari keluar mencari sosok wanita bergamis hitam itu di tengah kerumunan, namun nihil. Kinan telah pergi.
Ia telah meninggalkan Kinan sendirian di tengah lautan kebencian demi melindungi seorang pembohong.
Tanpa memedulikan teriakan Fauziah yang mulai menangis histeris memohon ampun pada Kyai Mansyur, Adnan segera pulang dan menuju ke rumahnya.
Ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, air mata penyesalan mulai membasahi pipinya.
"Bodoh, aku suami yang sangat bodoh!" umpatnya pada diri sendiri.
Sesampainya di halaman rumah, ia melihat rumah yang gelap.
Tidak ada lampu teras yang menyala, seolah-olah rumah itu telah kehilangan jiwanya.
Adnan membuka pintu dengan tangan gemetar, langkah kakinya terdengar berat di atas lantai yang dingin.
Ia masuk ke kamar melihat Kinan yang di atas tempat tidur sambil melamun.
Kinan masih mengenakan gamis hitam yang sama, noda kuah rawon yang mengering di kainnya tampak seperti luka yang menganga. Ia tidak menoleh saat Adnan masuk.
Matanya menatap kosong ke arah jendela, seolah-olah rohnya telah terbang meninggalkan raga yang sudah terlalu lelah disakiti.
Adnan berlutut di samping tempat tidur, tidak berani menyentuh tangan Kinan.
"Kinan, Mas sudah tahu semuanya," bisik Adnan dengan suara yang pecah oleh tangisan.
"Abah punya buktinya. Fauziah yang melakukannya sendiri. Mas benar-benar minta maaf, Sayang. Mas gagal lagi melindungimu."
Kinan tetap diam. Tidak ada amarah, tidak ada isak tangis.
Diamnya Kinan jauh lebih menakutkan daripada bentakannya kemarin sore.
Ia seolah telah membangun tembok yang sangat tinggi, yang bahkan permohonan maaf paling tulus pun tidak akan bisa Menembusnya
Suasana kamar yang tadinya hanya diisi oleh isak tangis penyesalan Adnan, mendadak berubah menjadi dingin dan kaku.
Kinan bangkit dari tempat tidurnya, gerakannya pelan namun pasti.
Tidak ada sisa kemarahan di wajahnya, hanya ada kelelahan yang luar biasa—lelah karena terus-menerus menjadi tersangka di mata orang yang paling ia cintai.
"Besok kita bertemu di pengadilan agama," ucap Kinan, suaranya datar, tanpa emosi, seolah ia sedang membacakan jadwal harian yang biasa.
Adnan terkesiap, jantungnya seakan berhenti berdetak.
"Kinan, jangan. Mas mohon. Mas salah, Mas mengaku bersalah. Abah sudah tahu semuanya, Fauziah akan dihukum—"
"Aku tidak meminta apa pun," potong Kinan, matanya menatap lurus ke arah Adnan, namun tatapan itu terasa kosong.
"Cukup ceraikan aku saja. Dan soal nazar... anggap saja tidak ada. Aku melepaskanmu dari segala janji itu. Aku hanya ingin tenang, Mas. Aku ingin pulang ke tempat di mana tidak ada orang yang perlu meragukan siapa aku."
Kinan menarik napas panjang, mencoba menahan rasa pening yang tiba-tiba menyerang kepalanya.
"Aku akan menyiapkan air hangat untuk kamu mandi, Mas. Aku akan menjadi istri untuk terakhir kalinya malam ini."
Tanpa menunggu jawaban, Kinan melangkah keluar kamar.
Tubuhnya yang mungil tampak sangat rapuh. Perutnya yang kosong sejak siang dan tekanan batin yang bertubi-tubi membuat pandangannya mulai kabur.
Dunianya terasa berputar, setiap langkahnya terasa berat seperti menginjak awan.
Kinan berjalan ke arah tangga, tangannya mencoba meraih pegangan kayu, namun jemarinya tak sampai. Kegelapan tiba-tiba merenggut kesadarannya.
Ia yang belum makan apa pun langsung jatuh berguling-guling dari anak tangga teratas.
Tubuhnya menghantam anak tangga satu per satu dengan suara yang memilukan, sampai kepalanya terbentur lantai granit yang dingin dengan keras.
"KINAN!!" teriak Adnan histeris.
Adnan berlari secepat kilat menuruni tangga. Ia menemukan Kinan tergeletak tak berdaya di lantai bawah.
Darah segar mulai mengalir dari pelipisnya, membasahi kerudung hitam yang masih ia kenakan.
Wajahnya pucat pasi, matanya terpejam rapat dengan napas yang satu-satu.
"Bangun, Sayang! Bangun!" ratih Adnan sambil memangku kepala Kinan, tangannya gemetar hebat menyentuh darah yang hangat itu.
"Mas mohon, jangan tinggalkan Mas sekarang! Kinan!"
Penyesalan itu kini berubah menjadi horor yang nyata.
Adnan menyadari, permintaan cerai Kinan tadi mungkin adalah kata-kata terakhir yang ia dengar dalam keadaan sadar.
Di tengah keheningan rumah yang mencekam, Adnan hanya bisa meraung, mendekap tubuh istrinya yang mendingin, sementara sirine ambulans yang ia telepon terdengar samar di kejauhan.
ustadz jg manusia bysa😁
Syok berat tuh pak ustadz Adnan😅