Kata orang, cinta itu buta. Buat Kara Anindita, cinta itu bukan cuma buta, tapi juga bikin miskin mendadak.
Demi menikah dengan Rio Pratama—cowok biasa yang dia pikir tulus mencintainya apa adanya—Kara rela melakukan "prank" terbesar dalam hidupnya. Dia menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal Anindita Group, raksasa properti nomor satu di negeri ini. Kara menukar kartu kredit unlimited-nya dengan uang belanja recehan, menukar penthouse mewahnya dengan kontrakan petak yang atapnya bocor, dan menukar gaun desainernya dengan daster diskonan di pasar kaget.
Kara pikir, hidup sederhana asal penuh cinta itu indah.
Tapi ternyata, "tulus" itu ada masa kedaluwarsanya.
Tiga tahun menikah, setelah karier Rio menanjak (yang Rio nggak tahu, itu berkat koneksi "orang dalam" Kara), sikap suaminya berubah 180 derajat. Rio mulai sombong, gila hormat, dan menganggap pengorbanan Kara sebagai kewajiban istri yang tidak berpenghasilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29: Runtuhnya Sandiwara dan Serangan Panik
Layar LED raksasa di Grand Ballroom itu masih menyala terang, menampilkan adegan yang sangat kontras dengan "Drama Korban" yang baru saja Rio mainkan.
Di layar, terlihat jelas wajah Rio yang menyeringai serakah saat menghitung gepokan uang merah di pinggir kali yang kotor.
Lalu layar berganti menampilkan tangkapan layar percakapan WhatsApp yang diperbesar.
Unknown Number: "Inget, pas bagian diusir satpam, air matanya dikeluarin. Bikin netizen iba."
Rio: "Siap, Bos. Beres. Duit sisa kapan cair?"
Unknown Number: "Kalau nama Kara udah hancur, gue transfer 90 juta lagi."
Suasana di ballroom yang tadinya hening, kini meledak.
"Gila! Jadi itu settingan?!" teriak seorang wartawan.
"Wah, parah! Kita diprank satu Indonesia!"
Rio Pratama, yang duduk sendirian di sisi kanan panggung, merasa kursinya tiba-tiba dipenuhi paku. Wajahnya yang tadi disetting sendu, kini berubah menjadi topeng horor. Keringat sebesar biji jagung meluncur deras, luntur bersama bedak yang dipakaikan makeup artist tadi.
Rio berdiri dengan lutut gemetar. Dia menunjuk layar itu dengan telunjuk yang goyah.
"BOHONG! ITU BOHONG!" teriak Rio, suaranya pecah karena panik.
"Itu bukan saya! Itu... itu AI! Itu Deepfake! Kara sengaja bikin video itu pake komputer canggih buat ngejebak saya! Jangan percaya! Teknologi sekarang kan canggih!"
Wartawan justru semakin gencar memotret wajah panik Rio. Kilatan blitz membutakan matanya.
Kara tersenyum tipis. Dia bahkan tidak perlu berdiri. Dia menoleh ke Damian.
"Giliranmu, Dam," bisik Kara.
Damian mengangguk. Dia mengambil mikrofon, suaranya berat dan menggelegar memenuhi ruangan, membungkam teriakan histeris Rio.
"Mas Rio bilang ini AI?" Damian menatap Rio dengan tatapan merendahkan. "Sayangnya, sistem perbankan Indonesia belum bisa dipalsukan oleh AI."
Damian menekan tombol clicker. Layar berubah menampilkan bukti mutasi rekening koran elektronik yang sudah diverifikasi legalisir bank.
Transfer Masuk: Rp 10.000.000,-
Dari: CLARISSA M.
Berita: DP Project K.
"Ini bukti transfer real-time yang masuk ke rekening Ibu Anda, Ratna Sari, pada tanggal dan jam yang sama dengan video CCTV tersebut. Apakah Ibu Anda juga AI, Mas Rio?"
Rio terdiam. Mulutnya menganga, tapi tidak ada suara yang keluar. Dia lupa kalau ibunya memakai rekening pribadinya untuk menerima uang itu karena rekening Rio sendiri sudah diblokir bank akibat utang.
Skakmat.
Kolom live chat di YouTube dan Instagram meledak seketika.
@NetizenCerdas: ANJIRRR malu banget woy! Ngaku AI taunya ada bukti transfer!
@TimKara: Mampus! Kena ulti Pak Damian!
@KorbanRio: #RioPenipu #JusticeForKara. Maafin kami Mbak Kara udah suudzon!
Damian berdiri, berjalan ke depan panggung. Dia menatap lurus ke lensa kamera utama yang menyiarkan acara ini secara langsung ke jutaan rumah.
"Dan untuk dalang di balik semua ini..."
Suara Damian menjadi dingin dan tajam.
"Wanita pemilik mobil Alphard putih dengan plat nomor B 17... (Damian menyebutkan sebagian plat nomor). Kami tahu siapa Anda. Kami tahu motif Anda."
"Anda mencoba menghancurkan wanita yang saya cintai dengan cara kotor. Anda memanfaatkan orang bodoh untuk melakukan pekerjaan kotor Anda."
"Dengarkan saya baik-baik. Bukti keterlibatan Anda dalam pencemaran nama baik dan permufakatan jahat sudah ada di meja tim hukum kami. Tunggu saja surat panggilannya."
Kamar Hotel Ritz-Carlton (Lantai Atas).
PRANG!
Gelas wine kristal itu hancur berkeping-keping menghantam dinding, menyipratkan cairan merah seperti darah ke karpet mahal.
Clarissa berdiri di depan TV besar dengan napas memburu. Wajah cantiknya merah padam karena campuran rasa malu dan takut.
"Bajingan!" jerit Clarissa. "Damian bajingan! Berani-beraninya dia ngancem aku di TV nasional!"
Clarissa gemetar. Dia tahu Damian tidak main-main. Damian baru saja mendeklarasikan perang terbuka. Dan yang paling parah: Damian menyebut Kara sebagai "Wanita yang saya cintai".
Clarissa kalah.
Uangnya hilang. Rencananya gagal. Dan sekarang dia terancam dipenjara atau setidaknya dipermalukan di lingkaran sosialitanya.
"Gue harus pergi... Gue harus balik ke London sebelum polisi dateng..." Clarissa panik, mulai melempar baju-bajunya ke dalam koper dengan asal-asalan.
Kembali ke Ballroom.
Rio sudah tamat. Dia melihat tatapan wartawan yang kini menatapnya dengan jijik, bukan lagi simpati.
"Nggak... ini nggak bener..." Rio mundur perlahan.
Tiba-tiba, dia melihat Kara. Kara duduk tenang, menatapnya.
Bukan tatapan marah. Tapi tatapan kosong. Seolah Rio tidak ada harganya.
Rasa malu itu berubah menjadi amarah buta.
"DASAR WANITA IBLIS!" Rio nekat berlari menerjang ke arah meja Kara. "LO HANCURIN HIDUP GUE!"
"Amankan!" perintah Damian sigap.
Belum sempat Rio menyentuh ujung meja, dua bodyguard berbadan raksasa sudah menerjangnya.
BRUK!
Rio dibanting ke lantai karpet. Tangannya dikunci ke belakang. Wajahnya tertekan ke lantai, tepat di bawah sorot kamera.
"Lepasin! Lepasin gue! Gue suaminya! Gue berhak atas hartanya!" racau Rio, semakin memperlihatkan kegilaannya.
Kara berdiri perlahan. Dia mengambil mikrofon untuk terakhir kalinya.
"Mantan suami, Rio. Mantan," koreksi Kara dingin.
"Malam ini, masyarakat sudah melihat sendiri siapa yang iblis dan siapa yang korban. Drama ini selesai."
Kara meletakkan mikrofon.
"Bawa dia keluar. Serahkan ke polisi atas tuduhan percobaan penyerangan dan pencemaran nama baik," perintah Kara pada kepala keamanan.
Rio diseret keluar ruangan sambil meronta-ronta dan memaki-maki, menjadi tontonan live yang memalukan. Wartawan terus memotret momen kejatuhannya hingga pintu keluar tertutup.
Kara menghela napas panjang. Kakinya sedikit lemas.
Tiba-tiba, sebuah tangan hangat menggenggam tangannya.
Damian ada di sana.
"Sudah selesai, Ra. Kita menang," bisik Damian.
Kara menatap Damian, lalu tersenyum tulus. Senyum pertama yang benar-benar lega setelah berhari-hari diteror.
"Makasih, Dam. You saved me."
Damian tidak menjawab dengan kata-kata. Dia mengangkat tangan Kara yang digenggamnya, lalu mencium punggung tangan itu di depan ratusan kamera yang masih menyala.
Malam itu, berita tentang "Rio si Penipu" tenggelam oleh berita baru yang lebih viral:
"Konfirmasi Cinta? Damian Cakra Sebut Kara Anindita 'Wanita yang Saya Cintai' di Depan Publik!"
...****************...
...Bersambung......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share ❣️...
...****************...
kanjooot..
terus kemaren2 sblm kara pergi, ibunya tinggal dimana?
nanya lho thor, bkn menghujad.. 🤭🙏