Di Era Mataram kuno, kematian bisa dibeli.
Seorang gadis lima belas tahun ditemukan terbakar.
Semua menyebutnya kecelakaan.
Hanya satu orang yang berani berkata,
“Ini pembunuhan.”
Raden Ajeng Sawitri Setyaningrum.
Putri yang dibuang.
Gadis ringkih yang dianggap tak berguna.
Tak ada yang tahu…
Jiwanya adalah dokter forensik dari masa depan.
Dengan pisau bedah dan akal dingin, ia menyeret pembunuh ke cahaya.
Satu demi satu rahasia Kadipaten terkuak, kehamilan tersembunyi, racun warangan, wasiat palsu, jarum maut di tulang leher.
Semakin tinggi ia naik, semakin besar musuhnya.
Ketika pembunuhan demi pembunuhan mengguncang Kadipaten, ketika para bangsawan saling menjatuhkan.
Ketika seorang Pangeran tampan mulai terobsesi pada kecerdasannya.
Dan ketika ayahnya sendiri menjadikannya alat aliansi militer,
Sawitri hanya tersenyum.
Karena ia tak pernah berniat selamat.
Ia berniat menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Logika Tajam di Balik Ancaman
Matahari Mataram bersinar terik, seolah ingin memanggang ubun-ubun siapa saja yang melintas di jalanan berbatu menuju pusat Kadipaten.
Pedati mewah milik keluarga Danurejo melaju tenang, namun suasana di dalamnya jauh dari kata damai.
Sawitri duduk tegak bak arca perunggu, matanya terpejam, menikmati guncangan pelan roda kayu yang beradu dengan jalanan berbatu.
Di seberangnya, Nyi Inggit dan Ndari duduk merapat, wajah mereka masih pucat pasi membayangkan kalajengking hitam yang meronta di bawah bantal sang majikan semalam.
Sawitri membuka matanya perlahan saat pedati mereka berbelok memasuki area pemukiman bangsawan.
"Nyi," panggil Sawitri datar. "Apa kau ingat detail tentang Raden Mas Dhaniswara dari Demak itu?"
Nyi Inggit tergagap, mencoba menggali ingatannya.
"Kulo hanya dengar desas-desus, Ndara. Beliau itu... katanya memiliki kelainan mental. Temperamennya meledak-ledak. Dan... dan, tiga istrinya meninggal dalam keadaan misterius hanya beberapa bulan setelah menikah."
"Psikopat dengan kecenderungan sadisme," simpul Sawitri telak dalam monolog batinnya, tak terkejut dengan fakta kelam itu.
"Pria seperti itu biasanya membunuh bukan untuk harta, tapi untuk memenuhi fantasi kontrol absolutnya."
"Berhenti!"
Tiba-tiba terdengar teriakan dari arah luar, disusul ringkikan kuda dan guncangan hebat yang membuat pedati berhenti mendadak.
Nyi Inggit nyaris terpelanting jika Sawitri tak sigap menahan bahu wanita tua itu.
"Ada apa di luar?" tanya Sawitri tanpa nada panik.
Ki Karta, sang kusir arogan, membalas dengan suara bergetar. "A-ada yang menghalangi jalan kita, Ndara!"
Sawitri menyibak tirai bambu.
Di tengah jalanan yang cukup sempit, seorang pemuda berpakaian surjan sutra putih gading duduk tenang di atas punggung kuda hitam legam. Wajahnya rupawan namun memancarkan aura dingin yang mengintimidasi.
Bukan Cakrawirya.
"Kulo Raden Mas Dhaniswara dari Demak," sapa pemuda itu, suaranya berat dan bergema, menembus celah tirai pedati.
"Kulo dengar calon istri kulo sedang dalam perjalanan. Kulo ingin melihat rupa wanita yang akan mati di tanganku kelak."
Keheningan yang membekukan langsung menyergap pedati itu. Nyi Inggit dan Ndari mematung, darah mereka seolah berhenti mengalir.
Bahkan Ki Karta yang biasanya congkak pun hanya bisa menelan ludah, tak berani menatap mata pemuda sadis itu.
Sawitri tak membuang waktu. Ia menyingkap tirai sepenuhnya dan menatap lurus ke arah Raden Mas Dhaniswara.
Tidak ada ketakutan, tidak ada keraguan. Hanya tatapan analitis yang tajam, membedah setiap inci postur tubuh pemuda itu.
"Bahu tegap, otot rahang kaku, dan dilatasi pupil yang mboten wajar," batin Sawitri cepat. "Dia dalam pengaruh zat halusinogen. Mungkin opium atau kecubung dosis tinggi."
"Menyapa calon istri dengan ancaman pembunuhan di tengah jalan raya adalah tindakan impulsif yang mboten rasional," balas Sawitri datar, suaranya sedingin es di puncak Merapi.
Raden Mas Dhaniswara tertegun. Ia terbiasa melihat wanita menangis histeris atau memohon ampun saat mendengar ancamannya, namun gadis berkebaya lusuh di depannya ini justru menatapnya layaknya seonggok daging mati.
"Kowe menarik, Raden Ajeng Sawitri," kekeh Dhaniswara, tawa yang terdengar sumbang dan mengerikan.
"Kulo jadi mboten sabar untuk melihat ekspresi wajahmu saat pisaumu ini mengiris nadimu perlahan."
Dhaniswara mencabut sebilah belati berukir dari balik surjannya, memainkannya dengan gerakan melingkar yang mematikan.
"Menarik," Sawitri menaikkan sebelah alisnya, tak terintimidasi sedikit pun.
"Tapi sebelum Raden mengiris nadi kulo, sebaiknya Raden memeriksakan tremor di tangan kiri Raden. Gejala awal keracunan logam berat biasanya ditandai dengan kedutan otot yang mboten terkendali."
Dhaniswara refleks menunduk menatap tangan kirinya yang tanpa sadar memang sedikit bergetar memegang tali kekang kuda.
Wajahnya yang angkuh seketika menegang, sebuah keraguan melintas di matanya yang liar.
"Bagaimana kowe—"
"Kulo seorang tabib," potong Sawitri tegas, menutup tirai pedati dengan gerakan cepat. "Ki Karta, jalan."
Ki Karta yang masih ketakutan segera melecut kudanya, memacu pedati itu melewati kuda Dhaniswara yang mendadak diam membeku di tengah jalan.
"Gusti... Ndara Ayu sungguh berani," bisik Ndari dengan napas tersengal, menatap majikannya dengan kekaguman yang tak terhingga.
"Ketakutan adalah reaksi emosional yang mboten efisien," sahut Sawitri santai, kembali bersandar.
Di dalam benaknya, ia sudah merancang skenario terburuk jika Dhaniswara mencoba menyerangnya di kediaman Danurejo nanti.
"Jarum perak di titik saraf motorik utama akan melumpuhkannya dalam hitungan menit," batin Sawitri, menyiapkan strategi pertahanan.
Perjalanan dilanjutkan tanpa hambatan berarti.
Namun, saat pedati mereka berbelok memasuki jalan utama menuju istana keraton, kemacetan parah kembali menghentikan laju mereka.
Sawitri menyibak tirai lagi. Kali ini bukan pemuda psikopat yang menghalangi jalan, melainkan sebuah keramaian yang luar biasa di depan pelataran kediaman Jayaningrat.
"Enten nopo niki, Ki Karta?" tanya Sawitri.
"Kulo mboten ngertos, Ndara. Sepertinya keluarga Jayaningrat sedang mengadakan acara syukuran besar-besaran," sahut Ki Karta sambil menjulurkan lehernya mencoba melihat situasi.
Dari arah kerumunan, muncul seorang pria berpakaian mewah yang tampak tergesa-gesa.
Itu adalah Ki Padmo, pengurus kepercayaan keluarga Jayaningrat.
Mata Ki Padmo berbinar saat melihat lambang keluarga Danurejo di pedati itu.
Ia setengah berlari menghampiri, mengabaikan debu yang mengotori alas kakinya.
"Ndara Tabib! Gusti nu agung, akhirnya kulo menemukan Ndara!" seru Ki Padmo dengan napas tersengal-sengal.
"Ada apa, Ki Padmo?" Sawitri menatap pria itu dengan kening berkerut.
"Kulo mohon, Ndara... kulo mohon Ndara turun sebentar. Den Bagus Kusuma menolak meminum jamu penyembuhnya jika bukan Ndara sendiri yang meraciknya," mohon Ki Padmo dengan wajah memelas.
"Majikan kulo sampai menangis karena Den Bagus mengunci diri di kamar dan hanya memanggil nama jenengan, Ndara Tabib!"
Sawitri terdiam sejenak. Otak rasionalnya menimbang prioritas.
Di satu sisi, Tumenggung Danurejo pasti akan murka jika ia terlambat datang.
Namun, di sisi lain, menelantarkan pasien yang sedang dalam masa pemulihan pasca operasi otak ringan adalah pelanggaran kode etik medis terberat bagi seorang dokter.
"Ki Karta," panggil Sawitri tegas.
"Bawa Nyi Inggit dan Ndari menuju kediaman utama lebih dulu. Sampaikan pada Tumenggung bahwa kulo ada urusan medis darurat yang menyangkut nyawa putra tunggal Ki Jayaningrat."
Ki Karta terbelalak, tak percaya dengan perintah berani itu.
"N-Ndara... Romo Tumenggung akan mengamuk jika Ndara mboten datang tepat waktu!"
"Katakan padanya, jika dia memaksaku datang sekarang, dia harus bersiap menghadapi kemarahan Ki Jayaningrat yang memiliki pengaruh dagang terkuat di Mataram," ancam Sawitri dingin.
"Pilih mana? Kehilangan muka di depan putrinya, atau kehilangan aliansi politik yang menguntungkan?"
Ki Karta menelan ludah, menyadari logika tajam di balik ancaman itu. Ia mengangguk kaku, tak berani membantah lagi.
Sawitri melompat turun dari pedati dengan gesit, menenteng kotak jarum peraknya. Ia melangkah mengikuti Ki Padmo menembus keramaian, meninggalkan pedati yang perlahan melaju menuju kediaman Danurejo.
Kediaman Jayaningrat dipenuhi sanak saudara yang datang untuk merayakan kesembuhan Den Bagus Kusuma.
Namun, saat Sawitri melangkah masuk, keheningan langsung menyelimuti pendopo utama.
Semua mata tertuju pada gadis berkebaya ungu lawasan yang berjalan dengan aura sedingin es di tengah-tengah bangsawan berpakaian mewah itu.
"Ndara Tabib!"
Nyi Jayaningrat berlari menghampiri Sawitri, wajahnya sembap oleh air mata. Ia nyaris bersujud di kaki Sawitri jika gadis itu tak segera menahannya.
"Den Bagus ada di mana?" potong Sawitri tanpa basa-basi.
"Di kamarnya, Ndara. Beliau mengunci pintu dan menolak makan," isak Nyi Jayaningrat.
Sawitri melangkah cepat menuju kamar bocah itu. Ia mengetuk pintu kayu berukir itu dengan ritme tegas.
"Bagus Kusuma, buka pintunya. Ini kulo," ucap Sawitri dengan suara datar.
Terdengar suara langkah kaki kecil dari dalam. Pintu terbuka perlahan, menampilkan sosok Bagus Kusuma yang masih pucat namun sudah jauh lebih sehat dari sebelumnya.
Matanya berbinar melihat Sawitri.
"Ndara Tabib!" seru bocah itu, langsung menghambur memeluk kaki Sawitri.
Sawitri mendesah pelan, menepuk punggung bocah itu dengan kaku. Sentuhan fisik emosional bukanlah keahliannya.
"Kenapa kowe mboten mau minum jamu?" tanya Sawitri, menatap lurus ke arah mata anak itu.
"Jamu dari tabib keraton rasanya pahit dan aneh. Kulo cuma mau jamu buatan Ndara Tabib," rajuk Bagus Kusuma manja.
Sawitri menatap Nyi Jayaningrat yang berdiri cemas di belakangnya.
"Tabib keraton menambahkan terlalu banyak ekstrak mahkota dewa ke dalam racikannya. Itu memang bisa meredakan nyeri, namun juga menimbulkan efek halusinasi ringan pada anak-anak. Pantas saja dia menolak meminumnya," analisis Sawitri dengan tajam.
"Gusti! Benarkah itu?!" Nyi Jayaningrat terkesiap, wajahnya memerah menahan marah pada tabib utusan istana itu.
"Bawakan kulo temulawak, kunyit, dan sedikit madu asli. Kulo akan meracik penggantinya," perintah Sawitri efisien.
Dalam waktu singkat, Sawitri selesai meracik jamu yang tepat. Bagus Kusuma meminumnya tanpa perlawanan, membuat seluruh keluarga Jayaningrat menghela napas lega.
Saat Sawitri sedang membersihkan tangannya di baskom air, seorang pemuda berpakaian surjan biru cerah melangkah masuk ke dalam kamar.
Wajahnya tampan, namun memancarkan aura arogansi yang kental.
"Jadi kowe yang namanya Ndara Tabib dari pesanggrahan itu?"
Pemuda itu menatap Sawitri dengan tatapan merendahkan, menilai penampilan gadis itu yang jauh dari kata mewah.
"Kulo Raden Seta, putra mahkota Kadipaten Tuban. Dan kulo rasa... kowe hanyalah penipu yang beruntung bisa menyembuhkan bocah ini."
Sawitri bahkan tak repot-repot mengangkat wajahnya dari baskom air. Ia sibuk mengeringkan jemarinya dengan kain perca.
"Nopo Kadipaten Tuban mboten mengajarkan unggah-ungguh, Raden Seta?" balas Sawitri dingin, tanpa nada hormat sedikit pun.
Wajah Raden Seta memerah padam. Ia tak terbiasa diabaikan oleh gadis yang statusnya jauh di bawahnya.
Apalagi, ia tahu betul bahwa Sawitri adalah putri buangan Tumenggung Danurejo.
"Jaga mulutmu, anak buangan!" desis Raden Seta, melangkah maju dengan niat mengintimidasi.
"Kowe pikir kowe sehebat itu hanya karena bisa menusukkan jarum ke kepala anak kecil? Di Tuban, tabib sepertimu hanya pantas mengurus ternak yang sakit!"