Marcus, seorang pemuda dengan hidup yang berantakan, tewas secara konyol hanya karena terpeleset oleh sampah di apartemennya sendiri.
Namun takdir justru mempermainkannya. Alih-alih pergi ke akhirat, ia malah terbangun di tubuh Leon Von Anhart, seorang karakter villain dari novel yang baru saja ia maki-maki habis-habisan.
Menjadi Leon adalah mimpi buruk.
Selain reputasinya sebagai sampah masyarakat yang dibenci semua orang, termasuk keluarganya sendiri, tubuh ini juga menyimpan kondisi yang mengenaskan: gagal jantung kronis yang membuatnya divonis hanya memiliki sisa hidup 365 hari.
Dengan waktu hidup yang tinggal satu tahun, reputasi yang sudah hancur, serta sebuah layar sistem aneh yang memaksanya berbuat baik demi bertahan hidup, Marcus terpaksa melawan takdirnya sendiri.
Masalahnya, dunia ini tidak membutuhkannya sebagai pahlawan.
Dunia ini hanya membutuhkan Leon, seorang villain yang kelak akan menjadi monster sekaligus ancaman bagi dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Younglord, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5
Leon tersenyum tipis mendengar isak tangis yang pecah di punggungnya. Perasaan hangat yang asing menjalar ke dadanya, membuat jantungnya yang rapuh seolah berdenyut lebih tenang.
Ia perlahan menyentuh tangan Eiryn yang melingkar erat di tubuhnya, lalu membalikkan badan untuk menatap gadis itu.
"Terima kasih," ucap Leon lembut.
Eiryn mendongak dengan mata yang sembap dan berkaca-kaca, terlihat sangat rapuh sekaligus tulus.
"Berhentilah menangis," lanjut Leon sambil menghapus air mata di pipi Eiryn dengan ibu jarinya. "Wajah cantikmu bisa membengkak nanti. Akan sia-sia saja jika kau terus menangisi pria brengsek yang hampir mati sepertiku."
"Tuan! Sudah kubilang jangan—"
Tanpa sengaja, Eiryn menarik kerah kemeja Leon untuk menegaskan kata-katanya. Gerakan itu membuat tubuh mereka tertarik maju hingga wajah keduanya hanya berjarak beberapa senti.
Hening seketika.
Napas mereka menderu, terasa hangat menyentuh kulit masing-masing. Di posisi sedekat ini, insting bejat tubuh "Leon" yang asli mendadak aktif tanpa ampun. Mata Leon terpaku pada bibir Eiryn yang tampak basah dan manis.
Perlahan, Leon mulai mendekatkan wajahnya. Jarak itu semakin menipis, menyisakan ruang yang nyaris hilang.
Namun, cengkeraman tangan Eiryn yang gemetar di dadanya membuat kesadaran Leon tersentak. Ia teringat siapa dirinya sekarang. Dengan lembut namun tegas, ia mendorong bahu Eiryn pelan untuk memberi jarak.
"Ekhem!" Leon berdehem keras, mencoba membuang rasa canggung. "Kau... pergilah ke dalam. Aku harus meneruskan pekerjaan ini. Tenang saja, aku tadi hanya berandai-andai."
Eiryn tampak sedikit linglung, wajahnya merona hebat hingga ke telinga. "Syu-syukurlah kalau Anda tidak menyerah, Tuan," ucapnya terbata-bata.
"Hmm."
"Ka-kalau begitu, saya akan pergi ke pasar dulu. Saya harus membeli bahan untuk membuat makan malam," ujar Eiryn sambil merapikan gaunnya yang sedikit kusut.
"Perlu kuantar?" tawar Leon.
"Ti-tidak perlu! Saya bisa sendiri!" seru Eiryn cepat, seolah takut jika berlama-lama di sana jantungnya akan melompat keluar.
"Baiklah. Hati-hati di jalan."
Eiryn mengangguk cepat lalu bergegas pergi meninggalkan kebun dengan langkah seribu.
Begitu sosok Eiryn menghilang dari pandangan, Leon langsung menjatuhkan sekopnya. Ia memukul-mukul bibirnya sendiri dengan kesal.
"Sial! Benar-benar bejat kau, Leon!" maki Leon pada dirinya sendiri. "Hampir saja kau mengotori gadis yang baru saja menangis tulus demi kau. Dasar tidak tahu diri!"
Ia mengacak-acak rambut putihnya dengan frustrasi. Jantungnya masih berdegup kencang, dan kali ini ia tahu itu bukan karena penyakit, melainkan karena godaan iman yang baru saja hampir meruntuhkan niat baiknya.
Waktu berlalu cukup cepat. Matahari kini mulai merayap turun, menyisakan semburat jingga yang membias di atas tanah kebun yang baru saja selesai digarap.
Leon menyeka keringat yang membanjiri keningnya dengan punggung tangan. Ia mengembuskan napas lega sambil menyandarkan tubuhnya yang terasa remuk di batang pohon besar.
"Akhirnya selesai juga," gumamnya. Tangannya terasa pegal, dan jantungnya berdenyut sedikit lebih cepat dari biasanya—tanda bahwa tubuh lemah ini sudah mencapai batasnya.
Sambil mengatur napas, Leon menjentikkan jarinya di udara. Seketika, layar biru transparan muncul kembali di depannya.
...[ STATUS KARAKTER ]...
...Nama : Leon von Anhart | Umur : 19 Tahun...
...Class : Swordsman Lv.1 | Rank : F...
...HP : 150 / 150 | MP : 0 / 0...
...Stamina : 45 / 45 [+] | Vitalitas : 12 [+]...
...Kekuatan : 8 [+] | Ketahanan : 10 [+]...
...Kelincahan : 7 [+] | Keberuntungan : 4...
...KONDISI KHUSUS : Gagal Jantung Kronis...
...Sisa Umur : 364 Hari...
...Atribut Khusus : [????] (Memerlukan kondisi tertentu)...
...Poin : -13...
Melihat angka poinnya, Leon hanya bisa membuang napas berat.
Namun, dahi Leon tiba-tiba berkerut. Matanya terfokus pada baris baru yang muncul.
"Atribut khusus? Tanda tanya?" Leon mencoba menyentuh layar itu, namun jarinya hanya menembus udara kosong. "Kondisi tertentu apa maksudnya?
Leon terus menatap baris "Atribut" yang masih tertutup kabut misteri itu. Ia mencoba mengetuk-ngetuk layar hologram di depannya, berharap ada penjelasan yang muncul.
"Kenapa tidak ada penjelasannya sama sekali?" keluhnya frustrasi.
Ia memutar otak, mencoba mengingat setiap detail bab yang pernah ia baca di dunia aslinya. "Apakah Leon memang memiliki atribut rahasia seperti ini, atau hanya muncul ketika aku masuk kedalam tubunya dan mendapat layar hologram konyol ini?"
"Argh, sudahlah! Aku pusing! Memikirkan hidupku yang akan mati tiga hari lagi karena misi konyol itu saja sudah membuatku frustrasi!" Leon mengibaskan tangan, membubarkan layar biru itu dengan jengkel.
Sementara itu, di jalan setapak menuju rumah, matahari sudah hampir tenggelam sepenuhnya.
Eiryn berjalan terburu-buru sambil memeriksa isi kantong belanjaannya. Ia berhenti sejenak di bawah pohon besar untuk memastikan barang-barangnya.
"Oke, aman. Semuanya sudah terbeli," gumamnya lega.
Namun, saat ia kembali melangkah, pikirannya justru melayang kembali ke kejadian di kebun sore tadi. Eiryn mendadak berhenti, wajahnya memanas.
"Ah! Sebenarnya apa yang tadi aku lakukan? Kenapa aku menarik kerahnya sampai seperti itu?" Eiryn menutup wajahnya dengan satu tangan yang bebas.
Bayangan wajah Leon yang begitu dekat, napasnya yang hangat, dan matanya yang menatap bibirnya, terus berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak.
"Eiryn! Apa yang kau bayangkan?! Fokus!" Ia menepuk-nepuk kedua pipinya dengan keras agar sadar.
Ia melanjutkan langkahnya, mencoba mengusir pikiran kotor itu. Namun, perasaan tidak enak mulai merayap di tengkuknya. Suasana jalanan desa yang sepi dan mulai gelap terasa mencekam.
Tap. Tap.
Eiryn menghentikan langkah. Ia merasa ada suara langkah kaki lain di belakangnya. Begitu ia menoleh, jalanan tampak kosong, hanya ada semak-semak yang bergoyang ditiup angin.
Eiryn mempercepat langkahnya. Jantungnya mulai berdegup kencang. Ia menoleh lagi lewat sudut mata, dan benar saja, sosok bayangan di belakangnya ikut mempercepat gerakan.
Eiryn mulai panik. Ia berlari kecil, napasnya tersengal. Sedikit lagi, tinggal melewati tikungan depan maka rumahnya akan terlihat.
Namun tiba-tiba...
Grep!
Sebuah tangan kasar dan besar mencengkeram lengannya dengan sangat kuat hingga Eiryn memekik.
"Halo, manis. Mau buru-buru ke mana?" ucap sebuah suara serak yang menjijikkan.
Eiryn membeku. Di hadapannya kini berdiri seorang pria bertubuh gempal dengan pakaian kumal—seorang bandit desa yang menatapnya dengan pandangan lapar.
"Lepaskan! Siapa kau?!" teriak Eiryn sambil berusaha menarik tangannya, namun cengkeraman itu justru semakin mengencang.
Dari balik bayangan bangunan tua di sisi jalan, dua orang pria lain muncul dengan langkah santai, mengurung jalan keluar Eiryn.
Kini, tiga orang bandit mengepungnya. Bau busuk alkohol dan keringat menyeruak, membuat perut Eiryn mual.
Pria gempal yang dipanggil Bos itu menarik Eiryn hingga wajah mereka sangat dekat. Ia menjilat bibirnya sendiri dengan ekspresi lapar yang menjijikkan. "Aku adalah calon suamimu untuk malam ini, Sayang. Heheh..."
"Tidak! Lepaskan!" Eiryn menangis, seluruh tubuhnya menggigil hebat.
Ketiga pria itu justru tertawa terbahak-bahak mendengar rintihan Eiryn. Suara tawa mereka bergema di jalanan desa yang sepi, terdengar sangat mengerikan di telinga Eiryn.
"Berteriaklah sesukamu. Tidak akan ada yang mendengarmu di sini," bisik sang Bos sambil mendekatkan wajahnya ke leher Eiryn. "Jadi diamlah dan patuh saja, oke?"
"Tolong.... Tolong aku!" jerit Eiryn sekuat tenaga.