“Satu juta tahun sekali, alam semesta memilih wadahnya. Dan kali ini, pilihan itu jatuh pada pemuda yang hampir mati."
Rimba Dipa Johanson hanyalah pemuda yatim piatu yang bertahan hidup di kerasnya pinggiran kota. Hidupnya nyaris berakhir tragis saat dikeroyok preman hingga sekarat di sebuah parit gelap. Namun, di ambang kematian, sebuah cahaya misterius menarik jiwanya masuk ke dalam warisan kuno.
Didampingi oleh Lara, pelayan dimensi yang cantik namun misterius, serta Cesar, serigala legendaris dari Hutan Asura, Rimba memulai perjalanan kultivasinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khatix Pattierre, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: RITUAL PENYEMBUHAN DAN CAKRAWALA BARU
Rimba Dipa Johanson melangkah memasuki kamar Kakek Jayadi dengan aura yang tenang namun penuh konsentrasi. Di dalam benaknya, perpustakaan mental yang luas telah membuka lembaran-lembaran tentang anatomi manusia dan teknik pengobatan surgawi yang disebut Sacred Marrow Cleansing. Ini bukan sekadar pengobatan medis biasa; ini adalah proses rekonstruksi saraf dan tulang menggunakan energi murni yang diselaraskan dengan bantuan botani rahasia.
Rimba berhenti di tengah ruangan, lalu menatap Rendi yang berdiri dengan wajah penuh harap. "Bang, aku butuh persiapan khusus. Aku butuh dua bathtub yang tahan panas, dan satu ruangan kosong yang tertutup untuk aku meracik herbal secara khusus," ujar Rimba dengan nada yang tidak bisa dibantah.
Ia terdiam sejenak, memindai sekeliling melalui panca indera tajamnya. "Satu lagi, Bang. Siapa di sini yang bisa mengantarku ke daerah yang banyak semak dan hutan liar di sekitar sini? Aku perlu mencari beberapa jenis tanaman liar sebagai bahan katalis untuk air rendaman Kakek dan Om Toni."
Rendi segera menoleh ke arah barisan pelayan dan penjaga di belakangnya. "Pak Atmo! Antar Rimba ke mana pun dia mau. Dan kalian berdua, cari bathtub tahan panas sekarang juga, pasang masing-masing satu di kamar Eyang dan kamar Papa. Cepat!"
"Silakan, Tuan. Saya akan menunjukkan kamar untuk meracik dan mengantar Tuan ke hutan kecil di belakang perkebunan," jawab seorang lelaki paruh baya bernama Pak Atmo dengan sikap sangat hormat.
Rimba tersenyum canggung. "Jangan panggil aku Tuan, Pak Atmo. Panggil saja aku Rimba. Aku merasa tidak enak dipanggil begitu."
Pak Atmo sempat ragu dan melirik Rendi untuk meminta persetujuan. Setelah Rendi mengangguk, Pak Atmo pun menunduk sopan. "Baik, Nak Rimba. Mari ikuti saya."
---
Pak Atmo mengantarkan Rimba ke sebuah kamar tamu yang sangat luas dan sunyi. Kamar itu memiliki ventilasi yang baik namun tetap privat. "Apakah ruangan ini cukup untuk Nak Rimba meracik obat?"
"Sangat cukup, Pak. Terima kasih," jawab Rimba sambil meletakkan ranselnya.
Tak lama kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil Ford Double Cabin milik keluarga Jayadi. Pak Atmo mengemudi dengan tenang melewati gerbang mansion yang megah, menuju area perkebunan yang berbatasan langsung dengan hutan liar di pinggiran utara kota. Begitu sampai di tepian hutan yang lebat, Rimba turun dan mulai melangkah masuk ke dalam semak-semak.
"Silakan, Tu—maksud saya, Nak Rimba," Pak Atmo tampak masih rikuh menyebut nama langsung.
Rimba terkekeh pelan. "Hahaha, tidak apa-apa, Pak. Saya ini anak desa, asli Desa Kenanga. Malah saya yang rikuh kalau Bapak memanggil saya Tuan. Saya merasa seperti orang asing di tubuh saya sendiri."
Mereka berjalan beriringan. Rimba menggunakan Visi Asura-nya untuk membedakan mana tanaman yang mengandung energi bumi dan mana yang hanya gulma biasa. Ia memetik beberapa genggam tanaman semak berdaun perak dan menyerahkannya kepada Pak Atmo untuk dimasukkan ke dalam keranjang. Sambil memetik, Rimba diam-diam mengirimkan pesan singkat kepada Lara melalui ponselnya—yang sebenarnya adalah kode agar Lara menyiapkan tanaman obat tingkat tinggi dari kebun Dimensi Independen untuk digabungkan nantinya.
Setelah semua dirasa cukup, mereka kembali ke mansion. Pak Atmo membantunya mengangkut tanaman-tanaman itu ke kamar khusus tadi. Di depan pintu, Rimba bertemu kembali dengan Rendi, Kakek Jayadi, dan Om Toni.
"Kakek dan Om bisa langsung beristirahat di kamar masing-masing. Saya akan mulai membuat ramuan herbal untuk berendam. Setelah ramuan siap, kita akan langsung memulai proses intinya," ujar Rimba.
Sebelum masuk ke kamarnya, Rimba berpesan pada Rendi dengan serius. "Bang, selama aku di dalam, jangan biarkan siapa pun masuk atau mengintip. Proses ini sangat sensitif terhadap gangguan energi luar. Kalau terganggu, khasiatnya bisa hilang."
Sebenarnya, alasan utama Rimba adalah karena ia akan menghilang masuk ke Dimensi Independen. Jika ada yang masuk dan mendapati kamar itu kosong tanpa jejak, rahasianya akan terbongkar. Rendi mengangguk mantap. "Pak Atmo akan menjaga pintu ini. Tidak ada satu lalat pun yang boleh masuk."
---
Begitu pintu kamar terkunci, Rimba segera meraup semua tanaman di lantai dan membisikkan kata kunci. Dalam sekejap, ia sudah berada di Dimensi Independen. Lara sudah menunggunya dengan meja laboratorium yang penuh dengan peralatan kristal.
Rimba bekerja dengan sangat teliti. Ia menumbuk tanaman dari luar dan mencampurnya dengan esensi Lake of Refinement. Ia memanaskan campuran itu dengan energi Qi-nya sendiri hingga menghasilkan cairan kental berwarna hijau tua yang pekat. Cairan ini berfungsi sebagai katalis untuk meregenerasi sel saraf yang telah mati selama bertahun-tahun. Ia memasukkannya ke dalam dua botol masing-masing 500ml.
Selanjutnya, Rimba meracik minuman energi vitalitas. Ia menggunakan tanaman herbal tingkat tinggi dari dimensi yang memiliki konsentrasi Qi murni. Rimba membuat sepuluh tingkatan ramuan energi ini. Semakin tinggi tingkatannya, semakin besar energi Qi yang terkandung di dalamnya—energi yang bahkan bisa membuat seorang kultivator rendah langsung meledak jika tidak kuat menahannya.
Rimba menyadari betapa berbahayanya ramuan ini jika jatuh ke tangan yang salah. Di dunia modern yang sudah melupakan seni bela diri kuno, cairan ini bisa memicu perang antar faksi rahasia. "Ra, simpan ribuan botol ini. Beri tanda tingkatannya. Aku hanya akan membawa dua botol tingkat terendah untuk Kakek Jayadi dan Om Toni. Tubuh fana mereka tidak akan sanggup menerima lebih dari itu," perintah Rimba.
Lara mengangguk patuh, menyimpan botol-botol kecil seukuran kelingking itu ke dalam lemari penyimpanan. Rimba memberikan kiss bye pada Cesar yang menggonggong ceria, lalu kembali ke kamarnya di dunia nyata.
---
Rimba keluar dari kamar dengan dua botol cairan kental dan dua botol kecil minuman energi. Pak Atmo masih berdiri tegak di depan pintu. "Ayo, Pak. Kita ke kamar Kakek Jayadi dulu."
Di kamar kakek, Rimba meminta semua orang keluar. Ia mendekati Kakek Jayadi yang berbaring di tempat tidur. "Kakek, ini akan sedikit terasa aneh, tapi percayalah pada saya."
Rimba memadatkan energi Qi di ujung jarinya. Dengan gerakan secepat kilat, ia membentuk "jarum" dari energi murni dan menancapkannya tepat di titik di antara kedua alis sang kakek. Seketika, Kakek Jayadi terlelap dalam tidur yang sangat dalam.
Dengan tangan yang tidak menyentuh kulit, Rimba menggerakkan Qi-nya masuk ke tulang punggung kakek. Ia melihat titik-titik kerusakan melalui penglihatan batinnya. Dengan presisi seorang ahli bedah dewa, ia menggeser posisi tulang yang menjepit saraf, menyambungkan kembali jaringan saraf yang putus, dan membuang sumbatan kalsium yang menghambat aliran darah. Bagi dokter biasa, ini adalah mustahil. Bagi Rimba, ini adalah manipulasi energi sederhana.
Setelah selesai, ia memanggil para pelayan untuk mengangkat tubuh kakek ke dalam bathtub yang sudah diisi air hangat. Rimba menuangkan satu botol cairan hijau kental. Begitu menyentuh air, cairan itu seolah hidup, bergerak meliuk-liuk seperti benang-benang hijau yang menyelimuti seluruh tubuh kakek, meresap masuk melalui pori-pori menuju saraf yang baru diperbaiki.
"Jaga beliau. Jika cairan hijau ini sudah hilang dari air, angkat kakek, baringkan di kasur, dan selimuti. Besok pagi saat beliau bangun, berikan minuman di botol kecil ini," instruksi Rimba kepada perawat pribadi kakek.
Rimba kemudian menuju kamar Om Toni. Di sana, ia merasakan tenaganya sedikit terkuras. Ia masuk ke dimensi selama beberapa detik untuk meminum ramuan energi tingkat 4 miliknya sendiri. Wush! Dalam sekejap, stamina dan Qi-nya kembali penuh, bahkan terasa lebih meluap dari sebelumnya.
Ia mengulangi proses yang sama pada Om Toni. Memperbaiki bahunya yang miring, menyelaraskan tulang selangka yang salah posisi, dan merendamnya dalam cairan katalis. Rimba memberikan instruksi yang sama kepada para penjaga di sana.
---
Setelah semua selesai, Rimba keluar dari kamar Om Toni dengan napas yang teratur namun wajah yang sedikit pucat karena konsentrasi tinggi. Di koridor, ia kembali bertemu Pak Atmo.
"Nak Rimba, apa ingin makan sesuatu? Atau minum?" tanya Pak Atmo dengan tulus.
Rimba tersenyum lelah namun puas. "Makan nanti saja, Pak. Kalau boleh, saya minta segelas teh hangat saja."
Pak Atmo bergegas menyiapkannya. Rimba berjalan menuju teras samping mansion yang menghadap ke arah taman belakang yang sangat luas. Ia duduk di sebuah kursi rotan yang nyaman. Di kejauhan, halimun putih mulai turun menyelimuti halaman, memberikan kesan mistis pada sore yang dingin itu.
Tak lama, Pak Atmo datang membawa nampan berisi teh hangat yang mengepul. Rimba menyesap teh itu perlahan. Rasa hangatnya menjalar ke seluruh tubuhnya, berpadu dengan kepuasan batin karena telah membalas budi pada keluarga sahabat orang tuanya.
Dunia luar nampak begitu indah saat ini. Di tengah kesunyian mansion mewah itu, Rimba tahu bahwa besok pagi, kehidupan keluarga Jayadi tidak akan pernah sama lagi. Dan bagi dirinya sendiri, ini adalah langkah awal untuk mengungkap lebih banyak rahasia tentang siapa sebenarnya Brian Johanson dan Maharani. Langit mulai gelap, namun cahaya di mata Rimba justru semakin terang menatap masa depan.