NovelToon NovelToon
Lepaskan Aku Mas, Aku Menyerah

Lepaskan Aku Mas, Aku Menyerah

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / CEO / Penyesalan Suami / Romantis / Romansa / Cintapertama
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: Itz_zara

Lima tahun menikah, Samira tak pernah dicintai.

Pernikahannya lahir dari kesalahan satu malam bukan dari cinta, melainkan kehamilan yang memaksa Samudra menikahinya.
Ia mencintai sendirian. Bertahan sendirian.

Hingga suatu hari, lelah itu tak bisa lagi ditahan.

“Lepaskan aku, Mas… aku menyerah.”

Karena pernikahan tanpa cinta hanya akan mengajarkan satu hal: kapan seseorang harus berhenti bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itz_zara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Terpaksa Menikah

Satu bulan setelah kejadian itu berlalu.

Samira tak pernah muncul. Tak ada pesan. Tak ada telepon. Hingga Samudra sempat berpikir semua telah selesai, malam itu hanyalah kesalahan yang tak akan pernah kembali menghantuinya.

Padahal malam itu, saat kesadarannya perlahan pulih, Samudra sempat menyerahkan kartu nama berisi alamat kantor dan nomor ponselnya pada Samira.

“Kalau… kalau terjadi apa-apa,” ucapnya dingin kala itu, “kalau kamu hamil, hubungi nomor ini.”

Ucapan yang keluar tanpa empati. Tanpa rasa bersalah. Seolah semua bisa diselesaikan dengan satu kalimat tanggung jawab kosong.

Dan hari itu, kalimat itu kembali menamparnya.

Tok… tok… tok…

Suara ketukan pintu ruangannya membuat Samudra tersentak dari lamunan. Ia menghela napas pelan.

“Masuk.”

Pintu terbuka. Bima asisten sekaligus sekretarisnya melangkah masuk dengan wajah sedikit ragu.

“Ada apa?” tanya Samudra datar tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya.

“Maaf, Pak… di depan ada seorang wanita yang ingin bertemu Bapak,” ucap Bima hati-hati.

“Siapa?” suara Samudra tetap dingin.

“Namanya… Samira, Pak.”

Deg.

Jantung Samudra seolah berhenti sesaat. Tangannya yang semula tenang di atas meja kini mengeras. Ia menatap kosong ke depan, rahangnya mengatup.

“Suruh masuk,” ucapnya akhirnya.

Beberapa detik kemudian, pintu kembali terbuka.

Samira masuk dengan langkah pelan. Wajahnya pucat, matanya sedikit cekung, namun sorotnya tegas. Ia berdiri di hadapan meja kerja Samudra tanpa sepatah kata pun.

Ia mendekat.

Lalu meletakkan sesuatu di atas meja.

Sebuah test pack.

“Saya hamil.”

Suara itu tenang. Terlalu tenang untuk kalimat yang seharusnya mengguncang dunia.

Samudra menatap benda kecil itu lama. Terlalu lama. Tak ada satu kata pun keluar dari bibirnya. Pandangannya terpaku, seolah test pack itu bisa meledak kapan saja.

Samira tetap diam. Menunggu.

Akhirnya Samudra bersuara.

“Lalu kamu ke sini mau apa?” tanyanya dingin. “Minta bayaran?”

Samira menggeleng pelan.

“Tidak, Pak. Saya hanya ingin memberitahu.”

Ia menarik napas dalam.

“Kejadian malam itu… membuat saya hamil.”

Samudra menelan ludah.

“Jadi kamu mau saya bertanggung jawab?” tanyanya lagi, nadanya tetap datar untuk situasi seperti ini.

Samira menatapnya lurus.

“Tidak. Saya datang ke sini karena Bapak sendiri yang bilang, kalau ada apa-apa saya harus datang ke sini.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara bergetar namun mantap.

“Soal tanggung jawab… itu terserah Pak Samudra. Tapi saya ingin Bapak tahu, saya akan tetap mempertahankan anak ini.”

Kalimat itu membuat dada Samudra terasa ditekan kuat. Ini di luar rencana. Di luar kendali. Ini bukan sekadar kesalahan satu malam ini konsekuensi seumur hidup.

Samira membungkuk singkat, lalu berbalik pergi tanpa menunggu jawaban.

Pintu tertutup.

Dan ruangan itu kembali sunyi.

Samudra terduduk kaku di kursinya. Pandangannya kembali jatuh pada test pack di atas meja. Benda kecil yang kini terasa begitu berat. Ia mengusap wajahnya kasar, napasnya memburu.

Ini kacau…

Tangannya meraih ponsel. Masalah ini tak bisa ia sembunyikan lama-lama. Dan ada satu pihak yang tak boleh tahu terakhir, orang tuanya.

•••••

Samudra pulang ke rumah orang tuanya malam itu dengan langkah berat. Begitu pintu dibuka, ibunya sudah lebih dulu menyambut di ruang tengah.

“Kamu sudah makan?” tanya Sinta lembut, seperti biasa.

Samudra hanya menggeleng pelan. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, namun semuanya tertahan di tenggorokan. Dadanya terasa sesak. Ia melangkah masuk dan duduk, menunduk, menatap lantai.

Raka ayahnya memperhatikan sejak awal. Ia tahu betul bahasa tubuh anaknya. Anak itu sangat persis dengan dirinya jadi dia tahu. Terlalu kaku. Terlalu diam.

“Ada yang ingin kamu sampaikan sama kami?” tanya Raka akhirnya, suaranya tenang namun tajam.

Ucapan itu membuat Sinta menoleh cepat ke arah suami lalu ke arah Samudra. Alisnya berkerut.

“Maksud Papa apa?” tanya Sinta bingung. “Samudra, kamu kenapa?”

Samudra menarik napas panjang. Tangannya mengepal, lalu ia mengangkat wajahnya. Tatapannya kosong, seolah sudah menyerah.

“Aku…,” suaranya tercekat sesaat.

“Aku menghamili orang.”

Kalimat itu jatuh begitu saja.

“Apa?” Sinta membeku. Wajahnya pucat seketika. Tangannya gemetar saat menutup mulutnya sendiri.

Ia benar-benar tak pernah membayangkan hal ini. Selama ini Samudra dikenal dingin, tertutup, bahkan hampir tak pernah dekat dengan perempuan mana pun sejak putus tiga tahun lalu dari wanita yang sangat ia cintai.

“Kamu bercanda, kan?” suara Sinta bergetar.

Samudra menggeleng pelan.

Raka tetap duduk tegak. Tidak terkejut berlebihan, tapi sorot matanya berubah tajam.

“Siapa wanita itu?” tanyanya datar.

“Pegawai hotel,” jawab Samudra singkat.

Hening.

Sinta mengusap dadanya sendiri, mencoba mengatur napas. “Hotel?” ulangnya lirih. “Bagaimana bisa?”

Samudra menunduk lagi. “Itu… hubungan satu malam. Aku mabuk.”

Sinta terisak kecil. “Astaghfirullah… Samudra.”

Raka menghela napas panjang, lalu berdiri. “Perempuan itu datang ke kamu?”

“Iya. Dia hamil satu bulan,” jawab Samudra. “Dia nggak minta apa-apa.”

“Lalu?” tanya Raka.

“Dia mau mempertahankan anak itu.”

Kalimat itu membuat Sinta terduduk lemas. Air matanya jatuh.

“Kamu sadar apa artinya ini?” suara Sinta bergetar hebat. “Itu darah dagingmu.”

Samudra diam.

Raka menatap anaknya lama. “Kamu tetap harus bertanggung jawab.”

Bukan perintah. Bukan ancaman. Tapi keputusan.

Samudra mengangkat wajahnya. “Papa tahu… aku nggak cinta sama dia.”

“Tapi ini bukan soal cinta,” potong Raka tegas. “Ini soal tanggung jawab dan nama keluarga. Semua yang kamu lakukan pasti ada konsekuensinya."

Sinta menatap Samudra dengan mata basah. “Nak… perempuan itu hamil karena kamu. Mau atau tidak, hidupnya sekarang terikat sama hidupmu.”

Samudra terdiam. Hatinya berontak. Wajah wanita yang ia cintai dulu kembali hadir dalam pikirannya semua andai-andai yang tak pernah terjadi.

“Aku… nggak siap menikah,” ucapnya lirih.

Raka menatapnya dingin. “Kamu sudah dewasa saat berbuat. Sekarang kamu juga harus dewasa saat menanggung akibatnya. Akibat yang kamu lakukan sendiri. Papa dan Mama dari dulu sudah bilang sama kamu untuk jauhi alkohol tapi apa kamu mendengarkan kami? Tidak. Kamu gak pernah mendengarkan kami. Itulah akibat yang terjadi. Kalau sudah begini siapa yang susah? Kamu. Kamu sendiri yang sudah."

Sunyi kembali menyelimuti ruangan.

Malam itu, tanpa tanya lebih jauh, tanpa diskusi panjang, keputusan diambil.

“Kami akan menemui keluarga perempuan itu,” kata Raka mantap.

“Kamu akan menikahinya.”

Samudra memejamkan mata.

Di detik itu, ia tahu hidupnya tak lagi berjalan sesuai keinginannya.

Bukan karena cinta.

Melainkan karena kesalahan.

Flashback Off

•••••

Samira baru saja selesai memandikan Binar. Rambut kecil putrinya sudah rapi terikat, seragam TK itu melekat pas di tubuh mungilnya. Setelah memastikan semuanya siap, Samira menggandeng tangan Binar turun ke lantai bawah.

Rumah masih terasa sepi. Samudra sudah berangkat lebih dulu, seperti biasa.

Samira mengambil kunci mobil yang tergantung rapi di dekat pintu. Mobil itu fasilitas yang diberikan Samudra agar ia bisa mengantar dan menjemput Binar ke mana pun anak itu perlu pergi. Tidak lebih.

Kadang Samira berpikir, di mata Samudra, dirinya bukan istri. Bukan pasangan hidup. Ia hanya pengasuh tetap bagi anak yang lahir dari kesalahan.

Baby sitter.

Itu saja.

“Mah, hari ini Mama ikut masuk kelas nggak?” tanya Binar sambil menatapnya penuh harap.

Samira tersenyum lembut. “Mama tunggu di luar aja ya, Nak. Tapi Mama jemput nanti siang.”

“Okeee,” jawab Binar ceria.

Samira membuka pintu mobil, membantu Binar duduk dan memasangkan sabuk pengaman. Setelah itu ia masuk ke kursi pengemudi. Mesin mobil menyala, lalu perlahan melaju meninggalkan halaman rumah yang terlalu besar untuk rasa sepi yang mereka tinggali.

Di perjalanan, Binar tak berhenti bercerita. Tentang temannya. Tentang guru baru. Tentang gambar yang akan ia buat hari ini. Samira mendengarkan dengan sungguh-sungguh, meski pikirannya sesekali melayang.

Ia tersenyum, menanggapi setiap cerita Binar, meski hatinya terasa kosong.

Sesampainya di sekolah, Samira menggandeng tangan putrinya hingga ke depan kelas. Binar memeluknya erat sebelum masuk.

“Papa nanti jemput?” tanya Binar polos.

Samira terdiam sepersekian detik. Lalu tersenyum lagi, senyum yang sama yang selalu ia pakai.

“Mama yang jemput Bibi,” jawabnya lembut.

Binar mengangguk, lalu masuk ke kelas dengan langkah kecil penuh semangat.

Samira berdiri di sana lebih lama dari yang seharusnya. Menatap pintu kelas yang tertutup. Dadanya terasa sesak, tapi ia menarik napas panjang, menahan semuanya kembali.

Ia kemudian berbalik menuju ke arah mobilnya. Hari ini niatnya sambil menunggu Binar sekolah ia akan menunggunya di kafe yang tak jauh dari sekolah Binar. Selain karena tak ingin bolak-balik ia juga ingin me time menenangkan diri dari pikirannya yang terus melayang kesana-kemari.

•••••

Hai Semuanya!

Selamat Datang Di Cerita Baru Aku!!!

Mohon maaf kalau alurnya terasa lambat. Aku memang sengaja membuatnya bergaya slow burn supaya setiap detail dan emosi dalam cerita nya bisa lebih terasa.

Jangan lupa like, comment, follow, dan share cerita ini ya!!!

Terima Kasih!

1
Favmatcha_girl
Huhuhu🥺 kasihan nya
Favmatcha_girl
Lagi bahagia sayang🥺
Favmatcha_girl
Lagi kasmaran mungkin😅
Favmatcha_girl
Masakin batu dan kayu aja🤭
Favmatcha_girl
Baik dong kan ajaran ibu yang baik😍
Favmatcha_girl
Anak lagi masa pertumbuhan🥺
Itz_zara: Iya nih makannya makan banyak
total 1 replies
Favmatcha_girl
Tumben ngomong maaf🤭
Itz_zara: Jarang ya😆
total 1 replies
Favmatcha_girl
Gengsi aja digedhein😑
Itz_zara: 🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Favmatcha_girl
Emang cantik, baru tau ya, lo🤭
Itz_zara: Selama ini dia tutup mata🤭
total 1 replies
Favmatcha_girl
Gas lah ma jodohin aja Samira sama duda kaya raya🤭
Itz_zara: Hahaha Duren kan ya🤭
total 1 replies
Favmatcha_girl
Rasain deh🤭 gak diinget anak
Itz_zara: Rasakan😆
total 1 replies
Favmatcha_girl
Gemes banget si kamu😍
Itz_zara: Maacih🥰
total 1 replies
Favmatcha_girl
Santai Pak jawabnya 😡
Itz_zara: Gak bisa😆
total 1 replies
Favmatcha_girl
Kasihan pasti dah anggap mantu kaya anak sendiri 🥺
Itz_zara: Udah sayang level tinggi kak🥰
total 1 replies
Favmatcha_girl
Kaku bener kek kanebo kering😑
Itz_zara: Hahahha biasalah😆
total 1 replies
Sutri Ana
hhmmm manis bangeeet samudra, seneng deh 🥰🥰🥰
Sutri Ana
pokoknya ceritanya seruuu 🥰🥰🥰
Sutri Ana
🥰🥰🥰
Itz_zara: 🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Sutri Ana
samudera belum menyadari cintanya utk Samira 😇😇
Itz_zara: Masih ketutup gengsi dan ketidakpekaan🙏
total 1 replies
Sutri Ana
samudra mmg egonya segede gunung Semeru 😇😄😄
Itz_zara: Kalo Samira sabarnya seluas samudra🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!