NovelToon NovelToon
JENIUS RENDAHAN

JENIUS RENDAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Slice of Life
Popularitas:165
Nilai: 5
Nama Author: Yusuf Fikri

Melihat begitu banyak orang hebat di sekitarku membuatku merasa rendah di mata mereka. Bagi dunia ini, nilai akademis adalah segalanya. Namun bagiku, kreativitas merupakan hal terpenting sebagai pengubah karya imajinasi menjadi kenyataan. Apakah diriku, seorang siswa yang dianggap memiliki "kemampuan rendah", dapat membuktikan bahwa cara pandang mereka salah? Ini adalah kisah tentang membuktikan diri di tengah gempuran para jenius akademik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 : Kudeta Meja Belakang dan Rumus Tanpa Catatan

Pukul 07.35 pagi.

Keributan di koridor tadi sudah mereda. Siswa-siswa mulai masuk ke kelas masing-masing karena lima menit lagi bel masuk akan berbunyi.

Aku duduk di bangkuku yang biasa—pojok paling belakang, dekat jendela. Ini adalah tempat strategis. Jauh dari pantauan guru, dekat dengan ventilasi udara, dan memiliki sudut pandang luas ke seluruh kelas. Biasanya, kursi di sebelahku diisi oleh Rafan. Kami sudah duduk sebangku sejak MPLS hari pertama.

Tas Rafan sudah ada di atas meja, menandakan pemiliknya sudah datang (meski orangnya masih di luar, mungkin ke toilet atau tebar pesona sebentar).

Aku mengeluarkan buku paket Matematika, bersiap untuk tidur dengan mata terbuka—teknik andalanku saat pelajaran membosankan.

Namun, kedamaian itu terusik oleh suara hentakan kaki yang mendekat.

Zea masuk ke kelas. Wajahnya masih sedikit merah sisa kejadian di koridor tadi, tapi matanya memancarkan tekad yang bulat. Dia tidak berjalan ke mejanya sendiri di barisan tengah. Dia berjalan lurus ke arah mejaku.

Lebih tepatnya, ke arah meja Rafan.

Tanpa basa-basi, Zea menyambar tas ransel milik Rafan.

"Eh?"

Aku menatapnya bingung. "Zea? Kamu ngapain?"

Zea tidak menjawabku. Dia berbalik badan, membawa tas Rafan, dan berjalan menuju meja Rara yang ada di barisan tengah. Rara sedang duduk sendirian sambil memainkan HP karena teman sebangkunya, Dinda, sedang izin ke UKS sebentar.

Brak.

Zea meletakkan tas Rafan di kursi kosong di sebelah Rara.

"Ra, titip Rafan ya," ucap Zea santai.

Rara melongo, HP-nya nyaris jatuh. "Hah? Maksudnya?"

Tepat saat itu, Rafan masuk ke kelas sambil bersiul-siul santai. Langkahnya terhenti saat melihat Zea berdiri di samping mejanya yang kini kosong, dan melihat tasnya sudah berpindah tempat ke meja Rara.

"Lho? Tas gue kok jalan-jalan?" tanya Rafan bingung.

Zea berkacak pinggang, menatap Rafan dengan tatapan 'jangan-bantah-atau-kena-cakar'.

"Mulai hari ini, tukeran tempat," titah Zea mutlak. "Lo duduk sama Rara. Gue duduk sama Callen."

Satu kelas hening.

Benar-benar hening.

Semua siswa yang sedang mengobrol langsung berhenti. Mereka menatap horor sekaligus takjub ke arah belakang. Zea, sang primadona kelas, baru saja mengusir Ketua Kelas demi duduk di pojok bersama Callen si "Jenius Rendahan". Ini pernyataan perang—atau pernyataan cinta—yang sangat vulgar.

Rafan menatap Zea, lalu beralih menatapku yang hanya bisa mengangkat bahu pasrah. Perlahan, senyum jahil merekah di wajah Rafan. Dia tidak marah, justru terlihat sangat terhibur.

"Waduh... waduh... Kudeta militer nih ceritanya?" kekeh Rafan. Dia mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Oke, oke. Sebagai rakyat jelata yang baik, saya nurut sama Ibu Negara."

Rafan berjalan santai menuju meja Rara.

"Halo, Rara Cantik. Mohon bantuannya ya, gue jadi pengungsi nih," sapa Rafan sambil duduk di sebelah Rara.

Wajah Rara memerah padam sampai ke telinga. Dia mengangguk kaku, jantungnya pasti sedang dugem karena tiba-tiba duduk sebangku dengan cowok paling populer di angkatan. Teman-teman sekelas mulai bersiul menggoda, tapi Zea tidak peduli.

Zea kembali ke mejaku, meletakkan tas pink pastelnya di kursi bekas Rafan, lalu duduk dengan nyaman di sana.

Jarak kami sekarang nol. Bahu kami hampir bersentuhan. Aroma vanilla dari rambutnya langsung mendominasi area pojok ini, mengusir bau apek yang biasa dibawa Rafan.

"Kamu..." Aku menatapnya tak percaya. "Kamu seriusan?"

Zea menoleh, menatapku galak tapi pipinya merona. Dia mendekatkan wajahnya, berbisik pelan agar tidak didengar siswa lain.

"Diem aja," desisnya. "Aku mau belajar sama kamu. Matematika itu susah, dan kamu pinter. Jadi wajar kan kalau aku cari tutor sebangku?"

"Tapi nggak perlu ngusir Rafan juga, Ze," balasku, ikut berbisik.

"Biarin. Sekalian bantuin Rara, dia naksir Rafan dari lama," jawab Zea enteng. "Udah, fokus! Bu Zeni udah dateng tuh."

Aku menghela napas panjang, menyandarkan punggung. Selamat tinggal ketenangan.

Pukul 07.40 Tepat.

Pintu kelas terbuka. Sesosok wanita muda dengan setelan blazer cream dan rok span hitam masuk. Rambutnya diikat rapi, riasannya minimalis tapi elegan.

Bu Zeni. Guru Matematika idola para siswa laki-laki. Umurnya baru 28 tahun, masih lajang, cantik, dan cara mengajarnya enak. Tapi jangan salah, soal-soal buatannya sering membuat siswa menangis darah.

"Selamat pagi semuanya," sapa Bu Zeni dengan senyum ramah yang membuat suasana kelas langsung cerah.

"Pagi, Buuu!" jawab serentak, terutama dari para siswa cowok.

Bu Zeni meletakkan spidol di meja, lalu matanya menyapu seisi kelas. Alisnya sedikit terangkat saat melihat perubahan formasi tempat duduk di belakang. Dia melihat Zea duduk di sebelahku, dan Rafan di sebelah Rara.

"Wah, ada rotasi pemain sepertinya hari ini?" komentar Bu Zeni jenaka. "Zea pindah ke belakang? Tumben. Biasanya paling depan."

Zea tersenyum manis, berusaha terlihat polos. "Iya, Bu. Di depan AC-nya terlalu dingin. Di belakang lebih anget."

Bu Zeni tertawa kecil, menggelengkan kepala. Dia tahu ada 'sesuatu', tapi dia tidak mempermasalahkannya.

"Baiklah. Hari ini kita masuk ke materi baru: Bentuk Akar dan Logaritma Dasar."

Pelajaran dimulai.

Bu Zeni mulai menulis rumus-rumus di papan tulis putih. Tulisan tangannya rapi dan terstruktur.

Aku memperhatikan dengan seksama. Mataku mengikuti setiap goresan spidol Bu Zeni. Otakku bekerja seperti spons, menyerap konsep, memvisualisasikan angka-angka itu menari di udara, dan menyimpannya di memori jangka panjang.

Tanganku? Diam. Buku tulisku? Masih tertutup. Pulpenku? Masih di dalam kotak pensil.

Sementara itu, di sebelahku...

Srek... srek... srek...

Zea sibuk luar biasa. Dia punya lima jenis pulpen warna-warni di mejanya. Dia menyalin semua tulisan di papan tulis dengan sangat rapi. Judul digarisbawahi pakai tinta merah, rumus pakai tinta biru, contoh soal pakai tinta hitam. Dia bahkan pakai penggaris untuk membuat kotak pada rumus penting.

"Cal," bisik Zea tanpa menoleh, tangannya masih sibuk menulis. "Kamu kok nggak nyatet? Nanti lupa lho."

"Nggak bakal," jawabku singkat, mata masih fokus ke papan tulis.

"Ih, sombong. Nanti pas ujian bingung mau baca apa," omelnya pelan.f

Bu Zeni memberikan contoh soal yang cukup rumit.

"Ada yang bisa mengerjakan?" tanya Bu Zeni.

Zea buru-buru mencoret-coret kertas buramnya, keningnya berkerut dalam. Jari-jarinya menghitung.

Dua pangkat berapa yang hasilnya enam belas... terus tiga pangkat berapa... aduh, sifat logaritma yang mana ya?

Aku melirik kertas Zea. Dia macet di bagian 125.

Tanpa bicara, aku mengambil pensil mekanik Zea dari tangannya.

Zea kaget, menoleh padaku.

Di sudut kertas catatanku, aku menuliskan hasil sederhana itu: 4 + 3 − 3 = 4.

Zea menatap coretan tersebut, lalu kembali memandang papan tulis yang menuliskan ²log 16 = 4 karena 2⁴ = 16, ³log 27 = 3 karena 3³ = 27, dan ⁵log 125 = 3 karena 5³ = 125.

hingga semuanya kembali mengarah pada satu kesimpulan yang sama: 4.

Matanya membulat. "Oh!"

Zea langsung mengangkat tangan tinggi-tinggi. "Saya, Bu! Jawabannya 4!"

Bu Zeni tersenyum. "Tepat sekali, Zea. Bagus."

Zea menurunkan tangannya sambil tersenyum lebar ke arahku. "Makasih, Cal," bisiknya senang.

Aku hanya mengangguk tipis, mengembalikan pensilnya.

Sisa jam pelajaran berjalan seperti itu. Zea yang ambisius mencatat setiap kata yang keluar dari mulut Bu Zeni, sementara aku menjadi "kunci jawaban berjalan" di sebelahnya. Setiap kali dia bingung, aku hanya perlu menunjuk bagian tertentu di bukunya atau membisikkan satu kata kunci, dan dia langsung paham.

"Kamu tuh curang ya," gumam Zea saat Bu Zeni sedang menghapus papan tulis. "Kamu nggak nyatet apa-apa, tapi ngerti semuanya. Otakmu isinya apa sih? Processor Intel Core i9?"

"Isinya sop ayam," jawabku asal.

Zea terkikik geli, menyikut lenganku pelan.

Di depan sana, Rafan sesekali menoleh ke belakang, melihat interaksi kami sambil senyum-senyum sendiri. Rara di sebelahnya terlihat salah tingkah karena Rafan meminjam penghapusnya dengan gaya flirty.

Pukul 09.00. Bel pergantian pelajaran berbunyi.

"Baik, cukup sampai di sini," tutup Bu Zeni. "PR halaman 45, nomor 1 sampai 10 dikumpulkan lusa. Zea, karena kamu duduk sama Callen, Ibu harap nilai ulangan harianmu minggu depan bisa 100 ya. Callen kan jago hitungan."

Satu kelas tertawa. Wajahku datar, wajah Zea merah padam.

"Siap, Bu!" jawab Zea lantang, walau suaranya agak gemetar.

Bu Zeni keluar kelas. Zea meregangkan badannya yang pegal karena mencatat nonstop selama 80 menit.

"Gila... tangan keriting," keluhnya, lalu menatap mejaku yang bersih tanpa coretan. "Dan kamu... kertasmu masih putih bersih. Nyebelin banget."

Aku menopang dagu, menatapnya. "Itu bedanya kerja keras sama kerja cerdas, Ze."

"Bodo amat," Zea menjulurkan lidah. "Yang penting sekarang aku duduk di sini. Dan kamu nggak bisa ngusir aku."

Aku menatap gadis keras kepala di sebelahku ini. Melihat betapa berantakannya meja dia dengan pulpen warna-warni, dan betapa dia berusaha keras memahami materi tadi.

Yah, batinku. Setidaknya dia punya semangat.

"Iya, iya. Terserah Nyonya Manajer saja," gumamku pasrah, bersiap menghadapi pelajaran selanjutnya dengan "parasit" cantik yang kini resmi menjadi teman sebangkuku.

1
Zumrotul Mukaromah
semangatt update kakk🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!