NovelToon NovelToon
Ayah Apa Salahku?

Ayah Apa Salahku?

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

"Ketika seorang anak ingin dicintai tapi selalu dijadikan alasan"

Kanaya ditinggalkan ibunya sejak bayi berumur 14 bulan dan tumbuh bersama ayah yang selalu menyalahkannya atas setiap kegagalan hidup.

Saat ayahnya menikah lagi, kasih sayang yang dulu sempat ia rasakan perlahan hilang.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang berubah menjadi sumber luka.

Kanaya hanya ingin diakui sebagai anak, bukan beban.
Namun semakin ia berusaha, semakin ia disalahkan.

Sampai akhirnya ia hanya bisa bertanya dalam diam—
Ayah, apa salahku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SATU LANGKAH YANG TAK BOLEH HILANG

Mbak Maya duduk bersandar di balik pintu kamarnya, napasnya perlahan mulai teratur meski matanya masih bengkak dan merah. Di kesunyian kamar itu, kata-kata polos Kanaya tadi terus terngiang, menusuk nuraninya paling dalam.

"Ibu... jangan marah. Ikan lumba-lumba Naya buat Ibu aja..."

Ia menatap kosong ke arah jendela. Ada rasa sesal yang amat sangat menghimpit dadanya. Ia sadar, selama ini ia sering kali menjadikan Kanaya sebagai pelampiasan emosi terpendamnya. Setiap kali ia melihat wajah Kanaya, terkadang yang ia lihat bukan hanya keponakan kecilnya, melainkan bayang-bayang kesalahan Bagas yang telah menghancurkan nama baik keluarga dan kini, menghambat masa depan pribadinya.

"Ya Allah... apa yang sudah aku lakukan?" bisiknya dengan suara parau.

Ia merasa sangat jahat. Kanaya tidak pernah meminta dilahirkan. Kanaya tidak pernah memilih untuk diadopsi olehnya. Dan yang paling menyakitkan, Kanaya tetap memanggilnya "Ibu" dengan tulus bahkan setelah ia baru saja meledak seperti badai.

Mbak Maya perlahan membuka pintu kamarnya. Hal pertama yang ia lihat adalah boneka lumba-lumba biru itu, tergeletak setia di depan pintu, seolah sedang menjaganya. Ia memungut boneka itu, memeluknya erat, lalu berjalan ke arah ruang tengah.

Di sana, ia melihat Kanaya sedang duduk tenang di pangkuan Mbah Uti, tatapannya kosong menatap lantai. Saat melihat Mbak Maya keluar, Kanaya tidak lari ketakutan, ia hanya menatap tantenya—ibunya—dengan tatapan yang seolah meminta maaf.

Maya berlutut di depan Kanaya. Ia mengambil tangan mungil itu dan menciumnya berkali-kali.

"Naya... maafkan Ibu ya," ucap Maya sambil terisak pelan. "Ibu yang salah. Ibu nggak seharusnya marah sama Naya. Naya anak baik, Naya nggak salah apa-apa."

Ia kemudian menoleh ke arah Bagas yang berdiri tidak jauh dari sana. "Gas... aku minta maaf. Aku memang kesal sama kamu, tapi aku tahu Kanaya nggak pantas jadi sasaran kemarahanku. Dia harta kita yang paling berharga sekarang."

Bagas hanya mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca. Ia tahu kakaknya sedang berjuang melawan egonya sendiri.

Mbak Maya memeluk Kanaya sangat erat, seolah takut kehilangan satu-satunya alasan yang membuatnya tetap kuat bertahan di rumah itu. Ia berjanji dalam hati, pria mana pun yang nantinya datang, jika dia tidak bisa menerima Kanaya sebagai bagian dari dirinya, maka pria itu memang tidak layak menjadi suaminya.

Malam itu, setelah ketegangan yang sempat memuncak di ruang tamu mereda, keluarga itu berkumpul di ruang makan dengan suasana yang jauh lebih tenang namun masih terasa sedikit canggung. Mbah Uti, sambil merapikan sisa-sisa piring, memecah keheningan dengan suara lembutnya.

"May, Ibu mau kasih tahu, besok Bapak sama Ibu jadwalnya kontrol ke rumah sakit. Katanya harus agak pagi biar nggak antre terlalu lama, jadi rencananya mau diantar Bagas naik mobil. Kan Bapakmu sudah nggak kuat kalau harus lama-lama dibonceng motor, badannya sering pegal semua. Nah, karena kita semua bakal sibuk di rumah sakit, rencananya Kanaya biar Ibu titipkan saja ke Mbok Darmi di rumahnya dari pagi. Takutnya kalau dibawa ke rumah sakit nanti malah kena virus atau capek nunggu di poli yang ramai," ucap Mbah Uti sambil melirik Kanaya yang duduk tenang di samping Bagas.

Bagas pun mengangguk setuju sambil menuangkan air ke gelasnya. "Iya Mbak, aku sudah minta izin libur setengah hari buat antar Bapak sama Ibu pakai mobil. Lebih aman juga buat Bapak biar bisa sandaran di jalan. Kasihan kalau Kanaya harus ikut nunggu berjam-jam di sana, apalagi kalau nanti aku harus bolak-balik urus administrasi."

Maya, yang sejak tadi hanya diam sambil mengaduk tehnya, tiba-tiba meletakkan sendoknya dengan pelan hingga terdengar bunyi denting yang halus. Ia menatap Ibu dan Bagas bergantian, lalu pandangannya jatuh pada Kanaya yang sedang asyik memainkan ujung jarinya dengan patuh.

"Nggak usah dititipkan ke Mbok Darmi, Bu," jawab Maya dengan nada suara yang kini lebih mantap, tidak lagi ada sisa kemarahan seperti sore tadi. "Biar aku bawa saja dia ke sekolah besok. Mbok Darmi itu rumahnya di pinggir jalan raya, debunya banyak, lagi pula dia pasti repot sambil urus cucunya sendiri yang bandel itu. Kanaya biar ikut aku mengajar saja. Lagipula, dia kan anaknya diam, nggak pernah rewel atau lari-larian yang nggak jelas. Paling cuma duduk manis di pojokan kelas sambil mewarnai kalau aku lagi menerangkan di depan."

Ibu tampak sedikit ragu, ia menghentikan aktivitasnya sejenak. "Tapi apa nggak apa-apa, May? Apa kepala sekolah atau guru-guru lain nggak bakal keberatan kalau kamu bawa anak kecil ke dalam lingkungan kelas begitu? Ibu takut nanti malah jadi omongan orang di kantormu."

Maya menggeleng pelan, wajahnya tampak lebih lembut sekarang, menunjukkan ketegasan yang penuh kasih. "Nggak apa-apa, Bu. Kepala sekolah juga sudah tahu situasiku, lagi pula aku sudah lama mengabdi di sana. Besok aku cuma ada tiga jam pelajaran di kelas yang cukup tenang. Aku mau Kanaya mulai terbiasa dengan suasana sekolah, supaya dia tahu kalau Ibunya—maksudku Budenya ini—bekerja di sana. Daripada dia cuma bengong atau nangis di rumah orang lain, lebih baik dia di sampingku, di bawah pengawasanku sendiri."

Bagas tersenyum sangat lega mendengar keputusan kakaknya yang begitu melindungi. "Terima kasih ya, Mbak. Maaf kalau terus-terusan merepotkan Mbak Maya sampai harus bawa Kanaya ke kantor."

Maya hanya melirik adiknya sekilas, lalu beralih mengelus pipi Kanaya dengan penuh rasa sayang yang mendalam. "Sudah, jangan banyak bicara. Gas, besok sebelum kamu berangkat antar Bapak sama Ibu pakai mobil, tolong siapkan bekal susu sama biskuitnya Naya ke dalam tas kecilnya. Jangan sampai ada yang ketinggalan. Aku mau dia dandan yang cantik dan rapi besok, biar rekan-rekan guru di kantor tahu kalau keponakanku ini anak yang paling pintar, paling penurut, dan tidak merepotkan sama sekali."

Pagi itu, suasana di depan rumah tampak sibuk. Bagas sudah memanaskan mobil di garasi, suaranya menderu halus siap mengantar Mbah Akung dan Mbah Uti kontrol ke rumah sakit. Mbak Maya pun sudah rapi dengan seragam gurunya, sedang memasangkan tas ransel mungil ke punggung Kanaya.

Saat mobil mulai perlahan mundur keluar pagar, Bagas menurunkan kaca jendela dan melambaikan tangan. "Ayah pergi dulu ya, Naya. Pinter-pinter sama Ibu di sekolah!"

Di luar dugaan, Kanaya yang biasanya sangat lengket dengan ayahnya, justru tampak sangat tenang. Tanpa ada air mata sedikit pun, gadis kecil itu mengangkat tangan mungilnya dan melambai dengan riang.

"Dadaaa Ayah! Hati-hati yaaa!" serunya dengan suara cempreng yang menggemaskan. Ia bahkan kembali asyik membetulkan letak sepatunya seolah kepergian ayahnya adalah hal yang biasa saja.

Melihat itu, Mbah Akung yang duduk di kursi depan mobil hanya bisa geleng-geleng kepala. "Lihat itu, Gas. Kamu yang berjuang mati-matian, tapi dia malah santai saja ditinggal kamu. Kayaknya dia sudah tahu siapa 'bos' yang sebenarnya sekarang."

Bagas hanya tertawa getir sambil terus menjalankan mobilnya. "Iya, Yah. Perasaan baru kemarin saya yang ditangisi kalau berangkat kerja, sekarang sudah dicuekin."

Namun, pemandangan berbeda terjadi hanya berselang sepuluh menit kemudian. Mbak Maya yang hendak mengambil kunci motornya di atas meja teras menyadari ada sesuatu yang tertinggal di dalam. Saat ia mencoba melepaskan gandengan tangan Kanaya untuk masuk sebentar ke dalam rumah, reaksi Kanaya berubah drastis 180 derajat.

"Naya, tunggu di sini sebentar ya. Ibu mau ambil dompet ketinggalan di meja," ucap Maya lembut.

Baru saja Maya melangkah dua pijakan, Kanaya langsung menjerit. Wajahnya yang tadi ceria seketika berubah merah padam. Ia berlari mengejar dan memeluk erat kaki Mbak Maya sekuat tenaga, seolah-olah jika ia melepaskannya, dunianya akan runtuh.

"Nggak mauuu! Ibu nggak boleh pelgi! Naya ikut! Ibuuuu!" teriaknya sambil mengamuk, kakinya dihentak-hentakkan ke lantai dengan penuh emosi. Air matanya yang tadi absen saat ayahnya pergi, kini tumpah deras membasahi pipinya yang gembul.

Maya menghela napas, ia berlutut dan mencoba menenangkan gadis kecil itu. "Loh, Ibu cuma masuk sebentar, Naya. Kan kita berangkat bareng ke sekolah."

Kanaya tidak peduli. Ia tetap terisak keras sambil membenamkan wajahnya di pundak Maya. Bagi Kanaya, kehilangan Ayah sejenak mungkin tidak masalah, tapi ditinggal satu langkah saja oleh "Ibunya" adalah bencana besar. Ia seolah takut kejadian kemarin terulang kembali—saat Mbak Maya mengamuk dan membanting tas. Kanaya kecil, dengan instingnya yang tajam, kini seolah sedang "menjaga" Mbak Maya agar tidak pergi darinya.

Mbak Maya akhirnya menyerah. Ia menggendong Kanaya, membisikkan kata-kata penenang sambil mengusap punggungnya. Ada rasa haru yang menyelusup di hatinya; meskipun ia sempat merasa terbebani, ternyata bagi bocah ini, dialah pusat dunianya.

"Iya, iya... Ibu nggak pergi. Kita berangkat sekarang ya?" bisik Maya parau.

Kanaya perlahan tenang, meski isakannya masih tersisa satu-dua. Ia menyeka air matanya dengan tangan mungilnya, lalu menyandarkan kepalanya di leher Mbak Maya dengan erat, memastikan bahwa "Ibunya" benar-benar akan membawanya ke mana pun ia pergi hari itu.

Pagi itu di sekolah, Kanaya benar-benar menjadi bayangan Mbak Maya. Saat pertama kali melangkah masuk ke gerbang, tangannya tak lepas mencengkeram rok seragam ibunya. Bahkan saat berada di kantor guru, ia terus bersembunyi di balik kaki Maya, mengintip malu-malu setiap kali ada guru lain yang menyapa atau sekadar ingin mencubit pipinya.

"Wah, ini ya si cantik Kanaya? Kok sembunyi terus, Sayang?" goda Bu Ratna, guru bahasa Inggris yang duduk di sebelah meja Maya.

Kanaya tidak menjawab, ia justru semakin menenggelamkan wajahnya di lipatan rok Maya. Maya hanya tersenyum tipis sambil mengusap kepala Kanaya. "Maklum Bu, tempat baru. Nanti juga kalau sudah panas mesinnya, dia lupa sama saya."

Prediksi Maya ternyata benar. Setelah satu jam berlalu dan suasana kantor mulai ramai dengan obrolan ringan serta aroma teh hangat, rasa penasaran Kanaya mulai mengalahkan rasa takutnya. Awalnya ia hanya berani duduk di kursi kerja Maya sambil mencorat-coret buku gambar, namun perlahan ia mulai tertarik dengan stoples kerupuk dan permen di meja guru-guru lain.

Saat bel masuk berbunyi dan Maya harus bergegas menuju kelas untuk mengajar, ia sempat khawatir Kanaya akan mengamuk lagi seperti di rumah tadi.

"Naya, Ibu masuk kelas dulu ya? Naya di sini sama Bu Ratna dan Bu Ida. Jangan nakal, oke?" pamit Maya dengan nada waswas.

Di luar dugaan, Kanaya yang sedang asyik diberi biskuit oleh Bu Ida hanya menoleh sekilas. "Iya, Bu. Naya di sini aja," jawabnya santai, lalu kembali fokus menyusun tutup pulpen warna-warni milik rekan guru Maya.

Selama dua jam pelajaran, Maya di dalam kelas merasa tidak tenang. Pikirannya melayang, membayangkan Kanaya mungkin sedang menangis mencarinya di ruang guru. Namun, saat jam istirahat tiba dan Maya kembali ke kantor, ia justru mendapati pemandangan yang membuatnya geleng-geleng kepala.

Kanaya sudah "menguasai" meja besar di tengah ruang guru. Ia duduk dengan tenang di sana, dikelilingi oleh tiga orang guru senior yang tampak gemas menyuapinya potongan buah. Gadis kecil itu bercerita dengan bahasa cadelnya tentang boneka lumba-lumba birunya, tanpa memperdulikan Maya yang berdiri di ambang pintu.

"Loh, sudah nggak butuh Ibu lagi nih?" sindir Maya sambil tertawa kecil menghampiri meja itu.

Kanaya hanya melirik Maya sebentar, lalu kembali menatap guru di depannya. "Ibu belajal (belajar) aja telus. Naya sibuk, Bu," ucapnya polos yang langsung disambut tawa ledak seisi ruang guru.

Maya hanya bisa mengelus dada. Ternyata sifat "cuek" Bagas dan sifat "mandiri" dirinya bersatu dalam diri Kanaya. Gadis kecil itu sudah merasa sangat aman dan dicintai, sehingga ia tak lagi merasa perlu cemas meski sang Ibu berada di ruangan yang berbeda.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!