Mei Lin yang seorang agen mata mata terpaksa harus bunuh diri ketika tertangkap oleh Wang Yu, seorang Jenderal polisi negara x.
Namun , bukan nya mati, Mei Lin justru terperangkap ke dalam tubuh milik Bai Hua. Bai Hua adalah gadis lemah yang membutuhkan kursi roda untuk berjalan. Ia diejek oleh seluruh keluarga nya karena menjadi sampah. Bai Hua juga harus menikah dengan Pangeran Idiot!
Bagaimana jika jiwa Mei Lin yang mengambil alih tubuh Bai Hua untuk menikah dengan Pangeran itu? Dan bagaimana jika jiwa pangeran itu juga telah dirasuki entitas dari abad 21?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28 : Kudeta
Dentuman anak panah otomatis dari kursi roda Bai Hua menciptakan barikade maut yang menyapu barisan depan Pasukan Gagak. Suaranya menderu seperti hujan di tengah keheningan aula yang mencekam. Namun, para pembunuh bertopeng perak itu bukan prajurit biasa; mereka berguling dan melompat dengan lincah, mendekati Bai Hua dari tiga arah berbeda.
"Jangan pikir kursi roda itu bisa melindungimu selamanya, Gadis Lumpuh!" teriak salah satu pengawal sambil mengayunkan pedang besar.
Bai Hua tidak gentar. Ia memutar roda kursinya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menarik tuas tersembunyi. Srat! Sepasang pisau panjang meluncur keluar dari sisi roda peraknya, berputar seperti baling-baling maut yang memotong kaki siapa pun yang mendekat.
"Lumpuh? Mungkin. Tapi tanganku masih cukup kuat untuk mengirimmu ke neraka," desis Bai Hua dingin.
Sementara itu, di tengah aula, Wan Long bergerak seperti badai hitam. Pedangnya berdenting keras setiap kali beradu dengan senjata lawan. Setiap gerakannya efisien dan mematikan---warisan dari ingatannya sebagai jenderal polisi elit di masa depan.
Ia menebas leher pengawal di depannya, lalu tanpa menoleh, ia menendang dada pengawal di belakangnya hingga terpental menabrak meja perjamuan. Namun, tiba-tiba rasa nyeri yang luar biasa menghantam dadanya.
"Ugh!" Wan Long berlutut, napasnya tersengal.
Ia menoleh ke arah Bai Hua. Jarak mereka hampir mencapai sembilan meter karena Bai Hua terus bergerak menghalau serangan. Racun Lian-Xin mulai bereaksi hebat karena emosi dan adrenalin yang memacu detak jantung mereka.
"Mei Lin! Jaraknya!" teriak Wan Long sambil menangkis tebasan pedang yang nyaris membelah bahunya.
Bai Hua juga merasakan hal yang sama. Wajahnya pucat pasi, peluh dingin membanjiri keningnya. "Aku... aku sedang berusaha!"
Bai Hua menekan tombol di sandaran tangannya, melepaskan sisa gas pelumpuh dalam dosis terkonsentrasi di sekelilingnya untuk menciptakan zona kosong, lalu ia memacu kursi rodanya meluncur ke arah Wan Long.
Begitu jarak mereka kembali rapat, rasa sakit itu mereda sejenak, namun keduanya sudah dalam kondisi kelelahan yang luar biasa.
Kaisar (Wan De) yang melihat pengawalnya mulai tumbang, merangkak menuju bagian belakang singgasananya. Ia menarik sebuah tuas tersembunyi di lantai.
Rummmbleee!
Sebuah pintu rahasia di balik dinding naga terbuka, dan dari sana muncul lima pengawal tambahan yang membawa busur silang dengan ujung anak panah yang menyala merah—panah peledak.
"Jika aku tidak bisa memilikinya, maka tidak akan ada yang bisa!" teriah Kaisar dengan sisa kekuatannya. "Tembak mereka! Bakar aula ini!"
Wan Long melihat para pemanah itu mulai membidik. Ia tahu, dengan kondisi fisik Bai Hua, mereka tidak akan bisa menghindari ledakan masif.
Disisi lain, permaisuri dan wan jin masih fokus menenangkan diri mereka yang hampir pingsan akibat udara yang terkena Teratai buatan Bai Hua.
"Bai Hua, pegangan!"
Tanpa peringatan, Wan Long mengangkat tubuh Bai Hua dari kursi rodanya dengan gerakan menggendong ala pengantin, lalu ia menendang kursi roda perak itu ke arah para pemanah.
"Apa yang kau—?!" Bai Hua terkejut, namun ia segera mengerti rencana Wan Long.
Kursi roda itu meluncur cepat karena gas pendorong terakhir yang diaktifkan Bai Hua secara refleks. Saat anak panah api menyentuh kursi roda---yang di dalamnya masih terdapat sisa tangki gas---terjadi ledakan besar.
BOOOM!
Ledakan itu menghancurkan barisan pemanah dan meruntuhkan pilar belakang singgasana. Asap hitam mengepul, menutupi pandangan semua orang.
Di balik kepulan asap, Wan Long berdiri tegak sambil mendekap Bai Hua. Bajunya sobek di beberapa bagian, namun matanya tetap tajam mengunci sosok Kaisar yang terhimpit reruntuhan kayu singgasana.
Wan Long melangkah mendekat, langkahnya berat namun pasti. Ia menurunkan Bai Hua dengan lembut di atas hamparan karpet merah, tetap menjaga jarak agar kulit mereka bersentuhan.
Kaisar Wan De menatap mereka dengan ketakutan. "Jangan... aku ini Kaisarmu... aku ini ayahmu..."
Wan Long mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Cahaya api dari kebakaran aula terpantul di matanya yang dingin. "Kau bukan Kaisar. Kau hanyalah pencuri yang sudah terlalu lama menikmati harta yang bukan milikmu. Sampaikan salamku pada Ibuku di akhirat."
Jleb!
Pedang Wan Long menembus jantung Kaisar palsu itu tepat di depan mata para menteri yang masih tersisa. Kaisar Wan De menghembuskan napas terakhirnya dengan mata melotot.
Namun, kemenangan itu terasa pahit. Tiba-tiba, suara derap kaki kuda ribuan tentara terdengar dari luar aula.
"Prajurit perbatasan..." bisik Bai Hua sambil memegang tangan Wan Long yang gemetar. "Stempel yang kau gunakan kemarin... mereka sudah sampai. Tapi pertanyaannya, apakah mereka datang untuk mendukung kita, atau untuk menghancurkan pengkhianat?"
Wan Long menatap pintu aula yang perlahan didobrak dari luar. "Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya, Mei Lin. Tetaplah di sisiku."
***
Happy Reading ❤️
Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih
definisi sebel tapi rindu
benci tapi butuh🤣🤣
ya elah mati aja ga mau ngalah lu bang
ok Leh yuk lah bareng "🫣🤣
jadi bayangin visual merekanya bertarung
anak kan cuman niru orang tuannya yaa
jgn salahin kalau jadi anak durhaka
tih punya orang tua durhaka
mang disini pada ngeluh masalah retensinya
banyak othor yg juga akhirnya nyerah dan banyak pindah ke berbagai platform 🥹🥹.
semangat ya Thor...
aku mah dukung aja
karena terkadang penghargaan itu ga butuh cuman pengakuan,tapi cuan yg menentukan 🤣🤣
lu pikir bisa mengendalikan seluruh permainan
hei..masa depan itu lebih menakutkan dr yg dilihat
dimana ga ada binatang buas di hutan belantara
tapi manusia yg punya nafsu buas di antara hutan sesungguhnya.
beginilah realita di masa depan.
sebenarnya siapa yg jebak siapa.🫣
hayooo kau berhadapan dengan polisi dan mata mata dr masa depan lu bang
siap siap aja yaa