NovelToon NovelToon
ENIGMA

ENIGMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Manusia Serigala / Dokter Genius / CEO Amnesia / Cinta pada Pandangan Pertama / Transformasi Hewan Peliharaan / Pengasuh
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ceye Paradise

Esmeralda Aramoa memimpin Proyek Enigma, sebuah eksperimen ilegal untuk menyatukan gen serigala purba ke dalam tubuh subjek bernama AL. Namun, fasilitas penelitian itu hancur dan AL menghilang. Suatu ketika Di tengah hutan sunyi, predator itu kembali—lebih besar, lebih buas, dan siap merobek leher Esme.Saat kuku tajam mulai menggores nadinya, dalam keputusasaan maut, Esme meneriakkan kebohongan gila: "Berhenti! Aku adalah istrimu!"

Apakah predator haus darah itu akan percaya begitu saja?
Siapa sebenarnya sosok AL sebelum ingatannya terhapus paksa?
Apakah kebohongan ini akan menjadi pelindung atau justru jebakan mematikan saat insting liar AL mulai menuntut haknya sebagai seorang suami?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Sang Predator Lugu

Malam itu, pondok kecil di lereng bukit yang biasanya tenang berubah menjadi panggung sandiwara paling absurd dalam sejarah umat manusia. Esmeralda Aramoa, atau Moa sebagaimana ia sekarang menyebut dirinya di depan Aleksander palsu itu, sedang berusaha keras menuntun AL naik ke lantai atas. Langkah kaki AL yang berat dan tidak beraturan membuat tangga kayu tua itu berderit seolah-olah akan patah kapan saja. Rambut hitamnya yang gondrong dan urakan menutupi sebagian wajahnya, memberikan kesan pria purba yang baru saja melangkah keluar dari gua setelah ribuan tahun terisolasi.

"Hati-hati, Aleksander! Angkat kakimu sedikit lebih tinggi, ini namanya tangga, bukan batang pohon tumbang!" seru Esme sambil menarik tangan besar AL.

AL menatap kakinya sendiri dengan heran. "Tang-ga? Kenapa manusia membuat tanah yang berundak-undak dan tidak rata seperti ini di dalam kotak kayu?" tanya AL dengan suara beratnya yang polos. Matanya yang kuning keemasan menatap setiap sudut ruangan dengan rasa ingin tahu yang sangat besar, seolah-olah lampu bohlam di langit-langit adalah bintang yang jatuh ke rumah mereka.

Esme menghela napas panjang, tangannya memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. "Ini namanya rumah, Aleksander. Rumah untuk manusia. Dan tolong, berhenti mengendus dinding, catnya masih belum kering sepenuhnya di beberapa bagian!"

Begitu sampai di ruang tengah, AL tiba-tiba berhenti. Matanya tertuju pada Ocan, kucing oranye kesayangan Esme yang sedang tidur pulas di atas sofa. Dalam sekejap, aura AL berubah. Pupil matanya menyempit, punggungnya merendah, dan ia mengeluarkan suara geraman rendah yang sangat mengancam. Insting predatornya mendeteksi adanya makhluk lain di wilayah kekuasaannya.

"Makan?" gumam AL, otot-otot lengannya menegang siap untuk menerjang kucing malang itu.

"TIDAK! JANGAN! Ocan bukan makanan!" Esme dengan sigap melompat ke depan AL, merentangkan kedua tangannya seperti induk ayam yang melindungi anaknya. "Itu teman! Teman Moa! Kalau kau makan dia, aku akan... aku akan mogok jadi istrimu!"

AL terdiam, gerakannya terkunci. Dia menatap Esme, lalu menatap kucing oranye itu dengan bingung. "Teman? Tapi dia kecil dan terlihat empuk. Di... di suatu tempat, aku ingat sesuatu yang kecil dan empuk itu rasanya enak."

"Itu kelinci, Aleksander! Kelinci! Ocan ini kucing, dia punya hak asasi kucing di rumah ini!" Esme ngebatin dengan frustasi, "Ya Tuhan, aku sedang bernegosiasi dengan manusia serigala berotot demi nyawa seekor kucing oranye. Hidupku benar-benar sudah mencapai titik nadir keanehan."

AL perlahan kembali tegak, meski matanya tetap waspada menatap Ocan. Dia kemudian beralih menatap Esme dengan tatapan yang tiba-tiba melunak. "Maaf, Moa. Aku tidak tahu. Aku... aku merasa masih familiar dengan bau hutan di luar sana, walau aku tidak terlalu ingat pernah tinggal di sana. Kenapa semua benda di sini begitu keras dan tidak berdaun?"

Esme menarik napas lega. "Karena ini peradaban, Aleksander. Nah, sekarang duduklah di sini." Esme menunjuk sebuah kursi kayu besar. AL mencoba duduk, namun karena dia tidak tahu fungsi kursi, dia malah mencoba jongkok di atas dudukannya dengan posisi yang sangat aneh.

"Bukan begitu! Pantatmu di bawah, kaki di lantai!" Esme membetulkan posisi duduk AL seperti sedang mengajar anak balita. "Nah, pintar. Sekarang, aku akan mengambilkanmu pakaian yang lebih pantas. Kau tidak bisa berkeliaran dengan dada terbuka begitu, kau bisa membuatku... maksudku, kau bisa kedinginan!"

AL menatap Esme sambil menyentuh kursi yang ia duduki "Moa apa dulu aku seperti ini sebelum kamu salah kasih obat yang membuat aku jadi seperti ini?" Yang AL maksud, tubuh dan kukunya. Esme tertegun. Ia cepat-cepat melanjutkan skenario sambil memegang tangan AL yg dua kali lebih besar dari tangan nya.

"Tidak... Ini mungkin bukan karena obat yang salah ku berikan, ini pasti karena efek samping koma mu dan kecelakaan kamu jadi lupa segalanya dan hal itu wajar. Kita akan belajar semuanya dari awal. Aku akan membantu kamu belajar cara kembali jadi diri kamu —manusia— kita belajar pelan-pelan " Esme tersenyum getir rasa bersalah menyeruak begitu saja.

"Kenapa Moa baik dan peduli?" AL masih bingung dengan keadaan dan konsep hubungan antara manusia yang tak ia pahami ia lebih paham simbiosis mutualisme antara hewan yang terlintas di ingatan nya saat masih berada di hutan.

"Karana kita... suami istri, kita keluarga " AL semakin kebingungan, ia hendak bertanya apa arti keluarga tapi Esme sudah lebih dulu bangkit meninggalkan nya setelah memberikan senyuman yang AL rasa sangat indah.

Esme masuk ke kamar dan mengambilkan beberapa potong baju bekas berukuran besar yang ia simpan untuk cadangan darurat. Saat ia kembali, ia menemukan AL sedang mencoba menjilat air di dalam vas bunga.

"ALEKSANDER! Jangan minum itu! Itu air bekas bunga, ada kotorannya!" teriak Esme sambil merebut vas tersebut.

"Tapi aku haus, Moa. Kenapa istri sangat galak? Apakah semua istri manusia selalu berteriak?" tanya AL dengan wajah tanpa dosa, membuat Esme ingin membenturkan kepalanya ke tembok.

"Aku tidak galak, aku hanya sedang mendidikmu! Kau tidak lupa kan kalau kau itu suamiku yang baru bangun dari koma, jadi seperti yang aku bilang tadi kau harus belajar segalanya dari nol!" Esme memberikan sebuah kaos besar berwarna abu-abu. "Pakai ini. Masukkan kepalamu ke lubang yang paling besar, lalu tanganmu ke lubang yang di samping."

AL berjuang dengan kaos itu. Dia malah memasukkan kedua kakinya ke lubang lengan, membuat kaos itu tersangkut di pinggangnya. Esme yang melihat itu hanya bisa melongo. "Astaga... fisikmu memang seperti dewa perang, tapi isi kepalamu benar-benar sekecil biji jagung ya? Sini, biar Moa bantu."

Dengan canggung, Esme mendekat dan membantu memakaikan baju itu. Jarak mereka yang sangat dekat kembali memicu detak jantung Esme yang tidak karuan. Saat tangan Esme tanpa sengaja menyentuh dada bidang AL, pria itu tiba-tiba memegang pinggang Esme.

"Moa... kenapa jantungmu berisik sekali? Seperti ada burung yang terperangkap di dalam dadamu," tanya AL, suaranya terdengar sangat dekat di telinga Esme.

Esme mematung, wajahnya memerah sampai ke telinga. "Itu... itu karena aku sedang berolahraga jantung! Memakaikan baju untuk pria sepertimu itu setara dengan lari maraton, tahu!"

AL menatap Esme dengan tatapan yang dalam. Tiba-tiba, ia menarik Esme lebih dekat hingga tubuh mereka menempel. "Moa, aku ingat sesuatu. Di kepalaku, ada bayangan tentang dua makhluk yang menempel seperti ini di dalam gelap. Lalu mereka... mereka... Aku tidak tahu apa namanya tapi... Bukankah kita suami istri? Harusnya kita melakukan seperti itu sekarang, pasti akan menyengkan. Aku tidak mengerti kenapa tapi aku merasa sangat... panas di bawah sini."

Mata Esme hampir keluar dari kelopaknya. Dia segera mendorong dada AL dengan seluruh kekuatannya. "HEI! Berhenti! Enak saja main ajak kawin seperti binatang! Kita ini manusia, Aleksander! Manusia berprinsip dan punya etika! Kita tidak seperti binatang di hutan yang kalau birahi langsung hantam kromo!"

AL tampak sangat bingung, wajahnya yang polos terlihat bersemangat. "Ah apa yang aku maksud tadi itu kawin? Seperti nya aku suka kawin, insting ku bilang kita harus kawin sebagai suami dan istri."

"Instingmu itu insting purba! Dengar ya, di dunia manusia, suami istri itu harus membangun chemistry, harus saling mengenal, harus... harus melewati proses birokrasi perasaan yang panjang!" Esme meracau asal bunyi karena panik. "Lagi pula, kau masih sakit! Pasien koma tidak boleh melakukan aktivitas fisik berat, apalagi kawin! Bisa-bisa kau pingsan lagi dan aku harus mengurusmu tiga tahun lagi. Tidak mau ya!"

AL mengerutkan keningnya, mencoba mencerna penjelasan Moa yang terdengar sangat rumit. "Jadi... kita tidak boleh menempel?"

"Boleh menempel, tapi hanya untuk berpegangan tangan atau pelukan singkat sebagai tanda kasih sayang! Tidak lebih!" tegas Esme, meski di dalam hati dia bersyukur AL tidak tahu lebih banyak soal "prosedur" pernikahan yang sebenarnya.

Esme kemudian membawa AL ke meja makan. Dia menyajikan sup hangat. Namun, bukannya menggunakan sendok, AL malah mencoba meminum sup itu langsung dari mangkuk dengan cara menjilatnya seperti kucing.

"Pakai sendok, Aleksander! Sendok!" Esme menyodorkan alat makan tersebut.

AL memegang sendok itu seperti memegang senjata tajam. Dia mencoba menyuapkan sup ke mulutnya, tapi karena tangannya terlalu besar dan kuat, sendok itu malah melengkung. "Benda ini terlalu lemah, Moa. Aku lebih suka pakai tangan."

Esme menghela napas dalam-dalam, menatap langit-langit pondoknya dengan putus asa. "Sabar, Esme... sabar. Dia aset berharga, dia kunci penelitianmu, dan dia satu-satunya alasan kau belum mati malam ini."

"Apa yang kau katakan, Moa?" tanya AL sambil mengunyah wortel mentah yang ia ambil dari meja dapur.

"Tidak ada! Aku hanya sedang berdoa agar stok kesabaranku tidak habis sebelum besok pagi!" Esme berbalik dan mulai mencuci piring dengan gerakan yang sangat kaku. "Ingat ya, besok kita mulai pelajaran baru. Mengenal benda-benda rumah tangga dan cara tidak menghancurkan perabotan. Dan satu lagi, Aleksander... jangan pernah coba-coba keluar rumah tanpa seizinku. Di luar sana banyak... banyak manusia jahat yang lebih menakutkan darimu!"

AL mengangguk patuh, meski dia sebenarnya tidak takut pada apa pun. Baginya, Moa adalah seluruh dunianya saat ini. Meski Moa sering mendadak berubah dari yang lembut menjadi berteriak dan bertingkah aneh, bau Moa tetaplah bau yang paling menenangkan baginya. Dia merasa aman di dekat wanita kaku yang asbun ini.

"Baik, Moa. Aku akan patuh. Karena kau adalah... istriku," ucap AL dengan senyum polos yang menampilkan taring kecilnya.

Esme hanya bisa ngebatin sambil membilas piring dengan kasar, "Istri kepalamu botak! Aku ini peneliti yang terjebak jadi babysitter predator! Kalau orang-orang Leb City tahu, mereka pasti tertawa sampai guling-guling."

Malam itu berakhir dengan AL yang tidur di atas karpet bulu di depan perapian karena dia menolak tidur di atas kasur yang menurutnya terlalu empuk dan mencurigakan. Esme memperhatikan pria itu dari kejauhan, melihat bagaimana rambut gondrongnya menutupi wajah tampannya saat tertidur. Ia tahu, perjalanannya mengajari "Aleksander" akan menjadi perjalanan yang panjang, penuh dengan kebohongan yang harus ia jaga, dan bahaya yang bisa meledak kapan saja jika insting predator itu kembali mengambil alih.

Bagaimana menurutmu? Ingin kita lanjutkan ke "Pelajaran Hari Pertama"?

1
Ceye Paradise
🫶😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!