NovelToon NovelToon
PERJALANAN SANG LEGENDA:PENDEKAR NAGA

PERJALANAN SANG LEGENDA:PENDEKAR NAGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:54.5k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Aku hanyalah setetes air di tengah samudra luas.Melangkah di dunia ini semata-mata agar tetap merasa hidup.

Dengan pedang di tanganku, aku menolong mereka yang terjatuh.

Aku menebas musuh, menghabisi iblis, dan menghadang kegelapan.

Namun aku ragu…Mampukah aku menyelamatkan diriku sendiri?

Dengan kekuatan yang bahkan mampu menumbangkan naga,
Akulah legenda yang bangkit dari darah dan luka—Sang Legenda Naga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Kenikmatan yang Mati

​Tian Shan melangkah menyusuri jalanan kota yang diterangi lampion merah temaram.

Suara gelak tawa yang dipaksakan dan aroma parfum murahan memenuhi udara, menciptakan atmosfer yang bagi kebanyakan pria adalah surga, namun baginya terasa seperti pasar daging yang bising.

Langkah kakinya berhenti di depan sebuah rumah bordil paling megah, sebuah bangunan kayu berukir indah dengan tirai sutra yang melambai tertiup angin malam.

​Tanpa sepatah kata pun, ia masuk. Kehadirannya yang dingin seketika membungkam obrolan di aula utama.

Aura seorang Pendekar Langit sulit untuk disembunyikan sepenuhnya; ia terasa seperti pedang terhunus yang siap membelah ruangan.

​"Berikan aku yang paling cantik." ucap Tian Shan datar, melemparkan satu keping emas ke atas meja kayu sang induk semang.

​Tak lama kemudian, ia berada di sebuah kamar pribadi yang harum gaharu.

Seorang wanita dengan kecantikan yang sanggup meruntuhkan kota masuk ke dalam ruangan.

Kulitnya seputih salju, matanya bersinar bak bintang, dan gerakannya sehalus tarian air.

Wanita itu mendekat, mencoba menjalankan tugasnya untuk menghibur sang pengelana yang terlihat begitu terbebani.

​Wanita itu mulai menggeledah tubuh Tian Shan—bukan untuk mencari senjata, melainkan sebuah sentuhan untuk membangkitkan gairah.

Jemarinya yang lentur meraba dada Tian Shan yang keras, menelusuri bekas-bekas luka yang menjadi saksi bisu pertarungan hidup dan mati.

Ia berbisik manis, mencoba menembus pertahanan mental pria di hadapannya.

​Namun, Tian Shan hanya diam membatu. Matanya menatap langit-langit kamar dengan tatapan yang jauh, melampaui dinding-dinding kayu itu.

​Ia merasakan sentuhan itu, namun sarafnya tidak mengirimkan sinyal kenikmatan.

Ia merasakan kehangatan napas wanita itu, namun hatinya tetap sedingin puncak gunung salju.

Baginya, keindahan wanita ini hanyalah susunan daging dan tulang yang suatu saat akan membusuk di bawah tanah.

Segala bentuk nafsu duniawi terasa asing, seolah-olah ia adalah entitas dari dimensi lain yang dipaksa mendiami raga manusia.

​"Cukup." Tian Shan menangkap tangan wanita itu. Tidak ada kemarahan, hanya ketidaktertarikan yang mendalam.

​"Tuan... apakah aku melakukan kesalahan?" tanya wanita itu dengan nada gemetar.

​"Tidak. Kau sempurna," jawab Tian Shan sambil berdiri dan merapikan jubah hitamnya. "Hanya saja, kau mencoba mengisi wadah yang tidak memiliki dasar. Apa pun yang kau berikan, akan mengalir hilang begitu saja."

​Ia melangkah keluar, meninggalkan wanita itu dalam kebingungan, meninggalkan rumah bordil yang penuh dengan kepalsuan itu tanpa menoleh sedikit pun.

​Tian Shan akhirnya menemukan sebuah manor kecil yang terbengkalai di pinggiran kota.

Ia duduk di beranda kayu yang sudah mulai lapuk, menatap taman yang ditumbuhi ilalang liar. Di tangannya terdapat sebotol arak putih yang kuat.

​Glek... Glek...

​Cairan panas itu membakar tenggorokannya, namun sensasi terbakar itu adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa benar-benar hidup.

Ia duduk menyendiri, membiarkan angin malam menyapu wajahnya.

​"Arak ini pahit," gumamnya pada kegelapan. "Tapi setidaknya ia jujur. Ia memberikan rasa sakit yang nyata, bukan ilusi kebahagiaan seperti wanita tadi atau gelar-gelar kosong yang kudapatkan."

​Ia teringat kembali pada tumpukan mayat yang ia jadikan takhta selama ini. Ia mengingat wajah anak gubernur yang penuh dendam. Ia mengingat setiap nyawa yang telah ia akhiri.

​"Guru, jika hidup ini adalah sebuah perjalanan untuk menemukan makna, kenapa semakin jauh aku berjalan, aku justru semakin kehilangan arah?"

​Ia menuangkan arak ke tanah, sebuah persembahan untuk Xinjiang yang mungkin sedang menatapnya dari alam baka.

​"Dunia memujaku sebagai Pendekar Langit, makhluk yang bisa terbang dan membelah awan. Tapi di sini, di atas kayu lapuk ini, aku hanyalah seorang yatim piatu yang masih mencari alasan kenapa ia tidak dibiarkan mati dimakan harimau tujuh belas tahun yang lalu."

​Ia kembali menenggak araknya hingga habis. Efek alkohol mulai mengaburkan pandangannya, namun tidak dengan hatinya.

Kehampaan itu tetap ada di sana, tegak dan kokoh seperti karang di tengah samudera. Ia menutup matanya, mendengarkan suara jangkrik yang bernyanyi di balik semak.

​Mungkin, makna itu memang tidak ditemukan dalam kejayaan atau kenikmatan.

Mungkin makna itu terletak pada kesanggupan untuk terus menanggung rasa hampa ini tanpa menjadi gila.

​Tian Shan tertidur di beranda itu, dengan botol arak kosong di pelukannya, di bawah langit luas yang tetap diam, tak memberikan jawaban apa pun atas pertanyaannya.

1
Agen One
😴
Agen One
🤣
Agen One
🔥🔥
Agen One
😴
Agen One
🤣
Agen One
🔥
Agen One
👍
Agen One
🙏
Agen One
🤭
Agen One
💪
Agen One
😴
Agen One
🤣
Agen One
🔥
Agen One
👍
Agen One
🙏
Agen One
🤭
Agen One
💪
Agen One
😴
Agen One
🤣
Agen One
🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!