NovelToon NovelToon
Sistem Dua Kekasih

Sistem Dua Kekasih

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Teen School/College / Sistem
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yapari

Saat Jepang berada diambang kepunahan karena krisis populasi, cinta bukan lagi pilihan, melainkan tugas negara yang menekan. Pemerintah membuat ulang kurikulum SMA bernama Sistem Dua Kekasih. Semua murid dipaksa berpasangan dengan lawan jenis, duduk berdampingan, tinggal bersama, dan semuanya dihitung berdasarkan poin.

Cerita berfokus pada Naruse Takashi, seorang remaja tanpa tujuan hidup yang hanya ingin mengabdi kepada seorang gadis biasa, yang dia percaya sebagai belahan jiwanya.

Kira-kira, siapakah yang akan menjadi belahan jiwa Naruse?

Genre: Drama, Psychological, Romance, School, System.

Catatan:
1. Cerita ini fiktif belaka.
2. Update satu Minggu 3-5 Kali.
3. Ada BAB Spesial tiap 20 BAB.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yapari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 — Belanja Bersama —

Kepalaku berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi, sampai-sampai Miyazaki melakukan sesuatu diluar dugaanku.

Dia kembali menyeret lenganku seperti pagi tadi. Sentuhannya terasa lembut dan hangat, cukup kontras dengan suhu Mall yang dingin.

Begitu posisi kami sudah jauh dari mereka berdua, dia berhenti. Mereka juga tidak mengejar sebenarnya.

"Ada apa, Miyazaki-san?"

"Tanganku masih agak panas."

Sembari memainkan tangan bekas dari menampar teman lamanya, dia lalu menautkan tanganku dengan jari-jemarinya.

"Tidak apa-apa, ayo belanja!"

Kami pun saling berpegangan tangan lagi. Ini kedua kalinya, setelah yang pertama terasa sangat singkat.

Sembari berjalan pelan, tangan kami terus menggenggam satu sama lain. Dia sedikit berubah, maksudku sisi defensifnya mengendur.

Aku sadar kalau ada yang aneh dengan Miyazaki, dan aku tidak tahu alasan sebenarnya. Semakin dipikirkan, semakin pusing kepalaku dibuatnya.

Kupikir aku bisa bertanya nanti. Untuk saat ini, aku hanya perlu menemaninya tanpa banyak bicara.

Setelah berjalan-jalan cukup lama, kami tiba di toko pakaian yang berada di lantai dua. Etalasenya rapi, dan rak-raknya dipenuhi oleh seragam cadangan, jaket, pakaian santai, serta pakaian dalam yang dipisahkan dengan jelas.

Begitu masuk, Miyazaki langsung melepaskan genggaman tangannya dan berhenti melangkah.

"Ada apa?"

"Kita perlu beli pakaian."

"Ya, itu memang tujuan kita."

"Bukan itu maksudku."

Dia menunjuk ke arah papan kategori. Pandanganku mengikuti arah jarinya, dan berhenti.

Pakaian Dalam.

"Oh."

Itu saja yang keluar dari mulutku.

Kami berdiri canggung selama beberapa detik. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang bicara.

"Takashi-kun, bisa tunggu di sana?"

Dia menunjuk ke arah rak pakaian luar.

"Ya, tentu."

Jantungku berdebar. Aku bahkan berbalik terlalu cepat, hampir menabrak manekin.

Kenapa aku gugup?

Aku berdiri membelakangi area itu, berpura-pura sangat tertarik pada baju santai.

Sementara itu, dari sudut mataku, aku bisa melihat Miyazaki berjalan pelan menuju rak yang dia maksud. Gerakannya kaku, dan bahunya sedikit terangkat.

"Takashi-kun."

"Ya?"

"Kau tidak ikut beli?"

"Beli pakaian dalam?"

"Kau melirikku, ya?"

"Ti-tidak, bukan begitu. Aku bisa memilih punyaku sendiri nanti."

Dia tidak lagi merespons. Tapi, aku bisa melihat wajahnya memerah.

Ternyata memang benar, Miyazaki bisa tampak manis jika seperti ini... meski aku tidak akan melupakan tamparannya tadi.

Setelah transaksi selesai dan Poin Pasangan kami berkurang, dia kembali berdiri di sampingku. Kami menghabiskan 50 Poin jika ditotalkan.

"Terima kasih sudah membeli!"

"Sama-sama."

Kami menuju toko berikutnya yang lebih sederhana. Sabun, sampo, handuk, sikat gigi... semuanya tertata rapi dengan label harga poin yang jelas.

Kami berjalan berdampingan, kali ini lebih santai. Tidak ada kecanggungan seperti sebelumnya.

"Ada banyak varian sampo di sini. Kau pilih aroma apa, Miyazaki-san?"

Miyazaki mendekat, mengamati labelnya. Kemudian dia menatapku.

"Kalau kau bisa menebak, akan kuceritakan segalanya."

"Maksudmu?"

"Kau pasti punya banyak pertanyaan, kan?"

Rupanya dia sadar kalau aku sedang menahan diri. Aku jadi tidak punya pilihan.

"Biar kutebak, mungkin aroma bunga lavender?"

Mendengar jawabanku, Miyazaki memegang dagunya cukup lama.

"Hmm... aku ingin beri nilai seratus, tapi karena kau mencontek sebelumnya... akan kuberi tujuh puluh."

"Maaf, aku tidak akan melakukannya lagi."

Dia tiba-tiba memegang hidungku dengan tiga jarinya. Wajahnya semakin merah, disusul oleh telinganya.

Mengingat kejadian itu membuat suhu tubuhku meningkat, dan aku malah terbayang aroma rambutnya padahal napasku sedang tertahan.

"Miyazaki-san, sesak!"

Suaraku terdengar aneh. Mungkin saking anehnya, wajahnya sampai bisa tersenyum.

Tidak peduli bagaimana keadaanku sekarang... begitu melihat senyuman Miyazaki untuk pertama kali, tubuhku merinding. Bukan karena takut, tapi karena sangat lega.

Dia kelihatan begitu manis. Sangat manis. Andai saja aku bisa merekamnya.

Beberapa saat kemudian, dia melepas hidungku.

Aku bisa bernapas lega. Tapi, sangat disayangkan wajahnya kembali seperti semula.

"Ayo cepat, Takashi-kun. Masih banyak yang belum kita beli."

Aku tidak merespons. Senyumannya tadi masih terbayang di kepalaku.

Gadis ini benar-benar berhasil mengejutkanku dalam satu hari, bahkan membuatku kerepotan juga.

Selesai membeli kebutuhan mandi, Poin Pasangan kami kembali berkurang sebanyak 20 Poin.

Selanjutnya, kami pergi ke area makanan yang berada di lantai bawah.

Suasananya lebih ramai di sini. Ada rak bahan mentah, makanan instan, dan kulkas pendingin.

"Miyazaki-san, kita butuh apa saja?"

Aku memberanikan diri bertanya setelah momen hening di perjalanan.

"Karena peralatan masaknya cukup lengkap di dapur... mungkin yang dasar dulu, seperti beras, telur, sayur, dan yang lainnya."

"Kau serius?"

Dia menoleh.

"Kenapa?"

"Aku kira kita bakal hidup dari makanan instan."

"Aku tidak masalah dengan itu. Tapi, memasak jelas lebih hemat poin."

Aku berhenti mendorong keranjang.

"Tunggu, Miyazaki-san. Kau bisa memasak?"

Dia menatapku tajam setelah mendengar pertanyaan itu.

"Setidaknya kau tidak akan keracunan."

"Oh, baiklah. Kuserahkan urusan dapur padamu."

Aku kehabisan kata-kata. Sepertinya dia tersinggung ketika diremehkan soal memasak.

Ah, tidak. Jangan begini.

Aku tidak boleh terlalu banyak berasumsi. Meski banyak asumsiku yang tepat sasaran, aku tidak ingin sering-sering melakukannya pada Miyazaki.

Pada akhirnya, kami selesai membeli kebutuhan makanan. Totalnya 35 Poin Pasangan.

"Kita sudah terlalu lama berdiri, kan? Mau istirahat?"

"Boleh saja."

Setelah berbelanja kesana-kemari, kami memutuskan untuk beristirahat. Rasanya melelahkan, tapi juga menyenangkan.

Kami pun berjalan menuju tempat duduk kosong dekat eskalator kecil. Lalu duduk berdampingan.

"Hah..."

Aku menarik napas panjang, sembari menyenderkan tubuhku ke bangku Mall ini.

"Kalau kau ingin bertanya sesuatu, tanyakan saja!"

"Apa boleh? Yang kutanyakan ini menyangkut masa lalumu."

Sembari bicara tanpa saling menatap, kami hanya menikmati pemandangan orang-orang yang berlalu-lalang di dalam Mall.

"Memangnya aku ada melarangmu melakukan itu? Hanya kau yang tidak ingin aku tahu tentang masa lalumu."

"Mungkin kau benar. Jadi, gadis yang kau tampar tadi beneran teman lamamu?"

"Teman lama apanya? Dia hanya menindasku bersama gengnya."

"Eh? Kau dirundung?"

Tanganku mengepal erat begitu mendengar pengakuannya, walau aku tidak tahu seperti apa ekspresi wajahnya sekarang.

"Kami satu SMP dulu, itu saja. Aku bahkan tidak tahu kenapa dia begitu ingin menggangguku."

"Kurasa aku bisa menebaknya dari cara dia menabrakmu tadi."

"Dia juga bilang kalau aku adalah orang yang jelek dan bodoh, yang tidak pantas mendapatkan apa-apa."

Nadanya terdengar lirih, membuatku ingin bersimpati.

Tapi, aku tahu kalau itu tidak ada gunanya. Semuanya sudah berlalu. Dia juga pasti tidak membutuhkannya.

"Jadi, karena itu kau tidak memercayaiku?"

"Ya, dia salah satu alasannya."

Salah satu, ya? Berarti ada beberapa hal lagi yang membuat sifat pesimisnya muncul.

Aku tidak berniat menanyakannya lebih lanjut, karena aku paham betul seperti apa rasanya membuka luka lama.

Perlahan, aku menoleh ke arah Miyazaki. Dia refleks ikut menatapku. Mata kami bertemu.

"Bagaimana perasaanmu?"

"Sangat baik. Aku sudah terbiasa."

Aku pun menggerakkan tangan kananku, berniat meraih kepalanya lalu mengelusnya.

Sementara itu, Miyazaki hanya diam begitu sadar kepalanya hendak kuelus. Dia seolah mempersilakanku untuk melakukannya.

Kali ini aku melakukannya dengan sadar, bukan tindakan impulsif seperti sebelumnya.

Ketika tanganku berhasil meraihnya, aku dapat merasakan permukaan kepalanya yang halus dan lembut. Ini membuatku ingin terus menyentuhnya.

"Kau sudah berusaha keras, Miyazaki-san. Kalau kau punya keluhan, katakan langsung padaku!"

"Ya, baiklah. Sepertinya aku punya satu keluhan sekarang."

"Eh?"

Bahuku tersentak begitu mendengar suaranya yang dingin dan menekan. Matanya juga sedikit melotot.

Ini gawat. Lagi-lagi aku dibuat bingung. Tanganku otomatis berhenti.

Apa dia marah karena aku mengelus kepalanya tanpa izin? Sebelum melakukan sesuatu... harusnya aku minta izin dulu, kan?

Makanya aku tidak ingin terus mengandalkan asumsi.

1
Ftomic
rill 3 season ga ni?
Yapari Napa: semoga/Bye-Bye/
total 1 replies
Apa Cuba
makan nih jejak
🦊 Ara Aurora 🦊
Eh nggak jadi deh mau jam tangan kek gitu /Frown/ ribet menurutku aturan jam tangan nya terlalu banyak aturannya /Sob//Sob/
🦊 Ara Aurora 🦊
Jam tangan yg unik itu thor gue juga mau jam tangan kek gitu donc thor❓😭 /Grievance/thor balik mampir di ceritaku yg berjudul: Lampu Ajaib & Cinta Albino 🙏
🦊 Ara Aurora 🦊
kok seperti ribet itu yah... Masa di tempatkan Zona Transisi tdk ada tempat tidur pribadi... suhu di kontrol pada 16°C ... Pencahayaan tdk dimatikan penuh... Total Kapasitas 150 murid dalam satu ruangan gitu maksudnya? 🤔 aish ribetnya terdengar sulit 🙃😭
🦊 Ara Aurora 🦊: Waduh... wkwkwk 😂😂
total 3 replies
🦊 Ara Aurora 🦊
Mmm.. Aish belum ada sih bisa di koment bagian ini thor... Gue udah mampir yah thor 🙏
🦊 Ara Aurora 🦊: Sama2 kak 😊
total 2 replies
Ftomic
Very interesting. Sistemnya di dunia nyata dan realistis, trus premisnya oke. Keep it up bro!
Yapari Napa: wah makasih ya reviewnya/Smirk/
total 1 replies
Apa Cuba
alurnya kek classroom of the elite ni cuma versi tinggal bareng cewek
Ftomic: mana pacingnya sama lagi agak lambat
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!