Shabila Diaskara adalah gadis polos dan lugu yang bersikap hiperaktif serta pecicilan demi menarik perhatian ayahnya—seorang Daddy yang membencinya karena kematian sang ibu saat melahirkan dirinya. Dalam sebuah insiden, Shabila berharap bisa merasakan kasih sayang seorang ayah sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.
Saat terbangun, Shabila menyadari dirinya telah bertransmigrasi ke tubuh Aqila Weylin, gadis cantik namun pendiam dan cupu. Kini dipanggil “Aqila,” Shabila—yang akrab disapa Ila — mulai mengubah penampilan dan sikapnya sesuai kepribadiannya yang ceria dan manja.
Beruntung, kehidupan barunya justru memberinya keluarga yang penuh kasih. Sikap hiperaktif dan manja Ila membuat seluruh keluarga Aqila gemas, bukan marah. Setelah tak pernah merasakan cinta keluarga di kehidupan sebelumnya, Ila bertekad menikmati kesempatan kedua ini sepenuh hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyly little, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 **mall**
Mereka pun menuju kendaraan masing-masing. Lanka menyalakan motornya lebih dulu dan melaju pelan keluar area sekolah. Alzian membuka pintu mobil, Ila dan Luna duduk di kursi belakang, sementara Elzion duduk di depan.
Sepanjang perjalanan, Ila tak berhenti menempelkan wajahnya ke kaca jendela.
“Abang… lihat itu!”
“Lihat itu juga!”
“Eh, awannya lucu!”
Luna tertawa pelan. “Lo gak nggak capek ya ngomong terus cil?”
Ila menggeleng. “Enggak. Ila senang.”
Tak lama kemudian mobil hitam yang di tumpangi Ila melaju perlahan memasuki area parkiran sebuah mall besar di pusat kota. Bangunannya menjulang tinggi, dinding kacanya memantulkan cahaya matahari siang hingga terlihat berkilau seperti istana modern.
Begitu turun dari mobil, Ila kembali jadi pusat perhatian. Beberapa pengunjung melirik ke arahnya, ada yang tersenyum, ada yang berbisik pelan.
“Lucu banget…”
“Pipinya gemesin.”
“Imut parah, sumpah.”
“Anak siapa sih itu.”
"Wah... Ini besar banget abang" ucap Ila dengan tepuk tangan dan mata berbinar binar melihat mall di depannya.
"Benar dek mall ini sangat besar. Jadi, kamu jangan jauh-jauh nanti hilang lagi. Udah ayo dek kita masuk," Ajak Elzion kepada Ila yang masih menatap kagum bangun di depannya.
"Ayok Luna Ila udah ngak sabar mau liat liat dalamnya," ucap Ila dan mengulurkan tangannya meminta untuk di gandeng oleh Sahabatnya,
"Ayo cil" jawab Luna dan menggandeng tanggan mungil Ila.
Di dalam mall, langkah kecil Ila terdengar tidak beraturan—kadang cepat, kadang melambat—karena kepalanya terus menoleh ke segala arah. Matanya yang bulat dan bening bergerak lincah mengikuti lampu-lampu toko, layar iklan yang menyala terang, dan orang-orang yang lalu-lalang. Tangannya menggenggam erat tangan Luna, seolah takut terlepas di tengah dunia besar yang tiba-tiba terasa seperti taman bermain raksasa.
“Ila,” Luna menunduk sedikit agar sejajar dengan wajah sahabat kecilnya. “Mau ke mana dulu?”
Ila berhenti mendadak. Alzian dan Elzion yang berjalan di belakang hampir saja menabraknya. Dengan ekspresi serius—serius versi anak kecil—Ila mengangkat tangan bebasnya dan menunjuk jauh ke depan lorong mall.
“Yang bunyi ting ting,” jawabnya mantap.
Luna mengerjap. “Hah?”
“Yang banyak lampunya,” lanjut Ila sambil menggerakkan jarinya ke udara, “terus kalau dapet hadiahnya boneka.”
Lanka yang sejak tadi berjalan sedikit di belakang mereka akhirnya bersuara, nadanya tenang seperti biasa.
“Timezone.”
Wajah Ila langsung berubah cerah, seolah lampu di kepalanya baru saja menyala.
“Iyaa itu!” serunya senang. Tanpa aba-aba, ia langsung menarik tangan Luna dan berlari kecil ke depan, langkahnya pendek-pendek tapi penuh semangat.
“Ila!”
Teriakan Alzian menggema, namun terlambat. Belum sempat Ila menempuh lima langkah, tubuh mungil itu sudah terangkat ke udara.
“Eits.”
Alzian langsung mengangkat tubuh mungil itu kedalam gendongan koalanya.
“Lari-lari lagi,” ujar Alzian sambil menatapnya dengan alis terangkat.
Ila langsung cemberut. Bibirnya maju beberapa senti, matanya menatap ke samping seolah sedang sangat tersinggung.
“Abang jalannya lama,” protesnya lirih tapi penuh penekanan, seperti keluhan besar dalam tubuh kecil.
Elzion terkekeh, sementara Luna menutup mulut menahan tawa.
“Kalau kamu jatuh gimana?” tanya Alzian sabar, suaranya lebih lembut sekarang.
Ila terdiam. Keningnya berkerut, matanya menatap kosong ke depan. Ia benar-benar berpikir. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia menjawab dengan nada polos yang terdengar sangat yakin.
“Jatuhnya ke lantai.”
Hening sejenak.
Lanka memalingkan wajah, bahunya sedikit bergerak—tanda ia menahan senyum. Luna akhirnya menyerah dan tertawa kecil.
Elzion menepuk dahinya sendiri dengan dramatis.
“Aku nyerah,” katanya. “Logikanya nggak bisa dilawan.”
Alzian menghela napas, tapi sudut bibirnya terangkat. Ia menurunkan Ila kembali ke lantai, lalu menggenggam tangan kecil itu lebih erat.
“Pegangan,” katanya. “Kalau mau cepat, bilang. Bukan kabur.”
Ila menatap tangan mereka yang saling menggenggam, lalu mendongak sambil tersenyum manis.
“Hehe… iya, Abang.”
Dan dengan langkah yang kali ini lebih pelan—meski tetap penuh rasa ingin tahu—mereka melanjutkan perjalanan menuju suara “ting ting” yang sejak awal menjadi tujuan utama Ila.
Di dalam Timezone, dunia Ila seakan langsung berubah warna.
Lampu-lampu neon berkedip di mana-mana, suara mesin bercampur tawa dan dentingan koin memenuhi udara. Mata Ila membulat sempurna, mulutnya terbuka sedikit, lalu senyumnya merekah lebar.
“Waaah…” napasnya terdengar kecil tapi penuh kekaguman.
“Ini rame banget…”
Alzian bahkan belum sempat bicara apa-apa saat Ila sudah menarik tangan Luna dan berhenti tepat di depan satu mesin capit besar berisi boneka-boneka warna pastel. Ada kelinci, beruang, kucing, semuanya terlihat empuk dan… sangat ingin dipeluk.
Ila berdiri paling depan. Tangannya kecil tapi menggenggam tuas mesin dengan dua tangan, ekspresinya berubah **super serius**, seperti sedang menghadapi ujian hidup.
Semua yang melihatnya otomatis diam.
Ila mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, mendekatkan wajah ke kaca mesin.
“Bonekanya…” bisiknya pelan, seolah takut ada yang mendengar,
“jangan kabur ya.”
Luna menutup mulut, bahunya bergetar menahan tawa.
“Dia ngomong sama bonekanya,” bisiknya ke Elzion.
Elzion menyilangkan tangan. “Fokusnya ngalahin aku pas ujian.”
Ila menekan tombol.
Capit mesin perlahan turun, bergerak ke arah boneka kelinci putih yang paling besar. Ila menahan napas, matanya tidak berkedip sama sekali.
Capit menjepit.
Terangkat sedikit.
Lalu… *ples.*
Boneka itu terlepas dan jatuh kembali ke tumpukan.
“……”
Ila berkedip. Bibirnya maju. Alisnya turun.
“Yah…” suaranya kecil dan kecewa. Ia menempelkan dahi ke kaca mesin.
“Kan Ila udah bilang jangan kabur.”
Elzion tertawa kecil. “Bonekanya bandel.”
Ila menoleh cepat. “Itu salah abang, bonekanya denger.”
Luna langsung menunduk sambil tertawa.
Lanka yang sejak tadi berdiri agak ke belakang melangkah maju satu langkah. Nada suaranya tenang.
“Boleh abang coba?”
Ila menoleh menatapnya. Matanya menilai, lalu ia mengangguk pelan… tapi dengan syarat.
“Abang jangan jahat sama bonekanya,” katanya serius.
“Dipegangnya pelan-pelan.”
Lanka mengangguk tipis. “Iya.”
Ia memasukkan koin, menggerakkan tuas dengan gerakan sederhana tapi tepat. Tidak terburu-buru, tidak ragu. Semua memperhatikan.
Capit bergerak.
Turun.
Menjepit boneka kelinci yang sama—kali ini tepat di badan.
Ila refleks mencengkeram baju Luna.
“Pegang… pegang…”
Capit terangkat.
Boneka ikut terangkat.
Detik terasa lambat.
Lalu—*tok.*
Boneka jatuh tepat ke lubang hadiah.
Bunyi kecil terdengar.
Ila terdiam.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu—
“YEAYY.. DAPET!”
Ia meloncat kecil, nyaris kehilangan keseimbangan kalau tidak segera ditahan Alzian. Tangannya bertepuk cepat, matanya berbinar seperti bintang.
“DAPET DAPET DAPET!”
Ia berlari ke tempat pengambilan hadiah dan mengeluarkan boneka itu dengan kedua tangan, memeluknya erat-erat ke dada.
“Halooo…” katanya lembut ke boneka itu.
Ia lalu menoleh ke Lanka, wajahnya penuh kagum dan rasa terima kasih yang polos.
“Abang baik.”
Lanka hanya tersenyum tipis, tapi sorot matanya melembut.
Alzian melirik Elzion. “Kalah pamor.”
Elzion mengangguk. “Resmi. Abang favorit sementara.”
Ila kembali memeluk bonekanya, menggesekkan pipi chubby-nya ke bulu lembut itu.
“Namanya siapa ya…” gumamnya.
Luna terkekeh. “Kasih nama dong.”
Ila berpikir sebentar, lalu tersenyum puas.
“Namanya Ayam.”
Semua terdiam.
“…ko ayam si dek?” tanya Elzion melongo.
"Karena Ara mau kasih nama bonekanya dengan nama ayam.." jawabnya polos.
"ini gimana si otak Ade gue jelas-jelas boneka kelinci malah di namain ayam, emang aneh ni bocah," ucap Elzion dalam hati karena tak mungkin ngomong secara langsung.
"Namanya bagus ya Cil, "Luna menahan tawa mendengar jawaban polos dari Ila itu, sedangkan Alzian dan Lanka yang tidak berekspresi mereka hanya menampilkan wajah datar tapi dibalik wajah datar Itu terlihat senyuman tipis karena melihat tingkah random Ila.
"Iya bagus, makanya Ara kasih nama ayam.." senang Ara.
"udah yuk dek kita pulang, kata bunda kan hanya boleh sebentar ke mall nya," ajak Elzion.
Ila mengangguk meski wajahnya sedikit berat. “Iya…”
Mereka memutuskan untuk segera pulang.
Singkat cerita mereka sudah berpisah pulang ke rumah masing-masing, sesuai kesepakatan di sekolah tadi si kembar dan Ila mengantarkan Luna dulu sebelum pulang ke mansion nya.
Ketika hampir sampai di mansion Ila teringat tujuan ke duanya setelah jalan jalan.
"Abang... abang El lupa yah sama janji abang El ke Ila" tanya Ila pada Elzion
"Loh emangnya abang ada janji apalagi sama kamu dek?" ucap Elzion melinik adik mungilnya.
"Abang El lupa yah katanya abang El mau beliin Ila susu kotak" ucap Ila dengan nada sedih dan wajah cemberutnya.
"Abang El ngak lupa dek ini mau ke Minimarket buat beli susu kotak kesukaan Ila" ucap Elzion pada adiknya.
"Abang El tipu tipu Ila yah" tuduh Ila pada Elzion
"Ngak dek ini ada di minimarket tuh liat di depan udah sampai minimarket" Ucap Elzion
"Huh selamat untung ada tuh minimarket kalo engak pasti nangis tuh bocil mana gw lupa lagi tadi," ucap Elzion dalam hati.
"Wah iya abang El ngak tipu tipu Ila, ayo abang Ila juga mau turun mau milih juga" Ajak Ila pada Elzion, di balas anggukan kepala pasrah dan Alzian hanya menahan ketawa melihat wajah pasrah Elzion.
Ketika sudah masuk di minimarket Ila langsung menuju ke rak susu kotak dan rak makanan dan di ikuti oleh Elzion dari belakang dengan membawa keranjang belanja untuk Ila.
"Abang Ila mau susu kotak rasa stroberi dua bungkus ya sama susu kotak rasa coklat satu bungkus boleh yah abang" tanya Ila pada Elzion dan Elzion hanya menganggukkan kepalanya dua kali tanda setuju walau di hatinya menjerit.
Tak hanya susu kotak Ila juga mengambil es crime berbagai rasa, coklat, puding dan yupi dua toples. Kenzo yang melihat Ila hanya bisa pasrah dengan wajah kusutnya.
Setelah membayar mereka berdua kembali masuk ke mobil Ila yang masih memasang wajah antusias dan tersenyum bahagia karena telah mendapatkan apa yang di inginkan sedangkan Elzion memasang wajah kusut karena dompetnya menipis, Alzian sudah tertawa menertawakan nasib kembarannya.
"Sudah puas dek belanjanya" tanya Alzian pada Ila.
"Sudah abang Al, abang El baik sama Ila" jawab Ila dengan mengembangkan senyumnya dan wajah polosnya.
"Ingat kan dirumah nanti jangan bilang apa-apa sama ayah dan bunda yah. "pinta Elzion sambil mengingatkan adeknya itu.
Ara mengangguk patuh, "oke abang." serunya sambil tersenyum senang.
Kini mobil yang di tumpangi oleh mereka telah sampai di Mansion Weylin Ila segera turun dengan raut bahagianya di ikuti oleh Abang kembarnya di belakang..