"Menikahi ku atau melihat ayahmu membusuk di penjara?"
Elena tidak punya pilihan. Demi melunasi utang yang dijebak oleh Arkan—pria masa lalunya yang kini menjadi penguasa angkuh—ia setuju menjadi istri di atas kertas. Namun, di balik kemewahan rumah Arkan, Elena bukanlah nyonya, melainkan budak. Ia dijambak, diludahi, bahkan dipaksa melayani selingkuhan suaminya sendiri.
Setiap hari adalah neraka, hingga Arkan melampaui batas dengan menyentuh satu-satunya alasan Elena untuk hidup.
Di saat Elena hampir menyerah, sosok pria dari masa lalu yang menghilang selama lima tahun kembali. Ia bukan lagi pemuda desa yang miskin, melainkan putra mahkota dinasti mafia yang haus darah.
"Siapa pun yang menyentuh milikku, hanya punya satu tempat: liang lahat."
Pembalasan dendam dimulai. Ketika Sang Mafia menjemput ratunya, istana emas Arkan akan berubah menjadi abu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Jejak Sang Viper
Vila kayu di lereng bukit itu seharusnya menjadi tempat perlindungan yang tenang, namun kabar kaburnya Arkan merubah atmosfernya menjadi markas perang dalam sekejap.
Di ruang tengah yang luas, layar-layar monitor menampilkan peta digital dan rekaman CCTV jalan raya yang buram. Suasana terasa berat dengan aroma kopi pahit dan ketegangan yang merambat di antara anak buah Eros yang berlalu-lalang dengan senjata tersampir di bahu.
Elena berdiri di dekat jendela, memeluk tubuhnya sendiri. Ia baru saja mengganti pakaiannya dengan kemeja flanel milik Eros yang kebesaran, walaupun begitu, rasa dingin itu seolah tidak mau pergi dari pori-porinya. Pikirannya melayang pada Arkan. Bagaimana bisa pria yang sudah kehilangan segalanya itu masih bisa meloloskan diri?
"Berhenti memikirkan dia, El. Itu hanya akan meracuni kepalamu," suara Eros memecah lamunan Elena.
Eros mendekat, meletakkan secangkir teh hangat di meja samping Elena. Wajahnya tampak lelah, tapi matanya tetap waspada. Ia baru saja selesai melakukan panggilan telepon panjang dengan jaringan informannya.
"Bagaimana dia bisa kabur, Eros? Kamu bilang dia sudah tidak punya apa-apa," tanya Elena, suaranya parau.
Eros menghela napas, ia menyandarkan tubuhnya di bingkai jendela, menatap ke arah hutan yang gelap. "Secara finansial, Arkan memang mati. Tapi di dunia bawah, pria seperti dia adalah aset yang berguna jika berada di tangan yang salah. Iring-iringan mobil yang membawanya disergap di jalur hutan menuju pusat rehabilitasi. Profesional, cepat, dan terorganisir. Itu bukan kerjaan preman bayaran biasa."
"The Viper?" Elena menyebutkan nama yang ia dengar dari anak buah Eros tadi.
Eros mengangguk, rahangnya mengeras. "The Viper adalah sindikat tentara bayaran internasional yang dipimpin oleh seseorang dari masa laluku. Mereka tidak peduli pada Arkan. Yang mereka pedulikan adalah memancingku keluar dari tempat persembunyian ini. Arkan hanyalah umpan yang mereka gunakan karena mereka tahu dialah satu-satunya titik lemah yang bisa membuatku kehilangan kendali."
Elena terdiam. Rasa bersalah kembali menusuk hatinya. "Jadi, karena aku... kamu dalam bahaya sekarang?"
Eros segera berbalik, memegang kedua pipi Elena dengan tangan besarnya. "Jangan pernah berani berpikir begitu. Arkan-lah yang memulai ini semua. Dia yang memilih untuk bekerja sama dengan iblis demi menghancurkan kita. Sekarang, dia bukan lagi sekadar suami di atas kertas bagimu, El. Dia adalah buronan yang sedang digunakan untuk menghancurkan ku."
Tiba-tiba, seorang anak buah Eros masuk dengan terburu-buru. "Tuan, kami menemukan sinyal dari pelacak yang sempat dipasang Bi Inah di jas Arkan sebelum kejadian di rumah itu. Sinyalnya muncul sebentar di pelabuhan tua, lalu hilang lagi."
"Pelabuhan? Dia mencoba keluar dari pulau ini," gumam Eros. "Siapkan tim. Kita berangkat sekarang."
"Aku ikut," sela Elena dengan tegas.
Eros menatapnya, ada keraguan di matanya. "Terlalu berbahaya, El. Kamu tetap di sini bersama ayahmu."
"Tidak, Eros! Selama ini aku hanya diam dan menerima semua siksanya. Aku ingin melihat dengan mataku sendiri saat dia benar-benar tamat. Jika aku tetap di sini, aku akan terus merasa ketakutan setiap kali mendengar suara pintu terbuka. Aku harus menghadapinya," balas Elena. Matanya berkilat dengan keberanian yang tidak pernah Eros lihat sebelumnya.
Eros menatap Elena cukup lama, mencari keraguan di sana, tapi yang ia temukan hanyalah tekad baja. Akhirnya, Eros mengangguk kecil. "Pakai rompi anti peluru ini. Jangan pernah jauh dariku, lebih dari dua langkah."
Mereka bergerak menuju pelabuhan tua di pinggiran kota. Lokasi itu adalah labirin kontainer-kontainer berkarat dan gudang-gudang terbengkalai yang berbau amis garam dan solar.
Hujan gerimis mulai turun, membuat jalanan beton di pelabuhan menjadi licin dan mengkilap di bawah lampu jalan yang remang.
Suara desis uap dari mesin-mesin kapal tua mengisi udara. Eros bergerak dengan sangat hati-hati, memimpin timnya menyusup di antara bayangan kontainer. Elena mengikuti tepat di belakangnya, jantungnya berdegup kencang hingga ia bisa merasakannya di ujung jari.
Tiba-tiba, sebuah suara tawa yang sangat ia kenali menggema dari balik salah satu kontainer merah yang sudah penyok.
"Kamu datang juga, Eros! Aku tahu kamu tidak akan membiarkan 'pajangan' kesayanganmu ini berlama-lama jauh darimu!"
Itu suara Arkan. Namun, nadanya tidak lagi penuh ketakutan seperti di rumah kemarin. Ada nada kemenangan yang gila di sana.
Eros memberi isyarat agar timnya berhenti. Ia menarik Elena ke balik perlindungan peti kayu besar. "Arkan! Keluar kau! Jangan bersembunyi di ketiak orang lain!"
"Oh, aku tidak bersembunyi, Eros. Aku hanya sedang menikmati pemandangan," suara Arkan terdengar lebih dekat.
Dari atas sebuah kontainer yang tinggi, muncul siluet seorang pria yang mengenakan jaket kulit hitam dengan tato ular viper di punggungnya.
Pria itu memegang senapan laras panjang. Dan di sampingnya, Arkan berdiri dengan tangan terikat ke depan, tapi wajahnya tampak menyeringai lebar.
"Eros, kenalkan... ini kawan lama kita, Marco," ucap Arkan sambil menoleh ke arah pria bertato itu. "Dia bilang kamu punya hutang nyawa padanya di Rusia lima tahun lalu. Dan dia sangat senang saat aku menawarkan kerja sama untuk membawamu ke sini."
Eros mengepalkan tangannya. "Marco... jadi kau yang menyelamatkan sampah ini?"
"Bisnis adalah bisnis, Eros," pria bernama Marco itu menyeringai, menodongkan senjatanya ke arah bawah. "Arkan memberiku akses ke rekening rahasia ayahnya yang tidak sempat kau sita. Sebagai imbalannya, aku memberinya kesempatan untuk melihatmu mati."
Arkan menatap ke arah tempat persembunyian Eros dan Elena. "Elena! Kamu dengar itu? Pahlawanmu sebentar lagi akan menjadi mayat! Dan setelah itu, aku akan membawamu ke tempat di mana tidak ada satu pun orang desa yang bisa menemukanmu!"
"Jangan dengarkan dia, El," bisik Eros, ia memberikan kode pada timnya untuk mulai mengepung posisi Marco.
Namun, sebelum Eros bisa memberikan perintah menyerang, sebuah cahaya merah kecil—titik laser dari penembak jitu—tiba-tiba muncul dan bergerak di atas dada Elena.
Elena membeku. Titik merah itu berhenti tepat di jantungnya.
Eros menyadari titik laser itu. Wajahnya yang semula tenang kini berubah menjadi kepanikan murni. Ia segera melompat ke depan Elena untuk melindunginya dengan tubuhnya sendiri, tepat saat suara ledakan tembakan dari arah gedung di belakang mereka memecah keheningan pelabuhan.
Tapi, peluru itu bukan mengarah ke Eros atau Elena. Peluru itu menghantam kontainer tepat di samping kepala Arkan, membuat Arkan terjatuh karena terkejut.
Dari kegelapan di belakang tim Eros, sebuah suara wanita yang sangat tajam terdengar melalui pengeras suara.
"The Viper tidak bekerja untuk pengkhianat seperti Marco. Turunkan senjatamu, atau kepala Arkan yang akan meledak duluan."
Eros tertegun. Ia mengenal suara itu. "Vanya?"
gas up yng bnyk ka semoga makin sukses dikarya" nya aamiin 🤲
smngat up kaka🤗
smngat up kaka🤗🤗
semangat cerita smpai pnjang dan semangat update juga kaka
novel kaka good
semoga makin sukese disemua karya" nya
ceritanya bagus kak
dan mudah dipahami
semangat kaka untuk update iya