NovelToon NovelToon
Di Manja Suami Om-Om

Di Manja Suami Om-Om

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cinta setelah menikah / Cintamanis
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Erunisa

Nara tak pernah membayangkan hidupnya berubah jauh. Dari gadis yang diremehkan karena nilai akademik, kini ia menjadi istri pria mapan yang usianya terpaut jauh darinya.
Arkan, sosok dingin dan misterius, justru memanjakan Nara tanpa syarat. Namun menikah bukan akhir perjuangan, kelas sosial, tekanan keluarga, dan mimpi Nara yang belum selesai menjadi ujian terbesar.
Apakah Nara hanya akan menjadi istri yang dimanja, atau perempuan yang tetap berdiri dengan mimpinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Draft

Arkan memeluk istrinya untuk istirahat, dan setelah memastikan Nara benar-benar tertidur, Arkan beranjak dari ranjang dengan gerakan pelan, takut kalau mengganggu Nara yang tidur.

Arkan tidak langsung menyangkal kalau Karina berbohong, meskipun Arkan yakin kalau diantara dirinya dan Karina sama sekali tidak pernah tidur bersama, mereka hanya duduk bersama dan itu pun banyak yang lain, tidak hanya mereka berdua, tapi Arkan ingin saat ia menyangkal disertai bukti yang jelas.

Arkan menghubungi asisten pribadinya, meminta jadwal lengkapnya selama empat bulan terakhir, Arkan juga meminta bukti foto atau apapun sebagai bukti konkrit.

Arkan tidak ingin membuang waktu. Begitu pembicaraan dengan Nara selesai, Arkan langsung bergerak cepat, saat Nara tidur Arkan membuka laptopnya kembali. Wajahnya serius, fokus, jauh berbeda dari Arkan yang santai di mal kemarin.

“Aku mau pastikan semuanya,” ucap Arkan singkat.

Arkan membuka kalender digitalnya. Ia menggulir mundur empat bulan ke belakang. Satu per satu jadwal rapat, perjalanan bisnis, dan kerja sama proyek ia periksa dengan teliti.

“Empat bulan lalu…” gumam Arkan pelan.

Nama Karin memang muncul. Beberapa kali.

Kerja sama promosi brand perhiasan yang sedang digarap perusahaan Arkan saat itu.

“Tapi ini semua meeting resmi,” kata Arkan sambil menunjuk layar.

“Dan selalu di kantor atau venue acara.” gumam Arkan kembali.

Ia membuka folder dokumentasi proyek. Ada foto-foto event, tim marketing, bahkan daftar tamu. Lalu Arkan berhenti sejenak.

“Hotel.” Satu agenda mencatat pertemuan lanjutan di hotel tempat acara brand launching berlangsung.

Arkan menahan napas. Tidak mengira Karina akan membuat fitnah yang begitu keji.

“Ini acara besar. Banyak orang. Aku tidak pernah menginap berdua dengannya,” Arkan kembali menatap foto Karin yang bersama dirinya diatas ranjang dan seolah-olah mereka baru saja selesai melakukan sesuatu.

Tanpa menunggu lama, Arkan mengambil ponselnya dan membuka aplikasi keamanan rumah.

“Cek CCTV rumah.” batin Arkan.

Arkan mengakses rekaman empat bulan terakhir, khususnya tanggal-tanggal yang dicurigai. Kamera di halaman, ruang tamu, bahkan lorong masuk terekam jelas. Rekaman dipercepat. Tanggal demi tanggal. Tidak ada Karin datang ke rumah itu. Tidak ada pertemuan diam-diam. Tidak ada kunjungan tersembunyi.

Arkan menatap Nara yang terbaring diatas ranjang.

Arkan mengingat lagi. Lalu ia menghela napas pelan.

“Foto di kamar hotel itu kemungkinan diambil saat acara launching. Banyak tamu menginap di hotel yang sama. Setelah acara selesai, beberapa orang masih kumpul di lounge. Bisa saja itu diambil tanpa konteks yang jelas.” Arkan sangat yakin, tapi Arkan hanya ingin bukti yang jelas.

Arkan memperbesar salah satu foto yang tadi sempat Nara lihat.

Wajah Arkan memang ada di sana. Karin juga. Tapi sudut pengambilan gambarnya sempit. Tidak menunjukkan keseluruhan ruangan. Kecuali foto yang di atas ranjang, foto itu terlihat jelas.

“Ini bisa diedit,” ucap Arkan pelan.

“Atau diambil di momen yang disalahartikan.”

Nara terbangun, dan matanya terbuka, Nara menangkap suaminya masih duduk dengan laptop di hadapannya, Nara memperhatikan suaminya.

Nara beranjak dan mendekat ke suaminya, Arkan kaget, karena tadi Nara masih terlelap.

"Kenapa terbangun?" tanya Arkan.

"Engga apa-apa." jawab Nara.

"Aku cuma mau bukti yang jelas, kalau untuk sekedar menyangkal aku pasti bisa, tapi aku mau kamu percayanya tidak setengah-setengah."

Nara menatap suaminya. Bukan hanya kata-katanya yang ia nilai. Tapi cara Arkan bersikap. Ia tidak panik. Tidak defensif. Tidak menyalahkan Nara karena mempercayai tuduhan itu. Arkan justru mencari bukti.

“Aku tidak tahu apa tujuan dia,” lanjut Arkan tegas.

“Tapi kalau memang dia hamil, kita tes DNA. Dan kalau dia berbohong…” Arkan berhenti. Rahangnya mengeras.

Nara memeluk suaminya, “Aku tidak mau jadi istri yang buta,” ucap Nara pelan.

“Tapi aku juga tidak mau jadi istri yang mudah goyah.” jawab Nara.

Arkan menatap istrinya, “Kamu tidak goyah. Kamu mencari kebenaran.”kata Arkan.

Malam itu belum menyelesaikan semuanya. Tapi setidaknya satu hal jelas. Jika ini memang kebohongan, maka badai ini bukan untuk menghancurkan mereka. Melainkan untuk menguji seberapa kuat fondasi yang mereka bangun.

Keesokan harinya, Arkan kembali memutar rekaman CCTV dengan lebih detail.

“Dia sebut tanggal 12,” ucap Arkan pelan.

Rekaman diperlambat. Jam menunjukkan pukul 19.43.

Dan di layar terlihat jelas, Arkan memasuki rumah. Wajahnya terekam kamera depan dengan time stamp yang tidak bisa dimanipulasi dari luar sistem.

Nara menahan napas. Rekaman berlanjut.

Arkan terlihat tidak keluar lagi malam itu.

“Kalau dia bilang malam itu aku bersamanya…” Arkan menoleh ke Nara, “itu tidak mungkin.”

Nara merasakan sesuatu yang sejak tadi menekan dadanya perlahan mengendur. Belum sepenuhnya lega. Tapi ada celah cahaya.

Arkan tidak berhenti sampai di situ. “Aku tidak mau ini jadi asumsi,” kata Arkan tegas.

“Aku mau bukti yang kuat.”

Arkan langsung menghubungi seseorang, rekan lama yang bergerak di bidang forensik digital. Tidak main-main.

Foto yang dibawa Karin dipindai. Meta data dianalisis. Pencahayaan, bayangan, resolusi piksel diperiksa.

Dua hari kemudian hasil awal keluar. Foto itu memang hasil manipulasi digital.

Wajah Arkan asli, diambil dari dokumentasi acara brand launching. Namun latar kamar hotel dan posisi Karin disusun ulang.

Tekniknya rapi. Profesional. Tapi tetap meninggalkan jejak.

Arkan meletakkan hasil analisis itu di meja depan Nara.

“Aku tidak pernah menyentuh dia,” ucap Arkan pelan, namun tegas.

“Dan aku tidak tahu kenapa dia melakukan ini.”

Nara membaca laporan itu perlahan. Tangannya tidak lagi gemetar seperti kemarin.

Empat bulan. Tanggal yang disebutkan. Rekaman CCTV. Analisis foto.

Semuanya mulai membentuk satu kesimpulan. Karina berbohong.

Namun pertanyaan baru muncul. “Kenapa?” bisik Nara.

Arkan menatap jauh ke depan. “Bisa jadi uang. Bisa jadi reputasi. Bisa jadi karena dia ingin menghancurkan hubungan kita.” Rahang Arkan mengeras.

“Atau mungkin… karena dia mencintai kamu sayang." kata Nara yang kemudian terdiam.

Beberapa hari lalu Nara hampir meyakinkan dirinya bahwa sakit hati bisa diobati dengan perhiasan dan uang.

Sekarang ia sadar. Yang benar-benar menguatkannya bukan harta. Tapi fakta.

Dan sikap Arkan yang tidak lari dari masalah. Membuat Nara paham, kalau Arkan bukan orang yang seperti ia bayangkan.

Nara mendekat, untuk pertama kalinya sejak badai itu datang, Nara memeluk suaminya dengan sangat erat.

“Aku minta maaf sempat ragu,” bisik Nara.

Arkan menggeleng. "Kamu tidak salah. Situasinya memang dibuat untuk membuatmu ragu.” jawab Arkan.

Di luar sana, pesta tetap dipersiapkan megah oleh Indah. Tapi di dalam rumah Arkan yang sedang dibangun kembali bukan dekorasi. Melainkan kepercayaan.

Dan kali ini, fondasinya jauh lebih kuat daripada sebelumnya.

Nara juga sadar, kalau suaminya benar-benar mencintainya.

1
Risma Surullah
alurnya bagus
Mita Paramita
hempaskan pelakor 🤣🤣🤣
Drama Queen
lanjut
piah Hasan
1001 ya cara pwrempuan mau jadi pelakor..
Uthie
keep dulu ya 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!