NovelToon NovelToon
Yang Selalu Ada

Yang Selalu Ada

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Persahabatan / Mantan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Silly Girls

Ada orang yang pergi tanpa benar-benar hilang.
Dan ada yang tetap ada, meski seharusnya sudah selesai.

Lala tidak pernah menyangka bahwa kepindahannya ke kantor cabang justru mempertemukannya kembali dengan Brian, seseorang yang dulu ia kenal terlalu baik, dan terlalu ia sayangi.

Bukan pertemuan yang ia rencanakan.
Bukan juga yang ia harapkan.

Namun di tempat asing itu, di antara rutinitas baru dan wajah-wajah baru, masa lalu justru muncul tanpa permisi. Lengkap dengan perasaan yang belum benar-benar mati.

Di sisi lain, ada Rendra. Teman lama yang selalu ada di setiap fase hidupnya. Hadir tanpa janji, tanpa tuntutan, tapi entah sejak kapan keberadaannya terasa berbeda.

Lala terjebak di antara dua hal.
kenangan yang belum usai,
dan kenyamanan yang perlahan tumbuh.
Karena ternyata, tidak semua yang selalu ada memang ditakdirkan untuk pergi.
Dan tidak semua yang kembali, datang untuk tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silly Girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ragu

Lala duduk di tepi ranjang, punggungnya bersandar ke dinding. Lampu kamar masih mati, tapi pikirannya justru terlalu terang. Terlalu ramai.

Ia memutar ulang semuanya. Ucapan mamanya. Tatapan tante-tantenya. Nada suara Rendra saat mengatakan nikah sama gue, La. Dan yang paling mengganggu bukan karena memaksa, tapi karena tidak memaksa sama sekali.

Apa gue terima aja?

Pertanyaan itu muncul pelan, tapi tidak mau pergi.

Lala mencoba jujur pada dirinya sendiri. Bukan soal cinta yang menggebu. Bukan soal mimpi menikah yang selama ini ia bayangkan karena jujur saja, ia tidak pernah punya bayangan itu. Yang ada hanyalah tekanan. Dari keluarga. Dari umur. Dari ekspektasi yang terus menempel seperti bayangan.

Dan Rendra... berdiri tepat di tengah semua itu. Bukan sebagai orang yang menuntut. Tapi justru menawarkan jeda.

Jika ia menikah dengan Rendra, mamanya akan berhenti bertanya. Tante-tantenya akan berhenti mengorek. Dunia seakan akan berkata, akhirnya Lala sampai juga di garis finish.

Dan Rendra? Ia tidak akan menuntut Lala menjadi apa-apa selain dirinya sendiri. Tidak memaksa peran. Tidak menagih perasaan. Setidaknya, itu yang ia janjikan dan Lala percaya, karena Rendra tidak pernah berlebihan dalam bicara.

Apa itu cukup?

Lala menekan dadanya pelan. Ada bagian dari dirinya yang merasa bersalah. Menerima pernikahan sebagai solusi terdengar salah. Seolah-olah ia menyerah. Seolah-olah ia menggadaikan sesuatu yang sakral hanya untuk meredam kebisingan.

Tapi ada bagian lain. bagian yang lelah, yang berbisik pelan.

Bukankah pernikahan juga bisa dimulai dari pilihan rasional?

Ia mengenal Rendra. Luar dalam. Sisi menyebalkannya. Diamnya. Cara ia tidak pandai merayu, tapi selalu hadir. Cara ia tidak menjanjikan bahagia, tapi menjanjikan usaha. Dan entah sejak kapan, Lala sadar: bersama Rendra, ia tidak pernah merasa kecil.

Bukan berarti Lala jatuh cinta.

Tapi juga bukan berarti ia kosong.

Lala membayangkan hidup yang lebih tenang. Pulang tanpa pertanyaan. Akhir pekan tanpa interogasi. Hidup yang tidak terus-menerus mengharuskannya menjelaskan pilihan pribadinya.

Namun, satu hal masih mengganjal.

Kalau gue nerima... apakah gue jujur sama diri gue sendiri?

Air mata tidak jatuh. Tapi dadanya terasa penuh.

Lala mengambil ponselnya. Nama Rendra ada di sana. Ia tidak menekan apa-apa. Hanya menatap.

Malam semakin larut. Di luar, suara kendaraan mulai jarang. Lala akhirnya berbaring, memejamkan mata.

Belum ada keputusan.

Belum ada kata iya.

Belum ada kata tidak.

Yang ada hanya satu kesadaran baru.

jika ia akhirnya menerima, ia ingin itu menjadi pilihannya bukan karena tekanan, bukan karena lelah, tapi karena ia percaya pada orang yang berdiri di hadapannya.

Dan untuk pertama kalinya, Lala tidak langsung menolak kemungkinan itu.

Pagi datang tanpa memberi jawaban apa pun.

Lala terbangun dengan kepala masih berat, seolah semalaman pikirannya tidak benar-benar beristirahat. Ia duduk di tepi ranjang cukup lama, menatap lantai, mencoba merapikan isi kepalanya yang semrawut. Keputusan yang belum dibuat ternyata jauh lebih melelahkan daripada keputusan yang salah.

Di meja kecil samping ranjang, ponselnya bergetar pelan.

Pesan dari Rendra.

Rendra:

Pagi, La. Semoga hari lo gak seberat kemarin.

Lala membaca pesan itu berulang kali. Tidak ada desakan. Tidak ada kalimat yang menyelipkan harapan berlebihan. Justru itu yang membuat dadanya terasa sesak.

Kenapa sih lo baik banget di waktu yang paling bikin gue bingung? batinnya.

Di dapur, Lala membuat kopi, tapi tidak benar-benar diminum. Ia hanya memegang cangkir itu, menatap uap tipis yang naik, lalu menghilang. Sama seperti keberaniannya untuk memberi jawaban cepat.

Ia mulai membayangkan dua kemungkinan hidupnya.

Yang pertama. ia menolak Rendra. Hidup akan kembali seperti semula pertanyaan mamanya, sindiran halus keluarga, tekanan yang datang bertubi-tubi. Ia akan tetap Lala yang sama, hanya saja dengan beban yang tidak berkurang.

Yang kedua. ia menerima. Menikah dengan Rendra. Hidup mungkin akan lebih tenang dari luar. Tidak ada lagi pertanyaan kapan. Tidak ada lagi tatapan iba. Tapi ada risiko lain, menjalani sesuatu yang belum sepenuhnya ia pahami perasaannya.

Dan di antara dua kemungkinan itu, yang membuatnya paling takut bukanlah menikah.

Melainkan ‘menyesal’.

Siang harinya, Lala akhirnya memberanikan diri membalas pesan Rendra.

Lala:

Ren, nanti sore lo ada waktu? Gue pengen ngobrol.

Balasannya datang tidak sampai lima menit.

Rendra:

Ada. Mau ketemu di mana?

Lala mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi.

Lala:

Di danau kemarin aja.

Ia tidak tahu kenapa memilih tempat itu. Mungkin karena di sanalah semuanya bermula. Mungkin karena ia ingin jujur, di tempat yang pernah mendengar Rendra jujur padanya lebih dulu.

Sore itu, Lala datang lebih dulu. Ia duduk di bangku kayu menghadap air yang tenang. Angin sepoi-sepoi menyibakkan rambutnya. Dadanya berdebar bukan karena gugup, tapi karena ia tahu pembicaraan ini akan mengubah banyak hal, apa pun hasilnya.

Tak lama kemudian, Rendra datang. Tidak langsung duduk. Ia berdiri sebentar, seolah memberi Lala ruang untuk memilih: bicara atau tidak.

“Akhirnya lo nyampe juga,” kata Lala, mencoba terdengar santai.

Rendra tersenyum kecil. “sori ya lama”.

Mereka duduk berdampingan. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Hening beberapa detik, tapi bukan hening yang canggung.

“Ren,” Lala membuka suara lebih dulu. “Gue udah mikirin.”

Rendra menoleh, lalu kembali menatap danau. “bilang aja la, gue dengerin.”

Lala menarik napas panjang. “Gue gak mau nerima cuma karena gue capek sama semuanya Tapi gue juga gak bisa bilang ini cuma pura-pura.”

Rendra mengangguk pelan. “Gue gak pernah niat ngajak lo buat bohongin diri lo sendiri.”

“Itu dia,” lanjut Lala. “Yang bikin gue takut.”

Rendra menoleh sekarang, menatap Lala dengan serius tapi tetap tenang. “La, gue gak janji hidup kita bakal gampang. Tapi gue janji satu hal kalau lo bilang iya, itu bukan karena lo kejebak. Dan kalau lo bilang nggak, gue gak akan ninggalin lo sebagai temen.”

Kalimat itu tidak dramatis. Tapi justru terasa paling berat.

Lala tersenyum tipis, matanya sedikit berkaca. “Lo tau gak sih, kenapa gue sensitif banget soal nikah?”

Rendra tidak memotong. Tidak menebak. Hanya berkata, “Kenapa?”

Lala menatap air danau yang berkilau diterpa matahari sore.

“Karena buat gue, nikah itu bukan soal status. Tapi soal kesiapan. Dan selama ini, dunia gak pernah nanya apakah gue siap mereka cuma nanya kapan.”

Rendra terdiam. Kali ini benar-benar diam.

Dan di momen itu, Lala sadar satu hal yang membuat dadanya sedikit lebih ringan.

bersama Rendra, setidaknya, ia tidak perlu menjelaskan dirinya dengan tergesa-gesa.

Cerita mereka belum sampai pada jawaban.

Tapi untuk pertama kalinya, Lala merasa... ia sedang berjalan ke arah yang benar, meski pelan.

Lala menghela napas panjang, lalu menoleh ke Rendra.

“Aneh ya,” katanya pelan. “Gue selalu mikir kalo nikah itu bakal jadi akhir dari kebebasan gue. Tapi, Kayak... setelah itu hidup gue bukan sepenuhnya milik gue lagi.”

Rendra mengangguk, kali ini tanpa senyum. “Gue ngerti. Banyak orang ngerasain itu.”

“Tapi sama lo,” lanjut Lala, suaranya lebih jujur dari yang ia kira, “gue gak ngerasa dicepetin. Justru gue ngerasa dikasih waktu.”

Rendra menoleh, menatap Lala lama. Tidak memotong, tidak buru-buru menanggapi.

“Gue gak ngajak lo nikah buat nutupin masalah hidup gue. Gue ngajak lo karena... gue percaya sama lo. Sama cara lo mikir. Sama cara lo hidup.”

Ia tersenyum kecil. “Dan gue tau, lo bukan tipe orang yang bisa dipaksa cinta.”

Lala terkekeh pelan, tapi matanya kembali berkaca.

“Lo sadar gak sih,” katanya, “dari semua orang yang ada di hidup gue sekarang, lo satu-satunya yang gak pernah nyuruh gue harus apa.”

Rendra mengangkat bahu ringan. “Karena hidup lo bukan tugas kelompok gue.”

Hening lagi. Tapi kali ini heningnya hangat.

Lala menyandarkan punggungnya ke bangku, menatap langit yang mulai berubah warna.

“Ren... kalau misalnya,” Lala berhenti cukup lama. Jemarinya saling mengait tanpa sadar, napasnya terasa pendek.

“Kalau gue bilang iya...”

Kalimat itu menggantung. Tidak selesai. Tidak berani diselesaikan.

Lala menelan ludah. “Itu bukan karena gue udah siap nikah,” lanjutnya akhirnya, suaranya pelan tapi tegas.

Ia menoleh ke Rendra. Matanya sedikit berkaca, tapi tatapannya lurus.

“Itu karena gue capek berantem sama semua ekspektasi. Dan... mungkin gue pengen berhenti sendirian ngadepin semuanya.”

Diam.

“Gue takut, Ren,” katanya jujur, tanpa mencoba terdengar kuat.

“Takut salah milih. Takut nyakitin lo. Takut nyakitin diri gue sendiri.”

Ia menarik napas dalam-dalam.

“Jadi kalau gue bilang iya nanti... gue pengen lo tau gue gak janji jadi istri yang sempurna. Gue bahkan belum yakin bisa jadi orang yang tenang soal pernikahan.”

Rendra menatap lurus ke depan. “Dan gue maunya begitu.”

“kita jalan pelan. Tanpa target muluk. Tanpa tuntutan aneh-aneh.”

Rendra tersenyum, kali ini lebih jelas.

Lala menoleh cepat. “Jangan senyum dulu. Gue belum bilang apa-apa.”

Rendra tertawa kecil. “Gue tau.”

Matahari mulai turun, cahaya sore memantul di permukaan danau. Lala merasakan sesuatu yang asing tapi tidak menakutkan. ketenangan yang tidak datang dari kepastian, tapi dari kejujuran.

“Ada satu hal lagi,” kata Lala.

“Apa?”

“Kalau nanti di tengah jalan gue ragu lagi?”

Rendra menjawab tanpa berpikir lama. “Ya kita obrolin lagi.”

Sesederhana itu.

Lala tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya sejak lama, kata nikah tidak terdengar seperti ancaman. Bukan juga tujuan akhir. Lebih seperti sebuah kemungkinan yang belum tentu ia ambil hari ini, tapi tidak lagi ia tolak mentah-mentah.

mungkin, pikir Lala, itu sudah cukup untuk sekarang.

Dan untuk pertama kalinya, kata iya bukan terdengar seperti jawaban melainkan keberanian.

1
malamlarut
duuh laki-laki tu ya emang demam dikit udah lebay
falea sezi
rumah tangga macam apa ini mereka ini g bs move on dr mantan apa gimana hadeh
kyle
waah tambah seruu😍
La Viola
ceritanya reuni bertemu mantan ? duh, bikin susah move on gak sih? 😍

semangat kak... salam dari Edelweiss...
kyle
baguss sekali
Anggrekbulan: terimakasih kak
total 1 replies
malamlarut
ayo kak up lagii
Anggrekbulan: ditunggu yaaa
total 1 replies
malamlarut
update lagi ka
Anggrekbulan: siyaaap staytune yaa
total 1 replies
malamlarut
teman apa teman nih la🤭🤭🤭🤭
malamlarut
baru awal udah seru
malamlarut
coba dibaca aja langsung
babygurls
sukak banget, buat yang kejebak friendzone cocok deh
Anggrekbulan: yakaan, yuk ajak temen-temennya buat baca karyaku
total 1 replies
babygurls
ayo kak up lagie😄
Anggrekbulan: okaaai ditunggu yah🤭
total 1 replies
Anggrekbulan
👍
Anggrekbulan
terimakasih sudah membaca😄
sunrise
ditunggu update bab selanjutnya😍
Anggrekbulan: hihihi siyaap🙏
total 1 replies
sunrise
bagus alur ceritanya, jarang menemukan yang seperti ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!