Karena hutang budi kedua orang tuaku, aku dipaksa menikah dengan duda yang berstatus ayah dari dua anaknya.
Aku yang baru saja lulus kuliah harus dihadapkan dengan dua anak yang aktif dan juga suami yang dingin dan menganggap semua wanita itu sama. Sama-sama pengkhianat dan murahan, meskipun sudah aku jelaskan beberapa kali tapi anehnya suamiku tidak pernah mengerti itu.
Apa yang membuat suamiku sampai setrauma itu?? Nantikan jawabannya hanya di Novel toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Malam belum terlalu larut ketika suara langkah kecil terdengar tergesa dari arah kamar Mahendra.
“Papa—” suara itu terputus, digantikan bunyi yang basah.
Cokro yang sedang duduk di ruang kerja langsung berdiri.
Di ambang kamar, ia melihat tubuh anaknya membungkuk di tepi ranjang. Selimut terjatuh, wajah Mahendra pucat, matanya berkaca. Bau asam menyebar cepat di udara.
“Uh—” Anak itu muntah lagi, tubuhnya bergetar kecil.
Cokro terpaku. Tangannya setengah terangkat, lalu berhenti. Kepalanya kosong. Ingatan lama menyambar cepat tubuh kecil, tangis yang sama, malam yang sama, dan seseorang yang dulu… pergi.
“Mahendra—” suaranya keluar, tapi kakinya tak bergerak.
Melati datang berlari dari arah dapur, tangannya masih sedikit basah setelah mencuci piring. Begitu melihat kondisi itu, ia langsung berlutut.
“Ember, Mas,” katanya cepat tanpa menoleh. “Tisu sama air hangat.”
Cokro tersentak. Ia bergerak refleks mengambil ember, lalu kembali, meletakkannya di dekat anak itu.
Melati menopang bahu Mahendra, satu tangannya menahan rambut anak itu agar tidak mengenai wajahnya.
“Tarik napas pelan ya, Nak,” ucapnya lembut. “Nggak apa-apa.”
Mahendra menuruti. Muntah itu keluar lagi, tapi kali ini lebih sedikit. Tubuhnya lemas, napasnya terengah.
Melati mengusap punggungnya perlahan, ritmenya teratur. Seolah sudah tahu persis apa yang harus dilakukan, bahkan wanita itu tidak jijik sedikitpun dengan cairan uang keluar dari mulut Mahendra.
Cokro berdiri di sisi ranjang. Diam. Dadanya terasa sempit.
Ia melihat tangan Melati yang cekatan—membersihkan, mengganti kain, mengelap mulut Mahendra tanpa jijik, tanpa ragu. Semua bergerak seperti naluri, bukan kewajiban.
“Kepala kamu pusing?” tanya Melati.
Mahendra mengangguk lemah.
“Perutnya masih sakit?”
“Iya…”
Melati menoleh cepat ke Cokro. “Mas, tolong ambilkan air hangat sama obat lambung anak.”
Cokro tidak langsung bergerak.
“Ada di laci dapur,” tambah Melati, kali ini menoleh dan menatapnya.
Tatapan itu bukan menyalahkan. Tapi mengingatkan. Cokro akhirnya bergerak.
Saat kembali, Melati sudah mengganti kaus Mahendra. Anak itu bersandar di bahunya, napasnya mulai lebih teratur.
“Minum sedikit,” ujar Melati sambil menyodorkan sendok. “Pelan-pelan.”
Mahendra menuruti. Setelah itu, kepalanya kembali bersandar, matanya terpejam.
Sunyi turun perlahan di kamar itu. Cokro berdiri di ujung ranjang, menatap adegan yang seharusnya biasa, tapi terasa asing baginya.
“Kamu… terbiasa begini?” tanyanya akhirnya, suara rendah.
Melati tidak langsung menjawab. Tangannya masih mengusap rambut Mahendra.
“Anak kecil sering sakit,” jawabnya pelan. “Mereka nggak butuh panik. Mereka butuh tenang.”
Kalimat itu menusuk tepat di dada Cokro. Ia duduk perlahan di kursi dekat ranjang. Bahunya jatuh, lelah yang selama ini ditahan mulai terasa.
“Dulu…” ia berhenti. “Waktu anak-anakku kecil, aku sering sendirian kalau mereka sakit.”
Melati menoleh. Tidak bertanya. Tidak memotong.
“Sekarang pun… aku masih sendirian,” lanjutnya lirih.
Melati menatapnya sebentar, lalu kembali pada Mahendra.
“Mas nggak sendirian,” ucapnya lembut. “Mas hanya belum terbiasa ditemani.”
Cokro mengatupkan rahang. Dadanya terasa hangat dan nyeri sekaligus, gadis muda yang ia nikahi beberapa hari itu, ternyata memiliki sifat yang tidak pernah ia sangka sama sekali.
Mahendra bergerak kecil, lalu membuka mata setengah.
“Papa…” panggilnya lemah.
Cokro refleks mendekat. “Iya.”
Anak itu melirik Melati, lalu kembali menatap ayahnya.
“Jangan marahin Mama,” katanya pelan.
Cokro membeku, bahkan tanpa di suruh sebutan itu muncul dari bibir anak pertama itu.
Melati menunduk, menahan sesuatu di dadanya, gak menyangka tadi pagi anak itu masih songong, dan malam ini nada bicaranya sedikit pelan.
Cokro menatap wajah anaknya lama, lalu mengangguk kecil.
“Tidur,” ucapnya akhirnya.
Lampu kamar diredupkan. Mahendra tertidur kembali, kali ini lebih tenang.
Di ambang pintu, Cokro berhenti. “Terima kasih,” katanya pelan, hampir seperti pengakuan.
Melati mengangguk. Tidak tersenyum. Tidak menuntut.
Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, Cokro menyadari: yang ia takuti bukan Melati mengambil tempat siapa pun, melainkan kenyataan bahwa anak-anaknya mungkin sudah membutuhkannya.
☘️☘️☘️☘️☘️
Pagi itu, Melati mengira Mahendra akan tinggal di rumah. Tas sekolahnya masih tergeletak di kursi. Seragam belum disentuh. Tubuh anak itu semalam panas dan lemas, tidurnya tidak pernah benar-benar nyenyak.
Tapi suara pintu kamar terbuka.
Mahendra sudah rapi. Kemejanya licin, disetrika asal. Wajahnya pucat, tapi rahangnya mengeras seolah ketegangan itu cukup untuk menahan apa pun yang masih tersisa di tubuhnya.
“Kamu nggak usah sekolah dulu,” ucap Melati pelan.
Mahendra menggeleng.
“Ulangan.”
Satu kata. Final.
Melati tidak membantah. Ia hanya mengambil tas itu, memasukkan bekal kecil, roti tawar dan sebotol air putih, Mahendra menerimanya tanpa komentar.
Namun bibirnya diam tidak berucap apa-apa namun tidak juga menolak. Cokro menyaksikan dari ambang ruang makan.
“Kamu masih sakit,” katanya datar.
“Aku nggak apa-apa,” jawab Mahendra cepat. Terlalu cepat untuk seseorang yang benar-benar baik-baik saja.
Ia berangkat bersama dengan ayah dan adiknya, mobil berhenti saat sampai di depan pintu gerbang, kedua anak itu turun dan melangkah saling bergandengan tangan.
"Kakak... kalau sakit bilang ya," kata di adek.
Mahendra tersenyum simpul. "Itu pasti," sahutnya seolah tidak terjadi apa-apa.
Mereka melanjutkan langkahnya dan terpisah di depan pintu kelas masing-masing.
Di kelas, Mahendra duduk tegak di bangkunya. Perutnya masih terasa perih—seperti diingatkan setiap kali ia menarik napas terlalu dalam. Tapi ia menahan. Ia tidak jajan. Tidak keluar pagar. Bekal di tas hanya disentuh sebentar, lalu ditutup kembali.
Ia tidak ingin ketahuan, hingga pelajaran mulai bahkan saat lembar ulangan ada dihadapannya, ia kerjakan dengan pelan meskipun di dalam perutnya masih bergejolak.
Saat bel istirahat berbunyi, ia tetap duduk. Seorang temannya menepuk bahu.
“Kenapa?”
“Capek,” jawabnya.
Bohong kecil yang tidak perlu dipertanyakan, dan ia pun memilih untuk diam tidak berbicara sedikitpun mengenai perutnya.
☘️☘️☘️☘️
Di rumah, siang itu terasa ganjil. Melati menunggu tanpa benar-benar menunggu. Sesekali ia melirik jam. Tidak berdoa, tapi berharap diam-diam—harapannya pun tidak ia beri nama.
"Astaga kenapa perasaanku kacau seperti ini," gumam Melati.
Waktu terus berjalan hingga sore tiba.
Ketika pintu akhirnya terbuka sore hari, Mahendra masuk dengan langkah yang lebih pelan dari biasanya. Tidak muntah, i hNua duduk mwngari ruangan sekitar, dengan wajah yang pucat dan sedikit lemas.
Melati menaruh segelas air di depannya. Mahendra meminumnya tanpa disuruh.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, tidak ada kata-kata tajam keluar dari mulutnya. Tidak ada penolakan. Tidak ada sikap melawan.
Sakitnya belum sepenuhnya sembuh. Tapi ada sesuatu di dalam dirinya yang mulai mengalah, pelan, nyaris tak terlihat, tapi nyata.
Bersambung ....