Delaney Harper ditinggalkan oleh tunangannya tepat di hari pernikahan mereka. Rumor perselingkuhannya menyebar dengan cepat, membuat ayah Delaney murka. Namun, ibu tirinya memiliki rencana lain.
Ia memaksa Delaney menikah dengan seorang pria yang bahkan tak pernah terlintas dalam pikirannya.
Seorang pria bernama Callum Westwood.
Callum Westwood, CEO Westwood Corp, adalah sosok yang hampir tidak Delaney kenal, tetapi reputasinya dikenal oleh semua orang. Dingin. Kejam. Tak pernah dekat dengan perempuan mana pun. Dan ironisnya… dia adalah tetangga Delaney, hanya dua blok dari rumahnya—meski mereka belum pernah sekalipun berbicara.
Selain menyelamatkan Delaney dari skandal kehamilan di luar nikah, pernikahan itu ternyata merupakan cara Callum untuk membayar sebuah hutang besar dari masa lalu. Hutang yang ia tanggung sejak sepuluh tahun lalu dan ia simpan rapat-rapat sebagai rahasia.
Namun, apa sebenarnya yang terjadi sepuluh tahun lalu?
Dan bagaimana nasib pernikahan tanpa cinta ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lulaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
“Udahlah.Lo nggak usah dengerin omongan Kak Callum,"kata Elara yang datang ke kamar,usai ngeloni Emily,
“dia itu kalau ngomong emang nggak pernah disaring.Nylekit."
"Tapi,El,dia itu suami gue.”
Elara berdecak,“Iya,gue paham.Dia juga Kakak gue,Dela. Tapi kalau sampe dia nyakitin lo kayak gini,gue juga nggak akan tinggal diam.”
Sungguh,Delanay tidak menceritakan apapun pada Elara.Mungkin Elara hanya mendengar obrolan para pelayan yang tadi memang bergosip soal kejadian beberapa menit lalu.
Di mata orang lain, sudah jelas kalau pernikahan ini tanpa harapan.Callum melakukannya dengan terpaksa.Apalagi pria itu membenci Delanay.Mengolok-olok betapa tidak berharganya sang istri.
Sudah untung,hanya orang di kediaman Westwood yang dengar.Mereka mungkin masih bisa tutup mulut. Namun,kalau sampai berita ini keluar, akan jadi santapan empuk awak media.
Elara melirik wanita yang duduk menyandar di kepala ranjang. Matanya tampak sembap dan kosong.
“Dela,udah deh,jangan mikirin hal lain. Biarin aja orang atau Kak Call ngomong macem-macem,yang penting lo perhatiin kandungan lo.Lo harus kuat demi dia.Oke?”
Delanay mengangguk pelan.Sekarang prioritasnya adalah anak ini.
Kalaupun ke depannya Callum tetap bersikap kasar, dia hanya perlu menahan diri.Cukup bertahan selama satu tahun, dan Delanay akan bisa berdiri di atas kedua kakinya sendiri.
“Eh,btw nih, lo udah liat desain terbaru gue belum?” cetus Elara tiba-tiba.
Ibu satu anak itu terlihat turun dari ranjang dan mengambil tablet yang selalu dia bawa ke manapun,bahkan ke toilet umum. Dia segera mencari folder,tempat menyimpan desain gaun of the week untuk butiknya.
Yap.Elara adalah owner butik E Beauty tempat Delanay bekerja.Selain pemilik,Elara tidak enggan turun tangan untuk menyumbangkan idenya.
“Liat. Menurut lo ada yang kurang nggak?” Elara memperbesar gambar gaun off shoulder berwarna dark blue itu.
Kalau dari atas, gaun tersebut memang memiliki model yang pernah menduduki mode tahun lalu.Tapi begitu tangan Delanay menggulir gambar ke bawah, dia cukup takjub.Title desainer ternama milik Elara bukan sekadar bualan semata.
“Dapet dari mana idenya?”Delanay bertanya setengah tak percaya.
“Jangan bilang,hasil begadang sama Maxmilian?”
Elara terkekeh.“Lo emang serba tau."
Tentu saja Delanay tau. Model gaun belahan paha tinggi dengan bagian dalamnya terdapat resleting,bisa menjadi alternatif untuk para wanita.Andai mereka ingin tampil cantik,maka tinggal diamkan resleting itu.Akan tetapi, kalau mereka punya 'penjaga' yang posesif,setidaknya ukur sendiri seberapa harus mereka menutupi tubuh seksinya.
“Apa resletingnya nggak ganggu,El? Biasanya ada yang kurang nyaman.Apalagi bisa aja ada insiden sama si resleting.”
Elara mengulum senyum.Delanay,jika sudah dihadapkan dengan pekerjaan,akan berubah serius dan profesional.
“Menurut lo gitu? Jadi ada saran lain?”
Dan perbincangan soal gaun of the week itu terus berlanjut. Clara yang menguping di balik pintu kamar Callum,mendesah lega.Putrinya memang the best.
“Gimana?”bisik Ethan,si pria yang kata orang dingin,tanpa perhatian,dan sulit didekati itu,justru ikut menunggu di samping sang istri.
Tanda oke dari Clara, membuat pria paruh baya yang masih tampan di masa tuanya mengulas senyum.Dalam hati ia bersyukur. Setidaknya,Delanay tidak bersedih lagi.
Clara dan Ethan bergegas pergi.Diam-diam mereka menuruni anak tangga menuju lantai 2 dan berpapasan dengan Mbak Nunung yang membawa sepiring buah-buahan.Sudah dikupas dan dipotong kecil-kecil.
“Mau buat Delanay, Mbak?”
Mbak Nunung mengangguk ke arah Clara.“Tadi Den Callum minta saya buat nyiapin buah.Katanya buat Non Delanay," ucapnya.
Callum?
“Dia udah pulang?”
Kali ini Mbak Nunung menggeleng.
“Belum,Nyonya.Den Callum nyuruh saya pas baru dateng ke sini.”
Astaga,Clara tidak bisa menahan seringaiannya.Hingga di detik pria itu mengatakan benci pada Delanay,Clara mengartikan ucapannya sebagai 'benar-benar cinta'
“Ck,benar-benar tsundere,"olok Clara.
“Putramu,Sayang.”
Gigi Clara terlihat jelas saat dia terkikik geli mendengar celetukan suaminya.
“Dia juga putramu,Ethan Westwood. Dia berasal dari benihmu.Mirip sekali ya,kan?”
“Hm.Mirip sekali." Ethan menatap Clara lekat-lekat. Itu sejenis tatapan memuja.
Tanpa berkata-kata,Mbak Nunung berlalu dan meninggalkan dua sejoli yang di masa tuanya masih tetap mesra. Seolah cinta mereka tidak lekang termakan usia. Membuat siapa saja bisa iri.
Tok-tok-tok!
Sambil mengetuk pintu jati bercat hitam itu, Mbak Nunung membukanya perlahan. Elara sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Saya bawain buah, Non."
“Wah,makasih,Mbak."
Asisten rumah tangga yang sudah hampir 10 tahun tinggal bersama Keluarga Westwood itu mengangguk.
“Kalau gitu saya permisi dulu."
Elara lekas menggumamkan terima kasih sekali lagi. Dan kembali menyamankan diri ke atas ranjang.Sambil membawa piring buah itu tentunya.Elara tau betul siapa yang menyuruh Mbak Nunung mengirim buah,walaupun wanita itu tidak mengatakan apapun.
"Nih,buat lo," tandas Elara pada Delanay yang asyik mencoret-coret tablet.
Wanita yang sedang sibuk memperbaiki detail kekurangan dari desain yang akan mereka kerjakan mulai besok itu mendongak.
“Buah?Perasaan,gue nggak minta buah?"
Elara menyambar tablet di tangan sahabatnya.Kemudian menggantinya dengan piring yang penuh buah. Mulai dari apel,anggur,alpukat, sampai buah naga. Jelas semuanya adalah buah kesukaan Delanay.
“Udah, makan aja. Lo sama si bayi butuh asupan gizi.”
Elara menusukkan garpu pada potongan apel, kemudian membuat gerakan hendak menyuapi Delanay.
“Buah itu bagus buat kehamilan. Gue dulu juga sering banget makan,waktu hamil Emily.”
Mau tidak mau,Delanay membuka mulutnya.Menerima suapan Elara dan mulai mengunyah dengan pelan. Takut apa yang ia makan akan dimuntahkan lagi.Sayang,nanti malah mubazir.
“Nggak bakal bikin mual kok."Elara melihat sikap was-was Delanay.
Dan benar saja, Delanay tidak merasakan mual atau apapun.Justru rasa tidak nyaman-pahit dan asam yang tadi ada di tenggorokannya,seketika langsung menghilang. Ajaib.
“Bener,kan?”Delanay cukup takjub dengan kehamilan ini.“Gue bilang juga apa.Hamil itu nggak menakutkan.Ad-”
Suara dering ponsel menghentikan ucapan Elara. Rupa-rupanya Maxmilian sedang menghubunginya.Yeah,pria itu memang tidak bisa lepas dari istri dan putri kesayangannya. Sejam saja.
“Gue angkat telpon dulu,"pamit Elara.
“Lo abisin ya? Awas aja, kalo sampe ada sisa! Gue bakal potong gaji lo lima puluh persen!" Ancaman yang cukup mengerikan,namun membuat Delanay tersenyum haru.
Mengawasi punggung Elara yang berjalan keluar kamar,Delanay menunduk.Dia melirik perutnya yang belum ada perubahan yang berarti.Mendesah iri.
Apakah kelak, Delanay akan seperti Elara?
Memiliki orang yang dicintai dan jelas mencintainya. Memiliki pria yang mencintai anak ini. Dan,memiliki kebahagiaan yang sekiranya cukup untuk menemaninya di masa tua nanti.
Bolehkah Delanay berandai-andai?
Memandangi gelas kosong di atas nakas,tiba-tiba Delanay merasa haus. Entah haus bermakna bagaimana yang dia rasakan saat ini.Yang jelas,dia perlu air untuk meredakan dahaga di tenggorokannya.
Berjalan turun, Delanay tidak menemukan siapapun di sana.Kamar Callum yang berada di lantai paling atas,terbilang sepi.
Hanya saja,terdengar derap kaki dari anak tangga bawah membuat Delanay menoleh pada sumber suara. Apa Elara kembali dari kamar Danela secepat itu?
Namun,langkah kaki Delanay refleks terhenti,begitu melihat bukan Elara yang melihat dirinya.Justru Callum dengan jaket hitam,topi baseball,wajah penuh keringat,dan tangannya dibungkus perban?
“Tangan Kakak kenapa?”
jadi pingin cepet2 ngliat mereka ke pesta🥰
makin seeruuu nih🥰
seruuu banget thor😄
callum kok dingin ky es balok banget sih