"Apa? Anak perempuan lagi? Jika begini terus, maka kamu harus kembali hamil dan melahirkan anak laki-laki untuk ku."
"Tapi.."
"Tidak ada tapi-tapi. Sebagai seorang istri yang baik, kamu harus menuruti semua perkataan suami mu ini."
"Ya. Baiklah."
Nasib baik tidak berpihak pada seorang wanita yang bernama Seruni. Ia di tuntut untuk terus melahirkan anak oleh suami nya. Di karenakan, ia belum bisa melahirkan anak laki-laki. Suami nya sama sekali tidak pernah membantu nya. Dengan lima anak perempuan yang masih kecil, wanita itu berjuang sendirian. Hingga akhir nya anak ke 6 lahir dan malapetaka itu pun terjadi. Seruni menyerah. Ia pergi dengan anak-anak nya meninggalkan sang suami yang sibuk dengan wanita lain.
Bagaimana kah perjalanan Seruni dan anak-anak nya?
Jangan lupa berikan komentar supaya author nya tambah semangat.
Terima kasih dan selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uul Dheaven, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Seruni benar-benar sibuk sejak tadi. Ia sama sekali tidak memperhatikan apa yang ada di sekitar nya. Bagi diri nya, membantu Adelia adalah suatu kewajiban. Seruni pun berhasil membuat para tamu merasa puas dengan hanya satu menu dari nya.
Acara syukuran untuk Adelia pun akhirnya berjalan lancar. Adelia dan Mama nya sangat berterima kasih pada Seruni. Mereka tidak bisa berkata-kata lagi dengan apa yang mereka alami hari itu.
Adelia terus saja memberi peringatan pada Mama nya. Agar wanita itu tidak lagi memesan makanan di sana. Makanan yang di sajikan pun tidak semua nya segar.
"Kak Runiiiiii,, aku sangat berterima kasih. Aku.. Aku...."
Adelia yangingin bicara, menghentikan kata-katanya nya dan menangis. Ia menjadi sensitif saat itu.
"Sudah lah. Kakak hanya bisa bantu sedikit. Oh ya, kakak nggak bisa lama-lama. Di rumah udah di tunggu sama teman-teman yang lain."
"Tidak apa. Justru aku merasa bersalah. Karena kesalahan yang kami perbuat, Kak Runi harus kembali memasak dengan cepat menu untuk pelanggan yang lain."
"Tak apa. Kakak sudah biasa. Sekarang sudah ada banyak yang membantu. Jadi, sudah tidak lagi sulit. Kakak permisi. Salam untuk Mama dan Papa mu."
Seruni langsung beranjak dari sana. Ia terburu-buru berjalan dan tidak melihat ke kiri dan kanan. Saat ia masuk ke dalam lift, ternyata Hamdan masih saja mengikuti nya. Pria itu seakan tidak bisa melihat ketika Seruni bisa tertawa saat tidak lagi bersama nya.
"Mau apa kamu?"
"Tenang dong, Seruni. Aku hanya mau pulang. Aku tidak berselera mengganggu mu. Masih banyak wanita yang mau mengejar-ngejar ku saat ini. Kau ini hanya lah sampah tak berharga."
"Oh ."
Jawaban Seruni malah membuat Hamdan bertambah kesal. Ia pun mendekati dan membuat Seruni tidak bisa leluasa berdiri di sana. Entah mengapa saat itu, lift begitu lama tiba di lantai dasar.
"Mengapa kau bisa seakrab itu dengan anak pemilik perusahaan ini?"
"Tentu saja. Dia adalah Adelia. Apa kamu tidak ingat, siapa Adel? Dia lah yang selalu datang membantu ku saat kau sibuk dengan orang lain diluar sana."
"Jadi begitu?"
Ting....
Pintu lift terbuka dan Seruni langsung bergegas meninggal kan Hamdan di sana. Ia pun dengan cepat memesan taksi online. Ia tidak sanggup jika Hamdan terus saja mendekati nya dan melontarkan kata-kata yang buruk.
Di luar dugaan, Hamdan malah menarik tangan Seruni dengan paksa. Wanita sampai terkejut dan tidak bisa menepis nya.
"Apa yang kau lakukan, Hamdan! Aku dan kau sudah tidak ada hubungan apapun. Cepet lepaskan aku."
"Seruni, aku hanya ingin bicara. Kau jangan sombong. Aku juga tidak mau dengan mu lagi."
"Aku tidak ada waktu untuk berbicara dengan mu. Aku sibuk. Anak-anak di rumah."
Hamdan tetap saja tidak melepaskan tangan nya Seruni. Ia pun tidak tahu mengapa ia melakukan hal itu. Lain di mulut, lain di hati. Begitu lah yang di rasakan oleh Hamdan saat itu.
Ada sesuatu yang ingin ia lakukan pada Seruni. Tapi, ia juga gengsi mengatakan jika ia masih sangat merindukan wanita itu. Apalagi ketika malam hari. Ia hanya tidur sendirian dan tidak ada yang memijit nya ketika ia lelah sepulang bekerja.
Bukan itu saja. Setelah bercerai, Hamdan tidak bisa lagi santai seperti biasa nya. Ia harus mencuci, menjemur, dan juga menyetrika sendiri pakaian nya.
Ia juga harus bangun cepat di pagi hari untuk menyiapkan sarapan dan membereskan rumah nya yang besar itu. Hamdan sungguh kewalahan. Ingin menyewa pembantu, tapi ia tidak mau rugi.
"Seruni, kau ini hanya janda yang telah melahirkan enam anak. Jadi, aku mau bicara dengan mu, harus nya kamu senang."
"Ya. Aku memang janda yang sudah melahirkan enam anak. Jika aku terus melahirkan anak perempuan, maka mantan suami ku akan terus menyuruh ku untuk hamil sampai lahir anak laki-laki. Dan mantan suami ku itu adalah kamu. Kamu, Hamdan!"
Suara teriakan Seruni mengundang beberapa karyawan dan juga tamu undangan melihat ke arah mereka sejak tadi. Hamdan berniat mempermalukan Seruni sejak tadi. Tapi, yang ada Seruni malah begitu berani menantang nya.
Entah sejak kapan Seruni menjadi begitu pemberani dan juga kasar dalam berbicara dengan nya.
"Tutup mulut mu, Seruni. Kau ingin mempermalukan aku? Wajar seorang suami menginginkan anak laki-laki. Dan kau sebagai istri harus nya nurut. Bukan malah minta cerai."
"Lalu, kalau kamu minta aku melahirkan lima puluh anak, aku harus menurut? Hamdan, dengar. Aku ini seorang wanita. Bukan mesin pencetak anak. Kalau kau mau anak laki-laki, cari saja di panti asuhan."
Seruni melepaskan tangan Hamdan yang perlahan mengendur. Saat itu, Seruni langsung berlari. Dan ketika Hamdan ingin mengejar nya, Seruni di hampiri oleh seorang pria yang ia temui tadi.
Hamdan hanya diam dan menatap mereka dari jauh. Seruni sibuk berbicara dan mengangguk. Hamdan pun mengikuti mereka hingga ke parkiran. Dan ternyata, Seruni malah naik ke dalam mobil pria itu.
"Ku-rang ajar! Mobil nya lebih bagus dan lebih mahal dari ku. Apa laki-laki itu buta? Atau ia tidak tahu kalau Seruni adalah janda bo-long."
Hamdan terus saja mengoceh tidak jelas dan sangat kesal. Mau nya, Seruni harus menderita saat berpisah dengan nya. Agar wanita itu menyesal dan mau memohon lagi pada nya.
Tapi saat ini, Seruni malah lebih bahagia dan di dekati oleh pria yang lebih kaya dari nya. Hamdan benar-benar sangat kesal dan marah.
Sementara itu, Seruni yang di hampiri oleh Pak Restu, langsung mengangguk setuju ketika pria itu ingin mengantar nya pulang. Ia tidak ingin Hamdan nekat dan terus saja mempermalukan nya.
"Terima kasih, Pak Restu karena sudah mengantar saya pulang. Tapi maaf, saya tidak bisa lama-lama. Banyak pesanan orang yang harus selesai setelah magrib."
"Tidak apa. Saya juga memiliki urusan saat ini. Salam untuk Mentari."
"Baik, Pak."
Mobil itu pun pergi meninggalkan rumah Seruni. Di dalam sudah ramai para tetangga yang sibuk memasak untuk acara malam nanti.
Seruni langsung berganti pakaian dan terjun bersama para ibu-ibu hebat yang selama ini telah membantu nya.
"Sampai mana sudah, Bu?"
"Eh, Runi. Ini tinggal menunggu sambal goreng nya matang. Dan, ayam goreng lengkuas udah. Mie goreng pedas udah. Kari ayam spesial udah. Trus, apalagi ya."
"Biar nanti saya yang kerjakan. Ibu-ibu siapkan cemilan saja."
Seruni kembali bergelut dengan beberapa masakan yang hampir selesai. Tidak salah jika ia meminta tolong pada para wanita hebat itu. Mereka kerja nya cepat dan juga bisa di harapkan.
Kehidupan Seruni pun menjadi begitu berwarna saat bersama mereka. Seruni berharap, persaudaraan mereka akan terus bertahan.
bersinar 😮
sebentar lagi baru akan paham apa arti
dari semua kejadian yang sudah dia lakukan terhadap anak istri