NovelToon NovelToon
Wanita Amnesia Itu Istriku

Wanita Amnesia Itu Istriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami / Amnesia
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Cahaya Tulip

"Bara, sebaiknya kamu ceraikan saja Aira. Kita bukan orang kaya, dari mana uang sebanyak itu untuk membiayai pengobatannya? " bujuk Norma.

"Bu, uang bisa di usahakan. Bara tak mungkin meninggalkan Aira begitu saja. Aira anak yatim Bu, Bara sudah janji pada kepala panti akan menjaganya."

Bara memohon dengan mata memelas.

Dari dalam kamar, Aira tertunduk mendengar keributan suami dan ibu mertuanya.

Ia menghela nafas dalam. Antara pasrah dan juga berharap.

Aira menatap lekat kertas hasil diagnosa dokter yang masih ada di tangannya. Bulir air mata, menetes satu-satu membasahi kertas itu.

"Apa aku bercerai saja ya dari Mas Bara?" gumam Aira lirih.

Mungkinkah kehidupan rumah tangga yang baru hitungan hari itu mampu bertahan dari ujian itu?

Ikuti kisahnya dalam "WANITA AMNESIA ITU ISTRIKU"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTEMUAN

"Aira, Kamu duduk saja di kursi depan temani kepala kantornya, " suruh Siska.

"Nggak, Aira malu Bu. Ibu aja yang duduk di depan, " paksa Aira sambil mendorong tubuh Siska ke tenda acara.

Tubuh Siska terhuyung mengikuti dorongan dari Aira.

"Kamu ini, gimana sih? Kan kamu yang kepala panti sekarang."

" Nggak apa-apa, Bu. Mereka nggak terlalu fokus sama kepala pantinya juga, nanti kalau ditanya Aira jawab Bu Siska pembinanya, " elak Aira lagi.

Ia masih berusaha menghindar duduk berdampingan dengan Bara di kursi depan. Pikirnya karena tidak ada sambutan atau laporan apapun dari kepala panti, Bu Siska cukup mewakili dirinya.

Siska berjalan ke arah kursi sofa dengan pasrah.

"Kamu duduk disana sama Bu Siska, biar kami urus anak-anak."

"Nggak apa-apa. Kalau ada permintaan sambutan mendadak, minta bu Siska aja yang maju, ya, " sahutnya pada Reina.

Reina menggeleng heran dengan sikap Aira yang terus menolak dikenalkan sebagai Kepala Panti. Tapi akhirnya dia kembali ke tenda depan.

Aira kembali mendandani anak-anak yang akan tampil. Memastikan penampilan mereka maksimal.

"Ingat kata Aira, jangan lihat mata penonton ta, lihat kepalanya saja. Fokus sama gerakan kalian, " pesannya pada anak-anak yang akan menari di acara itu.

"Kak Aira, tolong pasangkan sorbannya dong," minta Doni.

Aira dengan sigap melilit dan melipat sorban dikepalanya, memastikan terpakai dengan rapi. Doni yang akan membaca Al Quran membuka acara pagi itu.

"Aira, tempat sampah baru yang dibeli untuk sampah medisnya ada? " tanya Nani.

"Itu dibelakang pintu kelas, sudah ku pasangin trash bag nya tinggal letakkan di samping meja periksa, " sahut Aira lagi.

Ia yang memang paling sibuk karena merasa ia yang paling bertanggung jawab dalam acara itu.

"Aira mana? " tanya Bara pada Reina.

"Nggak mau keluar, Mas."

Bara menyusul ke dalam. "Aira, kamu kok disini. Ganti baju ayo duduk di kursi depan temani Bu siska."

"Nggak, Mas. Aku disini aja. Bu Siska cukup."

"Loh, nanti ada perkenalan kepala panti kan? "

" Ganti Bu Siska aja pembina Panti."

"Kamu kenapa? " tanya Bara melihat ada yang aneh dari sikap Aira.

"ng.. nggak apa-apa kok," jawabnya lirih.

Bara menghampiri Aira.

"Aira, kamu gugup? "

"Nggak mas bukan begitu."

"Ya sudah, Mas nggak paksa lagi. Mas harap bukan karena menghindari Mas."

Bara berbalik pergi, meninggalkan Aira yang masih terdiam. Bara selalu paham isi hatinya.

Acara berlangsung lancar. Pembukaan, pembacaan al quran, pembacaan doa, laporan Bara selaku ketua program, Sambutan bu Siska dan penampilan anak-anak sebelum pemeriksaan.

"Assalamu'alaikum, " sapa irfan yang baru datang.

Lana berjalan perlahan sambil berpegangan dengan tangannya.

"Wa'alaikumsalam, Pak. Silahkan masuk, " jawab Bowo bingung.

Alan berlari memanggil Bara yang masih duduk di depan menonton penampilan anak-anak.

Ia lalu menghampiri irfan yang baru datang.

"Assalamu'alaikum, dokter alhamdulillah akhirnya datang. Akhirnya mau di bujuk ya," ujar Bara sambil bersalaman dengan Irfan.

"Iya, Mas. Maaf sekali, biasanya dilayani pengasuh. Sama saya jadi agak susah. Lana salim sama Om Bara, " bujuknya.

Lana memalingkan wajahnya bersembunyi dari Bara.

"Maaf ya, Mas. Lana memang agak takut dengan orang baru."

"Nggak apa-apa dok. Tapi nanti saat pemeriksaan bagaimana? "

"emm.. nanti duduk di samping saya aja."

"Oke siap dok. Ada yang perlu dibantu? "

"Oh ya, alat pemeriksaan dan obat ada di bagasi mobil tolong diambilkan ya mas."

Bara mengangguk, lalu berjalan bersama Alan dan bowo ke parkiran mobil.

Nani dan Mita berusaha menegur Lana, tapi Lana masih bersembunyi ketakutan di belakang tubuh irfan.

"ih kelincinya lucu ya, Lana. Ayuk main sama kakak, " bujuk Nani.

"Kakak punya permen, loh. Lana mau? " bujuk Mita juga.

Lana masih tak bergeming. Lalu tiba-tiba ia melepas pegangan tangannya dari irfan dan berlari menghampiri seseorang yang ia kenal.

"Eh.. Lana mau kemana? " panggil irfan mencoba mengejar langkah kecil yang berlari cepat itu.

Saat ia berhasil menemukan Lana, Irfan tertegun. Lana sudah berbicara dengan seorang wanita yang berjongkok mensejajarkan matanya.

Irfan menyipitkan matanya, memastikan yang ia lihat itu wanita yang mereka temui di supermarket waktu lalu. Irfan berjalan mendekat menghampiri mereka.

"Eh Pak, Saya kaget Lana ada disini."

"Kebetulan ketemu lagi, Lana mencari mbak terus setiap kami ke supermarket."

"Oh ya, Lana cari tante? " tanya Aira.

Lana mengangguk, lalu memeluk Aira menunjukkan kalau ia sangat merindukannya.

"Dokter, dari di samping meja periksa ya, " ujar Bara menatap heran melihat keakraban irfan dan Aira.

"Oh iya, Mas. Terima kasih."

Bara tertegun melihat Lana yang memeluk Aira tanpa rasa takut.

"Eh sudah akrab sama tante Aira ya? " tanya Bara mencairkan kecanggungan.

"Oh, nama tantenya Aira.. Lana. Tante Ai..ra, " ulang irfan sambil menatap Lana seperti membantunya mengeja.

"Kebetulan, Mas. Bulan lalu waktu saya belanja kebutuhan rumah sama Lana di supermarket saya kehilangan Lana. Saya terlalu fokus antri di kasir. Nggak sadar, Lana jalan sendiri akhirnya tersesat. Alhamdulillah, Lana ketemu sama mbak Aira yang juga lagi belanja. Mbak Aira yang antar Lana samperin saya yang lagi panik."

"Ooh begitu. Oh y, Aira ini kepala pantinya dok."

"Oh begitu, Salam kenal mbak saya irfan. Dokter yang bertugas pemeriksaan anak-anak nanti, " ujar irfan sambil mengulur tangannya.

"Saya Aira dokter, salam kenal, " sahutnya sambil menangkup tangan ke dada.

Irfan menarik tangannya canggung.

"Kalau begitu, saya boleh titip Lana sama mbak Aira? supaya saya bisa leluasa pemeriksaan. Lana suka jalan sendiri kalau ada yang menarik perhatiannya."

"Oh boleh dok, nanti saya yang temani dokter. Silahkan bertugas," jawab Aira ramah.

"Alhamdulillah, terima kasih ya Aira, " ujar Bara.

"Iya, Mas. Sama-sama. Mas awasi yang lain ya, " ujar Aira.

Irfan menatap heran melihat kedekatan Bara dan Aira.

"Mari dok, saya tunjukkan tempat pemeriksaannya, " ajak Bara.

"Lana, sama Tante Aira dulu ya, " ujar Irfan.

Lana mengangguk, sambil menggenggam tangan Aira. Irfan dan Bara berjalan bersama menuju ruang pemeriksaan untuk bersiap-siap.

Aira membawa Lana berkenalan dengan anak-anak panti. Awalnya ia terlihat takut, tapi syukurnya anak-anak bisa membujuk Lana dengan mainan mereka.

"Aira, kok Lana mau sama kamu sih?"

"Sana kami nggak mau loh, susah banget di bujuk, " tambah Mita.

"Aku juga nggak tahu, awal ketemu bulan lalu dia langsung mau."

"Kalian sudah pernah ketemu? " tanya Nani lagi.

Aira mengangguk.

"Di supermarket pas beli kebutuhan anak-anak sama sembako yang habis."

"Kayaknya aura keibuan Aira emang kuat, Ya Mit."

"Iya, nggak kayak kamu yang mirip anak kecil, " ejek Mita.

"Iih.. kok nyolot, " balas Nani kesal.

Aira menepuk pundak Mita menegurnya untuk tak memulai pertengkaran baru.

Lana terus menoleh ke arah Aira, khawatir Aira menghilang lagi seperti sebelumnya.

Tatapannya dalam seperti sudah lama mengenal Aira.

Tatapan hangat, seperti rindu tertahan karena sangat lama tak bertemu, bukan hanya sebulan tapi berbulan-bulan lamanya.

Di sudut lain, Bara menatap Aira yang bercengkrama dengan lana setelah Nani dan Mita menggiring anak-anak mengantri untuk pemeriksaan kesehatan.

Ada rasa cemburu pada Lana yang di peluk hangat oleh Aira.

'Bagaimana mereka bisa begitu akrab bahkan di pertemuan pertama mereka? ' batin Bara tak percaya.

"Anak siapa yang ditemani Aira itu, Bara? " tanya Siska yang ikut melihat heran pada keakraban keduanya.

"Putrinya dokter Bu, terpaksa diajak karena pengasuh nya mendadak pulang kampung."

"Oh gitu, mamanya anak itu kemana? "

"Baru meninggal setahun yang lalu Bu, terkena kanker payudara."

"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, kasihan sekali. Kok bisa akrab ya sama Aira? "

"Dokter sempat cerita, mereka pernah bertemu sebelumnya di supermarket bulan lalu. Dokter juga kaget, putrinya nggak takut sama sekali sama Aira. Kalau sama orang lain dia takut Bu. Tadi saya lihat di bujuk Nani sama Mita, anak itu juga sembunyi."

"Pasti trauma kehilangan mamanya di usia masih kecil. Apa Aira mirip mamanya jadi dia terlihat akrab? "

"Bara nggak tahu, Bu. Bisa jadi begitu."

Bara menarik nafas dalam, ada sesuatu yang membuat dadanya tiba-tiba sesak, seperti batu yang menimpa.

Sesak, karena melihat Aira seperti ibu bagi Lana.

.

.

.

1
falea sezi
salah sendiri lu dulu bodoh manut aja kata emak lu skg nyeselkan
falea sezi
uda lah bar elu uda cerai ma Aira move on sana lu uda talak 3 lo ma Aira makanya jangan main main sama talakkk
falea sezi
inget aira uda talak3 g bs balik. kecuali lu nikah lagi ma cowok. lain
Lee Mba Young
Bara terlalu lemah, bisa di setir. gk pantes buat aira yg 👍 dan pejuang. laki gk tegas gk bisa jd imam kluarga. krn sejatinya pemimpin hrs tegas.
Happy Kids
masa bara ga ngerasa modus ibunya? licik jg ni wanita paruh bayaa. kebelet kaya 🤭
Lee Mba Young: laiya laki terlalu bodoh 😂 gk teges blas.
total 1 replies
falea sezi
hilal. jodoh airauda ketebak hehehe
falea sezi
laki kayak bara ini plin plan terus nurut di ketek emaknya.. cpet donk buat Aira move on ma cogan atau duda kaya gt loh thor
Happy Kids
sama yg lain aja. kasih aja bara ke rasti. soalny kl dipaksa jg kasian aira. dia berhak diterima dan dicintai
falea sezi
kapok kau bara abis ne author kasih jodoh aura laki kaya raya ganteng perjaka ortunya gk. toxic baru deh nyesel loe
Cahaya Tulip: omoo.. 😁
total 1 replies
falea sezi
bara plin plan males deh cowok kayak gini.. mending Aira kasih jdoh lain yg ortunya nrima Aira thor biar nyesel di bara yg nurut aja kata emak. nya
Happy Kids: skalipun dipaksain yg ada sakit ati. si norma jg pengen ngebet jd kaya 🤭
total 1 replies
falea sezi
lanjut
Cahaya Tulip: siap kak.. msh on progress yg ini.. di up hari ini .. 🙏🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!