NovelToon NovelToon
Rahasia Prajurit Li

Rahasia Prajurit Li

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Kehidupan Tentara / Romansa / Fantasi Wanita
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

Dikorbankan kepada dewa di kehidupan sebelumnya, Yun Lan kembali hidup sebelum semuanya hancur. Kali ini, ia punya kekuatan setara sepuluh pria dan satu tujuan: melindungi ayahnya dan menolak takdir.
Untuk mencegah ayahnya kembali ke medan perang, ia menyamar menjadi pria dan mengambil identitas ayahnya sebagai jenderal. Namun di tengah kamp prajurit, ia harus menghadapi panglima Hong Lin—tunangannya sendiri—yang selalu curiga karena ayah Yun Lan tak pernah memiliki putra.
Rebirth. Disguise. Kekuatan misterius. Tunangan yang berbahaya.
Takdir menunggu untuk dibalik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 10.Kondisi.

Jalan desa malam itu lengang.

Hanya suara langkah tergesa seorang perempuan yang memecah sunyi, diselingi napas yang masih belum teratur sejak perdebatan di halaman rumah.

Ibu Yun Lan tidak menoleh ke belakang.

Ia bahkan tidak sadar kapan selendangnya terlepas sedikit dari bahu. Pikirannya terlalu penuh.

Bayangan meja batu yang terangkat.

Pohon jati yang tumbang hanya dengan satu pukulan.

Dan tatapan mata putrinya.

Tatapan yang… terlalu mirip dengan suaminya ketika masih mengenakan baju zirah. Sifat putrinya yang sama dengan suaminya jika sekali memutuskan maka dirinya tidak akan gentar, dan akan terus menerjangnya walaupun halangan banyak di setiap jalannya mengambil keputusan.

Rumah tabib desa terlihat redup di kejauhan. Sebuah lampu minyak kecil masih menyala di serambi, pertanda sang tabib belum tidur.

Sebelum ia sempat mengetuk pintu—

Batuk keras terdengar dari dalam.

Batuk yang dalam.

Batuk yang seperti mengoyak dada.

Tubuh ibu Yun Lan langsung membeku di ambang pintu.

Ia mengenal suara itu.

Ia hafal suara itu.

Itu suara suaminya.

Batuk yang dulu hanya sesekali terdengar ketika musim dingin.

Kini terdengar seperti orang yang berusaha mengeluarkan sesuatu dari paru-parunya… dan gagal.

Ia mendorong pintu tanpa mengetuk.

Tabib desa terkejut melihatnya masuk begitu cepat.

“Ah, Nyonya Li—”

“Suamiku!” suaranya gemetar. “Batuknya—”

Tabib itu menghela napas panjang.

Wajah tuanya tampak lebih lelah dari biasanya.

Di ranjang bambu di sudut ruangan, Jenderal Li—yang kini hanya dikenal sebagai pandai besi desa—terbaring pucat. Dadanya naik turun berat. Keringat membasahi pelipisnya meski udara malam dingin.

Batuk itu kembali datang.

Lebih keras.

Tubuhnya sedikit terangkat setiap kali batuk menyerang, seolah ada sesuatu di dalam dadanya yang menolak keluar.

Ibu Yun Lan mendekat cepat.

Duduk di samping ranjang.

Menggenggam tangan suaminya yang terasa panas.

“Kenapa jadi seperti ini…” bisiknya, hampir tidak terdengar.

Tabib mendekat, membawa mangkuk ramuan hangat.

“Batuk ini bukan batuk biasa, Nyonya.”

Ia ragu sejenak.

Seolah memikirkan apakah ia harus mengatakan yang sebenarnya.

Tetapi melihat wajah perempuan di hadapannya, ia tahu ia tidak bisa lagi menutupinya.

“Luka dalam lama yang dulu tidak pernah benar-benar sembuh… mulai bereaksi.”

Ibu Yun Lan menoleh pelan.

“Apa maksudmu?”

Tabib duduk di bangku kecil.

“Dulu, saat pertama kali Tuan Li datang ke desa ini bertahun-tahun lalu, saya sudah memeriksanya. Paru-parunya pernah mengalami tekanan hebat akibat penggunaan tenaga dalam berlebihan.”

Ibu Yun Lan membeku.

Tenaga dalam.

Kata itu seperti membuka kembali pintu masa lalu yang mereka paksa tutup rapat.

“Waktu itu kondisinya masih bisa ditahan. Karena ia berhenti bertarung. Berhenti menggunakan tenaga dalam.”

Tabib menatap Jenderal Li yang batuknya mulai mereda.

“Tapi tubuh tidak pernah lupa luka lama, Nyonya.”

Suasana ruangan menjadi sangat sunyi.

Hanya suara api kecil di tungku tanah yang terdengar.

“Jika ia kembali ke medan perang,” lanjut tabib pelan, “dan memaksakan tenaga dalamnya lagi…”

Tabib tidak langsung menyelesaikan kalimatnya.

Ia menatap ibu Yun Lan.

Dan tatapan itu sudah cukup menjelaskan semuanya.

“...ia tidak akan selamat.”

Tangan ibu Yun Lan yang menggenggam tangan suaminya langsung mengencang.

Matanya melebar.

Untuk beberapa detik, ia tidak bisa bernapas.

“Tidak… mungkin…”

“Saya tidak pernah berani mengatakannya langsung,” ucap tabib jujur. “Karena Tuan Li selalu terlihat kuat di luar. Tapi tubuh bagian dalamnya… sudah lama rapuh.”

Air mata ibu Yun Lan jatuh tanpa suara.

Ia datang ke sini dengan niat menceritakan rencana gila putrinya.

Dengan niat meminta suaminya menghentikan Yun Lan.

Tetapi sekarang…

Semua kata itu tertelan di tenggorokannya.

Karena kenyataan di hadapannya jauh lebih menakutkan.

Bukan kemungkinan.

Tetapi kepastian.

Jika suaminya pergi memenuhi titah kaisar…

Ia akan mati.

Bukan mungkin.

Tetapi pasti.

Tabib kembali berbicara pelan.

“Saya tahu Tuan Li bukan orang biasa, Nyonya. Cara tubuhnya menahan sakit ini saja sudah berbeda dari orang biasa. Tapi justru itu yang berbahaya. Orang seperti dia… akan memaksakan diri sampai tubuhnya hancur.”

Ibu Yun Lan menunduk.“Aku tahu maksud tabib. ”

Air matanya jatuh ke punggung tangan suaminya.

Ia tahu itu benar.

Ia mengenal suaminya lebih dari siapa pun.

Pria itu akan tetap pergi.

Akan tetap bertarung.

Akan tetap menggunakan tenaga dalamnya.

Meski tahu itu membunuhnya.

Demi kaisar.

Demi negeri.

Demi prinsipnya.

Dan tiba-tiba…

Wajah Yun Lan muncul di benaknya.

Tatapan tajam itu.

Suara mantap itu.

“Ayah tidak akan pergi.”

Kalimat itu kini terdengar berbeda di telinganya.

Bukan keras kepala.

Bukan emosi.

Tetapi… satu-satunya jalan.

Ia perlahan mengusap kening suaminya.

“Dia tidak boleh pergi…” bisiknya lirih.

Tabib mengira itu hanya bisikan seorang istri yang cemas.

Ia tidak tahu bahwa di kepala perempuan itu, keputusan besar sedang terbentuk.

“Tabib,” ucap ibu Yun Lan pelan, “apa yang harus dilakukan agar ia pulih?”

Tabib tampak sedikit terkejut.

“Istirahat total. Tidak boleh mengangkat beban berat. Tidak boleh marah. Tidak boleh menggunakan tenaga dalam sama sekali. Setidaknya beberapa bulan.”

Beberapa bulan.

Sedangkan titah kaisar meminta keberangkatan dalam hitungan hari.

Ibu Yun Lan mengangguk pelan.

“Saya titipkan suami saya pada Anda.”

Tabib mengangguk.

“Tentu, Nyonya. Selama ia di sini, saya pastikan kondisinya stabil.”

Ibu Yun Lan berdiri perlahan.

Ia menatap suaminya lama sekali.

Wajah pria itu tampak jauh lebih tua dalam cahaya lampu minyak.

Bukan lagi jenderal gagah yang dulu ditakuti musuh.

Hanya seorang pria lelah… yang sudah terlalu banyak bertarung.

Dan untuk pertama kalinya malam itu…

Ia tidak lagi memikirkan hukum kaisar.

Ia tidak lagi memikirkan risiko penyamaran.

Ia hanya memikirkan satu hal.

Suaminya harus hidup.

Apa pun caranya.

Walaupun dia merasa egois tapi ucapan putrinya semuanya benar.

Ia melangkah mundur.

Keluar dari rumah tabib.

Udara malam menyentuh wajahnya yang basah oleh air mata.

Langkahnya pelan sekarang.

Tidak tergesa.

Tidak panik.

Pikirannya… jernih.

Aneh sekali.

Semakin jelas ia melihat jalan yang tadi begitu ia tolak mentah-mentah.

Yun Lan.

Putrinya.

Anak yang ia kira rapuh.

Anak yang ternyata memiliki kekuatan yang bahkan tidak dimiliki ayahnya.

Mungkin…

Bukan takdir yang salah.

Mungkin ia yang selama ini menolak melihat kenyataan.

Ia berhenti di tengah jalan desa.

Menatap langit.

Bulan separuh itu menggantung pucat.

“Dewa Yun…” bisiknya pelan, “kalau memang ini kehendakmu… lindungi anakku.”

Air mata terakhir jatuh.

Lalu ia melanjutkan langkahnya pulang.

Dengan keputusan yang sama… seperti Yun Lan.

Besok pagi…

Ia tidak akan lagi melarang putrinya.

Ia akan membantunya.

Karena sekarang ia tahu.

Bukan Yun Lan yang nekat.

Tetapi keadaan yang memaksa mereka memilih jalan yang paling berbahaya…

Demi satu hal yang paling sederhana.

Keluarga mereka tetap hidup.

1
Nurhasanah
suka bangett cerita mu thor .... rajin2 up ya thor semangattt 🥰🥰🥰💪💪💪💪
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
kau bukan tidak berguna tapi kau terlalu berharga untuk anak yang sudah kau besarkan Jendral Li
Nurhasanah
makin seru .. semangatt thor 🥰🥰🥰
Nurhasanah
lanjut thor ... semangattt 💪💪💪🥰🥰🥰🥰
Nurhasanah
karya bagus gini semoga banyak yg baca ya thorr semangatt ... suka bangett ceritanya 🥰🥰🥰🥰🥰
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
mampir dulu aku
azka aldric Pratama
hadir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!