NovelToon NovelToon
Bayangan Di Yalimo

Bayangan Di Yalimo

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Anak Genius
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: Laila ANT

Yohan, seorang pemuda urban, mewarisi rumah bobrok di Yalimo dan bertekad menjualnya. Rencananya terhalang oleh roh ibunya, Sumiati, yang terikat pada tanah itu oleh 'Janji Darah'. Dalam upaya investigasi yang membawanya jauh ke pedalaman Papua, Yohan harus mengorbankan identitas modernnya (Pertukaran Jiwa) demi membebaskan Sumiati. Setelah berhasil, ia secara tidak sengaja melepaskan Kutukan Primordial yang lebih tua—energi jahat yang sebelumnya ditahan Sumiati—dan dipaksa menjadi 'Penjaga Pusaka' sejati. Yohan memimpin komunitas melawan serangan hukum dan militer korporat, yang berpuncak pada kemenangan spiritual atas kekayaan. Perjalanannya berakhir ketika ia menyadari bahwa pengorbanan terbesar bukanlah aset, melainkan kemampuan untuk memimpin dengan kerendahan hati dan tanpa kepastian diri, mengubahnya dari pewaris sinis menjadi pemimpin spiritual yang utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keheningan yang Mematikan

Yohan membuka mata. Kepalanya sakit berdenyut, bukan karena kedinginan spiritual, melainkan kelelahan yang nyata dan total. Rasa lemas memeluk seluruh tubuhnya. Sudah berapa lama ia tertidur?

Yang aneh adalah ini adalah tidur pertamanya yang nyenyak sejak ia kembali ke Yalimo. Tidak ada lagi suara isakan, tidak ada kamboja busuk yang mencekiknya. Ketakutan spiritual terpersonalisasi telah hilang. Ruangan kamar warisan yang diselimuti tirai debu terasa hening dan mati, tetapi damai—kedamaian yang seolah-olah ditarik dari energi vital bumi.

Ia bangkit dari sofa tua, tubuhnya sakit, mengenali pemandangan yang sama—kursi reyot, meja kerja ayahnya, debu yang melapis. Pusaka Batu tergeletak di meja samping, dilingkari taplak usang. Patung itu, kini tanpa aura roh terikat Sumiati, tampak tak berbahaya, namun memancarkan kelembapan yang tidak manusiawi.

Yohan meraihnya. Sentuhannya, dingin, sangat dingin, lebih buruk dari mayat yang dia pegang. Rasanya Pusaka itu menyerap sisa kehangatan dari telapak tangannya. Ini adalah Pusaka yang kurelakan kebebasanku untuknya. Bebas, tidak lagi terikat Janji Darah Yosef. Tapi kini kosong, telanjang, dan melepaskan apa pun yang ditahannya, batinnya, menegakkan punggungnya yang pegal.

Tiga hari telah berlalu. Dia menghabiskan hari pertama untuk pingsan, membiarkan tubuhnya pulih dari kejutan energi. Hari kedua, ia habiskan untuk memastikan Marta dan para sesepuh diamankan, dan mengizinkan Gultom serta dewan muda mengatur urusan desa pasca-krisis. Marta dan dua sesepuh dipisahkan dalam gubuk yang dijaga ketat, jauh dari Pusaka.

Kini, Sudah waktunya Yohan, Sang Penjaga yang baru, menghadapi konsekuensi itu.

Ia berdiri di ambang jendela. Sinar matahari pagi jatuh menyaring dari celah atap, tetapi di luarnya, hutan di sekitar pekarangan tampak mengerikan. Daun-daun yang tadinya hijau gelap Papua, kini menggulung, coklat kaku, dan mulai rapuh. Tanah terasa dingin. Semak kamboja busuk yang Yohan kaitkan dengan Sumiati sekarang benar-benar mati, pucat pasi.

“Sumiati membenci ini, tetapi kehadirannya dulu melindungi dari pembusukan ini,” Yohan berbisik ke udara kosong.

Yohan bergegas keluar, rasa lapar segera hilang saat ia mengamati skala pembusukan ini. Itu bukan hanya pekarangannya. Garis kematian mengikuti jejak energinya.

Ia menemukan Gultom berdiri di tepi lahan sawah yang berbatasan dengan rumahnya. Gultom tampak muram, melihat tanaman padi yang sudah berbuah, kini terkulai lesu, batangnya membusuk cepat.

“Yohan! Kau sudah sadar. Bagus,” sapa Gultom. Pria itu menyembunyikan keterkejutannya melihat ketegasan dan otoritas baru dalam diri Yohan, tetapi kekhawatirannya melampaui sopan santun.

“Kami butuh pemimpinmu sekarang.”

“Tanamanmu. Semuanya,” Yohan menunjuk ke arah barisan padi yang sekarat.

“Berapa lama ini terjadi?”

“Tiga hari, semenjak malam pelepasan roh ibumu,” kata Gultom dengan suara serak. Ia mendongak, menatap Yohan dengan tatapan yang mencampurkan rasa syukur karena Sumiati bebas dan kecurigaan atas apa yang menggantikannya.

“Ini bukan layu biasa, Yohan. Rasanya dingin. Seperti dibakar oleh es, katanya nenek-nenek di desa.”

“Sakit. Aku sudah merasakannya,” kata Yohan, merasakan hawa dingin Pusaka masih melekat di ujung jarinya.

“Orang-orang mulai sakit,” lapor Gultom.

“Bukan demam atau muntah. Tapi pusing, rasa tidak nafsu makan. Paru-paru mereka berat. Aku yakin, ini efek dari Pusaka. Ina pasti sudah memperingatkanmu.”

“Dia memperingatkan tentang Kutukan Primordial, yang akan terlepas jika ikatan lama diputuskan. Aku sudah melakukannya,” jawab Yohan jujur.

“Aku bersyukur ibumu bebas, Yohan. Aku mengagumi keutuhan jiwamu,” Gultom melangkah mendekat, matanya menatap Pusaka di balik jendela Yohan.

“Tetapi, warga mulai takut padamu. Ada yang berkata, ‘Yohan mengganti hantu yang ia usir dengan bencana alam. Roh itu, setidaknya, tahu cara menjerit, bukan hanya membunuh kita dengan diam.’”

Yohan mengeraskan rahangnya. Keraguan menusuk batinnya: Apakah aku membuat pilihan yang benar? Kebebasan Sumiati di atas keselamatan Yalimo?

“Itu fitnah dari sisa pengikut Marta. Biarkan aku berinvestigasi dulu,” kata Yohan, mencoba meraih rasionalitas.

“Dingin ini. Ini elemental. Beritahu aku, adakah sumber daya alam yang aneh dalam tiga hari terakhir ini? Selain pembusukan, apalagi?”

Gultom menatap Yohan, mendesah berat.

“Bukan fitnah lagi, Yohan. Kami mengunci Marta. Kami melihat Patung itu dengan mata kepala sendiri. Tetapi malam tadi, kami mendapati kambingnya Pak Hidayat mati—tidak diserang predator, tidak sakit, hanya terbaring kaku, seluruh darahnya beku. Kami menemukan es di lehernya.”

“Es?” Yohan terkejut. Papua di daerah Yalimo sangat jarang melihat pembekuan. Itu anomali ekstrim.

“Dan Marta. Marta yang diisolasi mulai berteriak histeris, menyanyikan nyanyian Yosef lama. Dia menuduh Pusaka mencoba bicara dengannya. Padahal, kita sudah yakin Pusaka sudah bersih dari Janji Darah, kan?”

“Sumiati bebas. Patung itu bersih. Energinya yang kutinggalkan telah menyerap ikatan kejam itu. Tapi Pusaka adalah jangkar Yalimo. Itu selalu primordial, Gultom. Kutukan ini adalah akar kegelapan Yalimo yang terlepas,” jelas Yohan, nada suaranya tegas seperti seorang guru spiritual, meskipun hatinya dipenuhi kegelisahan. Ia harus memproyeksikan kepastian demi warga.

“Mungkin Kutukan itu hanya menunggu penyangga Yosef, roh Sumiati, dicabut,” Gultom merespon, melangkah mundur sedikit, takut dengan implikasi yang baru Yohan konfirmasi.

“Roh Sumiati melindungimu, tetapi tidak desa.”

“Rohnya dulu terikat paksa. Sekarang dia memilih melepaskan,” Yohan membela, lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri.

“Kutukan Primordial ini, ia tidak menakuti atau menyiksa; ia membekukan dan membunuh. Itu adalah kekacauan, bukan dendam. Kita harus menemukan sumber kebocoran Kutukan.”

“Kami rasa sumbernya Air,” Gultom menyimpulkan, nadanya pelan dan mengancam.

“Ikan-ikan mulai mengambang pagi ini di aliran utama. Tidak ada yang mau minum air dari hulu, takut akan penyakit baru. Sungai yang menopang kehidupan kita di Yalimo... dia adalah garis hidup desa ini. Kalau sungai sakit, kita semua mati.”

Yohan menatap Gultom yang panik. Dalam pertempuran hukum dan rohani, ia siap menghadapi David, Marta, dan bahkan roh Sumiati. Tetapi melawan elemen air dan tanah yang melawannya, adalah konflik yang lebih brutal dan tak terpersonalisasi.

“Bawa aku ke hulu, Gultom. Sekarang,” pinta Yohan, matanya terpaku pada Patung Pusaka Batu yang diletakkan di bangku depan rumahnya. Patung itu harus dimurnikan total, bukan hanya dilepaskan dari ikatan.

Perjalanan singkat ke hulu sungai yang biasa mereka sebut Air Murni terasa panjang dan menakutkan. Aroma yang tajam, asing bagi Yalimo, menusuk hidung Yohan: belerang dingin dan tembaga berkarat.

Saat mereka tiba di tepi hutan yang dibuka sedikit oleh warga untuk ladang—sekarang ladang itu dipenuhi pembusukan kaku dan es tipis—Yohan melihat pemandangan itu. Air Murni Yalimo, yang biasa jernih mengalir seperti kaca pecah, kini adalah genangan mengerikan.

Aliran sungai besar itu telah melambat. Airnya berubah warna. Tidak hanya keruh kecoklatan karena lumpur, tetapi keruh hitam—pekat, dengan minyak tipis yang mengambang dan pantulan merah pucat di dalamnya.

Gultom berhenti mendadak di ambang aliran. “Lihat. Aku tidak pernah melihat yang seperti ini.”

Yohan maju, air mata panas Yohan melawan dingin primordial yang keluar dari air itu. Udara di dekat sungai terasa beberapa derajat lebih dingin daripada hutan di sekitarnya. Tidak ada kehidupan di sini, pikir Yohan ngeri.

Yohan menyentuh air itu dengan hati-hati. Rasanya seperti menyentuh kaca es yang mencair, berbau busuk. Rasanya menghisap kehangatan tubuhnya secara fisik, membiarkan tubuhnya diserbu hawa dingin.

Ia ingat sentuhan roh Sumiati di klimaks ritual, sebuah hawa dingin spiritual yang penuh rasa bersalah dan kesedihan. Dingin itu manusiawi. Dingin di sungai ini adalah kekosongan tak bernyawa.

Yohan tersentak mundur, tangannya basah dan mati rasa.

“Kutukan itu,” bisik Yohan, mengenali energi ini, yang terlepas sempurna dari ikatan Sumiati. Ini adalah Kutukan Primordial itu, dan itu sudah menyebar melalui darah Yalimo—air.

Kekuatan yang lebih gelap dan jauh lebih kuno dari dendam Sumiati, kini terbebas dan siap membinasakan Yalimo total. Aku menyelamatkan Ibuku, tapi mungkin aku membunuh Yalimo.

Gultom berbalik dan menyentuh Pusaka Batu di tangan Yohan. Patung itu memancarkan rasa kaku, mematikan.

“Pusaka. Patung yang menopang hidup kita, sekarang melepaskan energi ini. Kita tidak akan bertahan seminggu lagi, Yohan. Tolong. Lakukan sesuatu dengan warisan Ayahmu.”

Yohan menggenggam Pusaka Batu. Jantungnya berdebar, terisi urgensi baru yang melebur rasa lelahnya. Tugas penyelamatannya yang sesungguhnya baru saja dimulai, kini bukan soal menyelamatkan keluarga dari Janji Darah, tetapi menyelamatkan Yalimo dari dirinya sendiri.

“Aku sudah mengerti,” Yohan berkata, suaranya pelan dan mengancam.

“Aku telah mencabut penjara Sumiati. Kini aku harus mengurus narapidana lama.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!