NovelToon NovelToon
Rumah Yang Tenang Untuk Pulang

Rumah Yang Tenang Untuk Pulang

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aizu1211

Hidup Alya sebagai sandwich generation bagi dua orang tua yang sakit, bagi keluarga yang bergantung, dan bagi dirinya sendiri yang jarang diberi ruang untuk lelah. Di usia seperempat abad lebih, ia belajar bertahan tanpa berharap apapun.
Hingga seorang pria datang dan mengubah pola hidupnya, Reyhan. Hanya dengan kehadiran yang tenang dan kesediaan untuk tinggal, bahkan saat hidup Alya terlalu rumit untuk diringkas dengan kata cinta.
Dalam pernikahan yang dewasa dan tidak ideal, Alya perlahan belajar bahwa menjadi kuat tidak berarti harus sendirian. Bahwa bersandar bukan kelemahan. Dan bahwa cinta, kadang, tidak datang untuk menghapus beban, melainkan untuk menopangnya bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aizu1211, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20

“Untuk kesuksesan adik kita hari ini, cheersss!!!” seru Mas Aldo di ruangan yang sudah sepi karyawan.

Ting!!!

Hari sudah semakin sore saat suara botol kaca bergema di ruangan, mereka merayakan keberhasilan hari ini dengan teh botol.

Mereka benar-benar menemani Alya hingga acara benar-benar selesai.

“Terimakasih ya kakak-kakak sekalian sudah mau bantu dan support aku sampai acara selesai”

“Santai Al, kita kan satu Tim, susah senang harus bareng-bareng” ucap Indri setelah meneguk minumannya.

“Iya nih, kan kamu juga bantuin kl kita ada pertemuan, bener kata Indri kita susah seneng bareng” Pingkan kembali menimpali.

Tatapan kagum itu terlihat jelas, hidup Alya tidak mudah, tapi ia selalu mengusahakan yang terbaik.

“Aku bersyukur banget, dapet rekan kerja yang solid kayak kalian, juga narasumber yang hebat kayak pak Reyhan, ini semua berkat kalian semua” ucap Alya haru.

Begitu nama Reyhan disebut mereka semua menahan senyumannya tidak ingin merusak momen, tapi sialnya Alya menyadari itu.

“Iiih kalian pada kenapa siii, aku sama pak Reyhan cuma rekan kerja looo, dia sudah dua kali jadi narasumber program ku” Alya nampak sibuk mengklarifikasi, tapi senyuman yang mereka tahan akhirnya berubah jadi tawa.

“Udah makan siang bareng masih panggil Pak saja nih Al?” goda Pingkan.

“Mbak Pingkah ih, kita Cuma ngomongin kerjaan mbak”

“Makan siang berdua? Kapan?” tanya Ilham kepo.

“Wah ketinggalan banget ini kita Mas” timpal Aldo yang kini juga penasaran.

“Seminggu yang lalu mereka makan siang bareng, naik mobil Pak Reyhan” jawab Indri semakin memanas-manasi keadaan.

Aldo dan Ilham menganga, kemudian menatap Alya yang kini menutup wajahnya malu.

“Itu beneran Al?” tanya Aldo yang masih tak percaya.

“Beneran lah, kita lihat sendiri sampe adik kecil kita ini masuk mobil bapak dosen”

“Aaah udah ihh, kita beneran Cuma ngomongin kerjaan, kakak-kakaku tercinta”

“Iya deeeh si paling profesional” ucap mereka serempak menggoda Alya.

“Memang profesional kok” balas Alya jumawa.

“Tapi Al semua orang sudah pada sadar loo sama kedekatan kalian” Indri membuka Obrolan ringan.

“Kita gak ngapa-ngapain kok”

Pingkan berdecak pelan “Kalian itu gak perlu dekat dan saling sentuh, kita tadi notice kalian saling bertukar tatap”

Indri mengangguk membenarkan, “Benar itu, so deep banget tatapan kalian tuh”

“Masa iya sih” ucap Alya yang masih denial.

“Iya adiiik” ucap mereka lagi secara bebarengan.

“Susah nih ngomong sama orang yang gak pernah pacaran” itu valid.

Mendengar itu Alya sedikit termenung, apakah benar yang dikatakan kakak-kakaknya ini.

Mereka memutuskan pulang saat semua minuman dan obrolan hari itu sudah habis.

Di perjalanan Alya masih memikirkan obrolan singkat bersama rekan satu timnya, Alya memang sudah merasa ada yang berbeda dari kedekatan mereka berdua.

Tapi untuk menarik kesimpulan seperti yang dilakukan teman-temannya, bukankah itu terlalu dini?

Soal pacaran Alya memang tak pernah punya hubungan dengan pria manapun sebelumnya, jangankan pacaran, berpikir untuk dekat dengan seorang pria Alya tidak punya waktu.

Hidupnya selama ini hanya seputar belajar, karir dan keluarga yang sudah menyita banyak pikirannya.

Alya tak pernah menyesali semua itu, ia yakin semua pasti sudah ada masanya.

Di waktu yang hampir bersamaan, Reyhan masih berada di ruangannya di kampus.

Ia memutuskan tidak langsung kembali ke rumah karena ada pekerjaan, sebenarnya ia bisa langsung pulang begitu acara itu selesai.

Tapi opsi untuk bicara dengan Alya selalu membuatnya terpaku di tempat.

Gedung itu mulai lengang, sebagian lampu sudah dipadamkan.

Ia duduk sendirian, menatap layar laptop yang sejak tadi menyala tanpa benar-benar ia perhatikan.

Catatan evaluasi kegiatan masih terbuka. Beberapa poin sudah ia tulis rapi—tentang dinamika peserta, tentang efektivitas sesi refleksi, tentang potensi pengembangan program ke depan. Semua itu seharusnya cukup untuk menutup hari.

Tapi pikirannya tidak sepenuhnya ada di sana.

Ketukan pelan terdengar di pintu.

“Masih di sini?” suara itu akrab.

Reyhan menoleh. Arga, rekan dosennya, berdiri sambil membawa dua gelas kopi dari mesin.

“Biasalah,” jawab Reyhan singkat.

Arga masuk tanpa menunggu dipersilakan, meletakkan satu gelas kopi di meja Reyhan. “Program hari ini lancar, ya?”

“Iya.”

“Kelihatan.”

Reyhan mengangguk, kembali menatap layar. Arga tidak langsung pergi. Ia duduk di kursi seberang, menyesap kopinya pelan.

“Ngomong-ngomong,” katanya santai, “staf Bappeda yang jadi PIC itu namanya… Alya, ya?”

Reyhan menoleh sekilas. “Iya.”

“Dia menarik,” ujar Arga ringan, tanpa maksud apa pun—atau setidaknya begitu nadanya.

Reyhan tidak menjawab.

“Aku banyak dengar tentang program kolaborasi kampus kita dan Alya,” lanjut Arga, seolah membaca keheningan itu. “Cara dia kerja. Nggak banyak bicara, tapi kelihatan pegang kendali.”

Reyhan menghela napas pelan. “Ya dia memang berbeda, muda dan multitalenta”

Arga menatapnya. “Kamu sering kerja bareng dia?”

“Beberapa bulan terakhir.”

“Hm.” Arga menyandarkan punggung ke kursi. “Kamu berubah, tahu.”

Reyhan mengangkat alis. “Berubah gimana?”

“Lebih… nunggu.” Arga tersenyum kecil. “Biasanya kamu langsung masuk kalau ada ide. Sekarang kamu sering berhenti, lihat dulu reaksinya.”

Reyhan tidak menyangkal. Ia sendiri baru menyadari itu setelah Arga mengatakannya.

“Mungkin karena konteksnya beda,” jawabnya akhirnya.

“Bisa jadi,” kata Arga. “Atau karena orangnya.”

Kalimat itu dibiarkan menggantung.

Beberapa detik berlalu. Reyhan kembali menatap layar, lalu menutup laptopnya perlahan.

“Menurutmu,” katanya kemudian, “orang bisa sadar perasaannya lewat cara kita memahaminya?”

Arga tertawa pelan. “Pertanyaan akademik atau personal?”

Reyhan tidak menjawab. Itu sudah cukup sebagai jawaban.

“Kalau menurutku,” kata Arga akhirnya, “orang paling jujur itu pas lagi capek. Dan kamu hari ini… kelihatan peduli.”

Reyhan mengernyit samar. “Peduli itu bukan perasaan.”

“Bukan,” Arga mengangguk. “Tapi sering jadi pintu masuknya.”

Reyhan terdiam.

Ia teringat Alya yang berdiri di pinggir ruangan, memastikan semua berjalan tanpa mengambil panggung. Terbayang caranya mendengarkan peserta tanpa menyela. Cara ia menolak dipuji, seolah keberhasilan hari ini bukan miliknya sendiri.

Dan entah sejak kapan, Reyhan mulai memperhatikan hal-hal kecil itu.

“Kamu tahu,” kata Arga lagi, kini lebih pelan, “nggak semua orang cocok jadi partner kerja. Dan lebih sedikit lagi yang cocok jadi partner hidup.”

Reyhan menoleh. “Kamu kebanyakan minum kopi.”

Arga tersenyum. “Bisa jadi. Tapi aku jarang salah soal ini.”

Sebelum pergi Arga kembali menoleh kepada Reyhan, “Dan aku yakin ada sesuatu yang terjadi dengan perasaanmu ke dia”

Setelah Arga pergi, Reyhan duduk sendiri lagi. Ruangan kembali sunyi. Ia berdiri, merapikan meja, lalu mengambil tasnya.

Di perjalanan pulang, lampu jalan menyala satu per satu. Reyhan menyetir dengan kecepatan sedang, pikirannya tidak ke mana-mana—dan justru ke banyak hal sekaligus.

Ia teringat satu momen siang tadi, ketika Alya berdiri di dekat pintu aula, menatap peserta yang pulang. Wajahnya lelah, tapi tidak kosong. Ada kepuasan kecil di sana—bukan karena berhasil, melainkan karena merasa berguna.

Reyhan menyadari sesuatu yang selama ini luput ia beri nama.

Ia tidak tertarik pada Alya sebagai seseorang yang “butuh ditolong”.

Ia tertarik pada Alya karena Alya selalu menolong tanpa menjadikan dirinya pusat cerita.

Dan mungkin, itu sebabnya ia menahan diri.

Karena Reyhan tahu, perempuan seperti Alya tidak membutuhkan seseorang yang datang membawa solusi. Ia membutuhkan seseorang yang bisa duduk di sampingnya—diam, hadir, dan tidak pergi saat beban kembali datang.

Malam itu, Reyhan sampai di rumah tanpa kesimpulan apa pun. Tidak ada niat besar yang ia rumuskan. Tidak ada keputusan yang ia ambil.

Hanya satu kesadaran kecil yang akhirnya ia terima tanpa perlawanan:

Bahwa di antara semua peran yang ia jalani—dosen, narasumber, pemikir kebijakan—ada satu peran yang mulai ia bayangkan, pelan-pelan.

Bukan sebagai pusat hidup Alya.

Tapi sebagai seseorang yang, suatu hari, cukup kuat untuk menyangga penyangga.

Dan untuk pertama kalinya, Reyhan tidak merasa perlu buru-buru memahami perasaan itu.

Ia membiarkannya tumbuh.

Seperti kerja yang baik—pelan, konsisten, dan tidak dipamerkan.

TBC

1
Yuni Ngsih
Authooooor ku lg asyik baca dipotong sedih ,karena ceritra ini ada contoh" fakta dlm pek sbg PNS...ok
Elvia Rusdi
Thor. ..Baru Nemu nih karya mu Thor...marathon baca sampui bab trakhir up...baru 4 bab...cerita nya bagus .
Yuni Ngsih
Aùthooor ceritramu kreeeeen banget ,nah itulah seorang PNS yg tanggung jawab terhadap pekerjaan & klwrga hebat peran utamanya Aliya ...mencerminkan anak yg berbakti ,jd bisa menjadi contoh " bg pmbaca kawula muda ....semangat ....& lanjut Thor...ok
Adhiefhaz Fhatim
😍
Adhiefhaz Fhatim
lanjut kk...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!