"Benarkah keberuntungan selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan? Dan apakah nasib buruk adalah sinonim mutlak bagi kesengsaraan?
Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, namun memiliki daya hancur yang cukup untuk membuat manusia memalingkan wajah dalam penyangkalan. Secara insting, kita telah terprogram untuk memuja hal-hal baik sebagai satu-satunya sumber kepuasan. Sebaliknya, saat nasib buruk mengetuk pintu, manusia cenderung mendustakannya—bahkan dengan keras mendoktrin diri bahwa itu adalah 'kesialan' yang tidak seharusnya ada.
Namun, apakah persepsi umum tersebut adalah sebuah kebenaran universal?
Mungkin bagi sebagian besar orang, jawabannya adalah iya. Namun bagi mereka yang memahami cara kerja semesta, pandangan itu sungguh disayangkan.
Sebab di balik setiap keberuntungan yang kita rayakan, selalu ada harga yang tersembunyi. Dan di balik setiap kesialan yang kita benci, mungkin tersimpan satu-satunya jalan menuju sesuatu yang tidak kita bayangkan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Neraka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
penyesalan
Kedua orang itu berjalan beriringan menuju perpustakaan, melewati lorong-lorong sekolah.
Langkah mereka terhenti di tengah lorong yang remang ketika sekelompok teman Seila tiba-tiba muncul dan mengerumuni gadis itu. Andersen terpaksa mundur beberapa langkah, menciptakan jarak yang tak kasat mata namun terasa begitu lebar.
Ia melihat Seila tertawa kecil dalam kepungan obrolan teman-temannya... sebuah dunia yang sangat kontras dengan kesunyian yang ia miliki. Dengan berat hati, Andersen memberikan isyarat pelan bahwa ia akan menunggu di perpustakaan, lalu berbalik pergi.
Di dalam perpustakaan yang dingin dan beraroma kertas tua, Andersen duduk di sudut yang paling tersembunyi. Ia menatap layar ponselnya, jemarinya ragu di atas nama Sheila.
Ia ingin mengirim pesan, bertanya berapa lama lagi ia harus menunggu, namun niat itu mendadak suram.
Andersen menyadari posisinya, ia tidak ingin ponsel Seila bergetar di tengah lingkaran teman-temannya... hanya karena pesan dari seseorang yang dianggap "Tidak ada" atau dijauhi oleh seluruh orang.
Dirinya lebih memilih menelan kesunyian, daripada membuat Seila malu. Namun, ketenangan itu hancur saat ponselnya bergetar dan dirinya mendapatkan panggilan dari Margarette... bukan dari Seila.
"Kamu di mana?" Suara Margarette terdengar tajam dan dingin dari seberang telepon, membelah kesunyian perpustakaan. "Aku masih menunggumu di depan sekolah, Ksatriaku.
Andersen melirik jam dinding yang berdetak monoton. Sudah setengah jam ia duduk menunggu Sheila tanpa kepastian.
Andersen bangkit, dirinya meninggalkan perpustakaan yang masih sunyi itu. Kemudian berjalan menyusuri koridor sekolah yang kini gelap menuju pintu keluar.
Andersen melangkah keluar dari gerbang sekolah yang mulai sepi. Di sana, di bawah semburat cahaya sore yang keemasan, Margarette sudah berdiri menyandar pada badan mobilnya yang mengkilap...
Persis seperti sosok yang tak tersentuh dalam ilustrasinya. Begitu Andersen mendekat, tanpa ragu sedikit pun, Margarette segera melingkarkan lengannya pada lengan Andersen. Gadis itu mendekapnya erat seolah ingin menegaskan kepada seluruh orang bahwa pria itu adalah miliknya.
Margarette sama sekali tidak peduli pada kerumunan siswa yang mulai berhamburan keluar. Ia tetap berdiri dengan dagu terangkat dan senyum tipis yang meremehkan orang yang melihat dirinya.
Para siswa menatap dengan perpaduan antara keheranan dan rasa jijik. Bagi mereka, pemandangan seorang senior terpandang seperti Margarette bersanding dengan si pria dari Indonesia adalah sesuatu yang tidak masuk akal.
Tepat saat itu, Sheila keluar bersama teman-temannya. Langkahnya mendadak kaku, bukunya hampir saja terlepas dari dekapan saat matanya menangkap siluet Andersen yang berasa di antara eratan tangan Margarette.
Darah Sheila seolah mendidih. Ia ingin berteriak, ingin berlari ke sana dan menarik Andersen menjauh dari gadis itu.
Namun, Dirinya terbelenggu. Teman-temannya masih mengelilinginya, asyik merencanakan kunjungan ke sebuah kafe untuk mengerjakan tugas bersama.
Sheila terjebak dalam dilema yang menyakitkan... ia berdiri hanya beberapa meter jauhnya, menyaksikan musuh terbesarnya memamerkan kemenangan, sementara ia sendiri dipaksa tetap tersenyum di tengah tawa teman-temannya yang tidak tahu apa-apa.
Pandangan Sheila dan Margarette sempat beradu di udara. Margarette tidak memalingkan muka... ia justru memberikan tatapan tajam dari balik kacamata cokelatnya.
Sebuah ejekan tanpa kata yang seolah berkata, "Lihat, Sheila? Dia ada di tanganku sekarang." Sheila hanya bisa terdiam dengan kepalan tangan yang tersembunyi di balik buku tugasnya, sementara Andersen hanya mampu, berpasrah diri saat Margarette menuntunnya masuk ke dalam mobil.
Sheila berdiri terdiam di trotoar, matanya masih terpaku pada debu yang ditinggalkan oleh ban mobil Margarette.
Di satu sisi, ada rasa lega yang aneh di sudut hatinya... setidaknya ia tidak perlu merasa bersalah karena telah membiarkan Andersen menunggunya terlalu lama di perpustakaan. Namun, rasa lega itu segera tertelan oleh rasa posesif yang membakar.
"Sheila..." Suara salah satu temannya memecah lamunan pahit itu. Sheila menoleh, menemukan wajah-wajah penuh selidik dari lingkaran pertemanannya.
"Hubunganmu dengan pria itu... apakah benar sedekat yang kami lihat?" Temannya itu melipat tangan di dada, menatap Sheila dengan pandangan yang tidak setuju.
"Kenapa kamu tidak mencari yang lain saja? Di Utrecht ini banyak pria tampan dan berkelas. Apa spesialnya pria dari negeri itu, sih? Apakah karena dia terlihat... 'baik'?"
Temannya menekan kata 'baik' dengan nada sarkasme yang kental. Sheila hanya bisa terdiam...
"Dia tidak seperti yang kalian pikirkan," gumam Sheila lirih, namun suaranya tenggelam dalam riuh rendah argumen teman-temannya yang mulai membandingkan Andersen dengan standar ideal pria di mata mereka.
Sentimen negatif itu terasa seperti tembok tebal yang memisahkan Sheila dari dunianya sendiri.
Mobil mewah itu melaju membelah jalanan Utrecht yang mulai berpendar oleh lampu-lampu kota.
Di dalam kabin yang kedap suara dan beraroma kayu cendana, Margarette masih enggan melepaskan lengan Andersen. Ia menyandarkan kepalanya di bahu pria itu, jemarinya mempererat pelukan dengan pose yang tampak manja.
"Euhmmm, apakah kamu sebenarnya tidak ingin menemuiku?" tanya Margarette dengan nada nakal yang dibuat-buat. Ia melirik Andersen dari balik bulu matanya yang lentik.
"Aku dipaksa menunggu oleh seseorang yang seharusnya tahu cara datang lebih cepat. Itu sangat tidak sopan...
Tentu tidak, Nona Margarette. Saya sudah mencoba datang secepat mungkin tadi. Maafkan saya karena telah membuat Anda menunggu terlalu lama."
"Tidak... aku tidak akan memaafkanmu begitu saja," jawab Margarette singkat. Ia mengeratkan pelukannya, seolah ingin memastikan Andersen tidak bisa bergerak menjauh meski hanya satu inci pun.
Andersen menghela napas panjang, menyadari bahwa permintaan maaf saja tidak akan cukup untuk memuaskan wanita ini. "Jadi... apa yang Anda inginkan dariku Nona Margarette?"
Margarette tersenyum penuh kemenangan. Ia meraih sebuah kotak kado mewah di kursi belakang dan meletakkannya di pangkuan Andersen.
"Kamu harus menemaniku di acara malam ini. Aku sudah menyiapkan kemeja yang pas untukmu. Aku ingin kamu terlihat sempurna di sampingku."
"Acara di Inggris?" tanya Andersen.
"Tentu saja," sahut Margarette tenang. Ia mengangkat wajahnya, menatap Andersen dengan tatapan yang seolah bisa menembus waktu.
"Aku membutuhkan seseorang yang mampu melindungiku... bahkan seseorang yang pernah gagal di kehidupan sebelumnya."
Kata-kata itu menghantam Andersen tepat di dadanya. Margarette mengucapkannya dengan nada yang begitu ringan, seolah-olah kegagalan tragis Andersen di masa lalu bukanlah apa-apa.
Ia tahu Andersen akan melakukan cara apa pun, termasuk menggunakan kemampuannya yang terkutuk, Agar bisa memastikan keselamatan Margarette.
Margarette tidak peduli betapa hancurnya perasaan Andersen saat dipaksa membuat pilihan egois itu lagi. Dirinya tahu, bahwa pria disampingnya ini memiliki banyak hutang atas nyawa yang sudah ia tinggalkan.
Hufftt...
Disaat itu, Andersen mengambil nafas dalam dalam dan mulai mempersiapkan dirinya untuk menghadapi kejadian yang akan terjadi.