Ruoling hidup di istana seperti di neraka setelah ibunya di hukum mati karna katanya 'sudah menuangkan racun di makanan utama saat perayaan ulang tahun Kaisar' hingga banyak yang kehilangan nyawa.
Semua penderitaannya itu di mulai saat dirinya di cap sebagai "anak pembunuh", lalu di fitnah, di jauhi sampai di perlakukan tidak selayaknya tuan putri. Parahnya anak-anak itu tak ragu untuk membayar pelayan yang bekerja dengannya untuk membuatnya berada di posisi yang jahat.
Tapi Ruoling remaja diam saja, tapi beranjak dewasa Ruoling sadar mereka tidak pantas memperlakukannya seperti itu. Namun saat kebenaran tentang ibunya terungkap dalam suatu kebetulan yang tak di sengaja membuat Ruoling rela mempertaruhkan nyawa, masa depan dan namanya semakin buruk untuk membongkar pelaku yang tak pernah di sangkanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak buruk
Beberapa kali dari sudut matanya Ruoling melihat apoteker mencampurkan dua jenis daun dalam mortar batu, lalu menumbuknya dengan ritme halus. Aroma obat yang berubah seiring tekanan membuatnya hingga memutuskan mendekat.
Ruoling berpura-pura sibuk mencari sesuatu di meja itu sembari melirik pekerjaan para apoteker. Apoteker itu sedang mencampurkan bubuk obat yang warnanya berubah dari cokelat muda menjadi merah kehitaman, memasukkan ke dalam wadah.
Kemudian, apoteker itu kembali mencampurkan bahan yang sama dengan Ruoling yang merasa tidak bisa menahan rasa ingin tahunya lebih lama lagi.
“Apakah perubahan warna itu normal?” tanyanya tanpa basi nasi saat ada di dekat apoteker.
Sang senior menghentikan adukan sejenak. Mata sipitnya menatap Ruoling dengan sinis, seolah pertanyaan itu terlalu bodoh untuk ditanyakan.
“Itu terjadi karena reaksi panas ketika dua herbal bertemu,” jawabnya pendek. “Jika tidak berubah warna, itu berarti ada kesalahan bahan. Dan ramuannya harus dibuang—karena bisa beracun.”
Ruoling mengangguk seolah mengerti padahal ia berharap akan mendapat penjelasan lebih, tapi senior itu sudah kembali fokus pada adukannya tanpa memberi kesempatan bertanya lebih jauh.
Ia sendiri memutuskan bertanya hanya sekali saja. Selain karna tidak ingin mencari alasan lagi untuk direndahkan, Ruoling juga takut akan terbawa emosi karna kesinisannya.
Sejak delapan hari yang lalu Aiwen memintanya untuk mencari kesibukan lain setelah ia menyelesaikan pekerjaannya maka dari itu pulang Ruoling banyak bertanya, tapi tanggapan orang-orang di sini sama seperti yang di bayangkannya.
Ruoling menyadarinya memilih untuk satu kali bertanya pada satu orang saja, tapi walau begitu rasa penasarannya pada obat-obatan masih tinggi dan lebih memilih belajar dengan memperhatikan pekerjaan orang-orang di sini.
Sepanjang siang, ia menuruti keinginan Senior Aiwen tanpa mengeluh sambil sesekali memperhatikan apoteker lain bekerja. Ruoling mengambil akar dari rak tengah, memotong daun kering, menimbang tumbuhan dengan timbangan kecil dari perunggu dengan sesekali menoleh pada pekerjaan senior dan Junior.
Sering kali Ruoling hampir menjatuhkan sebuah botol kaca, tetapi berhasil menahannya. Beberapa kali ia masih salah menaruh serbuk jahe di tempat serbuk madu, tapi cepat memperbaikinya sebelum ada yang melihat dan di marahi seniornya.
Tapi walau sudah melakukan semuanya semaksimal yang di bisanya, Ruoling masih mendengar banyak junior menggerutu tentang kecerobohannya dengan suara pelan.
Namun tidak ada kata-kata kejam sampai menyakiti hatinya bahkan tidak ada sindiran tentang ibunya, tidak ada yang memanggilnya “anak pembunuh” seperti di tempat pencucian.
Hal itu membuat Ruoling merasa lebih aman. Menjelang sore hari, ia mendapat tugas tambahan, membersihkan lesung batu besar.
Lesung itu digunakan untuk menumbuk akar keras. Bekas serpihannya menempel di dinding dalamnya. Ruoling harus membersihkannya dengan kain khusus, air herbal, dan tongkat kayu kecil.
"Sakit sekali," keluh Ruoling sambil menatap jari tangannya yang memerah.
Ruoling harus menggosok sisi demi sisi hingga permukaannya kembali halus seperti sediakala hingga membuat tangannya memerah.
“Tunggu sebentar,” kata senior lain sambil memberikan sikat kecil dengan tidak ramah, namun neutral. “Gunakan ini. Lebih mudah dipakai.”
Ruoling menerimanya tanpa mengatakan mengatakan apapun. Selain karna tidak mengenalnya, ia sudah belajar untuk tidak terlalu menganggap orang baru itu baik.
Beberapa tahun ini kehidupan berhasil mengajarkan Ruoling banyak pelajaran berharga hingga membuatnya menjadi sosok seperti ini.
Di mata banyak orang Ruoling terkenal sebagai putri yang kasar, tidak berperasaan, suka cari masalah dan suka membesar-besarkan masalah, tapi tak ada yang tahu kalau semua itu di gunakan Ruoling untuk melindungi dirinya sendiri.
Dengan sikat baru, pekerjaannya menjadi lebih cepat. Dalam satu jam, lesung itu bersih dan mengilap kembali.
Ruoling membawa benda itu mendekati senior Aiwen yang sedang berada da di tempat tamanan obat. "Aku sudah menyelesaikannya," kata Ruoling pada wanita itu.
“Tidak buruk," katanya setelah memeriksa. "Pekerjaanmu selesai, kau boleh kembali dan datang lagi besok pagi."