Shen Yi, tabib desa yang bajunya penuh tambalan, berlutut di sampingnya.
Tanpa ragu, ia pegang pergelangan tangan itu
dan racun dingin yang seharusnya membunuh siapa pun... tak menyentuhnya sama sekali.
Wanita itu membuka mata indahnya, suaranya dingin bagai embun pagi
"Beraninya kau menyentuh Dewi Teratai?"
Shen Yi garuk kepala, polos seperti biasa.
"Maaf, Nona Lian'er. Kalau nggak dicek nadi, bisa mati kedinginan.
Ini ramuan penghangat dulu, ya? Gratis kok."
Dia tak tahu...
sentuhannya adalah satu-satunya harapan Lian'er untuk mencairkan kutukan abadi yang menggerogoti tubuhnya.
Dan juga satu-satunya yang bisa menghancurkannya selamanya.
Dari gubuk reyot di lereng gunung terpencil, hingga dunia jianghu penuh darah dan rahasia,
seorang tabib miskin dan dewi teratai terikat oleh takdir yang tak terucap.
Apa yang terjadi ketika manusia biasa jatuh cinta pada dewi yang terlarang disentuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Laut yang Tak Pernah Diam
Lian'er berdiri di haluan kapal, tangannya mencengkeram pagar kayu sampai buku-buku jarinya memutih. Kabut abadi menyelimuti segalanya. tebal, dingin, dan hidup seperti makhluk yang bernapas. Di depannya, Shen Yi baru saja melompat ke platform batu Gerbang Tersembunyi. Cahaya teratai emas menelannya dalam sekejap, meninggalkan hanya kilau samar yang cepat pudar di kabut.
“Shen Yi!”
Teriakannya tertelan angin dan suara ombak yang semakin ganas. Tubuhnya ingin melompat ikut, tapi kakinya seperti terpaku. Dia tahu kalau dia ikut sekarang, Lan Xue akan menyerang lebih ganas. Mereka harus buka jalan dulu. Shen Yi harus masuk sendirian untuk mulai bersihkan noda itu sebelum terlambat.
Lan Xue mendarat kembali di dek dengan ringan, rambut putihnya berkibar seperti salju yang jatuh terbalik. Matanya merah menyala, tapi ada senyum dingin di bibirnya. Senyum yang mirip sekali dengan Xue Han, tapi lebih tajam, lebih muda, lebih haus akan darah.
“Kau biarkan dia masuk sendirian?” tanya Lan Xue, suaranya seperti es yang retak. “Kau pikir itu bijak, Dewi Teratai? Kakakku sudah di dalam tubuhnya. Setiap detik, dia semakin dekat untuk ambil alih. Kau baru saja kirim kekasihmu ke kuburannya sendiri.”
Lian'er menarik napas dalam. Kelopak teratai mulai berputar di sekitar tubuhnya. bukan badai besar seperti tadi, tapi lingkaran pelindung yang rapat, siap menyerang atau bertahan. Matanya tak gentar.
“Shen Yi lebih kuat dari yang kau kira,” jawabnya dingin. “Dan aku tidak akan biarkan kau atau sisa kakakmu sentuh dia lagi.”
Xiao Feng melompat ke depan Lian'er, pedangnya menyala energi angin. “Kau dengar dia. Kalau mau ambil Shen Yi, kau harus lewati kami dulu.”
Shi Jun berdiri di sisi lain, pedang teratai birunya sudah siap. “Lan Xue… kau seharusnya mati sepuluh tahun lalu. Apa kau rela jadi boneka es hitam demi kakakmu?”
Lan Xue tertawa pelan. tawa yang dingin dan kosong. “Boneka? Tidak. Aku bagian dari dia. Saat kakakku pindah ke tubuh reinkarnasi teratai itu, aku jadi penjaga luar. Kalau dia gagal ambil alih dari dalam, aku yang akan ambil dari luar. Kalian cuma penghalang kecil.”
Dia mengangkat tangan. Es hitam muncul dari dek kapal seperti duri-duri tajam yang tumbuh cepat, mengarah ke Lian'er, Xiao Feng, dan Shi Jun.
Pertarungan meledak lagi.
Lian'er melepaskan kelopak teratai seperti panah bertubi-tubi. Setiap kelopak membawa energi murni yang membakar es hitam saat bersentuhan. Duri es retak dan mencair, tapi Lan Xue bergerak lebih cepat dari yang mereka duga. Dia meluncur seperti bayangan, pisau es hitam di tangannya hampir menyentuh leher Lian'er.
Xiao Feng menangkis di detik terakhir, pedangnya beradu dengan pisau es. Benturan menciptakan percikan dingin yang membuat dek licin.
Shi Jun bergabung dari samping, pedang teratai birunya menebas kaki Lan Xue. Wanita itu menghindar dengan lompatan mundur, tapi darah hitam menetes dari lengan kirinya—darah yang langsung membeku jadi kristal es kecil saat jatuh ke dek.
“Kalian ternyata cukup kuat,” kata Lan Xue sambil menyeka darahnya. “Tapi kalian lupa satu hal. Kakakku sudah di dalam tubuh itu. Dan sekarang dia mulai bergerak.”
Lian'er tersentak. Dia merasakan sesuatu. Seperti tarikan dingin di meridian teratai miliknya. Bukan kutukan lama, tapi seperti ada benang hitam tak terlihat yang menghubungkan dia dengan Shen Yi… dan dengan noda itu.
“Shen Yi…” bisiknya.
Di dalam Gerbang Tersembunyi, Shen Yi berjalan sendirian di lorong kabut yang terbuat dari cahaya teratai samar. Dindingnya seperti air yang mengalir, tapi dingin menusuk tulang. Setiap langkah terasa berat. Noda hitam di bahunya kini sudah sebesar telapak tangan, garis hitam merambat ke dada dan lengan kiri seperti akar pohon mati.
Suara Xue Han tak lagi bisikan. sekarang seperti bicara langsung di telinga dalam kepala.
“Kau merasakannya kan? Dingin yang menyenangkan. Kekuatan yang kau tak pernah miliki. Kau cuma tabib miskin tapi aku bisa buat kau jadi dewa es. Kau bisa lindungi Lian'er selamanya. Kau bisa hancurkan siapa pun yang mengancamnya. Serahkan saja, biar aku yang kendalikan tubuh ini.”
Shen Yi berhenti sejenak, menekan noda itu dengan tangan kanan. Cahaya emas muncul lagi, tapi kali ini lebih lemah. Noda hitam tak mundur—malah merespons dengan gelombang dingin yang membuat Shen Yi tersentak, lututnya hampir ambruk.
“Aku nggak akan serahkan apa pun,” katanya dengan gigi bergemeretak. “Kau cuma sisa. Kau bukan aku.”
“Bukan? Lihat dirimu sekarang. Kau sendirian di pulau ini. Lian'er di luar, bertarung untukmu. Kalau kau gagal, dia mati. Kalau kau serahkan padaku, aku bisa selamatkan dia. Aku bisa buat dia abadi di sisimu.”
Shen Yi menutup mata, mengingat wajah Lian'er—senyumnya saat masak sup jahe, tawanya saat anak desa main di danau, pelukannya malam itu di beranda gubuk.
“Tidak,” katanya tegas. “Lian'er nggak butuh abadi. Dia butuh aku, Shen Yi yang biasa. Bukan monster es.”
Dia melanjutkan langkah. Lorong kabut mulai terbuka ke ruangan besar. Sebuah danau kecil di dalam pulau, tapi airnya bukan biru jernih seperti dulu. Airnya hitam pekat, dengan titik-titik es hitam mengapung seperti bintang mati. Di tengah danau, sebuah teratai raksasa dari cahaya emas mengapung. sumber Air Teratai Murni. Tapi teratai itu sudah setengah tertutup es hitam, seperti sedang diracuni dari dalam.
Shen Yi berlutut di tepi danau. “Ini tempatnya.”
Noda hitam di tubuhnya berdenyut sangat kuat. Seolah tahu ini akhirnya. Garis hitam merambat lebih cepat, mencapai leher dan pipi kanan. Matanya mulai berkabut merah.
“Sekarang… serahkan.”
Di luar, di kapal, Lian'er merasakan tarikan dingin itu lagi—lebih kuat dari sebelumnya. Dia tersentak, kelopak teratai di sekitarnya bergetar tak stabil.
“Shen Yi… dia dalam bahaya!”
Lan Xue tertawa. “Benar. Kakakku sudah mulai ambil alih. Tak lama lagi, tubuh itu akan jadi milik kami. Dan kau… akan menyaksikan kekasihmu membunuhmu dengan tangannya sendiri.”
Lian'er menatap Lan Xue dengan mata penuh api. “Tidak. Aku tak akan biarkan itu terjadi.”
Dia melepaskan seluruh kekuatan teratai yang tersisa, seperti cahaya putih murni yang membungkus tubuhnya dengan perisai hidup. Cahaya itu melesat ke arah Gerbang Tersembunyi, menembus kabut, menuju Shen Yi.
Di dalam danau, cahaya putih itu menyentuh tubuh Shen Yi. Noda hitam berteriak dan suara Xue Han berubah jadi jeritan marah.
“Tidak! Dia milikku!”
Cahaya Lian'er membungkus Shen Yi seperti pelukan. Dingin di tubuhnya mundur pelan. Garis hitam menyusut kembali ke bahu, noda hitam kecil lagi.
Shen Yi membuka mata. pupilnya kembali normal. Dia menangis pelan, tapi tersenyum.
“Lian'er terima kasih.”
Di kapal, Lian'er jatuh berlutut. kekuatannya habis. Xiao Feng dan Shi Jun menahannya.
“Kau berhasil tarik dia kembali,” kata Xiao Feng kagum.
Lan Xue mundur selangkah, wajahnya pucat. “Ini belum selesai. Kakakku masih hidup di dalamnya. Dan saat kalian masuk pulau, dia akan bangkit lagi.”
Dia melompat kembali ke kapalnya, kabut menyelimuti kapal hitam itu hingga menghilang.
Lian'er bangkit pelan, napas tersengal. “Shen Yi… dia masih bertahan. Kita harus masuk sekarang.”
Shi Jun mengangguk. “Gerbang masih terbuka. Kapten, bawa kapal lebih dekat!”
Kapal bergerak maju. Kabut membuka jalan kecil—seolah pulau mengizinkan mereka masuk.
Lian'er memandang ke depan, matanya penuh tekad. “Shen Yi… tunggu aku. Aku datang.”
Di dalam pulau, Shen Yi berdiri di tepi danau hitam. Teratai raksasa emas di tengah masih setengah tertutup es, tapi cahaya Lian'er tadi membuat es itu retak lebih banyak.
Dia menyentuh air danau. Dingin menusuk, tapi dia tahan.
“Aku nggak akan biarkan kau menang,” katanya pada noda hitam. “Aku akan bersihkan kau. Untuk Lian'er. Untuk kita semua.”
Noda itu berdenyut lagi. marah, tapi juga takut.
Di luar, kapal Lian'er mendekat. Pertarungan akhir semakin dekat.