#timetravel
Sebenarnya aku seharusnya sudah mati kan? kenapa tiba tiba aku berada di dunia seperti manhwa... aku baru aja selesai baca ini novel? loh kok bisa masuk?
dan lagi kenapa aku jadi villainess kejam yang akan mengganggu tokoh utama cowok dan cewek yang ada di dunia ini! Elisia Verderick salah satu anak marquiss ternama di dunia novel itu, aku tidak mau berususan dengan pria pria obsesif di dunia ini.. bahkan sampai dikurung!?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kensujishisu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
"Hohohoo... kamu sangat cerdas memilih akademi..padahal saya harap kamu mau bersama Putra Mahkota lebih lama lagi, tapi jika itu pilihan mu apa boleh buat. "
Ucap kaisar sambil tertawa.
Aku melihat kearah Edwin, Edwin tidak berbicara apapun mengenai hal ini seolah olah dia mengalihkan pandangan.
Ya ini lebih bagus, aku dan Edwin akan berada sampai titik seperti ini saja dan tidak lebih.
Kemudian dia akan jatuh cinta dengan Lea.
Sampai saat itu aku akan membuat Lea jatuh cinta pada Varenze demi keselamatannya.
"Terimakasih yang mulia, anda sangat murah hati. "
"Sama sama, kamu boleh pergi sekarang persiapkan perjalananmu untuk besok.. kami akan menunggumu nanti didepan gerbang untuk menyambut perpisahan untukmu. "
"Baik yang mulia , saya permisi. "
Aku membungkuk hormat dan pergi keluar gerbang kantor istana.
Edwin seperti tidak ingin mengobrol denganku apa karena pertanyaanku itu, apakah, hubungan kita hanya sampai disini saja sebagai teman masa kecil.. lagi pula cerita ini tidak akan berubah dan akan tetap sama, pikirku.
Masalah utamanya adalah aku bingung dengan kebimbangan ini, aku ingin berpisah baik baik dengan Edwin, mengapa dia seperti itu apakah dia akan tetap sama diakhir cerita yaitu membunuhku.
Tapi masalahnya untuk sekarang tidak ada tanda tanda dia membenciku selama ini, dia baik kepadaku.
Aku hanya berharap nyawaku tidak akan berada di tangannya kedepannya dan tidak akan mengusik Edwin seperti cerita aslinya.
--------
Keesokan harinya
Barangku sudah dipersiapkan oleh para pelayan dan kereta kuda sudah menunggu didepan gerbang beserta anggota keluarga kerajaan yang akan menyambutku.
Aku mempersiapkan semua yang akan kubawa pulang dan akan meminta persetujuan keluarga Vederick untuk memasukkan ku kedalam Akademi diibukota.
Ayah dan ibu Elisia adalah orang yang penurut tidak seperti anaknya jadi dengan mudah aku bisa masuk ke akademi seperti dalam cerita.
Aku melihat keluarga kerajaan berdiri menunggu ku didepan tangga begitu pula Edwin yang menatap kearahku,dia tersenyum dia tidak lagi mengalihkan pandangannya.
Ah... kurasa akan baik baik saja... Edwin seperti tidak ada masalah.
"Hormat kepada Kaisar, Ratu dan putra mahkota kerajaan, terimakasih sudah mengundang saya kesini dan saya berterimakasih atas satu tahun ini kedepannya saya mohon bantuannya.. "
"Terimakasih ya Nona Elisia Vederick sudah meluangkan waktunya untuk putra saya tercinta, semoga berikutnya kamu diberi kesuksesan untuk impianmu itu, putra mahkota ada yang ingin kamu sampaikan? "Ucap Kaisar berbicara kepada Edwin.
"Tentu saja yang mulia. " jawab Edwin langsung dan tiba-tiba berjalan kearahku dan langsung memelukku, sontak membuat kedua bola mataku membesar dan begitupula orang orang yang melihat termasuk Kaisar dan Ratu.
"Ya-yang mulia. "
"Sudah kubilang kan jangan tinggalkan aku, Lisia kamu meninggalkanku ada akibatnya... aku sudah berbaik hati kepadamu dari awal tapi sepertinya kamu tidak melihat ketulusan ku ini, harus dengan cara apa lagi aku kepadamu Elisia,tunggu saja nanti. " Bisik Edwin kepadaku, membuat ku bergidik ngeri.
Aku menelan ludah gemeteran, kenapa dia berbicara seperti itu padaku? apakah dia marah? apakah dia ingin memberiku pelajaran?aku tidak dapat menjawab perkataannya itu dan hanya bisa terdiam seperti patung.
"Wah sepertinya perbincangan berdua yah.. hahahha gak papa gak papa, bagus sekali Nona Vederick dan putra mahkota sangat dekat, aku menyukainya! jangan lupa datang lagi ke istana ya Elisia. " Potong kaisar, membuatku tersenyum paksa kepadanya, aku tidak berani melirik kearah Edwin dan segera membungkuk hormat lalu masuk ke kereta kuda.
Kereta kuda ku sudah berjalan jauh ke luar gerbang istana, aku mencari kesempatan untuk menatap Edwin bagaimana ekspresi wajahnya sekarang, namun tidak bisa terlihat olehku.
Ucapan nya yang barusan membuatku tidak bisa berkata kata, seolah olah tidak ada jawaban yang bisa ku lontarkan.
Apa itu termasuk kekuatan pemeran utama, tapi entah kenapa akan ada sesuatu yang akan datang padaku.
--------------------------------------
Sampainya Elisia di mansion Vederick.
Keluarga Elisia sudah menunggunya didepan pintu masuk dan mereka langsung memeluk Elisia dan menyuruh Putri satu satunya itu masuk ke dalam.
"Elisia.... bagaimana dengan Putra Mahkota Edwin apa berjalan lancar. "
Tanya Marquiss Vederick.
"Tentu saja aku menjalankan tugas dengan baik dan Putra Mahkota memang sebaik itu. "
"Ini berita yang sangat bagus bukankah ini adalah peluang yang bagus untuk kedepannya kamu menjadi permaisuri Putra Mahkota."
Elisia menghentikan langkahnya sebentar dan menatap Marquiss Vederick itu dengan tatapan tegas.
"Ayahanda aku sudah bilang ke pada Kaisar aku ingin menjadi penerus Vederick dan bukan permaisuri. "
Sontak pernyataan Elisia itu membuat Marquiss dan Marquisess kaget, karena putrinya yang masih kecil itu dengan beraninya berbicara seperti itu di depan Kaisar.
Mereka berdua saling memandang satu sama lain dengan tatapan menegangkan.
"Apakah kamu yakin Elisia? menjadi permaisuri adalah impian bangsawan wanita di negeri ini bahkan kamu menolaknya kamu yakin tidak menyesal? ayah tau kekhawatiran mu untuk ingin menjadi penerus.. maafkan ayah dan ibu jikalau kamu terpaksa untuk berbuat seperti ini. "
"Ya maafkan ibu juga, Ibu sebenarnya tidak ingin memberatkan hal politik untukmu sayang,tapi ibu tidak menyangka ternyata anak yang ibu besarkan sudah sedewasa ini untuk memikirkan masa depan. "
Elisia tersenyum kecil menatap mereka berdua,dia berpikir bahwa kedua orang itu ada lah orangtua yang sangat baik, sangat mengecewakan bahwa Elisia yang asli tidak menyadari kebahagiannya yang belum tentu didapatkan oleh dirinya sendiri.
"Aku tidak apa apa ibu, ayah, aku lebih memikirkan kalian dibanding diriku sendiri, pasti aku memikirkan diriku sendiri juga tapi menurutku meneruskan kejayaan Vederick adalah hal wajib bagiku jadi kalian tenang saja jangan khawatir. "Elisia berusaha menenangkan mereka berdua.
"Huft tapi tetap saja, jika Elisia sudah berpikir begitu kami hargai keputusanmu."
Pembicaraan keluarga Vederick itu pun berakhir dan Elisia kembali Kekamarnya untuk beristirahat, hari yang melelahkan untuknya.
Dia tidak sempat untuk berbicara tentang akademi ke Marquiss, dia berencana untuk berbicara hal tersebut besoknya.
Kamar yang menjadi tempatnya tiba di dunia ini akhirnya dia kembali lagi, mengenang pertama kali dia berada dan masuk tempat asing yang tidak satupun ia kenal.
Elisia merasakan sepertinya dia harus mulai terbiasa berada di dunia ini mencoba mengikhlaskan perpisahan dirinya dengan ibu kandungnya.
Tidak tau takdir kedepannya akan seperti apa, dia terus berdoa untuk hasil yang terbaik dan nyawanya tidak lagi hilang kedua kalinya..berencana hidup tenang adalah prinsipnya sekarang.
Tapi entah ada ketakutan didalamnya dia tidak ingin merasakan sakit hati lagi, perasaan baru yang akan menghancurkannya lagi seperti di kehidupan sebelumnya.
Rasa gelisahnya itu tetap tidak bisa hilang semenjak bisikan Edwin yang melanda perasaanya sekarang.