NovelToon NovelToon
Munajat Cinta

Munajat Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Diam-Diam Cinta
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: lala_syalala

EDISI SPESIAL RAMADHAN

Zunaira Prameswari hanyalah seorang ustadzah yatim piatu yang merasa dunianya sudah cukup dengan mengabdi di Pesantren Al-Anwar.

Baginya, mencintai Gus Azlan, putra kedua sang kiai yang baru kembali dari Al-Azhar, Kairo adalah sebuah kemustahilan yang hanya berani ia langitkan dalam doa-doa di sujud terakhir.

Namun takdir berkata lain, penolakan Azlan terhadap lamaran Ning Syifa, seorang putri kiai besar yang membawa kepentingan politik pesantren, justru menyeret Zunaira ke pusaran konflik keluarga yang rumit.

Bagaimana kelanjutannya???
Yukk kepoin!!!

Follow IG @Lala_Syalala13
Subscribe YT @NovelLalaaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memuliakan Secepat Mungkin

Zunaira meletakkan cangkir teh satu per satu dengan tangan yang berusaha ia jaga agar tidak gemetar.

Ia bisa merasakan tatapan Ning Syifa yang tajam menghujam ke arahnya yaitu sebuah tatapan yang penuh dengan rasa kemenangan.

"Anak kita, Syifa sudah selesai studinya di Maroko dan Azlan, dia adalah permata Al-Anwar yang baru kembali dari Kairo, saya rasa tidak ada alasan bagi kita untuk menunda-nunda lagi. Saya secara resmi atas nama keluarga besar ingin mengajukan khitbah untuk melamar Azlan untuk putri saya, Syifa. Saya ingin dua sungai besar ini menyatu menjadi samudera dakwah yang tak tertandingi." seru Kyai Mansur dengan percaya diri akan diterima.

Prang!

Tutup cangkir yang sedang dipegang Zunaira sedikit beradu dengan piring alasnya.

Suaranya tidak keras namun di ruangan sesunyi itu, bunyi itu terdengar seperti ledakan.

Zunaira segera menunduk dan jantungnya serasa berhenti berdetak, ia merasa dunianya runtuh dalam satu kalimat.

Kyai Hamid terdiam cukup lama, beliau menatap adik iparnya lalu beralih menatap Azlan yang sejak tadi hanya menunduk.

"Mansur... khitbah adalah perkara besar dan ini bukan sekadar menyatukan dua pesantren, tapi menyatukan dua jiwa." tutur Kyai Hamid mencoba menasehati karena ini bukanlah hal yang sederhana jika sudah menyangkut menyatukan keluarga dan juga pesantren.

"Jiwa mereka sudah setara Kang Mas! Secara nasab, ilmu dan masa depan, mereka adalah pasangan paling ideal yang pernah ada di sejarah keluarga kita." potong Kyai Mansur dengan antusias.

Ning Syifa menunduk malu namun sudut bibirnya terangkat sedikit, ia melirik Azlan dan menanti jawaban yang ia yakini akan berakhir manis baginya.

Siapa pria yang sanggup menolak putri seorang Kyai besar dengan gelar internasional?

"Azlan." panggil Kyai Hamid dengan suara rendah.

"Pamanmu sudah menyampaikan maksudnya, bagaimana jawabanmu Nak? Kamu yang menjalani hidupmu dan Abah tidak ingin memaksakan kehendak meski ini adalah niat baik dari pamanmu." tutur Kyai Hamid tidak ingin memaksa.

Zunaira yang masih berlutut merapikan nampan merasa kakinya seperti terpaku pada lantai.

Ia ingin segera lari dan pergi jauh ke balik tembok asrama dan menangis sepuasnya.

Namun ia tidak bisa bergerak, ia seolah dipaksa oleh takdir untuk mendengar langsung kalimat yang akan mengakhiri seluruh harapannya.

Azlan mengangkat kepalanya, ia tidak menatap Ning Syifa, ia justru sempat melirik sekilas ke arah Zunaira yang menunduk di dekat meja tamu.

Tatapan Azlan nampak tajam dan penuh dengan tekad yang sudah matang.

"Matur nuwun (terima kasih) Paman Mansur." suara Azlan terdengar sangat jernih dan tenang.

"Niat Paman adalah kehormatan besar bagi saya, Ning Syifa adalah wanita yang sangat mulia, cerdas dan saya yakin beliau akan menjadi pendamping yang luar biasa bagi pria yang beruntung kelak." sahut Gus Azlan.

Azlan mengambil napas panjang.

"Namun mohon maaf yang sebesar-besarnya karena untuk lamaran ini saya tidak bisa menerimanya." ucap Gus Azlan dengan mantap.

Suasana mendadak menjadi sangat dingin, Kyai Mansur terbelalak dan wajahnya yang tadi kemerahan karena semangat kini berubah menjadi pucat karena terkejut.

Ning Syifa tersentak, punggungnya yang tadi tegak kini nampak layu, matanya menatap Azlan dengan rasa tidak percaya yang amat sangat.

"Azlan! Apa maksudmu?" suara Kyai Mansur meninggi.

"Kamu menolak Syifa? Kamu tahu apa yang kamu katakan?" teriak Kyai Mansur tidak terima.

"Saya tahu Paman, saya sangat menghormati Paman dan Ning Syifa. Namun hati tidak bisa dipaksakan demi kepentingan organisasi atau nasab semata dan saya sudah memiliki janji pada diri saya sendiri dan saya sudah memiliki seseorang yang namanya selalu saya sebut di depan Baitullah." ucap Gus Azlan.

Zunaira merasa air matanya mendesak keluar, ia tahu siapa yang dimaksud Azlan namun ia juga tahu betapa besarnya konsekuensi dari penolakan ini.

"Siapa?" tuntut Kyai Mansur.

"Siapa wanita yang lebih hebat dari putriku sampai kamu tega mempermalukan keluarga kami seperti ini?" tanya Kyai Mansur dengan sombong dan meremehkan wanita tersebut.

Azlan terdiam sejenak, ia tahu jika ia menyebut nama Zunaira sekarang, di depan paman yang sedang emosi maka Zunaira-lah yang akan menjadi sasaran kemarahan. Ia ingin melindungi Zunaira.

"Seseorang yang sangat berarti bagi saya Paman dan saya sedang berjuang untuk memantaskan diri di hadapannya." jawab Azlan diplomatis.

Kyai Mansur berdiri dengan kasar.

"Kang Mas Hamid! Lihat putramu! Dia sudah belajar di Mesir tapi adabnya terhadap keluarga sendiri hilang! Dia menolak lamaran resmi ini demi wanita yang bahkan tidak berani dia sebut namanya?"

Kyai Hamid menghela napas panjang, mencoba menenangkan adik iparnya.

"Tenang Mansur, pernikahan bukan soal adab atau tidak adab tapi ini soal pilihan hidup dan Azlan sudah dewasa."ucap Kyai Hamid.

"Saya tidak terima!" bentak Kyai Mansur.

"Syifa, ayo pergi! Kita tidak perlu tinggal di tempat yang tidak menghargai niat baik kita!"

Ning Syifa berdiri dengan mata berkaca-kaca, sebelum melangkah keluar ia menatap Zunaira dengan kebencian yang sangat nyata.

Ia tahu, ia sangat tahu bahwa wanita pendiam yang sedang memegang nampan itulah penyebab semua ini.

Setelah kepergian Kyai Mansur dan Ning Syifa yang penuh drama, ruang tamu itu kembali sunyi.

Zunaira masih mematung, air matanya akhirnya jatuh satu tetes ke atas nampan kayu.

"Zunaira." panggil Ummi Salamah lembut.

"Nduk bawa masuk nampannya, istirahatlah." seru Ummi Salamah.

Zunaira bangkit dengan cepat, membungkuk tanpa berani melihat siapapun, lalu lari menuju dapur.

Ia tidak berhenti di dapur tapi ia terus berlari menuju kamarnya di asrama ustadzah.

Di dalam kamar ia mengunci pintu dan jatuh terduduk di balik pintu.

Ia menangis sesenggukan, ada rasa lega karena Azlan menolak Ning Syifa namun ada rasa takut yang jauh lebih besar.

Kyai Mansur adalah tokoh berpengaruh, penolakan ini akan menjadi berita besar dan Pesantren Al-Anwar bisa mengalami gesekan internal yang hebat.

"Gus... kenapa Anda senekat itu?" bisiknya dalam tangis.

"Anda menghancurkan masa depan Anda sendiri demi saya." gumamnya sendiri.

Di saat yang sama, di ruang tamu Kyai Hamid menatap putranya.

"Azlan, kamu tahu apa yang baru saja kamu mulai? Pamanmu itu orang yang keras hati dan dia tidak akan tinggal diam." ucap Kyai Hamid mewanti-wanti sang anak.

"Azlan tahu Bah." jawab Azlan mantap.

"Tapi Azlan lebih takut kehilangan keberkahan jika menikahi wanita yang tidak Azlan cintai hanya karena tekanan keluarga, Azlan sudah memilih dan Azlan akan menanggung resikonya." ucap Azlan dengan yakin.

"Lalu apa rencanamu terhadap Zunaira? Kamu tahu dengan kejadian ini, posisi Zunaira akan semakin terdesak dan fitnah akan semakin kencang." ucap Kyai Hamid.

Azlan menatap ayahnya dengan penuh permohonan.

"Itu sebabnya Bah... Azlan ingin meminta sesuatu yang sangat besar pada Abah dan Ummi." seru Gus Azlan.

Ummi Salamah mendekat, mengusap kepala putranya.

"Apa itu Lan?" tnya Ummi Salamah.

Di sana juga sudah berkumpul Gus Haidar beserta istri dan anaknya, tak lupa sang adik yaitu Arifa pun di sana.

"Azlan ingin memuliakan Zunaira secepat mungkin, namun melihat kondisi Paman Mansur yang sedang meradang Azlan ingin pernikahan ini dilakukan secara rahasia terlebih dahulu dan hanya keluarga inti. Sampai kondisi pesantren stabil dan Azlan bisa membuktikan bahwa Zunaira adalah pilihan terbaik bukan hanya bagi Azlan tapi bagi Al-Anwar." seru Gus Azlan dengan pikiran matangnya.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...

...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...

...VOTE 💌...

...LIKE 👍🏻...

...KOMENTAR 🗣️...

...HADIAHNYA 🎁🌹☕...

...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...

...SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA...

1
Kasih Bonda
next Thor semangat
Rahma Inayah
harap..harap cemas ..
Kasih Bonda
next Thor semangat
Supryatin 123
😭😭😭😭❤️❤️❤️ semoga samawa Gus Azlan n ustadzah Zu.💪💪💪menjaga rahasia.lnjut thor 💪💪
Supryatin 123
dag dig dug rasanya hati ini 🤭🤭 lnjut thor 💪💪
Kasih Bonda
next Thor semangat.
Kasih Bonda
next Thor semangat
Rahma Inayah
lanjut thir
tiara
lanjuut thor
Kasih Bonda
next Thor semangat .
Kasih Bonda
next Thor semangat
Supryatin 123
lnjut thor 💪💪❤️❤️
Rahma Inayah
ni knp nikah nya SDH berapa part blm nikah gregetan ..bacanya ..
Kasih Bonda
next Thor semangat
tiara
duh Naura polosnya bikin gemeeez aja
Kasih Bonda
semangat thor
Lala_Syalala: terima kasih kak dukungannya, semoga bisa terus suka ya sama ceritanya 🙏😊😊🤗
total 1 replies
Kasih Bonda
next Thor semangat
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut thor
Kasih Bonda
next Thor semangat
Rahma Inayah
jgn sampai rahasia besar kebongkar Krn ke polosan Naura .🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!