NovelToon NovelToon
Pengantin Tawanan

Pengantin Tawanan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Duniahiburan / Identitas Tersembunyi / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: lee Yana

Menceritakan tentang seorang gadis yang tiba-tiba dijadikan tawanan tepat di hari pernikahannya.

Dia dipaksa dan dibawa oleh sekelompok mafia kejam yang entah darimana asalnya.

Dalam sekejap hari bahagianya berubah menjadi bencana tak terduga yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Hal itu membuatnya sangat marah dan mengutuk para penjahat yang sudah membawanya.

Mereka menyeretnya masuk ke dalam dunia kegelapan, dimana semua hal yang berbau negatif menjadi normal dan wajar.

Sampai suatu hari satu persatu kebenaran mulai terungkap, hingga kejadian itu perlahan mengubah keadaan serta sudut pandangnya terhadap dunia.

Akankah gadis itu berhasil pulang dengan selamat dan kembali melanjutkan pernikahannya…???

Atau justru perasaannya berubah seiring berjalannya waktu…???

Nantikan kisah kelanjutannya ya………………….

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee Yana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Trauma Dalam Rindu

Setelah sekian lama tinggal di sarang mafia, Kini Jenia benar-benar telah kembali ke kehidupan aslinya.

Bibi Maya sangat senang akhirnya Nia bisa pulang dengan selamat.

Wanita itu mengaku sempat ingin melapor pada polisi, namun seseorang tiba-tiba datang dan mengatakan bahwa keponakannya sedang berada di tempat yang aman, sehingga bibi Maya tidak perlu khawatir.

Mendengar penjelasan itu Nia pun bisa menyimpukan kalau orang yang dimaksud adalah salah satu dari anak buah kepercayaan Veron.

Di minggu pertama Nia disibukkan dengan menyelesaikan berbagai macam tugas demi mengejar ketertinggalannya.

Setiap malam ia selalu pulang larut, sampai beberapa bulan berikutnya hingga satu persatu tugas kuliahnya rampung.

Perlahan gadis itu juga menunjukkan sedikit perubahan dalam hidupnya.

Semenjak kejadian hari itu Nia memutuskan untuk belajar mencintai dirinya sendiri.

Sesekali setiap ada waktu luang Nia juga menggunakan sebagian uangnya untuk hal-hal menyenangkan yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya, seperti berbelanja pakaian, peralatan make up, serta membeli makanan enak tanpa harus memikirkan berhemat setiap saat.

Perlahan Nia mulai bisa memanfaatkan waktunya untuk sekedar menyenangkan diri meski hanya sebentar.

Dia juga sering bertemu Veron di setiap akhir pekan, baik itu di Fantasia, ataupun di tempat-tempat tertentu yang sudah dipastikan aman oleh sang mafia.

Nia merasa kehidupannya saat ini sudah sangat normal dan beralan dengan Lancar.

Perasaan yang damai dan tenang, serta memiliki seseorang yang sangat menyayanginya.

Baginya dua hal itu adalah kebahagiaan luar biasa yang membuat hari-harinya terasa berwarna.

Namun terlepas dari semua itu, terkadang ada satu titik dimana Nia benar-benar merasa kesepian dalam hidupnya.

Ada masa dimana dia selalu teringat akan hidupnya yang sebatang kara dan tidak punya siapa-siapa.

Sampai hari ini Nia masih merindukan sosok yang tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun.

Sosok yang telah meninggalkannya baik dalam mimpi maupun dunia nyata.

Sekuat apapun dia terlihat bahagia di hadapan semua orang, tetap saja ada suatu waktu gadis itu menangis pilu karena merindukan ibunya.

Setiap kali rindu itu datang, Nia akan pergi mengunjungi rumah lamanya dan menangis seorang diri di sana.

Seorang, gadis kecil yang berlarian ke pelukan sang ibu, dengan canda tawa selalu terlihat setiap kali pintu tua itu dibuka.

Tapi beberapa saat kemudian kebahagiaan itu hilang dan berubah ketika ayahnya datang.

Suasana yang semula ceria dalam sekejap menjadi hening tanpa suara. Setiap momen itu terjadi, Nia selalu ketakutan dan kerap berlindung di belakang ibunya.

Tangannya mencengkram kuat pakaian sang ibu dengan tubuh yang gemetar ketakutan.

Gadis kecil itu segera berlari dan bersembunyi ke dalam lemari ketika mendengar suara pintu dibanting sangat keras dari luar.

Laki-laki yang ia panggil ayah itu datang lagi setelah beberapa hari tidur di luar dan tidak pulang ke rumah.

Hanya ada satu alasan kenapa dia ingat pulang, yaitu karena uangnya sudah habis.

Setiap malam lelaki itu menghamburkan uanguya untuk beriudi dan bermain perempuan.

Dia selalu pulang dengan keadaan mabuk disertai aroma alkohol yang menyengat di seluruh tubuhnya.

Ketika sang ayah pulang, itu tandanya Nia harus bersiap menyaksikan ibunya di sakiti untuk yang ke sekian kalinya.

Bahkan saking seringnya, Nia sudah tidak ingat kapan pertama kali hal seperti itu terjadi.

Sejak kecil dia sudah mengenal ayahnya sebagai sosok yang sangat temperamen terhadap keluarga.

Sehingga ia tidak pernah berani bermanja atau sekedar mendekat pada sang ayah.

Saat waktunya tiba, Nia hanya bisa menangis tanpa suara dari dalam lemari. Dibalik lubang kecil ia melihat betapa kejam sang ayah membinasakan ibunya tanpa ampun.

Suara jerit kesakitan terdengar bersahutan setiap kali pukulan keras itu melayang mengenai wajah ataupun mendarat di tiap bagian tubuh ibunya.

Saat itu Nia tidak bisa berbuat apa-apa selain diam dan menangis, usianya bahkan belum genap enam tahun. Dia terlalu kecil untuk berani melawan atau sekadar bicara membela ibunya.

Para tetangga yang ada di sekitar juga tidak ada yang berani ikut campur atas apa yang terjadi pada keluarga mereka.

Nia juga sama sekali belum mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi pada kedua orangtuanya.

Yang dia ingat kejadian seperti itu selalu terulang setiap kali ayahnya pulang untuk meminta uang, namun ibunya menolak untuk memberikan.

Bukan tidak mau, melainkan karena uanguya memang sudah tidak ada, semua habis untuk berjudi dan membeli minuman keras.

Hingga perlahan semua barang-barang berharga yang ada di rumah satu persatu dijual habis oleh sang ayah demi bisa membeli sebotol minuman kesukaannya.

Pernah suatu ketika Nia melihat ayahnya pulang membawa perempuan lain secara terang-terangan, namun ibunya sama sekali tidak peduli karena sudah terlalu lelah menghadapi sikapnya yang semena-mena.

Sampai suatu hari Jenia kembali di hadapkan dengan kejadian paling buruk yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya.

Yaitu dimana kedua orangtuanya bertengkar hebat, yang menyebabkan ibunya hampir mati karena dihajar habis-habisan, sampai tubuhnya berlumuran darah akibat melawan ayahnya.

Malam itu Nia hanya bisa menangis dalam ketakutan. Dia berharap semoga semuanya cepat berakhir.

Setelah ibunya tersungkur tak bisa lagi melawan, barulah sang ayah pergi meninggalkan mereka tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Dengan kaki gemetar Nia segera berlari memeluk ibunya yang tak lagi bersuara. Dia terus memanggil sang ibu, tapi tak ada jawaban apapun dari wanita itu.

Sebagian kulit kepalanya berdarah karena rambutuya ditarik secara paksa oleh sang ayah.

Nia menyaksikan semua kejadian itu secara langsung dengan mata kepalanya sendiri.

Hingga beberapa jam setelahnya sang ibu tersadar. Wanita itu bangun dengan kondisi wajah yang sulit dikenali. Kedua mata dan wajahnya bengkak, serta tubuhnya penuh luka lebam dimana-mana.

Tulang hidung dan rusuknya patah, bahkan ia sangat sulit untuk sekedar membuka mata.

Malam itu Nia sesenggukan hingga tertidur dalam pelukan ibunya. Dia berharap semoga kejadian ini adalah kejadian terakhir yang mereka alami.

Nia juga berharap semoga semua yang terjadi hanyalah mimpi buruk dan akan baik-baik saja saat ia bangun di pagi hari.

Tapi ternyata hidup jauh lebih kejam dari yang Nia bayangkan. Mimpi buruk yang sebenarnya justru baru akan dimulai di keesokan harinya.

Ibunya yang sudah tidak tahan akhirnya memilih untuk menyerah. Dia mengemasi beberapa barangnya dan segera pergi dari rumah sebelum suaminya kembali.

Nia yang melihatnya terus menangis dan memohon agar bisa ikut pergi bersama ibunya.

Namun wanita itu menolak dan mengatakan bahwa ia akan segera kembali.

Ibunya berjanji hanya pergi sebentar dan akan segera pulang menemui Nia.

Wanita itu juga memberikan satu toples kaca kepada putrinya. Dia melipat kertas berbentuk bintang kecil yang dimasukkan ke dalam toples.

Sang ibu mengatakan dia pasti akan pulang ketika Nia berhasil memenuhi toplesnya dengan

bintang-bintang buatannya.

Tapi ternyata itu adalah hari terakhir Jenia bertemu dengan ibunya. Sejak saat itu ibunya tak pernah kembali menemuinya meski ia sudah memenuhi ratusan toples kaca dengan jutaan bintang-bintang.

Di rumah itu tinggalah Nia seorang diri bersama ayahnya yang jarang pulang. Sampai sang ayah sakit-sakitan dan berakhir meregang nyawa karena overdosis.

Ruang kamar yang penuh toples berisi bintang itu adalal saksi bisu betapa Nia sangat merindukan orang tuanya.

Setiap bintang yang dia buat bertuliskan harapan dan permohonan agar ibunya kembali dan memeluknya dengan hangat seperti dulu.

Nia juga sering memandang ukuran tinggi badannya yang digambar oleh sang ibu pada dinding kamarnya. Wanita itu selalu mengukur tinggi badan Jenia setiap kali putrinya berulang tahun.

Namun ternyata coretan di dinding itu sudah berhenti sebelum ulang tahunnya yang ke enam.

Disanalah satu-satunya tempat bagi Nia melepas rindu.

Momen bahagia sekaligus mengerikan itu selalu muncul setiap kali pintunya dibuka.

Sampai detik ini hati kecilnya selalu memanggil sang ibu yang entah dimana keberadaannya.

Hingga kejadian tak terduga pun kembali menghampiri hidupuya.

Malam itu Nia berniat datang lebih dulu ketika Veron mengajaknya bertemu di Fantasia.

Sesampainya di sana dia bertemu dan sempat berbincang dengan Vivian, sebelum akhirnya wanita cantik itu pergi bersama pria paruh baya dan meninggalkan Nia sendirian.

Setelah beberapa saat menunggu, sekilas Nia melihat Alex tengah naik menuju ke lantai tiga tempatnya berada.

Sambil menggenggam sebotol minuman di tangannya, lelaki itu terus berjalan dan memasuki sebuah pintu di ujung lorong.

Karena merasa penasaran, akhirnya diam-diam Nia mengikutinya dari belakang. Di depan pintu ia sempat ragu antara masuk atau pergi dari sana. Kondisi pintunya pun tidak dikunci dan sedikit terbuka.

Hingga samar-samar dari dalam ruangan tersebut Nia mulai mendengar suara desahan yang bersahutan, salah satunya adalah suara Alex yang sangat ia kenal.

Sementara suara lainnya merupakan seorang wanita yang terus menyebut nama Alex dalam rintih kenikmatan.

Nia ingin segera berbalik dan pergi, namun entah kenapa hatinya merasa sangat penasaran tentang siapa sosok perempuan yang sedang bersama Alex.

Konon mereka menyebut lantai tiga adalah ruangan khusus untuk mami Oca si ratu Fantasia, Wanita dengan bayaran termahal dan hanya bisa di temui oleh orang-orang tertentu.

Dia juga merupakan salah satu orang kepercayaan Veron yang ditugaskan sebagai pengelola Fantasia.

Namun anehnya Nia tidak pernah sekalipun bertemu atau sekedar berpapasan dengannya setiap kali ia ada disana.

Dan alangkah terkejutnya Nia ketika sakelar lampu di ruangan itu dinyalakan.

"NIA........!!!" Pekik Alex yang dikejutkan dengan kemunculan mantan kekasihnya.

Tapi saat itu pandangan Nia hanya tertuju pada seorang wanita yang berada tepat di bawah tubuh Alex.

"Ibu…!!??" Ucapnya sambil menutup mulut seakan tidak percaya.

…………………………………………………………………………………

Ilustrasi toples kaca berisi bintang milik Nia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!