"Ini cek satu miliar. Tapi serahkan putri mu." Dexter.
Dexter yang dikenal dingin terhadap perempuan. Tapi tertarik pada seorang gadis yang ditemuinya.
Dengan caranya sendiri, dia memaksa untuk menikahi gadis itu. Bahkan tidak segan-segan memberikan cek senilai satu miliar.
"Pa, aku tidak ingin menikah dengan pria tua dan cacat." Wilona.
Sementara gadis yang diincar Dexter adalah Kiandra. Seorang gadis yang memiliki identitas ganda.
Siapa gadis itu sebenarnya? Apa yang istimewa dari gadis itu sehingga membuat Dexter tertarik? Bahkan rela mengeluarkan uang sebanyak itu untuk mendapatkan gadis itu.
Kalau penasaran baca yuk.
Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Tidak ada kaitannya dengan kehidupan nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pa'tam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Dexter memutar handle pintu, namun terkunci dari dalam. Dexter mengambil kunci cadangan dan membukanya.
Dexter tersenyum tipis sambil geleng kepala melihat Kiandra yang tertidur pulas tanpa selimut.
Bahkan AC di dalam ruangan itu pun tidak dihidupkan oleh Kiandra. Dexter mendekati Kiandra.
"Begini kah seorang ketua dunia bawah? Tidurnya seperti bayi yang tidak kenal dosa," gumam Dexter.
Dexter mengambil remote control, lalu menghidupkan AC. Dexter menyeka keringat yang ada di pelipis Kiandra.
Dengan perlahan Dexter mengecup kening Kiandra. "Aku menyukaimu Kiandra," bisiknya.
Dexter menyelimuti tubuh Kiandra, kemudian ia berbaring di samping Kiandra. Kiandra tidak terbangun sama sekali.
Padahal, sebelum menikah, Kiandra lebih peka dengan sekitar. Bahkan dalam tidurnya pun dia akan terbangun jika ada gerakan.
"Kalau seperti ini, siapa yang menyangka jika dia adalah seorang ketua dunia bawah," gumam Dexter.
Dexter pun memeluk Kiandra dari belakang, kemudian memejamkan matanya. Merasa nyaman, Kiandra malah berbalik dan tanpa sadar membalas pelukan Dexter. Akhirnya keduanya pun tertidur pulas dan saling berpelukan.
Pagi harinya ...
"Aaaaaaa!" Kiandra berteriak. Bug... Kaki Kiandra menerjang Dexter. Sehingga Dexter terjatuh dari tempat tidur.
"Kau!" Tuding Kiandra. "Ambil kesempatan dalam kesempitan," katanya lagi.
Sementara Dexter memegangi pinggangnya yang terasa nyeri. Bagaimana tidak? Terjangan kaki Kiandra yang tidak disangka-sangka membuatnya jatuh ke lantai.
Belum sempat Dexter bereaksi karena teriakan Kiandra, tiba-tiba sebelah kaki Kiandra sudah menerjangnya.
"Apa aku salah tidur di samping istriku?" tanya Dexter.
"Tidak salah. Tapi jangan ambil kesempatan dong," jawab Kiandra.
Dexter bangkit dari duduknya dan menggeliat kan tubuhnya, terutama pinggangnya. Baru setelah itu dia duduk disamping Kiandra.
"Aku ini suami, apa tidak boleh menyentuh istrinya? Hmm." Dexter mencolek dagu Kiandra.
"Sial! Kenapa jantungku berdetak kencang?" Batin Kiandra.
Dexter mendekatkan wajahnya ke wajah Kiandra. Kiandra mendorong dada Dexter agar menjauh.
Namun Dexter malah memegang tangan Kiandra. Dexter membaringkan tubuh Kiandra. Kiandra mencoba bangkit, namun Dexter menindih nya.
"Kenapa takut? Aku suami mu, bebas melakukan apa saja," bisik Dexter.
Kiandra terdiam. Namun debaran jantungnya tidak bisa dibohongi. Dan itu bisa dirasakan oleh Dexter.
"Kamu sakit?" tanya Dexter. Kiandra menggeleng.
"Tapi kenapa jantungmu seperti genderang yang mau perang?" tanya Dexter lagi.
"Ih, menjauh sana, aku belum mandi," kata Kiandra mengelak.
Kiandra bangkit dari pembaringannya. Namun Dexter malah merangkul nya, sehingga Kiandra kembali terbaring. Kali ini kepalanya jatuh ke dada Dexter.
"Biarkan aku memelukmu sebentar," bisiknya.
Kiandra akhirnya pasrah dipeluk oleh Dexter. Kiandra tidak memberontak lagi. Dexter kembali mengecup kening Kiandra dengan lembut.
Terasa hangat dan nyaman, itulah yang dirasakan oleh Kiandra. Kiandra memejamkan matanya perlahan. Perlakuan Dexter membuatnya merasa disayangi.
"Aku tidak akan memaksamu jika kamu belum siap," kata Dexter.
Lagi-lagi Kiandra hanya mengangguk. Dia juga tidak bisa berkata apa-apa. Dia sendiri juga tidak tahu dengan perasaannya saat ini.
"Maaf, aku belum bisa menunaikan kewajibanku sebagai seorang istri," kata Kiandra pelan.
"Tidak apa-apa, aku masih bisa sabar menunggu hingga kamu siap," kata Dexter.
"Kamu tidak kerja?" tanya Kiandra mengingatkan Dexter.
"Aku libur dulu, aku ingin memperkenalkan mu kepada keluarga besarku," jawab Dexter.
"Boleh aku minta pekerjaan di perusahaan mu?"
"Boleh, jadilah sekretaris ku."
Kiandra menggeleng. Dia malah memilih ingin menjadi cleaning service. Dexter mengernyitkan keningnya heran.
Diberi posisi tinggi malah menolak. Malah memilih menjadi cleaning service. Itulah yang membuat Dexter heran.
"Kenapa memilih pekerjaan itu? Kamu istrinya CEO, kenapa mau kerja yang berat-berat?" tanya Dexter.
"Jangan tanya, itu kemauan ku sendiri," jawab Kiandra.
"Aku tidak setuju, aku tidak ingin kamu terlalu lelah," kata Dexter.
Kiandra memonyongkan bibirnya, tapi malah membuat Dexter gemas. Kiandra tetap bersikukuh ingin bekerja sebagai cleaning service.
Dexter tetap menolak. Daripada menjadi cleaning service, lebih baik tidak usah kerja. Kiandra tetap ngotot, hingga akhirnya Dexter pun mengalah.
"Baiklah, kapan saja kamu bisa datang untuk bekerja. Sekarang bersiaplah, kita akan ke mansion. Aku sudah bilang ke oma kalau kita akan berkunjung ke sana," kata Dexter.
"Tapi, apa aku layak? Aku hanya gadis desa yang tidak dianggap," ujar Kiandra.
Dexter tersenyum. Dia meyakinkan kepada Kiandra, jika keluarganya tidak seperti apa yang dia bayangkan.
Kiandra memekik, karena tiba-tiba saja tubuhnya diangkat oleh Dexter. Dexter menggendong Kiandra ke kamarnya.
Para pelayan curi-curi pandang tidak berani menatap langsung kepada tuan dan nyonyanya.
Mereka ikut bahagia melihat majikannya terlihat bahagia. Karena yang mereka tahu, tuannya tidak pernah membawa seorang perempuan manapun dari luar selain keluarganya.
"Lepaskan aku. Lihat, para pelayan memperhatikan kita," bisik Kiandra.
"Biarkan saja, kita juga tidak menggangu pekerjaan mereka," kata Dexter.
Tiba di dalam kamar, Dexter menurunkan Kiandra. Lalu meminta Kiandra untuk mandi terlebih dahulu. Baru setelah itu Dexter yang mandi.
Kiandra menurut saja. Kemudian dengan cepat masuk ke dalam kamar mandi. Setelah pintu tertutup, Kiandra bersandar dibalik pintu.
Dia memegangi dadanya yang berdetak kencang sejak tadi. Jujur, dia merasa malu. Karena sudah pasti Dexter mengetahuinya.
Kiandra kemudian melepas pakaiannya satu persatu, kemudian mengguyur tubuhnya dibawah shower.
Sementara Dexter duduk di sofa menunggu Kiandra selesai mandi. Dexter tersenyum sendiri mengingat wajah Kiandra memerah karena perlakuannya.
Ponselnya berdering. Dexter melihat nama pemanggil yang ternyata dari Omanya. Dexter pun segera menjawabnya.
"Halo Oma, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Kamu jadi, kan membawa istrimu kemari?"
"Jadi Oma, satu jam lagi kami sampai ke sana."
"Ya sudah, Oma tunggu ya? Sudah tidak sabar melihat istri mu seperti apa?"
"Yang pasti cantik, Oma. Percaya deh dengan pilihan cucu Oma ini."
Aleta tertawa kecil mendengarnya. Kemudian Aleta pun menutup teleponnya setelah mengucapkan salam.
Dexter kembali menyimpan ponselnya. Lalu pandangannya tertuju pada Kiandra yang baru keluar dari kamar mandi.
"Sudah selesai? Pakai pakaian terbaik yang ada di dalam lemari," kata Dexter.
Kiandra hanya mengangguk. Kemudian dia meminta Dexter untuk segera mandi. Kiandra berjalan ke arah lemari dan membukanya.
Kiandra memilih pakaian yang tidak terlalu mencolok. Yang penting dia merasa nyaman ketika memakainya.
Kiandra memoles wajahnya dengan make-up tipis. Karena dia tidak ingin terlihat menor jika make-upnya terlalu tebal.
Setelah beberapa menit, Dexter juga sudah selesai mandi. Dia terpesona melihat Kiandra yang terlihat cantik dengan polesan make-up tipis dan natural.
"Apa ada yang salah?" tanya Kiandra, karena Dexter menatapnya cukup lama.
"Ah tidak, tidak ada. Aku hanya terpana melihat kecantikan mu," jawab Dexter. Entah sadar atau tidak dengan apa yang diucapkannya?
Namun sudah cukup membuat Kiandra tersipu. Wajahnya merona secara alami ketika dipuji cantik oleh suaminya.