Di sudut sepi Yogyakarta, di bawah naungan pohon beringin yang tua, terdapat sebuah warung tenda yang tidak terdaftar di peta manapun. Warung itu tidak memiliki nama, tidak memiliki daftar harga, dan hanya buka ketika lonceng tengah malam berdentang.
Pemiliknya adalah Pak Seno, seorang koki bisu dengan tatapan mata setenang telaga namun menyimpan ribuan rahasia. Pelanggannya bukanlah manusia yang kelaparan akan kenyang, melainkan arwah-arwah gentayangan yang kelaparan akan kenangan. Mereka datang untuk memakan "hidangan terakhir"—resep dari memori masa hidup yang menjadi kunci untuk melepaskan ikatan duniawi mereka.
Kehidupan sunyi Pak Seno berubah ketika Alya, seorang gadis remaja yang terluka jiwanya dan berniat mengakhiri hidup, tanpa sengaja melangkah masuk ke dalam warung itu. Alya bisa melihat mereka yang tak kasat mata. Alih-alih menjadi santapan makhluk halus, Alya justru terjebak menjadi asisten Pak Seno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 : Tempe Mendoan dan Tamu Tak Diundang
Suara minyak goreng yang mendesis saat adonan tepung bertemu wajan panas adalah suara yang paling menenangkan di dunia. Cesssssss...
Seno membalik tempe berbalut tepung itu dengan sutilnya. Dia tidak menggorengnya sampai kering dan renyah seperti keripik, melainkan mendo—setengah matang, lembek, namun matang sempurna di bagian dalam. Aroma ketumbar, bawang putih, dan irisan daun bawang yang tergoreng menguar di udara, melawan dinginnya angin malam Yogyakarta yang semakin menusuk.
Seno mengangkat dua potong tempe mendoan itu, meniriskannya sebentar, lalu meletakkannya di atas piring kecil yang dialasi kertas minyak cokelat. Dia menambahkan satu buah cabai rawit hijau (cengek) di sampingnya. Sederhana. Murah. Tapi penuh rasa.
Dia menyodorkan piring itu ke hadapan Alya.
Gadis itu masih menelungkupkan wajahnya di meja, bahunya berhenti berguncang, tapi isak tangisnya masih terdengar samar.
Seno mengetuk meja pelan dengan jari telunjuknya. Tok. Tok.
Alya mengangkat wajahnya. Matanya bengkak, hidungnya merah. Dia melihat piring berisi tempe panas itu. Uapnya mengepul, menyentuh wajahnya.
"Aku tidak pesan," kata Alya serak. "Aku tidak punya uang."
Seno hanya tersenyum tipis. Dia membuat gerakan tangan: menunjuk perut Alya, lalu menunjuk mulutnya sendiri. Makanlah.
Perut Alya berbunyi keras, mengkhianati harga dirinya. Dia memang belum makan seharian. Sejak dia kabur dari rumah kemarin sore dengan membawa silet di tas ranselnya, dia hanya minum air keran masjid.
Dengan ragu, tangan Alya yang diperban gemetar mengambil tempe itu. Masih panas. Dia meniupnya pelan, lalu menggigit ujungnya.
Rasa gurih meledak di lidahnya.
Adonan tepung yang lembut, rasa kedelai yang khas, dan bumbu ketumbar yang kuat. Rasanya... familiar. Rasanya seperti sore hari di teras rumah neneknya dulu, sebelum dunia menjadi rumit, sebelum orang tuanya bercerai, sebelum dia merasa menjadi sampah yang tidak diinginkan.
Alya mengunyah perlahan. Tanpa sadar, air matanya menetes lagi. Kali ini bukan karena sedih, tapi karena rasa hangat yang menjalar dari lambung ke dadanya. Makanan itu seperti memeluknya dari dalam.
"Enak..." bisik Alya.
Seno mengangguk puas. Dia kembali ke balik gerobaknya, membersihkan sisa tepung.
Alya menghabiskan tempe itu dalam sekejap, bahkan memakan cabai rawitnya. Rasa pedas menyengat lidahnya, membuatnya merasa lebih hidup. Rasa sakit di pergelangan tangannya seolah terlupakan sejenak oleh sengatan capsaicin.
"Kenapa Bapak baik sama saya?" tanya Alya tiba-tiba, suaranya memecah keheningan malam. "Bapak tidak tahu siapa saya. Saya ini orang jahat. Saya lari dari rumah. Saya mencuri uang ibu saya."
Seno tidak menjawab—tentu saja dia tidak bisa. Dia hanya mengambil selembar tisu, meletakkannya di depan Alya, lalu menunjuk ke arah kegelapan di luar tenda.
Angin berubah.
Lilin di lampu senthir bergoyang hebat, hampir mati.
Suhu udara turun drastis. Jika tadi dinginnya angin malam biasa, kini dinginnya seperti berada di dalam kamar mayat. Bau amis tempe goreng tiba-tiba tertutup oleh bau lain.
Bau kapur barus. Dan bau tanah basah.
Alya memeluk dirinya sendiri. Bulu kuduknya meremang.
"Kok... tiba-tiba dingin banget ya, Pak?"
Seno tidak tampak kaget. Dia justru mengambil segenggam garam lagi, meletakkannya di saku celananya, berjaga-jaga. Dia menatap lurus ke arah jalanan gelap di depan warung.
Dari kegelapan, terdengar suara.
Srek... srek... srek...
Suara langkah kaki yang diseret. Berat. Basah.
Alya menyipitkan mata. Dia melihat sosok itu muncul dari balik kabut.
Seorang wanita muda. Mungkin seusia mahasiswa. Dia mengenakan jaket almamater kampus berwarna kuning yang kotor oleh lumpur. Celana jeans-nya robek parah di bagian lutut. Dia tidak memakai alas kaki.
Yang membuat Alya menahan napas adalah kondisi fisiknya.
Wajah wanita itu pucat pasi, nyaris biru. Rambut panjangnya basah kuyup, meneteskan air keruh ke aspal. Dan lehernya... lehernya miring dalam sudut yang tidak wajar.
Alya ingin menjerit, tapi suaranya tercekat di tenggorokan. Dia membeku. Dia meremas ujung meja kayu sampai bukunya memutih.
Itu hantu. Itu hantu sungguhan.
Sosok itu berjalan—atau lebih tepatnya terseret—masuk ke dalam tenda. Dia tidak melihat Alya. Matanya yang kosong hanya tertuju pada Seno.
"Mas..." suara hantu wanita itu terdengar seperti kumur-kumur air. "Mas... warungnya buka?"
Seno mengangguk tenang. Dia tidak takut. Wajahnya datar, profesional layaknya pelayan restoran bintang lima menyambut tamu VIP.
Hantu wanita itu duduk di bangku seberang Alya.
Jarak mereka hanya satu meter.
Alya bisa mencium baunya sekarang. Bau air sungai. Bau lumut.
Alya memejamkan mata rapat-rapat, berdoa dalam hati. Ini mimpi. Ini pasti efek kelaparan. Aku sudah mati dan ini neraka.
"Mbak?" suara hantu itu menyapa Alya.
Alya terlonjak. Dia membuka matanya dengan takut-takut.
Hantu wanita itu menatapnya. Wajahnya yang bengkak dan biru mencoba tersenyum, tapi malah terlihat mengerikan.
"Mbak... jam berapa sekarang?" tanya hantu itu. "Saya... saya ada bimbingan skripsi jam 8 pagi. Dosen saya galak. Saya tidak boleh telat."
Alya gemetar hebat. Hantu ini tidak sadar dia sudah mati.
"Se... sekarang jam satu malam, Kak," jawab Alya gagap.
"Jam satu?" hantu itu panik. Dia meraba saku jaketnya, mencari ponsel yang tidak ada. "Aduh... saya ketiduran di jalan ya? Motor saya mana? Saya harus pulang ke kosan. Ibu kos pasti kunci pagar."
Hantu itu mulai menangis. Air matanya bercampur lumpur.
"Saya capek, Mbak... Saya capek banget. Skripsi saya dicoret terus. Revisi lagi, revisi lagi. Saya cuma mau lulus. Saya mau bahagiain Bapak di kampung..."
Tangisan hantu itu memilukan. Suaranya melengking tinggi, membuat telinga Alya berdenging. Lampu senthir di warung berkedip-kedip mau mati.
Seno memukul wajan besinya keras-keras dengan sutil.
TANG!
Suara nyaring itu memutus tangisan si hantu. Hantu itu menoleh ke Seno.
Seno menatap mata hantu itu dalam-dalam.
Dia melihat memori terakhir gadis malang ini.
Begadang tiga malam mengerjakan Bab 4. Mengendarai motor dalam keadaan mengantuk berat. Hujan deras di Ring Road Utara. Lampu truk yang menyilaukan. Dan kemudian... dinginnya selokan.
Seno tahu apa yang dia butuhkan. Bukan skripsi. Bukan wisuda.
Tapi kehangatan.
Seno mengambil panci kecil. Dia merebus air.
Dia mengambil sebungkus mie instan rasa ayam bawang.
Bukan makanan mewah. Tapi bagi mahasiswa rantau di Yogyakarta, mie instan warkop (warung kopi) adalah teman setia di malam-malam lembur yang sepi.
Seno memasukkan mie ke air mendidih. Dia menambahkan sawi hijau dan satu butir telur ayam kampung. Dia mengaduknya pelan.
Aromanya... Astaga. Aroma bumbu penyedap rasa itu begitu kuat dan menggoda. Aroma "Indomie Dok-Dok" yang dimasak nyemek (sedikit kuah).
Seno menuangkannya ke dalam mangkuk bergambar ayam jago. Dia menaburkan bawang goreng dan irisan cabai rawit di atasnya.
Dia meletakkan mangkuk itu di depan hantu mahasiswi itu.
"Makan dulu," Alya memberanikan diri bicara, entah keberanian dari mana. "Kakak kedinginan. Makan dulu biar hangat."
Hantu itu menatap mie tersebut. Asapnya mengepul.
"Indomie..." bisiknya. "Terakhir kali saya makan ini... sama teman-teman kosan. Pas nonton film horor. Kami ketawa-ketawa..."
Hantu itu mengambil sendok. Dia menyuapkan kuah panas itu.
Saat kuah itu masuk ke mulutnya, lehernya yang miring perlahan tegak kembali. Warna biru di wajahnya memudar, berganti menjadi rona pipi manusia yang sehat.
Dia makan dengan lahap. Sangat lahap. Seolah dia sudah tidak makan berhari-hari (yang mungkin benar adanya semasa hidupnya karena stress skripsi).
"Enak, Mas. Masakannya persis kayak buatan Burjo Andeska," kata hantu itu sambil tersenyum. Kali ini senyumnya manis, senyum gadis usia 20-an yang cantik.
Setelah suapan terakhir, hantu itu meletakkan sendok.
Dia menatap Alya lagi.
"Makasih ya, Dek, sudah nemenin," katanya. "Titip salam buat Bapak saya ya kalau ketemu. Bilang... Nisa sudah lulus. Nisa sudah nggak sakit lagi."
Perlahan, tubuh Nisa mulai transparan. Jaket almamater kuningnya bersinar lembut. Dia tidak lagi terlihat seperti korban kecelakaan, melainkan seperti wisudawati yang bahagia.
Dalam hitungan detik, dia lenyap menjadi butiran cahaya, menyusul bapak tua tukang becak tadi.
Hening kembali menyelimuti warung tenda itu.
Alya menatap bangku kosong di depannya dengan mulut ternganga.
Ketakutannya hilang, berganti dengan rasa takjub yang aneh. Dan rasa sedih yang mendalam. Gadis itu... Nisa... dia mati karena berjuang. Berjuang untuk hidupnya, untuk pendidikannya.
Sementara Alya? Alya mau membuang hidupnya hanya karena dia merasa tidak dicintai.
"Dia... dia sudah pergi, Pak?" tanya Alya pelan.
Seno mengangguk. Dia mengambil mangkuk bekas Nisa, mencucinya di ember.
"Warung ini..." Alya menatap Seno dengan pandangan baru. "Warung apa ini sebenarnya?"
Seno tidak menjawab. Dia hanya mengambil papan tulis kecil dan kapur dari laci gerobaknya. Dia menulis sesuatu di sana, lalu menunjukkannya pada Alya.
WARUNG TENGAH MALAM.
TEMPAT SINGGAH MEREKA YANG LUPA JALAN PULANG.
Seno menghapus tulisan itu, lalu menulis lagi.
KAMU MAU PULANG? ATAU KAMU JUGA LUPA JALAN?
Alya membaca tulisan itu. Dia terdiam. Pulang? Ke rumah yang dingin di mana ibunya selalu bertengkar dengan ayah tirinya? Ke sekolah di mana dia di-bully karena pendiam?
"Saya tidak punya rumah," jawab Alya lirih.
Seno menatap gadis itu. Dia melihat potensi di aura Alya. Gadis ini bisa melihat hantu tanpa menjadi gila. Gadis ini punya empati—dia menawarkan makan pada hantu yang menakutkan.
Seno menulis satu kalimat terakhir malam itu.
KALAU BEGITU, BANTU SAYA CUCI PIRING. SAYA BUTUH ASISTEN.
Alya terbelalak. Dia ditawari pekerjaan? Di warung hantu?
Dia menatap Seno, lalu menatap tumpukan piring kotor.
Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, Alya merasa... dibutuhkan.
Dia berdiri, menyingsingkan lengan hoodie-nya yang kebesaran.
"Baik, Pak. Tapi saya minta makan lagi nanti subuh."
Seno tersenyum. Senyum tulus pertamanya malam ini.
Dia mengacungkan jempol.
Di luar tenda, kokok ayam jantan pertama terdengar di kejauhan. Malam masih panjang, dan tamu-tamu lain sedang mengantre di perbatasan dunia.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
terselip rasa kekeluargaan tanpa mereka sadari.
petualangan batin dan raga yang harus selalu bisa menempatkan diri, singkirkan keangkuhan,keserakahan dan hubungan yang erat saling melengkapi,menjaga dan empati serta simpati yang tinggi.👍
menunggu datang nya tamu wanita dlm foto itu
alya 😂
3 hari dalam ambang batas dunia nyata dan maya
belajar berdampingan
menghantarkan mereka pulang
mungkin hal yang tak pernah terpikirkan.
3 hari menyulam asa, dari keputus asaan.
haru, sedih dan gembira berbaur
ilmu yang berat baru saja terlewati
IKHLAS
jago sekali anda merayu eyang banaspati, amarah melunak ,melebur dalam cita rasa ,aroma khas nusantara.
kereen thor, tetap semangat yaa mengetik karya indah.
menyusun kalimat perkata dengan ketelitian ekstra
sepanjang apik runut no typo
ciamik
endah thor, ora bakal cukup ratusan mangsi
horor tapi beda, auranya gak menakutkan.
perjuangan remaja putri yang merasa tidak dapat kasih sayang ,kenyamanan hidup bersama keluarga.
diambang putus asa malah ketemu sosok misterius yang terbelenggu perjanjian , pertukaran nyawa demi sang terkasih, meski tragis ...
pada akhirnya cinta tak berpihak padanya.
hanya bisa memandang dari kejauhan.
ketulusan kasih tanpa perhitungan .
memendam bara asmara seorang diri ,menuangkan rasa lewat cita masakan ,walau beda alam.
semoga di penghujung pak seno bisa menemukan kebahagiaan sejati..
bersama alya saling membantu terlepas dari kerumitan sebuah janji
adakah semua ini terinspirasi dari sana thor? atau hanya suatu kebetulan belaka?
tapi kepala yang ditanam di undakan itu desas desusnya adalah seorang penghianat? benarkah ? atau hanya cerita dongeng untuk kita selalu bersikap baik ,tulus? sebab konon barang siapa yang menginjak undakan yang ada kepalanya itu sudah dianggap menginjak nginjak harga diri sebagai hukuman sang kepala?
yang memberi pelajaran berharga buat alya.
seburuk apapun keluarga adalah tempat pulang.
tempat yang nyaman dibanding keganasan hidup diluaran.