Alya Maheswari, seorang gadis dewasa yang harus menelan pahitnya percintaan. bagaimana tidak, kedua orang yang ia percaya, Randa sang pacar dan Relia adik kesayangannya. Keduanya tega bermain api di belakang dirinya.
Hingga suatu malam datang, di saat kedua orang tua Randa datang ke rumahnya, gadis itu sudah merasa berbunga-bunga, karena pasti kedatangan mereka ingin memintanya baik-baik.
Tapi kenyataannya tidak seperti itu, kedua orang tua Randa membawa kabar tentang gadis yang di maksud yaitu Ralia, sang adik yang saat ini tengah mengandung benih kekasihnya itu.
Hati Alya hancur, lebih parahnya lagi keluarganya sendiri menyuruhnya untuk mengalah dan menerima takdir ini, tanpa memikirkan perasaannya.
Karena sakit hati yang mendalam Alya pun memutuskan untuk ikut program transmigrasi ke suatu desa terpencil tanpa memberi tahu ke siapapun.
Di desa yang sejuk dan asri itu, Alya belajar bercocok tanam, untuk mengubah takdirnya, dari wanita yang tersakiti menjadi wanita tangguh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Hari-hari setelah itu berjalan tanpa Bayu di sisi Alya, meski Bayu secara fisik masih ada di desa.
Ia tetap datang ke ladang kadang pagi, kadang menjelang sore tapi Alya tidak lagi menyesuaikan waktunya. Jika dulu ia tanpa sadar menunggu langkah kaki Bayu sebelum mulai bekerja, kini ia bekerja dulu, menyelesaikan apa yang harus diselesaikan, lalu pulang sebelum matahari condong ke barat.
Bukan untuk menghukum. Bukan untuk membuat Bayu merasa bersalah. Alya hanya sedang menyelamatkan dirinya sendiri.
Ada hari-hari ketika Bayu berdiri cukup dekat, tapi tidak bicara. Ada hari ketika Bayu ingin membantu mengangkat keranjang, lalu berhenti karena Alya sudah lebih dulu melakukannya sendiri. Jarak itu tidak diucapkan, tapi terasa seperti garis halus yang tak boleh dilewati.
Suatu pagi, hujan turun tiba-tiba. Alya terjebak di ladang tanpa jas hujan. Tanah menjadi licin, udara lembap, dan kabut tipis naik dari permukaan tanah. Bayu datang dengan motor, membawa satu jas hujan.
Tanpa kata, ia mengulurkan jas itu.
Alya menerimanya. “Terima kasih.”
Nada suaranya netral. Tidak dingin. Tidak hangat.
Bayu menatapnya lebih lama dari seharusnya. “Kamu sekarang… seperti orang yang siap pergi.”
Alya mengancingkan jas hujan itu pelan. “Aku cuma nggak mau berdiri di tempat yang sama terlalu lama.”
Bayu ingin mengatakan sesuatu. Tapi hujan makin deras. Kata-kata kembali dikalahkan cuaca, seperti selalu.
Akhirnya mereka berdua berjalan meninggalkan sawah, di persimpangan jalan keduanya melangkah sendiri-sendiri.
Bayi tak banyak bicara, bahkan bibirnya seperti dtertahan, begitu juga dengan Alya keduanya pulang tanpa kata. Hanya rintikan hujan yang menjadi saksi keheningan ini.
☘️☘️☘️☘️
Beberapa hari kemudian, kabar resmi soal penataan jalan mulai ditempel di balai desa.
Kertas pengumuman itu berwarna putih, sedikit miring karena ditempel terburu-buru. Sudut bawahnya terlipat, tertiup angin yang keluar masuk dari pintu balai. Nama-nama lahan tercantum rapi, seperti daftar yang tidak punya perasaan.
Alya berdiri di depannya cukup lama.
Orang-orang datang dan pergi. Ada yang membaca sambil menggerutu, ada yang langsung berdiskusi, ada pula yang hanya melirik lalu pergi. Alya tidak ikut bicara. Ia membaca baris demi baris perlahan, jari telunjuknya menelusuri tulisan.
Nomornya ada di sana.
Nama pemilik lahan: Alya.
Lokasi: pinggir jalan desa, sisi timur.
Keterangan: terdampak perluasan bahu jalan.
Tidak semua ladang terdampak. Tapi ladangnya termasuk.
Tidak diambil seluruhnya. Hanya sebagian kecil. Beberapa meter saja, kata orang-orang nanti. Tapi Alya tahu, beberapa meter itu adalah jalur yang selama ini ia lalui setiap pagi. Tempat ia biasa menaruh keranjang. Tempat Bayu sering duduk, menyalakan rokok tanpa benar-benar menghisapnya.
Ia menghela napas pelan. Bukan panik. Bukan kaget. Lebih seperti… kehilangan yang belum benar-benar terjadi, tapi sudah terasa.
Alya melipat kertas salinan pengumuman yang ia ambil, memasukkannya ke tas kainnya. Tangannya tidak gemetar. Ia bahkan sempat menyapa Pak Lurah yang lewat.
“Iya, Pak,” katanya ketika ditanya apakah sudah membaca.
Nada suaranya datar. Terlalu datar untuk kabar yang mengubah banyak hal.
Ia pulang dengan langkah biasa. Tidak terburu-buru. Tidak juga melambat. Seolah semua ini hanya satu lagi dari banyak hal yang harus ia terima tanpa banyak pilihan.
Di ladang, Alya berhenti di ujung yang akan terdampak. Ia berdiri, menatap tanah itu lama.
Di situlah dulu ia pertama kali belajar menanam sendiri. Salah jarak. Salah hitung. Tapi tetap tumbuh.
Ia berjongkok, meremas tanah dengan telapak tangan. Masih lembap. Masih subur.
“Cuma sebentar,” gumamnya pada dirinya sendiri. “Nanti juga menyesuaikan.”
Ia mengulang kalimat itu beberapa kali, seperti doa kecil yang tidak ingin terlalu keras berharap.
☘️☘️☘️☘️
Bayu tahu dari orang lain. Ia datang ke rumah Alya sore itu, berdiri di teras seperti pertama kali ia pamit ke Surabaya. Tapi kali ini, Alya tidak membiarkannya bicara terlalu lama.
“Aku sudah tahu,” kata Alya sebelum Bayu sempat membuka mulut.
Bayu mengangguk. “Aku mau bantu urus—”
“Tidak perlu.”
Nada Alya lembut, tapi tegas.
Bayu menelan ludah. “Kamu yakin?”
“Aku yakin.” Alya menatapnya. “Kalau aku selalu mengandalkanmu, aku akan terus berharap. Dan aku capek berharap pada sesuatu yang tidak pasti.”
Bayu terdiam lama.
“Alya,” katanya akhirnya, suara Bayu serak, “aku tidak pernah berniat menjauh.”
“Aku tahu,” jawab Alya jujur. “Dan justru itu yang paling menyakitkan.”
Bayu terdiam, ia tak tahu harus berbuat apa, namum sesuatu di masa lalu masih membuatnya ragu untuk melangkah, ia bukan tak ada perasaan, tapi ia tak mau melibatkan seseorang di masa sekarang untuk menghadapi itu.
"Maaf." hanya kata itu yang keluar dari mulutnya.
Alya hanya terdiam lalu mulai bertanya. "Maaf untuk apa?" tanyanya.
Bayu tidak menjawab malam itu dengan cepat. Ia duduk di teras, menatap halaman, seperti orang yang kehilangan sesuatu tapi tidak tahu kapan tepatnya itu terjadi.
☘️☘️☘️☘️
Setelah kepergian Bayu, malam itu Alya tidak langsung tidur.
Ia duduk di lantai kamar, bersandar pada sisi ranjang, buku catatan terbuka di pangkuannya. Lampu meja menyala redup, cukup untuk melihat garis-garis tulisan yang selama ini hanya berisi angka dan rencana.
Tangannya berhenti cukup lama sebelum menulis.
“Aku ini sebenarnya nunggu apa?” gumamnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri daripada siapa pun.
Tidak ada jawaban. Hanya suara malam dan detak jam dinding yang terasa terlalu jelas.
Ia menunduk, menulis pelan, seolah setiap huruf perlu diyakinkan dulu:
Jika seseorang tidak bisa memilihku hari ini, aku tidak akan menunggu esok hanya untuk membuktikan bahwa aku layak.
Alya berhenti. Membaca ulang kalimat itu.
“Kejam ya,” katanya pelan. “Tapi capek juga terus berharap diam-diam.”
Ia menghembuskan napas, lalu menyentuh halaman itu dengan ujung jarinya.
“Aku nggak minta dipilih paling depan,” lanjutnya, suara hampir tak terdengar.
“Aku cuma nggak mau jadi pilihan yang ditunda.”
Kalimat itu tidak ia tulis.
Cukup ia akui. Alya menutup buku catatan itu perlahan, seolah menutup sesuatu yang selama ini ia simpan terlalu lama. Ia bangkit, mematikan lampu, lalu berbaring.
Di gelap kamar, ia menatap langit-langit.
“Besok aku tetap ke ladang,” katanya pada dirinya sendiri.
“Aku tetap hidup seperti biasa.”
Dadanya terasa aneh. Bukan lega. Bukan juga sedih yang meledak.
Lebih ringan.
Seperti seseorang yang akhirnya meletakkan beban yang tidak pernah ia sadari sedang dipikul.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Alya tertidur bukan karena lelah… tapi karena ia memilih dirinya sendiri.
☘️☘️☘️☘️
Beberapa minggu kemudian, Alya mulai sibuk mengurus penyesuaian ladang. Bertemu petugas desa. Mengubah jalur tanam. Belajar menerima bahwa tidak semua yang dirawat akan tetap utuh.
Bayu melihat perubahan itu dari jauh. Ia masih di sana. Masih peduli. Tapi kini ia paham: Alya tidak lagi berdiri menunggunya.
Dan untuk pertama kalinya, Bayu merasa takut bukan pada masa lalunya, bukan pada kegagalan melainkan pada kemungkinan kehilangan seseorang yang diam-diam sudah menjadi rumah.
Bab itu berakhir bukan dengan pengakuan, ataupun perpisahan. Tapi dengan dua orang yang sama-sama sadar: diam terlalu lama bisa mengubah
Bersambung ...
Gak nyangka sudah 20 bab semoga lolos retensi ya
bikin alya lupa sama kisah pedih hidupnya
thor novelnya jgn trllu kaku dong