NovelToon NovelToon
Ayo Bercerai, Mas!

Ayo Bercerai, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

"Di kantor kita adalah rekan kerja, di rumah kita adalah orang asing, dan di ranjang... kita hanyalah dua raga yang tak punya jiwa."

Alsava Emily Claretta punya segalanya: jabatan tinggi sebagai COO Skyline Group, kecantikan yang memabukkan, dan status sebagai istri dari Garvi Darwin—sang "Dewa Yunani" sekaligus CEO perusahaan tempat ia bekerja. Namun, di balik kemewahan mansion Darwin, Sava hanyalah seorang wanita yang terkurung dalam kesepian.
Saat Garvi sibuk menjelajahi dunianya, Sava melarikan penatnya ke lantai dansa nightclub. Ia mengira hubungan mereka akan selamanya seperti itu—dingin, berjarak, dan penuh rahasia. Hingga suatu saat, rasa jenuh itu memuncak.
"Aku butuh hiburan, Win. Butuh kebebasan," ucap Sava.
Sava tidak tahu bahwa setiap langkahnya selalu dipantau oleh mata tajam Garvi dari kejauhan. Garvi tak ingin melepaskannya, namun ia juga tak berhenti menyakitinya. Saat satu kata perceraian terucap—permainan kekuasaan pun dimulai. Siapa yang akan lebih dulu berlutut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Lobi utama Skyline Group yang megah dengan pilar-pilar marmer setinggi sepuluh meter itu biasanya menjadi simbol ketenangan dan profesionalitas. Namun siang ini, suasana berubah menjadi pasar tumpah yang gaduh. Suara lengkingan seorang wanita memecah keheningan, menarik perhatian ratusan pasang mata karyawan yang hendak berangkat makan siang.

Sava melangkah keluar dari lift khusus eksekutif bersama Roy dan Winata. Wajahnya tampak lelah setelah pertempuran di ruang direksi tadi pagi, namun ia tetap mempertahankan dagunya yang terangkat tinggi. Baru saja ia ingin melangkah menuju pintu putar otomatis, langkahnya terhenti.

"Aku bilang aku istrinya! Kalian tidak dengar?! Aku sedang mengandung pewaris Skyline Group!" teriak Shila dengan histeris. Ia tampak sedang beradu argumen dengan dua orang resepsionis dan tiga petugas keamanan yang tampak serba salah.

Shila mengenakan dress ketat berwarna emas yang sangat mencolok, tangannya tak henti-henti mengelus perutnya yang tampak membuncit secara tidak wajar.

Sava menghentikan langkahnya. Matanya menyipit, menatap sosok Shila yang sedang menciptakan tontonan gratis.

Winata menyikut lengan Roy, berbisik dengan nada sarkastik. "Lihat itu, drama apa lagi yang ingin dibuat si rubah itu? Apa dia tidak tahu kalau Sava saat ini sedang berada di mode 'monster' setelah kekacauan yang dia buat sama Victor?"

Roy menghela napas, tangannya sudah bersiap di saku jas untuk memanggil tim keamanan tambahan. "Nona Winata, biarkan saya yang mengurusnya. Nyonya Muda sudah terlalu banyak dihajar batinnya sejak semalam. Saya tidak tega melihatnya harus meladeni wanita gila itu lagi."

Winata segera menahan lengan Roy. "Jangan. Tunggu sebentar. Biarkan Sava yang membereskannya. Dia butuh meluapkan sedikit amarahnya agar tidak meledak di dalam."

Roy menatap punggung Sava dengan cemas. "Tapi Nyonya Muda sedang rapuh..."

"Percayalah, Roy. Sava lebih kuat dari yang kamu kira," balas Winata tegas.

Sava mempercepat langkah kakinya. Suara detak stiletto-nya yang tajam di atas lantai marmer seolah menjadi pengingat bagi semua orang bahwa sang COO telah turun tangan.

"Ada apa ini?" tanya Sava dengan suara dingin yang mampu menurunkan suhu ruangan seketika.

Shila menoleh, wajahnya yang penuh riasan tebal itu langsung berubah menjadi seringaian penuh kemenangan begitu melihat Sava.

"Oh, Miss Sava yang terhormat. Kebetulan sekali. Katakan pada bawahan-bawahan bodohmu ini untuk membiarkanku naik. Aku mau bertemu suamiku, Garvi!"

Sava menatap Shila dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan.

"Mr. Garvi sedang sibuk. Dan kantor ini bukan tempat untuk berteriak seperti di pusat perbelanjaan, Shila."

"Sibuk?!" Shila tertawa nyaring, sengaja dikeraskan agar para karyawan mendengar. "Tentu saja dia merindukanku! Aku ini istrinya, dan aku sekarang sedang mengandung anaknya!" Shila kembali mengelus perutnya dengan gerakan dramatis.

Sava terdiam sejenak. Ia maju satu langkah, memperpendek jarak hingga ia bisa mencium bau parfum Shila yang terlalu menyengat. Tatapan Sava beralih pada perut Shila yang menonjol di balik dress emasnya.

"Mengandung anak Mr. Garvi?" Sava tersenyum sinis, sebuah senyum yang membuat Shila sedikit mundur. "Menarik. Setahuku, kalian baru bertemu kembali kurang dari dua bulan yang lalu. Tapi... kenapa perutmu sudah sebesar itu, Shila? Usia dua bulan tapi tampak seperti lima bulan? Apa anak itu tumbuh dengan kecepatan cahaya, atau kamu baru saja menelan bantal kecil di dalam mobil tadi?"

Beberapa karyawan yang berada di dekat mereka mulai menutupi mulut, berusaha menahan tawa. Shila mendadak gagap, wajahnya memerah padam.

"I-ini... ini karena kondisi hormonku! Jangan coba-coba menghinaku, Alsava!"

"Aku tidak menghinamu, aku hanya menggunakan logika," lanjut Sava dengan nada yang semakin menajam. "Jika kamu ingin membuat pengakuan sebagai istri, bawalah bukti yang sah. Di mana surat nikahmu? Di mana foto keluargamu dengan keluarga Darwin? Atau... bawalah Mr. Garvi ke sini dan suruh dia mengakuimu di depan publik. Jika kamu hanya datang ke sini dan berkoar-koar tanpa bukti, bukankah kamu terlihat seperti wanita murahan yang sedang mengemis pertanggungjawaban?"

"Kau...!" Shila mengangkat tangannya, hendak melayangkan tamparan.

Namun dengan gerakan secepat kilat, Sava menangkap pergelangan tangan Shila. Cengkeramannya sangat kuat hingga Shila meringis kesakitan.

"Jangan pernah berani menyentuhku di kantorku sendiri," desis Sava tepat di depan wajah Shila. "Jika kamu tidak ingin dicap sebagai wanita murahan, berhentilah bertingkah murahan. Datang ke kantor orang lain dan membuat keributan bukan menunjukkan kelasmu, tapi justru menginjak-injak harga dirimu yang memang sudah tidak seberapa itu. Menjadi murahan itu pilihan, Shila, tapi jangan tunjukkan kebodohanmu di hadapan publik Skyline."

Sava menghempaskan tangan Shila dengan kasar. Ia berbalik, menatap dingin pada para karyawan yang menonton.

"Kembali bekerja! Tontonan gratis sudah selesai."

Sava kemudian melangkah pergi menuju pintu keluar, diikuti oleh Roy dan Winata yang berjalan dengan dada membusung bangga di belakangnya. Shila berdiri mematung di tengah lobi, napasnya memburu karena malu, marah, dan kesal. Ia bisa merasakan tatapan meremehkan dari para karyawan yang mulai berbisik-bisik sambil menunjuk ke arahnya.

**

Di dalam kabin yang kedap suara itu, dinginnya AC tak mampu mendinginkan gejolak di hati Alsava. Ia menyandarkan pelipisnya di kaca jendela yang gelap, menatap deretan ruko dan hiruk pikuk kota dengan pandangan kosong.

"Tadi itu benar-benar hebat, Va," puji Winata pelan, memecah keheningan. "Perut lima bulan? Aku bahkan tidak menyadari ganjalan bantal itu karena aktingnya yang terlalu total. Kamu benar-benar membuat rubah itu kehilangan muka di depan umum."

Sava tidak menjawab. Ia hanya menarik napas panjang, membiarkan paru-parunya terisi udara yang terasa semakin berat setiap harinya. Pikirannya melayang pada Garvi yang masih terbaring tak berdaya di rumah sakit, sementara ia di sini, harus bertarung dengan wanita-wanita dari masa lalu suaminya.

Winata melirik Roy melalui spion tengah, memberikan isyarat dengan tatapan mata seolah bertanya, “Apa dia baik-baik saja?”.

Roy hanya menganggukkan kepalanya sedikit—sebuah gerakan samar yang menunjukkan bahwa ia pun menyadari beban luar biasa yang sedang dipikul oleh nyonya mudanya itu.

Beberapa saat kemudian, mobil berhenti di sebuah restoran eksklusif di kawasan Medan selayang. Restoran itu memiliki konsep taman terbuka yang megah. Begitu masuk, suara gemericik air terjun buatan yang jernih dan hamparan bunga anggrek yang tertata rapi menyambut mereka. Suasana ini seharusnya bisa memberikan ketenangan, namun bagi Sava, semuanya terasa hambar.

"Pesan tempat yang paling privat," titah Sava pelan kepada Roy.

Setelah mereka duduk di meja kayu jati yang menghadap langsung ke taman bunga, seorang pelayan datang dengan sopan. Tanpa melihat menu, Sava langsung berucap.

"Berikan aku lava cake cokelat yang paling manis, satu porsi besar es krim vanila, dan macaron," ucap Sava datar.

Winata tertegun. Ia tahu betul sahabatnya ini adalah penganut gaya hidup sehat yang sangat menghindari gula berlebih, apalagi es krim di siang bolong.

"Va, kamu tidak salah pesan? Kamu bahkan jarang menyentuh makanan manis."

"Aku butuh sesuatu untuk menahan rasa pahit di kepalaku, Win," jawab Sava tanpa ekspresi. "Pesankan saja."

Winata hanya bisa mengangguk pasrah pada pelayan. Suasana kembali hening sejenak sebelum Sava mengalihkan tatapannya pada Roy yang duduk di hadapannya dengan tablet di tangan.

"Sekarang, laporkan apa yang kamu dapatkan, Roy."

"Mengenai foto Mr. Garvi yang bocor semalam," Roy memulai dengan suara rendah yang berwibawa. "Pelakunya adalah seorang pria yang menyamar menjadi petugas kebersihan di lantai VVIP. Kami sudah mengidentifikasinya sebagai orang suruhan Victor. Saat ini dia sudah diurus oleh tim keamanan internal kita di gudang belakang Skyline. Kami sengaja menahan informasinya agar Victor tidak curiga bahwa rencananya sudah tercium."

Sava mengangguk pelan, jemarinya mengetuk-ngetuk meja dengan ritme yang tidak beraturan.

"Lalu... apa sebenarnya yang terjadi antara Mr. Garvi dan Victor? Dendam bisnis tidak akan membuat seseorang senekat itu sampai ingin melenyapkan nyawa di jalan raya."

Baru saja Roy hendak membuka suara, pelayan datang membawa pesanan mereka. Winata menatap Sava yang langsung menyendok es krim vanilanya dengan gerakan cepat, seolah-olah rasa dingin itu bisa membekukan rasa sakit di hatinya.

"Makan dulu, baru kita lanjutkan. Kalian berdua juga harus mengisi tenaga," ucap Sava sambil terus menyuap makanannya.

Winata menghela napas. "Kamu juga harus makan nasi, Va. Kue dan es krim ini tidak akan memberimu energi untuk menghadapi banyak hal."

"Aku sudah cukup dengan ini," potong Sava singkat.

Setelah Roy menyelesaikan makan siangnya dengan cepat, ia mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan sebuah file terenkripsi ke email pribadi Sava.

"Saya sudah mengirimkan detailnya, Miss. Ini adalah bagian gelap dari masa kuliah Mr. Garvi di Swiss."

Sava membuka tabletnya. Sebuah foto lama muncul di layar. Foto itu menampakkan tiga orang mahasiswa di depan sebuah bangunan tua bergaya Eropa dengan latar belakang salju. Ada tiga orang yang dilingkari warna merah: Garvi yang tampak sangat muda dan angkuh, Victor yang terlihat lebih kurus, dan seorang gadis berambut pirang dengan senyum cerah bernama Natalie.

"Mereka bertiga adalah teman satu lingkaran di Swiss," Roy menjelaskan. "Victor dan Natalie adalah sepasang kekasih saat itu. Namun, Natalie sangat tergila-gila pada Mr. Garvi. Sifat Mr. Garvi yang memang karismatik—dan jujur saja, beliau sering membantu Natalie saat gadis itu kesulitan dalam studinya—membuat Natalie salah paham."

Sava mendengarkan dengan saksama, meski dadanya mulai terasa sesak.

"Natalie mengejar Mr. Garvi dengan obsesif, padahal saat itu dia masih berhubungan dengan Victor dan diam-diam sedang mengandung anak Victor. Suatu malam, Natalie menyatakan cintanya kepada Mr. Garvi, namun Mr. Garvi menolaknya mentah-mentah karena beliau memang hanya menganggapnya teman. Natalie yang hancur dan frustrasi karena penolakan itu, ditambah rasa bersalah pada Victor, mengambil tindakan nekat. Dia meminum obat penggugur kandungan dalam dosis tinggi hingga overdosis."

Roy menjeda sejenak, menatap reaksi Sava. "Natalie meninggal dunia di apartemennya. Victor menemukan mayatnya dan surat cinta Natalie untuk Mr. Garvi yang ditolak. Sejak saat itu, Victor kehilangan akal sehatnya. Dia menyalahkan Mr. Garvi atas kematian Natalie dan bayi yang dikandungnya. Baginya, Mr. Garvi adalah pembunuh berdarah dingin yang menggunakan karismanya untuk menghancurkan hidup orang lain."

Winata menggebrak meja pelan, wajahnya memerah karena kesal. "Sifat sok pahlawan dan pesona cassanova Garvi itu benar-benar pembawa sial! Lihat akibatnya sekarang, nyawa orang melayang dan sekarang dia sendiri yang dikejar maut!"

Sava terdiam seribu bahasa. Kepalanya mendadak terasa sangat ringan, sementara perutnya seperti diperas oleh tangan raksasa. Manipulatif. Posesif. Cassanova. Kata-kata itu berputar-putar di otaknya seperti badai. Ternyata pria yang ia nikahi selama empat tahun ini membawa beban darah dari masa lalunya yang bahkan tidak pernah ia bayangkan.

"Va? Kamu tidak apa-apa?" tanya Winata, suaranya terdengar menjauh di telinga Sava.

Sava mencoba menjawab, namun lidahnya terasa kelu. Pandangannya mulai kabur. Taman bunga yang indah di depannya seolah berputar. Ia merasakan denyutan hebat di perut bagian bawahnya yang semakin lama semakin melilit hebat.

"Ugh..." Sava mengerang, tangannya mencengkeram pinggiran meja hingga buku-buku jarinya memutih.

"Miss Sava!" Roy bangkit dari kursinya dengan sigap.

"Sava! Wajahmu pucat sekali! Ya Tuhan, keringat dinginmu..." Winata panik melihat sahabatnya yang tiba-tiba membungkuk kesakitan.

"Sakit... Win... perutku..." suara Sava melemah. Rasa sakit itu begitu intens, seolah ada sesuatu yang dipaksa lepas dari dalam dirinya.

Sava mencoba berdiri, namun kegelapan tiba-tiba menyapu seluruh pandangannya. Tubuhnya yang tinggi semampai itu luruh, kehilangan keseimbangan sepenuhnya.

"SAVA!" teriak Winata histeris saat melihat tubuh Sava pingsan.

Dengan gerakan cepat, Roy menangkap tubuh Sava sebelum menghantam lantai. Ia segera menggendong tubuh nyonya mudanya itu dengan gaya bridal style.

"Nona Winata, siapkan mobil! Sekarang!"

Roy berlari keluar restoran dengan langkah seribu, tidak memedulikan tatapan mata para pengunjung lain. Di dalam dekapannya, wajah Sava tampak seputih kertas, bibirnya yang biasanya merah muda kini membiru.

Winata berlari mendahului untuk membuka pintu mobil. Air matanya mulai menetes. Ia tahu Sava sedang dihajar habis-habisan oleh kenyataan, namun ia tidak menyangka tubuh tangguh itu akan tumbang secepat ini.

"Cepat, Roy! Ke Columbia Asia!" teriak Winata begitu Roy memasukkan Sava ke kursi belakang.

Mobil itu melesat membelah jalanan Medan dengan kecepatan tinggi, sirene darurat seolah berbunyi di dalam dada mereka masing-masing. Di kursi belakang, kepala Sava terkulai di pangkuan Winata.

***

1
Umi Kolifah
kamu hebat Sava, semoga garvi sadar perbuatannya menyakitimu sebelum penyesalan datang terlambat
Desi Santiani
semangat thor💪
Desi Santiani
semangat miss sava, semoga gravi segera siuman n dya bisa menunjukan cara mencintaimu dgn lebih nyata
Desi Santiani
semangat thor😍
Desi Santiani
selalu suka dgn karya2nya thor, krna alur cerita nya dkemas apik, tokoh karakter ddlm cerita sgt jelas per partnya, bahasa penulisannya selalu apik.
Desi Santiani
seru thor double up,
Nda
penasaran thor,di tunggu kelanjutanya
Nda
di tunggu double up-nya thor
Murnia Nia
lanjut thor aku kirim vote ni untuk karyamu
Umi Kolifah
buat gavi menyesal Thor , ave pergi sejauh mungkin
Desi Santiani
menarikk alurnya semangat thor
merry
cinta tp menlukai psagann y,,
Nda
selalu mampir thor
Nda
ditunggu double up-nya thor 😍
Nda
ditunggu kelanjutanya thor,ceritanya seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!