NovelToon NovelToon
WARUNG TENGAH MALAM

WARUNG TENGAH MALAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horor / Roh Supernatural / Hantu / Mata Batin
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Di sudut sepi Yogyakarta, di bawah naungan pohon beringin yang tua, terdapat sebuah warung tenda yang tidak terdaftar di peta manapun. Warung itu tidak memiliki nama, tidak memiliki daftar harga, dan hanya buka ketika lonceng tengah malam berdentang.
​Pemiliknya adalah Pak Seno, seorang koki bisu dengan tatapan mata setenang telaga namun menyimpan ribuan rahasia. Pelanggannya bukanlah manusia yang kelaparan akan kenyang, melainkan arwah-arwah gentayangan yang kelaparan akan kenangan. Mereka datang untuk memakan "hidangan terakhir"—resep dari memori masa hidup yang menjadi kunci untuk melepaskan ikatan duniawi mereka.
​Kehidupan sunyi Pak Seno berubah ketika Alya, seorang gadis remaja yang terluka jiwanya dan berniat mengakhiri hidup, tanpa sengaja melangkah masuk ke dalam warung itu. Alya bisa melihat mereka yang tak kasat mata. Alih-alih menjadi santapan makhluk halus, Alya justru terjebak menjadi asisten Pak Seno.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 : Raja Celeng dan Tembang Sinden

​Malam kedua penjagaan (H-1 Purnama).

​Jika malam sebelumnya suasana mencekam karena serangan hama, malam ini suasananya... berat.

​Secara harfiah berat. Gravitasi di sekitar rumah Joglo terasa meningkat dua kali lipat. Udara menjadi padat dan sulit dihirup. Alya merasa seolah sedang berjalan di dalam kolam lumpur setiap kali dia melangkah untuk memeriksa jendela.

​Di dapur, kondisi Seno mengkhawatirkan.

Wajah koki tua itu pucat pasi seperti kertas. Darah segar menetes perlahan dari lubang hidung kirinya, jatuh ke pangkuannya yang bersila. Tubuhnya semakin kurus, seolah dagingnya diserap oleh energi besar yang dibutuhkan untuk memasak bubur itu.

​Bubur di dalam Kendi Kyai Plered kini tidak lagi mendidih liar. Ia tenang. Permukaannya berkilauan seperti cermin emas cair. Aromanya pun berubah. Bukan lagi aroma bunga atau laut, melainkan aroma ASI (Air Susu Ibu). Aroma murni kehidupan awal.

​Aroma inilah yang memancing pemangsa paling rakus.

​"Gulo," bisik Alya. "Lu ngerasa nggak? Tanahnya getar."

​Gulo yang duduk di atas lemari tidak menjawab. Dia meringkuk, menutup matanya dengan kedua tangan. Ekornya melilit lehernya sendiri. Dia ketakutan setengah mati. Hewan selalu tahu lebih dulu jika raja rimba akan lewat.

​DUM... DUM... DUM...

​Bukan suara gedoran pagar. Itu suara langkah kaki raksasa.

Tanah bergetar hebat. Panci-panci yang digantung beradu satu sama lain. Klang klang klang.

​Dari arah gerbang depan, terdengar suara geraman rendah yang membuat kaca jendela bergetar.

"HOOOOOGH..."

​Alya berlari ke ruang depan, mengintip dari celah pintu gebyok.

Mata Alya terbelalak.

​Pagar kayu jati depan rumah yang kokoh itu hancur berantakan dalam sekali seruduk.

Di halaman depan, berdiri seekor makhluk mengerikan.

Raja Celeng (Babi Hutan).

​Tingginya hampir menyentuh atap pendopo. Bulunya hitam legam dan kaku seperti kawat baja. Taringnya mencuat melengkung ke atas, panjang dan kuning gading. Matanya merah menyala, memancarkan keserakahan yang tanpa dasar.

Dia mengenakan kalung emas besar dan gelang kaki emas—tanda bahwa dia bukan hewan biasa, melainkan Siluman Pesugihan tingkat tinggi.

​"AKU MENCIUM BAU KEABADIAN..." suara Raja Celeng itu terdengar parau dan basah. "KOKI SENO... KELUARKAN MAKANAN ITU. ATAU AKU AKAN MEMAKAN RUMAHMU SEKALIAN."

​Alya mundur, kakinya lemas. Ini bukan lawan seimbang. Sutil kayu dan garam tidak akan mempan melawan monster tank baja seperti ini.

​Raja Celeng itu melangkah maju. Kakinya menghancurkan pot-pot bunga Alya.

Dia menunduk, bersiap menyeruduk pintu utama rumah Joglo.

Jika dia menabrak, rumah ini akan runtuh, menimpa Seno dan Bubur Suro itu.

​"Jangan..." Alya mencengkeram pisau Beras Wutah di tangannya. Dia harus keluar. Dia harus mengalihkan perhatian monster itu.

"Woi! Babi Gendut!" Alya berteriak, membuka pintu depan.

​Raja Celeng berhenti. Dia menoleh ke arah Alya yang kecil dan rapuh di teras.

Dia mendengus meremehkan.

"Kutu..."

​Raja Celeng itu membuka mulutnya, bersiap menyemburkan uap panas.

​Tiba-tiba...

Alunan suara yang merdu dan melengking membelah udara malam.

​"Lingsir wengi... sepi durung biso nendra..."

​Suara tembang Jawa itu begitu halus, tapi memiliki frekuensi yang menyakitkan telinga. Kaca jendela yang tadi bergetar kini retak seribu. Krek.

​Raja Celeng itu tersentak. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya yang besar, seolah ada lebah yang berdengung di telinganya.

"SIAPA YANG BERANI MENYANYI?!"

​Dari atap rumah Joglo, turunlah sesosok wanita.

Dia melayang turun perlahan seolah menuruni tangga tak kasat mata.

Dia mengenakan kebaya beludru hitam dengan kain batik motif Sido Mukti. Rambutnya disanggul rapi dengan hiasan melati. Wajahnya cantik klasik, putih pucat, dengan bedak tebal layaknya penari tradisional.

​Dia mendarat di antara Alya dan Raja Celeng.

Dia merentangkan selendang merahnya.

​Nyai Gandes.

Sinden legendaris yang dulu sering manggung di pendopo ini puluhan tahun lalu, saat Seno masih muda dan rumah ini masih sering mengadakan pagelaran wayang.

​"Prabu Celeng," sapa Nyai Gandes lembut tapi dingin. "Tamu tak diundang dilarang masuk. Apalagi tamu yang tidak tahu tata krama dan bau kandang."

​Alya ternganga. "Mbak... Sinden?"

​Nyai Gandes menoleh sedikit ke Alya, tersenyum manis (gigi-giginya hitam karena nginang/sirih). "Tenang, Nduk. Mas Seno itu teman lama saya. Dulu dia sering masakin saya Rawon tiap habis manggung. Sekarang giliran saya balas budi."

​Raja Celeng meraung marah. "Sinden rongsokan! Minggir!"

​Raja Celeng menyeruduk. Kecepatannya mengerikan untuk ukuran tubuh segitu.

Alya menjerit.

​Tapi Nyai Gandes tidak lari. Dia mengibaskan selendang merahnya.

WUT!

Selendang sutra yang terlihat lembut itu tiba-tiba memanjang dan mengeras seperti rantai baja. Selendang itu melilit taring Raja Celeng, menahannya di tempat.

​DUG!

Kaki Nyai Gandes terseret ke belakang, menciptakan parit di tanah. Kekuatan Raja Celeng luar biasa.

​"Nduk!" teriak Nyai Gandes, suaranya tidak lagi merdu tapi tegas. "Tusuk matanya! Selendangku nggak akan tahan lama!"

​Alya tersentak. Dia harus bergerak.

Dengan modal nekat, Alya berlari ke samping, menghindari jangkauan kepala babi itu.

Dia melompat naik ke atas pot bunga besar, lalu melompat lagi ke punggung Raja Celeng yang berbulu kawat.

Alya berpegangan pada bulu kasar itu. Baunya busuk luar biasa.

​Raja Celeng mengamuk, mencoba menjatuhkan Alya.

Nyai Gandes mempererat lilitan selendangnya di taring babi, menahan kepalanya agar tidak menengok ke belakang.

​"Sekarang!" teriak Nyai Gandes.

​Alya mengangkat pisau Beras Wutah. Bilah keris itu bersinar terang, merespons keberanian Alya.

Alya tidak menusuk mata (terlalu sadis/susah dijangkau). Dia menusuk ke arah tengkuk—titik lemah siluman hewan.

​"Maaf ya, Babi!"

JLEB!

​Pisau itu menembus kulit tebal si Raja Celeng.

Bukan darah merah yang keluar, melainkan asap hitam pekat.

Energi murni dari keris Empu Gandring membakar esensi jahat siluman itu.

​"AAAAARGHHH!"

Raja Celeng menjerit. Suaranya memecahkan semua kaca jendela di rumah Joglo.

PRANG!

​Raja Celeng mengibaskan tubuhnya sekuat tenaga.

Alya terpental jauh, jatuh berguling-guling di tanah keras.

"Uhuk..." Alya merasa rusuknya sakit.

​Raja Celeng mundur. Matanya yang merah kini redup sebelah. Dia kesakitan. Lukanya tidak menutup. Asap terus keluar.

Dia menatap Alya dan Nyai Gandes dengan dendam kesumat.

​"Kalian... kalian akan menyesal..." desis Raja Celeng. "Malam besok... saat Bulan Purnama penuh... aku tidak akan datang sendiri. Seluruh penghuni Alas Roban akan meratakan tempat ini!"

​Dengan ancaman itu, Raja Celeng berbalik dan lari terbirit-birit menembus kegelapan, meninggalkan jejak kaki raksasa dan bau hangus.

​Suasana kembali hening.

Nyai Gandes menarik selendangnya. Napas hantunya tersengal-sengal. Wajah cantiknya retak sedikit seperti porselen pecah—efek menggunakan terlalu banyak tenaga.

​Alya berusaha bangun sambil memegangi perutnya.

"Mbak Gandes... makasih..."

​Nyai Gandes melayang mendekati Alya. Dia mengusap kepala Alya dengan tangan dinginnya.

"Kamu berani, Nduk. Pantas Mas Seno milih kamu."

​Nyai Gandes menatap ke arah dapur. Dia melihat cahaya emas memancar dari sana.

"Masakan itu hampir matang. Baunya... baunya bikin saya ingat masa hidup saya."

​Nyai Gandes tersenyum sedih.

"Saya harus pergi, Nduk. Energi saya habis. Saya harus 'tidur' di dalam gamelan tua di gudang."

​"Tunggu, Mbak!" cegah Alya. "Besok malam gimana? Kata Babi itu besok mereka bawa pasukan."

​Wajah Nyai Gandes berubah serius.

"Besok malam adalah puncaknya. Saya tidak bisa bantu banyak besok. Kamu dan Mas Seno harus berjuang sendiri. Tapi ingat satu hal..."

​Nyai Gandes membisikkan sesuatu ke telinga Alya.

"Siluman sekuat apa pun, mereka tetaplah 'lapar'. Jangan lawan kekuatan mereka. Lawan rasa lapar mereka."

​Setelah itu, Nyai Gandes memudar, menyatu dengan bayangan malam.

​Alya tertatih-tatih masuk kembali ke rumah.

Dia langsung menuju dapur.

​Seno masih dalam posisi meditasi. Tapi kondisinya makin parah.

Darah dari hidungnya kini mengalir juga dari telinganya. Kulitnya abu-abu. Napasnya sangat tipis.

Dia sekarat. Energinya terkuras habis untuk mempertahankan 'nyawa' bubur itu saat terjadi serangan barusan.

​Alya berlari, mengambil kain basah, mengelap darah di wajah Seno.

"Pak... Pak Seno bertahan ya. Tinggal satu hari lagi. Besok Purnama."

​Seno membuka matanya sedikit. Matanya merah, pembuluh darahnya pecah.

Dia menatap Alya, lalu matanya melirik ke kendi.

​Bubur itu sudah jadi.

Warnanya emas sempurna.

Tapi ini belum selesai. Bubur ini harus didinginkan dan disajikan tepat saat bulan purnama naik ke titik tertinggi besok tengah malam.

​Seno menggerakkan tangannya yang gemetar, menulis di lantai dengan sisa tenaga terakhir.

​BESOK MALAM. KITA TIDAK MENUNGGU DI SINI. KITA BAWA BUBUR INI KE MEREKA.

KITA GELAR TIKAR DI HALAMAN. KITA UNDANG MEREKA MAKAN.

​Alya terbelalak. "Kita ngundang pasukan siluman makan? Bapak gila?"

​Seno tersenyum lemah.

Itulah rencananya.

Warung Tengah Malam tidak pernah menolak tamu. Bahkan jika tamu itu berniat membunuh kokinya.

​Alya mengerti. Ini adalah pertaruhan terakhir.

The Last Supper.

​Alya menggenggam tangan dingin Seno.

"Oke, Pak. Kita kasih mereka makan sampai kenyang. Sampai mereka lupa mau ngebunuh kita."

​Di luar, langit mulai terang. Fajar H-0 Purnama menyingsing.

Matahari terakhir sebelum malam penentuan.

...****************...

...Bersambung.......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...

...****************...

1
Jenk Sry
👍👍👍👍👍👍👍
ny.KimJeongLee
😭😭 ada bawangnyaa yg epesodeini 😭😭😭
ny.KimJeongLee
pokoknyaa keren deh
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR
petualangan seru dan menegangkan
terselip rasa kekeluargaan tanpa mereka sadari.
petualangan batin dan raga yang harus selalu bisa menempatkan diri, singkirkan keangkuhan,keserakahan dan hubungan yang erat saling melengkapi,menjaga dan empati serta simpati yang tinggi.👍
ny.KimJeongLee
IHH kerenn
ny.KimJeongLee
uwow kerenn
tanty rahayu: terima kasih kaka sudah mampir baca novel ku
total 1 replies
☠ SULLY
mungkin pak Seno
menunggu datang nya tamu wanita dlm foto itu
☠ SULLY
yg baca mulai deg degan
alya 😂
Fitri Yama
go Alya go Seno go go go go,,kalian pasti menang
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR
3 hari penuh pelajaran berharga
3 hari dalam ambang batas dunia nyata dan maya
belajar berdampingan
menghantarkan mereka pulang
mungkin hal yang tak pernah terpikirkan.
3 hari menyulam asa, dari keputus asaan.
haru, sedih dan gembira berbaur
ilmu yang berat baru saja terlewati
IKHLAS
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR
ikutan master chef aja mas seno😂👍
jago sekali anda merayu eyang banaspati, amarah melunak ,melebur dalam cita rasa ,aroma khas nusantara.

kereen thor, tetap semangat yaa mengetik karya indah.
menyusun kalimat perkata dengan ketelitian ekstra
sepanjang apik runut no typo
ciamik
endah thor, ora bakal cukup ratusan mangsi
tanty rahayu: aamiin .... alhamdulillah seneng nya jangan lupa di promosiin ya ka 😍
total 3 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉andiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
/Heart//Heart/ ceritanya unik, menarik /Good/
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR
kalau jadi tontonan pasti seru ini,
horor tapi beda, auranya gak menakutkan.
perjuangan remaja putri yang merasa tidak dapat kasih sayang ,kenyamanan hidup bersama keluarga.
diambang putus asa malah ketemu sosok misterius yang terbelenggu perjanjian , pertukaran nyawa demi sang terkasih, meski tragis ...
pada akhirnya cinta tak berpihak padanya.
hanya bisa memandang dari kejauhan.
ketulusan kasih tanpa perhitungan .
memendam bara asmara seorang diri ,menuangkan rasa lewat cita masakan ,walau beda alam.
semoga di penghujung pak seno bisa menemukan kebahagiaan sejati..
bersama alya saling membantu terlepas dari kerumitan sebuah janji
tanty rahayu: siap ka... terima kasih banyak kaka 😍
total 3 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉andiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
pak jaksa yg gak punyaa hidung 🙊🙊
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉andiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
malam malam kaca mata hitamnya gak dilepas oom /CoolGuy/
Fitri Yama
mantul thorrrr
Fitri Yama
kkkkkeeerrrreeennnnnnnnn
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR
oh ada legenda kepala siapa gitu yang ditanam di tangga menuju makam raja raja imogiri.

adakah semua ini terinspirasi dari sana thor? atau hanya suatu kebetulan belaka?
tapi kepala yang ditanam di undakan itu desas desusnya adalah seorang penghianat? benarkah ? atau hanya cerita dongeng untuk kita selalu bersikap baik ,tulus? sebab konon barang siapa yang menginjak undakan yang ada kepalanya itu sudah dianggap menginjak nginjak harga diri sebagai hukuman sang kepala?
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR
takutnya pak seno ini juga hantu😁.
yang memberi pelajaran berharga buat alya.
seburuk apapun keluarga adalah tempat pulang.
tempat yang nyaman dibanding keganasan hidup diluaran.
tanty rahayu: cari tau di episode selanjut nya ka 🤭
total 1 replies
Yulia Lia
ceritanya bagus
tanty rahayu: terima kasih kaka sudah baca karya ku😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!