NovelToon NovelToon
BANDHANA

BANDHANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:185
Nilai: 5
Nama Author: Beatt

Bandhana memiliki makna hubungan yang mengikat satu hal dengan hal lainnya. Disini Anindita Paramitha memiliki hubungan yang sangat rumit dengan Zaverio Kusuma yang merupakan mantannya namun sekarang jadi kakak iparnya.
Vyan Syailendra, merupakan sahabat Anindita namun permusuhan dua keluarga membuat mereka saling membenci. Namun, hubungan mereka tidak pernah putus. mereka saling melindungi, meskipun membenci.
Dan waktu kelam itu terjadi, Anindita tewas ditangan keluarga suaminya sendiri. Vyan yang berusaha melindungi sahabatnya pun tewas. Zaverio pun membalas keluarganya sendiri dengan cara sadis dan saat semuanya selesai, dia berniat mengakhiri diri sendiri. Namun, dia malah terlempar ke tempat dimana dia bertemu dengan Anindita kecil yang berusia 5 tahun. Akankah, takdir Anindita Paramitha dapat diubah oleh Zaverio? Dan akankah rahasia kelam dapat terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Rumah Peninggalan Mama Zaverio - Sore Hari

Zaverio berdiri kaku di depan jendela kamar, matanya menatap tajam ke luar—menyisir setiap sudut jalan, setiap bayangan di balik pepohonan, mencari tanda-tanda orang yang mengawasi mereka.

Pesan ancaman di ponselnya masih terbayang jelas:

"Enjoying your time with Anindita? Make the most of it. Because soon, I'll take her away from you. Just like you took everything from me."

Tangannya terkepal begitu erat hingga kuku-kukunya menancap ke telapak tangan, tapi dia tidak merasakan sakit. Yang dia rasakan hanyalah ketakutan—ketakutan yang begitu primordial, begitu dalam, membuatnya hampir tidak bisa bernafas.

Tidak. Tidak lagi. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi lagi.

Flashback menghantamnya tanpa permisi—Anindita di kehidupan sebelumnya, tubuhnya penuh darah, tergeletak di lantai ballroom, matanya yang menatap kosong, nafasnya yang berhenti, tangannya yang dingin...

"Kak?"

Zaverio tersentak dari memori mengerikan itu. Dia berbalik cepat dan melihat Anindita berdiri tidak jauh darinya, kepalanya miring dengan ekspresi bingung dan... khawatir.

Sebelum bisa berpikir, Zaverio melangkah cepat dan memeluk Anindita erat—terlalu erat untuk seorang anak berusia 11 tahun memeluk anak berusia 6 tahun.

Tubuhnya gemetar. Nafasnya tersengal. Ketakutan yang dia pendam akhirnya meledak keluar.

"Kak?" Anindita terdengar lebih bingung sekarang, tangannya kecilnya menepuk-nepuk punggung Zaverio dengan canggung. "Ada apa, Kak? Kakak kenapa?"

Anindita bisa merasakan tubuh Zaverio yang gemetar, bisa mendengar nafasnya yang tidak teratur. Ini sangat aneh. Kak Zaverio selalu tenang, selalu terkontrol, selalu kuat. Tapi sekarang...

"Kak, Dita takut kalau Kakak sakit," bisik Anindita, suaranya bergetar. "Kakak demam ya?"

Zaverio sadar dia membuat Anindita khawatir. Dia menarik nafas dalam, memaksa dirinya tenang, dan perlahan melepaskan pelukan.

"Maafkan Kakak, Dita," katanya dengan suara yang berusaha tenang walau masih bergetar. "Kakak hanya... memikirkan sesuatu yang sedih. Mimpi buruk."

Anindita menatapnya dengan mata besar yang polos—mata yang terlalu innocent untuk memahami bahaya yang mengintai. "Mimpi buruk? Seperti kegelapan?"

Zaverio mengangguk, tidak bisa bicara karena takut suaranya akan pecah.

Anindita terdiam sejenak, kemudian wajahnya berbinar—ide cemerlang anak kecil yang polos. Dia menggenggam tangan kanan Zaverio dengan kedua tangannya yang kecil.

"Aku bisa kasih Kakak mantra agar tidak mikirin hal sedih lagi!" serunya dengan antusias.

Zaverio mengangkat alis, sedikit terdistraksi dari ketakutannya. "Mantra?"

"Iya!" Anindita mengangguk dengan semangat. "Ini mantra yang Vyan ajarin ke Dita waktu Dita mimpi buruk. Kata Vyan, kalau kita ucapin mantra ini, mimpi buruk akan pergi!"

Meskipun situasinya menegangkan, Zaverio hampir tersenyum. Vyan dan mantranya.

"Baiklah," kata Zaverio lembut. "Silakan."

Anindita menarik nafas dalam-dalam dengan serius—ekspresi yang sangat serius untuk anak seusianya. Dia memejamkan mata, menggenggam tangan Zaverio lebih erat dan mengucapkan dengan penuh keyakinan:

"Wahai mimpi buruk, pergilah dari Kak Zaverio! Jangan ganggu lagi! Nanti aku akan hajar kamu pakai Sisi!" Dia mengangkat boneka kelincinya dengan tangan yang satu lagi, seolah boneka itu adalah senjata ampuh.

Zaverio membeku. Kemudian—untuk pertama kalinya hari itu—dia tersenyum. Senyum kecil yang genuine.

"Sudah, Kak!" Anindita membuka mata, tersenyum lebar dengan bangga. "Mimpi buruk itu tidak akan datang lagi. Soalnya Dita sudah usir pakai mantra super ampuh!"

Zaverio mengusap kepala Anindita dengan lembut. "Terima kasih, Dita. Kakak merasa lebih baik sekarang."

Kalau saja semua masalah bisa diselesaikan dengan mantra anak-anak, pikir Zaverio pahit. Kalau saja...

Tapi moment itu terpotong saat Zaverio melihat jam tangan di tangannya. Sudah hampir 4 jam mereka di sini. Darma pasti sudah panik mencari Anindita.

"Dita," kata Zaverio, mencoba terdengar santai walau hatinya berdebar, "sudah waktunya kita kembali. Kakek Darma pasti mencemaskanmu."

Anindita mengangguk dengan patuh. "Oke, Kak. Tapi nanti Dita boleh ke sini lagi kan?"

"Tentu saja," jawab Zaverio. "Kapanpun kamu mau."

Mereka berjalan keluar dari rumah—Zaverio dengan waspada penuh, matanya menyisir sekitar, sementara Anindita melompat-lompat riang sambil memeluk boneka Sisi.

Tapi begitu mereka melangkah keluar dari pagar rumah, Zaverio langsung membeku.

Di depan mereka, di sepanjang jalan, berdiri puluhan orang dengan seragam hitam—bodyguard dengan wajah serius, beberapa bahkan memegang senjata api di holster mereka.

Dan di tengah-tengah mereka, sebuah SUV hitam dengan pintu terbuka.

Sial. Mereka menemukanku.

Zaverio secara refleks melangkah ke depan Anindita, posisi protektif—tangan terentang melindunginya.

"DITA!"

Suara teriakan anak kecil memecah ketegangan. Dari dalam SUV, melompat keluar seorang anak laki-laki berusia 6 tahun dengan rambut bowl-cut, wajah panik dan lega bercampur jadi satu.

Vyan Syailendra.

"VYAN!" Anindita berlari melewati Zaverio, melompat ke pelukan sahabatnya.

Vyan menangkap Anindita, memeluknya erat, kemudian langsung memeriksa dari kepala sampai kaki dengan mata yang penuh kekhawatiran.

"Kau baik-baik saja kan? Tidak terluka? Tidak sakit?" Vyan bertanya dengan cepat, tangannya memeriksa lengan Anindita, wajahnya, memastikan tidak ada luka.

Anindita tertawa—tertawa yang genuine karena merasa lucu dengan tingkah sahabatnya. "Ihh, Vyan! Dita baik-baik saja! Lihat nih, Dita sehat!" Dia berputar seperti ballerina kecil, membuktikan dia tidak terluka.

Tapi Vyan tidak tersenyum. Wajahnya masih pucat, matanya masih penuh kekhawatiran yang tidak sesuai usianya.

Langkah kaki berat terdengar. Zaverio mengangkat kepalanya dan melihat Arman Syailendra berjalan mendekat—wajahnya dingin, rahangnya mengeras, tapi ada sesuatu di matanya. Bukan kemarahan. Lebih seperti... kelegaan? Dan sedikit... rasa terima kasih?

Arman menatap Zaverio lama—tatapan yang membuat Zaverio tidak bisa membaca apa yang pria itu pikirkan.

Kemudian tatapan itu melunak. Hanya sedikit, hampir tidak terlihat, tapi ada.

Arman berjongkok, mengangkat Vyan dengan satu tangan dan Anindita dengan tangan lainnya—keduanya langsung memeluk leher Arman dengan erat.

"Zaverio," panggil Arman dengan suara yang datar tapi ada nada perintah di sana. "Ikutlah dan temui Paman Darma. Kau harus menjelaskan apa yang telah kau lakukan. Masuk ke mobil."

Bukan permintaan. Perintah.

Arman berjalan menuju SUV yang berbeda—membawa Vyan dan Anindita bersamanya, meninggalkan Zaverio dengan bodyguard yang mengelilinginya.

Salah satu bodyguard membuka pintu sedan Mercedes untuk Zaverio. "Tuan Muda, silakan."

Zaverio masuk tanpa protes. Dia tahu apa yang menantinya. Kemarahan Darma Paramitha. Mungkin ancaman. Mungkin larangan untuk mendekati Anindita lagi.

Tapi dia tidak peduli. Yang penting Anindita selamat. Itu saja yang penting.

...****************...

Di Dalam SUV - Arman, Vyan dan Anindita

Anindita duduk di pangkuan Arman, sementara Vyan duduk ketat di sampingnya—tidak mau lepas dari sahabatnya walau hanya sejenak.

"Paman," panggil Anindita dengan suara kecil, menatap wajah Arman yang masih pucat. "Kenapa wajah Paman sangat pucat? Apa Paman sakit?"

Arman menatap gadis kecil di pangkuannya—gadis yang nyaris membuat jantungnya berhenti saat mendengar dia hilang.

"Tentu saja, Dita," jawab Vyan dengan suara serak. "Kami sudah mencarimu kemana-mana tahu. Kakek Darma sangat mencemaskanmu. Papa juga..." Vyan tiba-tiba terdiam, matanya berkaca-kaca.

"Vyan?" Anindita menatap sahabatnya dengan bingung.

"Papa..." Vyan menggigit bibirnya, berusaha tidak menangis. "Papa sangat takut Dita hilang seperti... seperti Mama... dan Pam.."

Arman langsung menatap Vyan dengan tajam. "Vyan."

Vyan menunduk, mengerti dia hampir mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak diketahui Anindita.

Anindita merasakan ada yang berbeda. Ada yang disembunyikan darinya. Tapi dia tidak tahu apa.

"Paman, Vyan, Dita tidak hilang kok," kata Anindita dengan polos, berusaha menenangkan. "Dita cuma main sama Kak Zaverio. Kak Zaverio baik kok, dia kasih Dita tempat untuk ngobrol sama Mama dan Papa."

Arman terdiam mendengar itu. Apa yang Zaverio lakukan sebenarnya? Membawa Anindita ke tempat itu?

Tapi dia tidak bertanya lebih lanjut. Itu bisa menunggu. Yang penting sekarang, Anindita aman.

"Dita," kata Arman lembut, tangannya mengusap rambut gadis kecil itu. "Lain kali kalau kamu mau pergi, bilang dulu ke Kakek atau ke orang dewasa ya. Jangan pergi begitu saja. Kami semua sangat khawatir."

"Maafkan Dita, Paman," ucap Anindita dengan mata berkaca-kaca, merasa bersalah. "Dita tidak tahu kalau Kakek dan Paman akan khawatir."

"Iya, sudah tidak apa-apa sekarang." Arman memeluk Anindita dan Vyan bersamaan. "Yang penting kalian berdua selamat."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!