NovelToon NovelToon
Merangkai Hasrat

Merangkai Hasrat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Chicklit / Komedi
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: CHIBEL

Jennie Revelton (25) seorang penulis novel dewasa yang terkenal dengan fantasi sensualnya tiba-tiba mengalami writer’s block saat mengerjakan proyek terbesarnya. Semua ide terasa mati hingga seorang pria baru pindah ke unit sebelah apartemennya.

Pria itu adalah tipikal karakter novel impiannya: tampan, mapan, dewasa, dan terlalu sempurna untuk menjadi tetangga. Tanpa sadar Jennie menjadikannya bahan fantasi untuk menghidupkan kembali gairah menulisnya.

Namun semakin sering ia mengamati dan membayangkan pria itu, perasaan Jennie mulai berubah. Dia tak lagi ingin pria itu hanya hidup di atas kertas, tapi juga menginginkannya di dunia nyata.

Keadaan menjadi rumit ketika pria itu mengetahui bahwa dirinya adalah objek fantasi erotis dalam novelnya. Alih-alih marah atau menjauh, pria itu justru mengajukan sebuah penawaran tak terduga.

"Daripada hanya mengandalkan imajinasi, bukankah lebih nikmat jika kau bisa merasakannya langsung?" ~~Johan Alexander.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 - Gagal Menghindar

Matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah tirai apartemen Jennie, namun bagi sang penghuni cahaya itu lebih mirip seperti lampu interogasi yang menyilaukan.

Jangan mengira dia belum bangun, kenyataannya dia justru sudah terbangun sejak jam 5 pagi. Dia sudah duduk dengan ekspresi kecut di depan layar laptopnya yang masih kosong sejak semalam.

Biasanya dia tidak sebuntu ini, berikan satu skenario tentang pertemuan tak sengaja di bawah hujan dan dia akan menghasilkan tiga ribu kata sebelum kopi paginya dingin.

Tapi pagi ini Lady Velvet telah kehilangan mahkotanya.

Dia mencoba mengetik satu kalimat : "Tangan pria itu merambat perlahan ke tengkuknya..."

Baru sampai sana bayangan tangan Johan yang besar dan hangat di lehernya semalam langsung muncul di pelupuk matanya. Dia bisa merasakan kembali sensasi jari-jari Johan yang menyelinap di antara rambutnya.

Hapus.

Dia mencoba lagi : "Suara pria itu rendah dan serak, membisikkan kata-kata yang membuat lututnya lemas...."

Sekali lagi, otaknya memutar ulang suara Johan di pintu depan unitnya. "Tulis itu di babmu besok."

"Sialan!" Jennie mengerang frustrasi dan membenturkan jidatnya ke atas meja kerja.

Sekarang sepertinya dia sedang mengalami writer's block jenis baru yang belum pernah dia temukan di buku panduan menulis manapun. Ini bukan karena dia kehabisan ide, tetapi justru karena itu terlalu nyata dan terlalu panas.

Bagaimana mungkin dia bisa menulis erotika fiksi saat realitasnya baru saja memberikan standar yang terlalu tinggi?

Ciuman Johan semalam bukan hanya penelitian, itu adalah sabotase terhadap karir menulisnya.

Setiap kali dia memejamkan mata untuk membayangkan adegan intim tokoh prianya, yang dia lihat adalah wajah Johan yang menatapnya lapar sebelum menuntunnya berciuman.

Bunyi kecipak dan erangan yang dia minta sendiri dalam imajinasinya kini menghantuinya seperti kaset rusak.

"Aku tidak bisa bekerja kalau begini terus," racaunya. Dia melirik jam dinding, dan ternyata sudah jam sembilan pagi.

Jennie segera menutup laptopnya, dia memutuskan untuk melarikan diri. Jika dia tidak bisa menulis, setidaknya dia harus menghindari subjek penelitiannya agar kewarasannya kembali.

Dia butuh kafein yang sangat kuat dari luar, bukan dari mesin kopi di dapurnya yang terus menerus mengingatkan pada Johan.

Jennie bersiap kilat menggunakan hoodie kebesaran dan topi untuk menutupi wajahnya yang tampak kacau.

Dia berjalan berjinjit menuju pintu apartemennya, dari yang apa dia amati selama ini, Johan selalu berangkat ke kantor dengan jam yang tidak menentu.

Dengan gerakan yang sangat hati-hati dia menempelkan telinganya ke pintu, sepi. Tidak ada suara langkah kaki atau pintu unit sebelahnya terbuka. Dia membuka sedikit pintunya dan mengintip keluar koridor yang kosong.

"Oke, aman," bisiknya pada dirinya sendiri.

Dia membuka pintunya sedikit lebih lebar lalu keluar dan menutup pintunya sepelan mungkin. Dia hampir saja bersorak kemenangan, namun saat dia berbalik menuju arah lift, pintu unit 502 terbuka.

Ceklek!

Jennie membeku, Johan keluar dengan kemeja biru langit yang lengannya sudah tergulung rapi.

"Mau kemana?" tanya pria itu dengan suara rendah yang langsung menusuk pertahanannya.

Tanpa menoleh, Jennie mempercepat langkahnya, "Cari kopi!" teriaknya sambil menunduk dalam-dalam.

"Mana draftnya? Aku belum menerimanya," ucap Johan. Dia berjalan di belakang Jennie, dengan langkah kakinya yang panjang, dia dengan mudah menyamai langkah kecil Jennie yang panik.

"Belum selesai, laptopku meledak!" jawab wanita itu dengan asal dengan menekan tombol lift berkali-kali seolah bisa mempercepat kedatangan koak besi tersebut.

Pintu lift akhirnya terbuka dan Jennie segera masuk, namun sialnya Johan juga ikut masuk sebelum pintu tertutup.

Sekarang mereka terjebak berdua di dalam ruang sempit yang berdinding cermin itu. Jennie memilih untuk berdiri di pojok paling jauh, menatap lantai lift seolah-olah itu adalah hal yang paling menarik di dunia.

Johan sendiri tidak berdiri di tengah, dia justru melangkah mendekati pojok tempat Jennie berada.

"Lift ini cukup besar, Mas. Kamu tidak perlui berdiri di sini," protes wanita itu dengan suara mencicit, matanya tetap terpaku pada sandal baimnya.

"Aku hanya ingin memastikan sesuatu," balas Johan, dia sengaja mencondongkan tubuhnya dan meletakkan satu tangannya di dinding lift, tepat di atas bahu Jennie.

"Apa kau sedang menghindariku? Kau takut tidak bisa menulis karena baper, atau kau sekarang sedang berpikir keras tentang adegan terjebak lift dengan pria yang baru saja menciummu?" ucap pria itu.

Jennie mendongak, wajahnya merah padam. "Siapa yang baper?! Aku hanya sedang sibuk!"

Johan menyeringai, sebuah seringai tipis yang membuat perut Jennie mulas. Pria itu kembali mendekatkan wajahnya, membuat jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa senti.

"Kalau kau tidak baper, kenapa kau gemetar?"

"Karena liftnya bergerak!" jawab Jennie dengan cepat.

Johan terkekeh, "Ternyata kau penulis yang buruk dalam berbohong. Tapi tenang saja, aku bisa membantumu mencari inspirasi lagi kalau kau benar-benar merasa stuck."

Pemiliki unit 502 itu semakin mendekatkan wajahnya hampir tidak menyisakan ruang bernapas untuk Jennie.

Di dalam lift yang bergerak turun itu, Jennie menyadari satu hal:

Menghindari Johan adalah misi yang mustahil, karena pria itu tampaknya sudah memutuskan untuk menjadi karakter utama pria dalam setiap bab hidupnya baik yang tertulis maupun tidak.

Bersambung

1
HiLo
Suka, konfliknya ringan
HiLo
ditunggu kelanjutannya
Aria
lanjut kakkkk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!