Aera, seorang anak perempuan yang kehilangan ibunya karena meninggal. Setelah ibu tirinya datang, hidup Aera berubah total. Ayahnya yang dulunya sangat mencintainya, kini tidak peduli lagi. Aera merasa sendirian dan terkucil, seperti bawang yang terlupakan. Aera hanya ingin satu hal: mengembalikan kasih sayang ayahnya. Tapi, dia menemukan kebenaran yang mengerikan: ibu tirinya lah yang membunuh ibu kandungnya. Aera merasa marah dan sedih, tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Suatu hari, datanglah Leonar, seorang laki-laki muda. Dia ramah dan baik, serta peduli pada Aera. Aera merasa bahagia, tapi kebahagiaan itu tidak akan bertahan lama. Leonar membantu Aera untuk membongkar kasus meninggalnya ibu kandungnya, tapi mereka tidak tahu bahwa ibu tirinya akan melakukan apa saja untuk menyembunyikan kebenaran. Bagaimana Aera dan Leonar akan menghadapi bahaya yang mengancam mereka? Apakah mereka akan berhasil membongkar kebenaran dan mengembalikan kasih sayang ayah Aera? Ataukah mereka akan gagal, dan Aera akan tetap menjadi bawang yang terlupakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seseorang itu kamu—Stella
Flashback...
Alex menggendong tubuh lemas Stella ala bridal style dari dalam club malam ke mobil SLK sport warna hitam miliknya yang terparkir di parkiran club.
Gadis cantik itu tampak bergumam tidak jelas dan melakukan gerakan kecil dengan sesekali menyerukkan wajahnya ke dada bidang Alex.
"Ubur-ubur ikan lele. Pusing leee..." Rengek Stella membuat Alex jadi mengeryit aneh dan mendengus geli.
Cewek sinting!
"Ih, turunin! Gue mau pergi naik karpet terbang Aladin aja biar nggak capek." Histeris Stella tiba-tiba.
"Haus pengen minum es teh seember!" Rancaunya heboh sekali.
"Diem!" Alex melengos lelah.
"Apa lo marah-marah sama gue?” Protes Stella marah dengan mata sayu sambil menjambak rambut Alex yang merintih kecil.
Alex berdecak pelan, sementara Stella merancau semakin tidak waras di dalam gendongan nya.
"Minum berapa banyak, sih?" Desah Alex.
"Sebanyak cintaku padamu." Stella memeluk leher Alex posesif seolah tidak mau lepas.
"Arghhh..."
"Diem atau gue cium?" Stella mengancam sambil memanyun kan bibirnya dan bersandar ke bahu Alex membuatnya melirik sinis,
“Kita kapan sampainya, sih? Gue capek..." Rengeknya masih keadaan mabuk.
Alex menatapinya dingin, padahal Stella tidak jalan sama sekali, modal teriak kesurupan doang.
Capek dari mana nya?
"Padahal gue cuman minum marimas doang, tapi kenapa pala gue pusing banget, ya?" Gumam Stella.
Alex menaruh Stella di kursi depan. Dia langsung menyusul masuk ke dalam mobil.
Stella tertawa-tawa gila sambil sesekali mengacak-acak rambut coklat nya dengan frustrasi.
Alex segera menyalakan mesin mobilnya,
Lalu tiba-tiba...
"Ah, gerah." Stella mengipasi lehernya yang kegerahan dan penuh keringat.
"Panas..."
"Aduh, panas banget. Nerakanya bocor apa gimana, sih?" Decaknya sambil menurunkan resleting jaket kulitnya yang berwarna hitam dan menyisakan tantop crop top putih di dalamnya lalu melemparkan nya ke kursi belakang.
Alex langsung buru-buru memalingkan wajahnya sambil mengumpat kasar.
"Ngapain, sih?" Tanya Alex dengan deru napas tidak normal. Apalagi melihat pusar gadis itu dan keringat dari leher Stella mengalir ke belahan dadanya.
Alex menelan ludah dan semakin frustrasi di buatnya.
Brengsek!
"Diam!"
"Apa sih, ini panas banget." Stella menepis tangan Alex dan berniat melepaskan tantop crop topnya juga membuat mata Alex melebar.
"Nggak usah aneh-aneh!" Tahan Alex ketika melihat bra hitam gadis itu dan menurunkan tantop Stella lagi sambil menyalakan AC.
Mengabaikan wajah tegang Alex, gadis itu masih merancau, "Tapi ini gerah banget, nggak kuat gue."
Alex menyalakan AC sampai mentok, "Udah dingin, kan? Diem lo!"
"Apa lo nyuruh-nyuruh gue diem?" Semprot Stella dengan mata merem melek lalu tiba-tiba maju dan meraih kedua pipi pemuda itu sambil menekannya hingga bibir Alex membulat maju, "Diem in sini bibirnya!"
CUP!!!
Stella memajukan wajah dan mencium pipi Alex, membuat Alex mengerjap kan matanya.
"Muachhh, hehehe!"
Alex terdiam dan terpaku menatapi cengiran lucu gadis itu dari jarak dekat.
"Ah!" Alex mendorong wajah Stella jauh-jauh.
Gadis kurang ajar itu langsung tidur setelah membuat Alex frustrasi dan gelagapan sama kelakuannya.
Alex baru akan menginjakkan gas tetapi kembali menoleh tepat saat Stella menoleh ke arahnya juga dengan mata terpejam.
Alex melepaskan jaket kulitnya dan dengan cepat melemparkan ke wajah Stella untuk menutupinya.
Sebelum akhirnya cowok itu menginjak gas mobilnya dan pergi meninggalkan halaman club.
Brakkk!!!
Flashback Of.
"Woy, lo lagi ngelamunin siapa sih?" Tanya Davin pada Alex.
Alex yang sedari tadi sedang melamun itu seketika langsung terkejut kaget, ketika mendengar teriakan dari sang sahabatnya yaitu—Davin yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya.
Alex yang melihat kedatangan Davin langsung mengerutkan dahinya bingung, " Mau ngapain lo kesini?" Tanya Alex.
"Dari tadi kita tungguin di bawah, taunya lo malah melamun di kamar. Udah di tunggu sama bos di bawah," Ucap Davin, "cepat ke bawah sekarang!" Pintanya.
"Duluan aja bentar lagi gue nyusul." Ujarnya.
Setelah mendengar jawaban Alex, akhirnya Davin pun kembali keluar dari kamar Alex.
BRAKKK!!!
"Brengsekkk!" Umpat Alex.
Alex kembali menatap jendela, kemudian ia menghela nafas panjang. "Ternyata gadis itu kamu, Stella. Gue nggak nyangka kalau kita bakal ketemu lagi." Ucapnya sambil tersenyum tipis.