Chen Kai menyaksikan kehancuran Klan Kristal dengan kedua matanya sendiri.Namun pelakunya bukan musuh… melainkan kakaknya sendiri.
Seolah kematian sekali belum cukup, ia dipaksa tenggelam dalam ilusi—menyaksikan pembantaian itu seribu kali, tanpa bisa berteriak, tanpa bisa mati.
Sejak hari itu, hidup Chen Kai hanya memiliki satu tujuan yaitu balas dendam.Ia menapaki jalan berdarah, mengejar bayangan sang kakak,mengasah kebencian sebagai kekuatan untuk bertahan hidup.
Namun, semakin dekat ia pada kebenaran,semakin retak keyakinannya.Karena di balik pembantaian Klan Kristal,tersimpan rahasia yang tak pernah ia bayangkan—sebuah kebenaran yang mungkin akan menghancurkan dendam itu sendiri.
Saat semuanya terungkap…
siapakah sebenarnya yang pantas disebut monster?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Ingatan yang di ulang
Langkah kaki Chen Kai bergema di lorong yang sunyi, setiap dentumannya seolah menghitung mundur waktu menuju ajal. Di ujung jalan itu, sebuah cahaya remang-remang menerangi aula utama yang sangat luas. Di sana, di atas singgasana yang dingin, duduk sosok yang menjadi pusat dari segala kebenciannya.
"Akhirnya kita bertemu lagi, Chen Xo! Kali ini aku akan pastikan kau mati di tanganku!" geram Chen Kai.
Saat ia memasuki aula, pandangannya tertuju pada dinding di belakang singgasana. Di sana terdapat simbol Klan Kristal yang agung, namun telah dinodai secara kasar dengan gambar Chen Xo yang sedang menusuk simbol tersebut. Sebuah penghinaan yang tak termaafkan bagi leluhur mereka.
"Selamat datang di singgasanaku, Adikku Chen Kai," ucap Chen Xo dengan ketenangan yang memuakkan. Ia duduk bersandar, menatap Chen Kai dengan pandangan merendahkan. "Apa kau sudah merasa kuat sekarang? Apa kau pikir sudah dapat membunuhku? Jika kali ini kau kalah, akan aku pastikan aku mengirim dirimu ke hadapan ayah dan ibu!"
"BANGSAT!" Amarah Chen Kai meledak, auranya menggetarkan pilar-pilar aula. "Jangan beraninya kau menyebut nama ayah dan ibu dengan mulut hinamu itu! Akan kurobek mulutmu itu!"
Chen Xo tertawa, suara tawanya kering dan dingin seperti es yang pecah. "Hahaha! Kau marah? Nyatanya ibu dan ayah sudah mati, kan? Ini semua salahmu karena kau terlambat dan lemah! Jadi salahkan saja dirimu, keparat!"
"DIAM!"
"Jika kau lupa akan kejadian itu, maka akan aku ingatkan kau!" Chen Xo mengangkat tangannya, membentuk lingkaran sihir kristal yang memancarkan cahaya ungu pekat yang berdenyut.
Seketika, energi itu melesat dan masuk ke dalam kesadaran Chen Kai. Dunianya berputar. Kegelapan menelan aula utama, dan dalam sekejap, Chen Kai mendapati dirinya berdiri di tengah kediaman Klan Kristal tujuh tahun yang lalu.
"AAARRGHH!"
Suara teriakan memilukan terdengar dari segala penjuru. Bau amis darah yang sangat nyata menusuk hidungnya. Ia melihat mayat-mayat anggota klannya berjatuhan seperti daun kering di musim gugur.
Tiba-tiba, dari balik kobaran api, Chen Xo muncul. Ia berjalan pelan sambil menjinjing kepala ayah dan ibu mereka yang masih bersimbah darah namun masih bernapas dalam sakaratul maut.
"Apa rasanya sakit? Ini semua karena kau lemah, Chen Kai!" Tanpa belas kasihan sedikit pun, di depan mata kepala Chen Kai, Chen Xo menusukkan pedangnya langsung menembus jantung ayah dan ibu mereka secara bersamaan.
"AAARRGHH! TIDAAAAK!"
Chen Kai jatuh berlutut, memegangi kepalanya yang terasa mau pecah. Selama lima menit, ia dipaksa menyaksikan adegan itu berulang-ulang. Di dalam kepalanya, waktu terasa melambat hingga lima menit itu terasa seperti dua hari penyiksaan tanpa henti. Trauma yang selama ini ia kunci rapat, kini dibuka paksa dan diledakkan dari dalam.
Saat pengaruh sihir itu memudar, Chen Kai terengah-engah di lantai aula. Keringat dingin bercampur air mata kemarahan membasahi wajahnya. Ia mendongak dan melihat Chen Xo masih duduk tenang, tersenyum sinis di singgasananya.
"Bagaimana? Apa kau sudah ingat sekarang?" tanya Chen Xo santai.
Chen Kai bangkit perlahan. Namun, kali ini ada yang berbeda. Aura biru kristalnya kini sepenuhnya tertutup oleh warna hitam pekat yang bergejolak seperti badai. Rasa sakit yang luar biasa tadi telah membakar habis sisa-sisa kemanusiaannya, menyisakan hanya keinginan murni untuk menghancurkan.
KRETAK! KRETAK!
Energi di dalam tubuh Chen Kai meluap secara tidak wajar. Tekanan Qi-nya melonjak drastis, melewati batas-batas logika. Dari ranah Jiwa Sejati, kekuatannya melompat bak kilat menyambar, menembus dinding pembatas hingga mencapai Ranah Transformasi Esensi Tahap 4.
"Dasar keparat hina!" Chen Kai menghunuskan Pedang Iblis Keruntuhan. Bilahnya bergetar hebat, mengeluarkan uap hitam yang mematikan. "Aku tidak peduli jika harus menjadi iblis hanya untuk melawan iblis sepertimu!"
Chen Xo berdiri dari singgasananya. Tekanan energinya sendiri meledak, menekan seluruh ruangan dengan kekuatan Ranah Transformasi Esensi Tahap 6. Perbedaan dua tingkat itu terasa sangat nyata, namun Chen Kai tidak peduli lagi.
"Mari kita lihat, Adikku," Chen Xo menarik pedang kristal ungunya yang legendaris. "Apakah transformasi iblis milikmu itu cukup untuk menebas leherku, atau kau hanya akan menjadi debu di bawah kakiku."