Novel ini mengikuti perjalanan Rania menghadapi luka dalam, berjuang antara rasa sakit kehilangan, dendam, dan pertanyaan tentang bagaimana bisa seseorang yang dicintai dan dipercaya melakukan hal seperti itu. Ia harus memilih antara terus merenungkan masa lalu atau menemukan kekuatan untuk bangkit dan membangun hidup baru yang lebih baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 Kejutan yang Berubah Menjadi Penghianatan
Rania berdiri di depan cermin kamar tidurnya, menatap pantulan wajahnya sendiri yang tampak lebih pucat dari biasanya. Di tangannya, sebuah kotak kado berwarna krem dengan pita emas kecil terikat rapi—hadiah yang sudah ia siapkan sejak dua minggu lalu. Sebuah jam tangan elegan untuk ibu mertuanya, Ibu Ratna. Tidak murah, tentu saja, tapi Rania memilihnya dengan hati yang tulus. Setidaknya, begitulah niat awalnya.
Hari ini ulang tahun Ibu Ratna.
Tak ada perayaan besar. Tak ada permintaan apa pun dari keluarga Arga. Justru itu yang membuat Rania ingin memberi kejutan. Ia ingin datang diam-diam, membawa kue kecil dari toko langganannya, lalu makan siang bersama. Ia berharap—meski mungkin terdengar naif—hubungannya dengan ibu mertua bisa sedikit mencair, kembali seperti awal pernikahan dulu, sebelum semuanya terasa penuh tuntutan dan kepalsuan.
Arga sendiri tidak tahu rencana itu.
“Biar sekalian aku lihat kondisi mereka,” gumam Rania pelan sambil meraih tas tangannya.
Mobil melaju menuju rumah yang dulu ia belikan dengan penuh kebanggaan. Jalanan elit yang rindang, gerbang besi hitam tinggi, dan halaman luas yang selalu tampak rapi berkat tukang kebun bayaran. Rumah itu berdiri megah—terlalu megah untuk orang-orang yang tak lagi ingin berusaha.
Saat mobil Rania memasuki halaman, ada satu hal yang langsung membuat langkahnya terhenti.
Mobil Arga terparkir di sana.
Rania mengernyit. Arga bilang pagi tadi ia ada rapat dengan klien di luar kota. Bahkan sempat berpamitan singkat sambil mengenakan kemeja abu-abu favoritnya.
“Kenapa mobilnya ada di sini…?” batin Rania.
Ia tidak langsung masuk. Ada perasaan aneh yang merambat pelan di dadanya—seperti firasat buruk yang selama ini berusaha ia abaikan. Namun Rania menghela napas, mencoba berpikir positif.
*Mungkin rapatnya batal. Mungkin dia mau sekalian menjenguk orang tuanya.*
Rania melangkah mendekati pintu utama. Rumah itu sunyi, terlalu sunyi untuk sebuah rumah yang biasanya penuh suara televisi dan obrolan keras. Ia mengangkat tangan, berniat mengetuk, tapi langkahnya terhenti ketika mendengar suara tawa perempuan dari dalam.
Bukan suara Ibu Ratna.
Suara itu lebih muda. Lebih ringan. Dan… terlalu akrab.
Rania mendekat ke jendela ruang tamu yang sedikit terbuka. Jantungnya berdetak semakin cepat, namun ia tidak menyangka apa yang akan dilihatnya membuat dunia seolah runtuh seketika.
Di dalam ruang tamu, Arga duduk di sofa. Sangat dekat dengan seorang perempuan yang Rania kenal dengan baik.
Maya.
Sahabatnya sendiri yang dia tolong, yang dia ijinkan tinggal bersamanya. "Kenapa Maya ada di rumah Ibu mertuaku?" Pertanyaan itu ada dibenak Rania.
Tangan Maya berada di lengan Arga. Jari-jarinya menggenggam lembut, seolah itu hal paling wajar di dunia. Arga menatap Maya dengan tatapan yang tidak pernah Rania terima lagi sejak beberapa bulan terakhir—tatapan hangat, penuh perhatian, dan… cinta.
Rania menahan napas.
Belum sempat ia mencerna pemandangan itu, suara langkah terdengar dari arah dapur. Ibu Ratna muncul membawa nampan berisi minuman dan kue kecil.
“Aduh, kalian itu kalau duduk jangan terlalu dekat,” ucap Ibu Ratna sambil tersenyum—namun senyum itu sama sekali bukan senyum teguran. “Nanti kelihatan orang.”
Maya tertawa kecil, pura-pura malu, sementara Arga hanya tersenyum tipis.
“Tenang saja, Bu,” jawab Maya manja. “Rania tidak mungkin ke sini hari ini.”
Kalimat itu seperti pisau yang menancap lurus ke dada Rania.
Ibu Ratna meletakkan nampan di meja, lalu duduk di sofa lain, menatap Arga dan Maya dengan sorot mata penuh persetujuan.
“Sebenarnya Ibu lebih cocok sama kamu, Maya,” ucapnya tanpa ragu. “Kamu lebih mengerti Arga. Tidak terlalu perhitungan. Tidak seperti Rania, semuanya dihitung, semuanya pakai aturan.”
"Lagi pula Rania itu mandul, karena sampai sekarang belum juga ada tanda-tanda hamil, kalu ibu yakin, kamu bisa memberikan cucu untuk ibu." ucap bu Ratna
Rania menggenggam kotak kado itu erat-erat. Tangannya bergetar, bukan karena lemah, tapi karena amarah yang bercampur sakit hati.
“Bu…” Arga terdengar ragu, tapi tidak menyangkal.
Ibu Ratna melambaikan tangan. “Sudahlah, Arga. Ibu ini cuma ingin kamu bahagia. Kalau harus memilih, ya pilih yang benar-benar mengerti kamu dan perempuan yang rahimnya subur bukan mandul.”
Maya menunduk, seolah terharu, lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Arga.
Dan saat itulah Rania tahu.
Bukan hanya perselingkuhan.
Ini adalah pengkhianatan yang direncanakan, didukung, dan dianggap wajar oleh keluarga yang selama ini ia biayai, ia lindungi, dan ia bela mati-matian.
Rania mundur perlahan. Tidak ada air mata yang jatuh. Tidak ada suara. Tidak ada amukan. Hanya dada yang terasa kosong, seolah seluruh perasaan tercabut sekaligus.
Ia kembali ke mobil, duduk diam selama beberapa menit, menatap lurus ke depan. Kotak kado itu masih di pangkuannya. Perlahan, Rania menutupnya kembali dengan rapi, lalu meletakkannya di kursi sebelah.
“Jadi begini,” bisiknya pelan.
Ia menyalakan mesin dan pergi. Tanpa ada seorang pun di rumah itu yang tahu bahwa Rania baru saja melihat segalanya.
Di perjalanan pulang, pikirannya tidak kacau seperti yang ia bayangkan. Justru sebaliknya—sangat tenang. Terlalu tenang.
Ia tersenyum kecil.
*Mereka pikir aku bodoh. Mereka pikir aku tidak tahu apa-apa.*
Rania mandi, mengganti pakaian, lalu duduk di ruang kerjanya. Ia membuka laptop, menatap layar kosong, lalu mulai menuliskan sesuatu—bukan emosi, bukan keluhan, tapi rencana.
Ia memutuskan satu hal penting malam itu.
Ia tidak akan langsung mengungkap perselingkuhan Arga dan Maya.
Ia tidak akan berteriak. Tidak akan menangis. Tidak akan menuduh.
Rania akan berpura-pura tidak tahu apa-apa.
Ia akan tersenyum seperti biasa. Bersikap lembut seperti biasa. Memberi ruang, memberi kepercayaan—persis seperti yang mereka harapkan.
Namun di balik itu semua, Rania akan menarik kembali kendali atas hidupnya. Atas hartanya. Atas martabatnya.
“Kalau kalian memilih bermain kotor,” gumamnya sambil menatap pantulan dirinya di kaca jendela, “aku akan bermain cantik.”
Dan kali ini, ia bersumpah—tidak akan ada lagi yang bisa memanfaatkan kebaikannya tanpa membayar harga yang setimpal.
Rania berjanji akan mengikuti sandiwara yang dimainkan oleh sahabatnya dan suaminya sendiri, dia tidak akan membiarkan kedua orang tersebut menginjak-injak harga dirinya.
"Akan ku buat kamu kembali ke asalmu, mas Arga, agar kamu sadar dimana tempat kamu berasal." batin Rania.
Rania menangis, air matanya tumpah di pipinya, Bu Sarinah orang yang selama ini merawat Rania sejak masih kecil menyadari perubahan sikap majikannya dan mulai bertanya.
"Mbak, Rania kenapa, ada apa, apa yang terjadi mbak, kenapa menangis?" tanya bu Sarinah
"Bi, apa aku kurang menarik, apa aku kurang berkorban selama ini sehingga mas Arga sampai mencintai perempuan lain, apa aku kurang menarik, bik!" ucap Rania sambil terisak-isak.
"Maksudnya gimana, mbak? bibik tidak mengerti?" bu Sarinah bertanya balik
"Mas Arga selingkuh dengan Maya, sahabat aku sendiri, bik." ucap Rania sambil memeluk bu Sarinah
"Ya Alloh, kok tega sekali mereka, mbak, mereka benar-benar jahat, mbak Rania nggak perlu menangisi orang seperti mas Arga, mbak Rania harus bisa melepas laki-laki seperti itu, laki-laki tidak setia." ujar bu Sarinah
" Iya bik, tapi sebelum membuang dan mengusir kedua orang itu aku akan bermain-main dulu dengan mereka." ucap Rania dingin
"Yang sabar ya mb," ucap bu Sarinah
Kedua nya lalu berpelukan.