NovelToon NovelToon
Bangkitnya Menantu Terhina

Bangkitnya Menantu Terhina

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: megga kaeng

Mereka menyebutnya menantu sampah.
Lelaki tanpa harta. Tanpa kekuasaan. Tanpa kehormatan.
Ia dipermalukan di meja makan, ditertawakan di depan pelayan, dan istrinya… memilih diam.
Tapi mereka lupa satu hal.
Darah yang mengalir di tubuhnya bukan darah biasa.
Saat ia mati dalam kehinaan, sesuatu bangkit bersamanya.
Bukan cinta. Bukan ampun.
Melainkan kutukan kuno yang menuntut darah keluarga itu satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megga kaeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 – Batas yang Tak Terlihat

Langit malam terlihat begitu gelap, hampir tanpa bintang. Hujan yang turun tadi siang kini meninggalkan jejak-jejak genangan di jalan setapak yang dilalui Defit dan Maya. Hembusan angin membawa bau tanah basah, seolah alam sendiri merasakan kesedihan yang terpendam di hati mereka. Tidak ada suara selain langkah kaki mereka yang menghentak tanah basah, dan deru napas yang lebih berat dari biasanya.

Maya berjalan di samping Defit, jaraknya sedikit lebih dekat dari sebelumnya. Namun ada kekosongan di antara mereka sesuatu yang tidak bisa diungkapkan, meski hati keduanya saling berbicara. Mereka tahu jalan yang akan mereka tempuh tidak akan mudah, dan meskipun ada kekuatan yang mengalir di antara mereka, ketakutan itu tetap ada terbawa dari masa lalu yang kelam.

“Aku tak tahu lagi harus ke mana, Defit…” Maya akhirnya membuka suara, pelan namun jelas. Suaranya bergetar, seolah ada ribuan kata yang ingin ia ucapkan, namun tak sanggup untuk keluar.

Defit berhenti sejenak, menatap ke depan. Di hadapannya, desa itu tampak lebih jauh dari sebelumnya, lebih asing. Seperti tempat yang bukan miliknya lagi.

“Maya…” kata Defit, menggenggam tangannya. “Tidak ada yang benar-benar tahu ke mana kita akan pergi. Tapi satu hal yang aku tahu aku tidak ingin kembali ke tempat itu. Tempat yang selalu membuat kita merasa salah, tempat yang selalu menuntut lebih dari yang kita punya.”

Maya menunduk, merasakan berat kata-kata itu. “Tapi, kita tidak bisa melarikan diri selamanya, Defit. Mereka masih ada di luar sana. Keluarga itu, dunia itu, tidak akan membiarkan kita begitu saja.”

Defit menarik napas panjang. “Aku tahu. Aku tahu betul. Tapi aku juga tahu… kita punya kesempatan untuk membangun sesuatu yang baru. Sesuatu yang tidak akan pernah dimiliki oleh orang-orang itu.”

Maya terdiam, menatapnya dalam-dalam. Ia ingin percaya sangat ingin. Namun, di sudut hatinya, ketakutan itu merayap perlahan, seakan mengingatkannya bahwa tidak ada tempat yang benar-benar aman. Keluarga yang pernah ada, dunia yang mereka tinggalkan, semuanya tetap memburu, seperti bayangan yang tidak bisa dilepaskan.

“Kita harus berhati-hati, Defit,” katanya pelan. “Ada banyak hal yang sudah terlambat untuk kita perbaiki.”

Defit mengerti. Ada sebuah kenyataan pahit yang mulai menyelusup di dalam diri Maya bahwa terkadang, hidup bukan hanya tentang keberanian, tetapi juga tentang pengorbanan. Terkadang, beberapa hal harus dikorbankan demi melangkah maju. Dan di hadapannya, Maya adalah segalanya. Tetapi untuk itu, ia harus melepaskan sesuatu yang lebih besar.

“Aku tahu, Maya,” kata Defit, memegang bahunya. “Kita akan menghadapi banyak rintangan. Tapi kita bisa melakukannya. Kita hanya perlu satu sama lain. Itu saja.”

Namun Maya merasa ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kata-kata itu. Ada sesuatu yang masih mengikat mereka sesuatu yang lebih gelap dari ketakutan mereka. Sebuah bayangan besar yang mulai muncul dari dalam diri mereka berdua, meskipun mereka berusaha melawannya.

Maya menatap ke tanah, menghindari tatapan Defit. “Aku takut, Defit. Aku takut kita akan kehilangan lebih banyak lagi.”

“Apa yang kau maksud?” Defit bertanya, suaranya lembut. Tetapi di dalam hati, ia tahu. Ia tahu apa yang sedang dirasakan Maya. Mereka tidak hanya berlari dari masa lalu mereka berlari dari kenyataan yang lebih sulit diterima: bahwa mungkin mereka tidak akan pernah bisa keluar dari bayang-bayang itu.

Maya mengangkat wajahnya, air mata mulai menggenang di matanya. “Aku takut kita akan terlambat. Terlambat untuk memperbaiki semuanya. Terlambat untuk menyelamatkan diri kita.”

Defit merasakan sakit itu sakit yang bukan hanya milik Maya, tetapi juga miliknya. “Kita tidak terlambat, Maya. Tidak pernah terlambat selama kita masih punya kesempatan untuk berjuang.”

Maya menggigit bibirnya, mengangguk pelan. Namun di dalam hatinya, ada sebuah suara kecil yang berbisik bahwa mungkin, pada akhirnya, mereka akan tetap berhadapan dengan kenyataan pahit yang tidak bisa mereka hindari.

Malam itu, mereka beristirahat di sebuah tempat terbuka. Hutan yang mengelilingi mereka seolah menjadi saksi bisu atas perasaan mereka yang terpendam. Di bawah langit yang kelam, Defit duduk di dekat api unggun, sementara Maya terbaring di sampingnya, menatap bintang-bintang yang samar.

“Apakah kamu pernah berpikir,” Maya memulai, suaranya hampir berbisik, “bahwa kita mungkin tidak akan pernah menemukan tempat yang benar-benar bisa kita sebut rumah?”

Defit menatapnya dengan tatapan yang dalam, penuh pengertian. “Aku dulu berpikir begitu,” jawabnya pelan. “Namun sekarang, aku sadar rumah itu bukan tempat. Rumah itu adalah siapa kita bersama. Dan selama kita ada satu sama lain, kita sudah memiliki semuanya.”

Maya menoleh padanya, matanya berkilat, penuh harapan yang masih hidup meski terkadang nyaris padam. “Aku ingin percaya itu, Defit.”

Defit menggenggam tangan Maya dengan lembut. “Kita akan membuatnya nyata, Maya. Kita akan melangkah bersama. Tidak ada yang akan menghentikan kita.”

Di dalam hati Maya, perasaan itu perlahan tumbuh, meski disertai ketakutan yang tak bisa hilang begitu saja. Namun, mungkin hanya mungkin kepercayaan itu yang akan mereka butuhkan untuk melangkah lebih jauh, ke masa depan yang belum jelas. Ke tempat yang mereka akan sebut rumah, meski tidak ada lagi yang sama dengan yang dulu.

Dan ketika malam semakin dalam, mereka tahu jalan yang mereka pilih tidak akan mudah. Tetapi mereka memilih untuk melangkah bersama, menghadapi setiap badai, setiap rintangan, meski dunia di luar mereka terus berusaha menghalangi. Karena di dunia ini, hanya ada satu kebenaran yang tak bisa diubah:

Bahwa mereka, pada akhirnya, akan selalu berjuang untuk satu sama lain.

1
kurnia
up thor
grandi
awal yang menarik semoga,
terus menarik ceritanya 👍
megga kaeng: trimakasih🙏
total 1 replies
grandi
jangan gantung ya thor🙏
megga kaeng: siap🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!