NovelToon NovelToon
BANDHANA

BANDHANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:185
Nilai: 5
Nama Author: Beatt

Bandhana memiliki makna hubungan yang mengikat satu hal dengan hal lainnya. Disini Anindita Paramitha memiliki hubungan yang sangat rumit dengan Zaverio Kusuma yang merupakan mantannya namun sekarang jadi kakak iparnya.
Vyan Syailendra, merupakan sahabat Anindita namun permusuhan dua keluarga membuat mereka saling membenci. Namun, hubungan mereka tidak pernah putus. mereka saling melindungi, meskipun membenci.
Dan waktu kelam itu terjadi, Anindita tewas ditangan keluarga suaminya sendiri. Vyan yang berusaha melindungi sahabatnya pun tewas. Zaverio pun membalas keluarganya sendiri dengan cara sadis dan saat semuanya selesai, dia berniat mengakhiri diri sendiri. Namun, dia malah terlempar ke tempat dimana dia bertemu dengan Anindita kecil yang berusia 5 tahun. Akankah, takdir Anindita Paramitha dapat diubah oleh Zaverio? Dan akankah rahasia kelam dapat terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Di sampingnya, kakek lain ikut berdiri—memberikan dukungan moral.

Darwan Kusuma.

Zaverio yang melihat itu dari kejauhan merasa darahnya mendidih. Tangannya terkepal, rahangnya mengeras.

Kakek... apa ini perbuatanmu?

Dia tidak peduli dengan tamu-tamu yang berlalu lalang. Dia tidak peduli dengan situasi yang tidak tepat. Dia melangkah cepat menghampiri kakeknya, matanya menyala dengan kemarahan yang sudah tidak bisa dia tahan lagi.

"Kakek."

Suara Zaverio keluar dingin—sangat dingin untuk anak seusianya. Darwan menoleh, terkejut melihat cucunya menatapnya dengan tatapan yang bisa membunuh.

"Zaverio? Ada apa—"

"Apa ini perbuatan Kakek?" Zaverio memotong, suaranya bergetar karena menahan amarah. "Kakek sudah membunuh Paman Aditya?!"

Hening.

Beberapa tamu yang mendengar langsung menoleh, mata mereka membulat. Berbisik-bisik mulai terdengar.

Darwan memucat. "Apa yang kau katakan, Zaverio Kusuma?! Kau menuduh kakekmu sendiri?!" Suaranya meninggi—campuran shock dan... ketakutan?

"Kakek tidak mungkin sekejam itu!" lanjut Darwan, berusaha terdengar meyakinkan. "Kakek memang tidak setuju dengan beberapa keputusan bisnis sahabat-sahabatku, tapi Kakek TIDAK MUNGKIN membunuh putra sahabat Kakek! Apalagi Aditya—dia seperti keponakan sendiri bagiku!"

Zaverio menatapnya dengan mata yang tidak berkedip. Di kehidupan sebelumnya, dia sudah melihat topeng ini—topeng pria baik yang di baliknya adalah monster.

"Bohong," bisik Zaverio, tapi cukup keras untuk Darwan dengar. "Aku tahu siapa Kakek sebenarnya. Aku tahu apa yang Kakek lakukan di timeline lain. Dan aku tidak akan membiarkan Kakek melakukannya lagi."

Dia melangkah lebih dekat, suaranya turun menjadi berbisik yang hanya Darwan bisa dengar.

Dia melangkah lebih dekat, suaranya turun menjadi berbisik yang hanya Darwan bisa dengar.

"Kumohon, Kek... Kedua sahabatmu itu sangat menyayangimu. Kakek Darma dan Kakek Arjuna memperlakukan Kakek seperti saudara. Jangan taruh kebencian pada mereka..." Air mata mulai berkumpul di mata Zaverio—air mata frustrasi dan keputusasaan. "Jika Kakek masih tidak berhenti... aku sendiri yang akan mengatakan kebenaran kepada mereka. Aku akan bongkar semua yang Kakek sembunyikan."

Tanpa menunggu jawaban, Zaverio berbalik dan berlari keluar—meninggalkan Darwan yang berdiri membeku dengan wajah pucat.

"Apa yang dimaksud anak itu?" gumam Darwan, tangannya gemetar. "Dia menuduhku membunuh Aditya? Timeline lain? Apa maksudnya?"

Dia menggeleng, berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

"Walaupun aku memang pernah berpikir untuk menghancurkan keluarga Paramitha dan Syailendra di masa depan... aku tidak mungkin menghabisi anak dari sahabatku. Tidak mungkin."

Tapi di sudut hatinya yang paling gelap, ada bisikan kecil: Apa kau yakin? Apa kau benar-benar tidak terlibat?

Darwan menggigil. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasa takut pada cucunya sendiri.

Yang tidak diketahui siapapun—tidak oleh Zaverio yang terlalu fokus pada Darwan, tidak oleh Darma yang terlalu tenggelam dalam dukanya, tidak oleh Arman yang terlalu sibuk mencari bukti—ada seseorang yang mengamati mereka semua.

Dari balik pohon besar di sudut area pemakaman, bayangan seseorang berdiri tersembunyi. Wajahnya tertutup oleh hoodie hitam, tapi senyum licik terlihat jelas di bibirnya.

Perfect, pikir orang itu dengan kepuasan gelap. Biarkan mereka saling curiga. Biarkan mereka saling menuduh. Sementara aku... aku akan mengambil segalanya.

Bayangan itu mengeluarkan sebuah foto dari saku—foto Anindita kecil yang tersenyum ceria.

Kau next, little princess. Nikmati sisa masa kecilmu. Karena sebentar lagi... aku akan mengambil segalanya darimu. Seperti yang kau ambil dari ibuku.

Dengan tawa pelan yang mengerikan, bayangan itu menghilang di antara pepohonan—meninggalkan misteri tentang siapa dalang sebenarnya di balik kematian Aditya Paramitha.

...****************...

Malam hari - Kamar Anindita di Mansion Paramitha

Anindita duduk di lantai kamarnya, memeluk foto besar ayahnya—foto di mana Aditya sedang menggendongnya saat dia masih bayi, keduanya tersenyum lebar ke kamera.

"Papa..." bisiknya, air matanya menetes ke bingkai foto. "Kenapa Papa pergi? Dita belum bilang ke Papa kalau Dita sayang sama Papa... Dita belum cerita kalau kemarin Dita dapat nilai 100 di ulangan matematika... Papa bilang mau belikan Dita es krim kalau Dita dapat nilai bagus..."

Suaranya tercekat, tangisannya pecah lagi.

TOK TOK TOK.

Pintu kamar terbuka perlahan. Vyan masuk dengan hati-hati, wajahnya penuh kekhawatiran.

"Dita..." panggilnya lembut.

Anindita mengangkat kepalanya, matanya bengkak dan merah. "Vyan..."

Vyan duduk di samping sahabatnya, tidak bicara apa-apa—hanya duduk di sana, memberikan kehadiran.

Anindita bersandar di bahu Vyan, tubuhnya masih bergetar karena isak tangis yang tertahan.

"Mama pergi meninggalkanku saat Dita baru lahir..." bisik Anindita, suaranya parau. "Sekarang Papa juga pergi... Vyan, apa Dita memang tidak pantas punya keluarga?"

"JANGAN BILANG BEGITU!" Vyan berbalik, memegang bahu Anindita dengan kedua tangannya. Matanya—mata anak 6 tahun—menyala dengan determinasi yang kuat. "Dita pantas punya keluarga! Dita anak paling baik yang pernah Vyan kenal!"

"Tapi Mama dan Papa—"

"Paman Aditya tidak pergi, Dita," potong Vyan tegas. Dia berdiri, menarik tangan Anindita. "Bibi juga tidak pergi. Mamaku juga tidak pergi. Mereka semua ada bersama kita."

Anindita menatapnya bingung, air matanya masih mengalir.

Vyan membawa Anindita berjalan ke jendela kamarnya. Dengan usaha keras (karena jendelanya tinggi untuk anak seusia mereka), Vyan membuka jendela lebar-lebar.

Angin malam yang sejuk masuk, membawa aroma bunga dari taman. Dan di atas sana—langit malam yang cerah dipenuhi ribuan bintang yang berkelap-kelip seperti berlian.

"Lihat di sana," kata Vyan, menunjuk langit. "Kakek Arjuna bilang sama Vyan... kalau orang-orang yang sudah meninggal akan berubah jadi bintang untuk menyinari bumi. Dan mereka sedang melihat kita dari sana."

Anindita menatap langit dengan mata yang masih berkaca-kaca.

"Karena itu Paman Aditya dan Bibi tidak meninggalkanmu, Dita," lanjut Vyan, tangannya menggenggam tangan Anindita. "Mereka jadi bintang yang akan selalu menyinarimu. Kalau Dita sedih, lihat ke langit. Mereka akan ada di sana."

Vyan menunjuk sebuah bintang yang bersinar sangat terang di tengah langit. "Lihat bintang itu... yang paling terang. Aku yakin itu Paman Aditya. Dan yang di sebelahnya—yang sedikit lebih kecil tapi tetap terang—itu Bibi. Dan yang paling kecil tapi berkelap-kelip cepat—itu Mama ku. Mereka bertiga sedang melihat kita sekarang."

Anindita menatap bintang-bintang itu, air matanya berhenti sejenak. "Papa... Mama... Bibi... apa kalian benar-benar melihat kami?"

"Tentu saja!" jawab Vyan dengan yakin. "Coba aja kamu lambaiin tangan!"

Anindita ragu-ragu, tapi perlahan tangannya terangkat—melambai ke arah bintang-bintang.

"Hai Papa... Hai Mama..." bisiknya. "Dita di sini... Dita kangen Papa dan Mama..."

Vyan ikut melambai. "Hai Mama! Jaga Paman Aditya dan Bibi ya di sana!"

Dan seolah menjawab, salah satu bintang berkelap-kelip lebih terang—mungkin hanya kebetulan, mungkin angin yang membuat atmosfer bergerak—tapi untuk dua anak kecil itu, itu adalah jawaban.

Anindita tersenyum tipis—senyum pertama sejak ayahnya meninggal. "Papa jawab... Papa bilang dia lihat Dita..."

Mereka berdua duduk di depan jendela, kaki menjuntai keluar, kepala mendongak menatap langit berbintang.

"Vyan," panggil Anindita pelan. "Terima kasih."

"Untuk apa?" Vyan memiringkan kepalanya.

"Karena selalu ada buat Dita. Karena jadi sahabat terbaik, Dita." Anindita memeluk lengan Vyan. "Janji ya, kita akan selalu jadi sahabat. Selamanya."

Vyan tersenyum—senyum yang tulus dan hangat. "Janji! Aku akan selalu jaga Dita. Kalau ada yang sakitin Dita, aku akan hajar mereka!"

Anindita tertawa kecil—tawa yang masih bergetar tapi sudah ada kehangatan di sana.

Mereka terus berbincang dengan bintang-bintang—menceritakan hari mereka, bercerita tentang sekolah, tentang teman-teman, tentang mimpi mereka. Seolah ayah, ibu Anindita dan ibu Vyan benar-benar mendengarkan dari sana.

Yang tidak mereka sadari, dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka, Zaverio Kusuma berdiri mengamati mereka.

Dia datang untuk mengecek kondisi Anindita, tapi malah menemukan pemandangan ini—dua sahabat kecil yang saling menguatkan, berbicara dengan bintang-bintang, tersenyum melalui air mata.

Sesuatu di dada Zaverio—sesuatu yang dia pikir sudah mati di kehidupan sebelumnya—bergetar.

Vyan Syailendra...

Di kehidupan sebelumnya, pria ini mati melindungi Anindita. Dia mengorbankan nyawanya sendiri agar sahabatnya bisa bertahan sedikit lebih lama.

Dan sekarang, bahkan di usia 6 tahun, dia sudah menunjukkan jiwa pelindung yang sama.

Mungkin... mungkin aku salah tentang dia, pikir Zaverio perlahan. Mungkin Vyan bukan musuh. Mungkin dia adalah sekutu terbaik untuk melindungi Anindita.

Dia mundur perlahan, membiarkan dua sahabat itu punya waktu bersama.

Tapi sebelum pergi, dia menatap langit yang sama—langit berbintang yang indah—dan berbisik pelan:

"Paman Aditya... jika Anda benar-benar ada di sana dan mendengar ini... maafkan saya. Saya sudah berusaha melindungi Anda, tapi saya gagal."

Air matanya jatuh—air mata yang dia tahan sejak tadi pagi akhirnya tumpah.

"Tapi saya berjanji... saya akan melindungi putri Anda dengan nyawa saya. Anindita tidak akan sendirian. Saya akan memastikan dia bahagia. Saya akan memastikan dia tidak merasakan sakit lagi."

Angin malam berhembus, membawa aroma bunga melati—bunga favorit Aditya.

Zaverio tersenyum pahit. Mungkin itu jawaban Paman.

Dia berbalik, berjalan kembali ke kamarnya dengan tekad yang menguat.

Aku tidak bisa mengubah takdir Paman Aditya. Tapi aku masih bisa mengubah takdir Anindita. Dan kali ini, aku tidak akan gagal lagi.

Aku berjanji.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!