NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali Untukmu

Terlahir Kembali Untukmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Rebirth For Love / Hamil di luar nikah / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami / Reinkarnasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Volis

Renan Morris pernah menghancurkan hidup Ayuna hingga gadis itu memilih mengakhiri hidupnya.

Ia sendiri tak luput dari kehancuran, sampai kematian menutup segalanya.

Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Renan terlahir kembali ke hari sebelum kesalahan fatal itu terjadi.

Ayuna masih hidup.
Dan sedang mengandung anaknya.

Demi menebus dosa masa lalu, Renan memilih menikahi Ayuna.

Tapi bagi Ayuna, akankah pernikahan itu menjadi rumah, atau justru luka yang sama terulang kembali?

Bisakah seorang pria menebus dosa yang membuat wanita yang mencintainya memilih mati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Volis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. Taruhan

Silvia ingin menikah dengan Revan, yang berarti semua saham Revan yang juga miliknya diberikan kepada Renan begitu saja.

Memikirkan betapa besarnya saham Morris Grup yang dimiliki Renan, harga diri yang selama ini ia banggakan runtuh sedikit demi sedikit.

Dada Silvia terasa seperti ditekan sesuatu yang tak terlihat, napasnya tertahan sesaat sebelum kalimat itu terlepas begitu saja. "Bagaimana mungkin ka.u memiliki begitu banyak saham Morris Grup tanpa melakukan apa pun?”

Ruangan mendadak hening.

Beberapa orang menatapnya seolah ia baru saja kehilangan akal sehat.

Ini urusan keluarga Morris.

Apa hubungannya dengan dia?

Renan tidak meninggikan suara. Ia hanya tersenyum tipis, senyum yang justru membuat orang lain merinding.

“Apa hubungannya dengan Nona Silvia?” tanyanya tenang.

“Atau…” ia berhenti sejenak, lalu menarik Ayuna berdiri di sisinya, “kamu ingin menikahi kakakku?”

Kata-kata itu jatuh seperti pisau.

“Sayangnya,” lanjut Renan santai, “kakakku pernah bilang, calon istrinya di masa depan hanya bisa masuk ke keluarga kami setelah mendapat persetujuanku.”

Tatapan orang-orang di sekeliling langsung berubah.

Ada yang terkejut.

Ada yang tersenyum kecut.

Ada pula yang diam-diam menikmati pemandangan itu.

Wajah Silvia memanas.

Malu, marah, tapi tak bisa membantah satu kata pun.

Renan melirik jam tangannya. “Sudah cukup untuk hari ini,” katanya ringan.

“Kalian lanjutkan saja bersenang-senang.”

Ia menggenggam tangan Ayuna, bersiap pergi.

Edric buru-buru berdiri.

“Tidak, Kakak Kedua, Kakak Ipar Kedua, ini baru babak pertama! Bagaimana bisa langsung pulang?”

“Kami masih—” ia berhenti sejenak, lalu tersenyum canggung pada Ayuna, “masih ada beberapa model dan selebriti yang akan datang nanti. Musiknya pun belum di mulai.”

“Tidak perlu,” jawab Renan sopan namun tegas.

“Besok kami akan mencoba pakaian pernikahan.”

Kalimat itu seperti petir di siang bolong.

“Apa?”

“Mencoba… pakaian pernikahan?”

“Jadi, Kakak Kedua akan menikah?”

Edric tertegun, lalu menatap Ayuna yang berdiri anggun di samping Renan. Baru saat itulah semuanya terasa masuk akal.

Ia tersenyum lebar.

“Kalau begitu, aku ucapkan selamat lebih dulu. Jangan lupa undang kami ke pernikahan kalian!”

Ucapan itu seperti pemicu.

“Selamat!”

“Cocok sekali!”

“Pasangan sempurna!”

Renan mengangguk singkat.

“Undangan akan segera dikirim. Sampai di sini saja.”

Ia dan Ayuna pun pergi, meninggalkan ruangan yang masih dipenuhi gema keterkejutan.

Setelah mereka pergi, suasana kembali gaduh.

“Renan benar-benar akan menikah? Terlalu tiba-tiba.”

“Orang tuanya setuju dia menikah dengan gadis biasa?”

Seseorang yang tadi ingin merokok menepuk dahinya.

“Eh, bukankah tadi dia melarang merokok? Jangan-jangan…”

“…karena wanita itu hamil?”

Kesadaran itu menyebar cepat.

Silvia mencibir dingin, matanya penuh dengki.

“Pantas saja. Jadi dia pakai anak untuk naik status.”

“Tidak bisa menikah dengan keluarga kaya, jadi hamil dulu baru memaksa masuk keluarga Morris. Licik.”

Gadis di sebelahnya berbisik ragu, “Tapi, bukankah di lingkaran kita, anak di luar nikah itu biasa?”

Silvia terdiam.

Karena ia tahu, jika itu hanya soal anak, keluarga Morris tak akan sejauh ini melindungi seorang wanita.

Masalahnya bukan kehamilan.

Masalahnya adalah Renan benar-benar memilihnya. Dan itu adalah sesuatu yang tidak bisa ia rebut, sekeras apa pun ia mencoba.

Beberapa pria terbatuk pelan, berusaha memecah keheningan yang canggung.

“Pernahkah kalian melihat keluarga besar menikah hanya karena anak di luar nikah?” seseorang berkata ragu.

“Aku justru melihat Tuan Muda Kedua Morris memperlakukan wanita itu dengan sangat hati-hati. Sepertinya dia benar-benar menyukainya.”

“Siapa sangka,” timpal yang lain, “seorang playboy bisa jatuh cinta sungguhan.”

Adrian merasa muak. Ia berdiri tanpa banyak bicara dan pergi begitu saja.

Selalu mencampuri urusan orang lain, pantas saja Renan sudah lama enggan bergaul dengan mereka.

Silvia duduk kaku di tempatnya, dadanya dipenuhi rasa kesal yang tak bisa ia salurkan.

Awalnya ia meremehkan wanita itu.

Namun sekarang, wanita itu justru akan menikah dan memasuki keluarga Morris begitu saja.

Apakah itu berarti dia harus memanggilnya ipar?

Pikiran itu membuat wajahnya mengeras.

Meskipun ia tidak pernah benar-benar menyukai Renan, ia memang pernah menggoda pria itu. Dan sekarang, kalimat Renan barusan jelas, ia tidak akan pernah mengizinkannya masuk ke keluarga Morris.

Kalau begitu.

Silviamengepalkan jari-jarinya.

Ia harus mempertahankan Revan dengan erat.

Jika Ayuna bisa menikah ke keluarga Morris karena anak, maka ia juga pasti bisa.

❀❀❀

Saat tiba di lobi, Ayuna menggenggam tangan Renan sedikit lebih erat dari sebelumnya.

Bukan karena gugup, melainkan karena sensasi mual yang datang tiba-tiba, lembut namun cukup mengganggu. Ia menarik napas perlahan, berusaha menahannya, tapi perasaan itu tak juga mereda.

“Renan…” bisiknya pelan.

Renan segera menoleh. Tatapannya langsung berubah waspada. “Kenapa?”

“Aku mau ke kamar mandi sebentar,” kata Ayuna.

Suaranya tenang, tapi wajahnya sedikit pucat. “Perutku agak tidak nyaman.”

Renan langsung berdiri. “Aku temani.”

Ayuna buru-buru menggeleng. “Tidak usah.” Ia tersenyum kecil, berusaha meyakinkan. “Mual biasa. Aku cuma perlu cuci muka.”

Renan masih tampak ragu. “Kamu yakin?”

“Iya,” jawab Ayuna lembut, menatapnya dengan penuh keyakinan. “Aku nggak lama.”

Setelah ragu sesaat, Renan akhirnya mengangguk. “Baik. Aku tunggu di sini. Kalau kenapa-kenapa—”

“Aku tahu,” potong Ayuna sambil tersenyum. “Aku akan panggil kamu segera.”

Ia berjalan perlahan menuju kamar mandi, satu tangan refleks bertumpu di perutnya. Mual itu datang dan pergi, tidak menyakitkan, hanya pengingat halus akan kehidupan kecil yang kini selalu bersamanya.

Setelah beberapa menit, Ayuna keluar dari kamar mandi dengan perasaan jauh lebih baik. Ia membasuh wajahnya, menarik napas panjang, lalu bersiap kembali menemui Renan.

Namun saat ia hendak berbelok ke arah lobi, dua suara dari ujung lorong membuat langkahnya tertahan.

Bukan karena ingin mendengar.

Melainkan karena satu nama itu.

“Tapi, serius, Ed,” kata seseorang dengan nada santai, nyaris bercanda. “Bukankah perempuan yang dibawa Kak Renan tadi itu gadis tercantik di kampus yang dulu jadi taruhan itu?”

Ayuna tidak bergerak. Jarinya yang memegang tas mengepal tanpa sadar.

Taruhan?

Rasa pahit langsung melonjak di tenggorokannya membuatnya refleks menutup mulut.

Edric menghela napas pendek, terdengar sedikit tidak nyaman. “Leo, jaga mulutmu.”

“Hah? Aku cuma bilang fakta,” sahut Leo ringan. “Lebih dari dua tahun lalu, kan? Waktu anak-anak fakultas rame soal itu. Semua orang tahu.”

Ada jeda singkat.

Ayuna bisa mendengar detak jantungnya sendiri.

Edric akhirnya menjawab, suaranya lebih rendah. “Iya. Dia orang yang sama.”

Leo bersiul pelan. “Gila. Dunia kecil juga, ya.”

“Jangan bicara sembarangan,” Edric menegaskan.

“Kondisinya sekarang sudah beda.”

“Makanya aku heran,” lanjut Leo, kali ini nadanya tidak lagi sepenuhnya bercanda. “Kalau cuma soal taruhan, Renan nggak akan sejauh ini. Tadi kau lihat sendiri, kan? Cara dia memperlakukan perempuan itu.”

Edric terdiam beberapa detik sebelum menjawab. “Iya.”

Ia mengusap wajahnya, seolah menimbang kata-kata. “Sejujurnya, aku juga nggak nyangka. Kupikir dulu Renan cuma… ya, Renan. Tapi yang ini beda.”

“Beda gimana?”

“Dia kelihatan benar-benar jatuh cinta.”

Kalimat itu jatuh pelan.

Tidak keras.

Tidak dramatis.

Namun, cukup untuk membuat dunia Ayuna terasa bergeser setengah inci dari porosnya.

1
Anonymous
Halah ... cowok kek gitu gak usah dikasih kesempatan
Volis: Temanya memang itu 😊
total 3 replies
Aku Fujo
maantaapppp
Volis
Maaf, ya. Author ternyata salah update bab. Bab Tidak Semua Orang Tulus itu seharusnya bab 12 🤗
NOname 💝
Demnnnn
gak ketebak sih ini, siapa yang mati tadi? 😭🤌🏻

Btw semangat ya Thor. mampir juga yuk di karya aku PENYANGKALAN. Siapa tau suka dengan sisipan kata-kata sangsekerta
Adel
bentar... ini dia mati beneran? Trus idup lagi? Gimana? Moga next chap ngejawab🙌
Adel
hm, ini si Renan tanggung jawab nggak lo👊
Adel
hm, mungkin dia mati suri
Indah MB
semoga keluarga renan baik dan kocak🤭
Indah MB
Renan jgn mengulangi kesalahan yg sama lagi ya
Indah MB
pantas di maafin g ya thor? soalnya belum tau 2 tahun lalu itu cerita mereka bagaimana..
Indah MB
syuka banget klo yg terlahir kembali gini hehehe ... 💪 thor ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!