"Menikahi ku atau melihat ayahmu membusuk di penjara?"
Elena tidak punya pilihan. Demi melunasi utang yang dijebak oleh Arkan—pria masa lalunya yang kini menjadi penguasa angkuh—ia setuju menjadi istri di atas kertas. Namun, di balik kemewahan rumah Arkan, Elena bukanlah nyonya, melainkan budak. Ia dijambak, diludahi, bahkan dipaksa melayani selingkuhan suaminya sendiri.
Setiap hari adalah neraka, hingga Arkan melampaui batas dengan menyentuh satu-satunya alasan Elena untuk hidup.
Di saat Elena hampir menyerah, sosok pria dari masa lalu yang menghilang selama lima tahun kembali. Ia bukan lagi pemuda desa yang miskin, melainkan putra mahkota dinasti mafia yang haus darah.
"Siapa pun yang menyentuh milikku, hanya punya satu tempat: liang lahat."
Pembalasan dendam dimulai. Ketika Sang Mafia menjemput ratunya, istana emas Arkan akan berubah menjadi abu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Malam yang Bukan Milik Kita
Perjalanan dari desa menuju jantung kota memakan waktu hampir lima jam, tapi bagi Elena, setiap putaran roda mobil sedan mewah itu terasa seperti hitungan mundur menuju tiang gantungan. Di sampingnya, Arkan duduk dengan punggung tegak, jemarinya yang mengenakan jam tangan mewah seharga satu rumah di desa mereka sesekali mengetuk kemudi dengan irama yang santai, seolah dia baru saja memenangkan lotre paling berharga di dunia.
Tidak ada percakapan. Hanya ada suara deru mesin yang sangat halus dan hembusan AC yang aromanya terlalu artifisial, menusuk hidung Elena yang terbiasa dengan bau tanah basah dan kayu bakar. Elena menatap keluar jendela, melihat hamparan sawah hijau yang perlahan berganti menjadi hutan beton yang angkuh. Pikirannya masih tertinggal di teras rumah tadi, pada bekas ciuman tangannya di punggung tangan Ayah yang gemetar. Air mata Ayahnya yang jatuh di sana terasa lebih membekas daripada cincin emas yang melingkar di jari manisnya sekarang. Cincin yang tidak terasa seperti perhiasan, melainkan seperti borgol yang dingin.
"Berhenti menatap jendela seperti orang udik, Elena," suara Arkan memecah keheningan. Suaranya tidak keras, tapi tajam, seperti pisau yang baru saja diasah.
"Kamu sudah jadi istri orang paling berpengaruh di lingkaran bisnis kota ini. Mulailah bersikap seolah kamu punya sedikit kelas, meski aku tahu itu sulit."
Elena tidak menjawab. Dia hanya mengeratkan pegangan pada tas kain kecil di pangkuannya. Di dalamnya ada sedikit harta karun yang sempat Elena selundupkan: sebuah foto kusam dirinya bersama Ayah saat dia masih kecil, dan sepotong kain rajut biru yang sudah mulai lapuk—kenangan terakhir dari Eros yang tidak pernah Elena buang.
Benda itu adalah satu-satunya alasan Elena masih merasa punya jantung yang berdetak.
Mobil itu akhirnya berbelok memasuki sebuah gerbang besi raksasa yang terbuka otomatis.
Sebuah rumah bergaya modern minimalis dengan dominasi warna putih dan kaca berdiri di sana, dikelilingi taman yang rumputnya dipangkas begitu sempurna hingga terlihat tidak nyata.
Lampu-lampu taman yang kuning keemasan menyinari pilar-pilar besar rumah itu. Mewah. Sangat mewah. Tapi bagi Elena, keindahan itu hanya dekorasi untuk sebuah penjara.
"Turun," perintah Arkan singkat setelah mematikan mesin.
Elena melangkah keluar, kakinya yang hanya beralaskan sepatu flat murah terasa gemetar saat menyentuh lantai marmer teras yang mengkilap.
Beberapa pelayan berpakaian seragam rapi sudah berbaris, menunduk hormat dengan gerakan yang kaku.
"Selamat datang, Tuan, Nyonya," sapa mereka serempak.
Nyonya. Kata itu terdengar seperti ejekan yang paling kejam bagi Elena. Dia ingin berteriak bahwa dia bukan nyonya di sini, dia hanya seorang jaminan utang.
Arkan mengabaikan mereka semua. Berjalan masuk dengan langkah lebar, naik ke lantai dua menuju sebuah pintu ganda besar berbahan kayu jati hitam. Elena mengekor di belakang, langkahnya kecil dan ragu, merasa seperti bayangan yang tidak diinginkan di rumah yang terlalu bersih menurutnya.
Begitu mereka masuk ke dalam kamar utama, Elena tercekat. Luas kamar itu hampir sama dengan seluruh luas rumahnya di desa. Ada tempat tidur king size dengan sprei sutra abu-abu, sofa kulit yang terlihat empuk, dan dinding kaca yang menyajikan kerlap-kerlip lampu kota.
Arkan melepas jasnya, melemparkannya ke lantai dengan kasar—sebuah tindakan sengaja yang menunjukkan bahwa dia punya pelayan untuk membereskannya, atau lebih tepatnya, dia punya Elena untuk itu.
Elena berdiri mematung di dekat pintu yang sudah tertutup rapat. Tidak berani bergerak, bahkan untuk sekadar melepas tas kainnya.
"Kenapa diam saja di situ? Lepas sepatumu. Kamu mengotori karpet sutraku," ucap Arkan sambil melonggarkan dasinya. Berbalik, menatap Elena dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan yang biasa digunakan orang saat melihat serangga yang tidak sengaja masuk ke rumah mewah.
"Ah, aku lupa. Kamu kan biasa menginjak tanah becek di desa. Karpet ini harganya lebih mahal dari seluruh biaya hidup kamu selama sepuluh tahun, Elena. Jangan berani-berani menempelkan kotoran desamu di sini."
Elena menunduk cepat, buru-buru melepas sepatunya dengan tangan gemetar. "Maaf, Mas Arkan..."
"Mas?" Arkan tertawa, suara tawa yang kering, pendek, dan penuh kebencian.
Arkan melangkah mendekat, menginvasi ruang pribadi Elena hingga wanita itu mundur sampai punggungnya membentur pintu. Arkan mencengkeram dagu Elena dengan satu tangan, memaksa wajah wanita itu untuk mendongak.
"Jangan panggil aku dengan sebutan menjijikkan itu. Kamu pikir kita sedang bermain drama rumah tangga yang bahagia? Kamu pikir aku menikahi kamu karena aku masih mencintai kamu?"
Elena meringis, rasa sakit di dagunya mulai menjalar, membuat matanya berkaca-kaca. "Lalu... aku harus panggil apa?"
"Panggil aku semau kamu, asal bukan dengan nada kasih sayang. Karena setiap kali aku melihat wajahmu, yang aku ingat adalah bagaimana kamu mempermalukanku lima tahun lalu. Kamu menolakku di depan seluruh warga desa demi pemuda miskin yang bahkan tidak punya nyali untuk menjemputmu sekarang!" Arkan semakin menekan cengkeramannya.
"Sekarang lihat dirimu. Kamu dijual oleh ayahmu sendiri kepadaku. Pemuda desamu itu sudah mati, atau mungkin dia sedang tidur dengan wanita lain dan menertawakanmu karena sekarang kamu berakhir jadi budak di bawah kakiku."
Arkan menghempaskan dagu Elena hingga wanita itu limbung dan jatuh tersungkur di atas karpet yang tadi dia sebut mahal. Tas kain Elena terlepas, dan foto kecil ayahnya jatuh tertelungkup.
"Jangan pernah berharap tidur di tempat tidur itu," lanjut Arkan sambil menunjuk ranjang besarnya.
"Tempatmu di sana." Arkan menunjuk ke arah sofa kecil di pojok ruangan yang dekat dengan jendela kaca. Sofa itu pendek, sempit, dan terlihat sangat tidak nyaman.
Elena menatap sofa itu, lalu kembali menatap Arkan. Tidak ada air mata yang jatuh sekarang. Rasa sakitnya sudah melampaui batas air mata; itu adalah jenis rasa sakit yang membuat jiwa seseorang mati rasa.
"Kenapa? Kamu mau protes?" Arkan berjalan menuju meja kecil, menuangkan cairan berwarna amber ke dalam gelas kristal.
"Ingat satu hal, Elena. Ayahmu adalah sanderaku. Satu saja keluhan yang sampai ke telinganya, atau satu saja percobaanmu untuk lari, maka besok pagi dia akan membusuk di sel polisi. Aku punya uang untuk membuat utang itu jadi kasus kriminal paling berat di negeri ini. Kamu paham?"
Elena memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menelan pahit yang menggumpal di tenggorokannya. "Aku paham."
"Bagus. Sekarang, masuk ke kamar mandi. Bersihkan bau keringat dan debu desa dari tubuhmu. Setelah itu, layani aku seperti seorang istri yang tahu diri. Meskipun aku jijik menyentuhmu, tapi melihatmu gemetar di bawahku karena terpaksa adalah hiburan yang jauh lebih baik daripada menonton film apa pun."
Elena berdiri dengan kaki lemas. Mengambil foto ayahnya yang terjatuh, mendekapnya sebentar di dada sebelum masuk ke kamar mandi.
Di dalam, Elena melihat pantulan dirinya di cermin besar. Elena mengenakan kebaya pengantin sederhana—kebaya yang dijahit sendiri oleh tetangganya di desa. Kebaya itu terlihat sangat menyedihkan di ruangan semewah ini.
Elena menyalakan shower, membiarkan air dingin menghantam tubuhnya.
Elena tidak melepas kebayanya. Dia membiarkan air membasahi kain brokat putih itu hingga menempel di kulitnya. Di bawah suara air yang berisik, barulah Elena membiarkan isak tangisnya pecah. Tubuhnya terguncang hebat, tapi Elena tidak mengeluarkan suara. Dia belajar dengan cepat bahwa di rumah ini, tangisannya adalah musik bagi telinga Arkan.
"Eros... di mana kamu..." bisiknya dengan bibir yang membiru karena kedinginan.
Di luar kamar mandi, Arkan meneguk minumannya hingga tandas, matanya menatap pintu kamar mandi dengan sorot mata yang sulit diartikan—antara dendam yang terpuaskan dan kehampaan yang semakin menganga.
Malam itu bukan malam pertama sebuah pernikahan. Itu adalah upacara pembukaan dari sebuah penderitaan panjang yang akan menguji sejauh mana Elena bisa bertahan sebelum benar-benar hancur menjadi debu.
gas up yng bnyk ka semoga makin sukses dikarya" nya aamiin 🤲
smngat up kaka🤗
smngat up kaka🤗🤗
semangat cerita smpai pnjang dan semangat update juga kaka
novel kaka good
semoga makin sukese disemua karya" nya
ceritanya bagus kak
dan mudah dipahami
semangat kaka untuk update iya